
Malam harinya, Gemilang yang memang pulang sedikit terlambat dari waktu biasanya pun segera naik lantai atas guna menemui sang istri. Saat membuka pintu, dilihatnya ternyata Mazaya tengah membaca novel di layar ponselnya.
"Eh, mas sudah pulang. Mau langsung mandi atau ... "
"Makan boleh?" Ucap Gemilang sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Emmm ... ya udah, mas cuci tangan dulu deh. Entar aku minta tolong Rani siapkan makan malam." Ujar Mazaya polos yang tak paham maksud Gemilang.
Gemilang yang merasa gemas lalu melempar jas yang tadi disampirkan di pundaknya lalu menghempaskan bokongnya di samping Mazaya, kemudian merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.
"Polos banget sih istriku. Maksud mas itu makan kamu, bukannya makan malam." Ujar Gemilang seraya terkekeh membuat Mazaya mendelik dan memencet hidung bangirnya.
"Ente kadang-kadang ya, mesyum mulu pikirannya." Cibir Mazaya sambil mencebikkan bibirnya.
"Sayang, kok kamu pucat banget sih? Kamu sakit?" Gemilang langsung menegakkan tubuhnya menghadap sang istri yang memang lebih pucat dari biasanya.
"Nggak kok mas. Zaya cuma kurang enak badan aja gara-gara melihat sesuatu yang ... " Mazaya menghela nafas kasar saat mengingat bangkai kucing mati tadi. Ia merasa kasihan dengan kucing itu. Meskipun terlihat jelas itu kucing liar, tapi tak sepantasnya kita melakukan hal itu pada hewan tak bersalah. Terlebih lagi hal itu dilakukan untuk menerornya. Entah perbuatan siapa itu, Mazaya tak mau menduga-duga. Khawatir ia salah dan berakhir fitnah.
"Sesuatu yang apa? Apa terjadi sesuatu saat kamu di kantor?" Tanya Gemilang penuh selidik.
"Mas mandi dulu aja, terus makan malam. Zaya udah lapar banget nih. Baru setelahnya Zaya cerita. Zaya takut tiba-tiba hilang mood makan kalo cerita sekarang." Tukas Mazaya yang diangguki Gemilang.
Gemilang pun segera mandi. Setelah mandi, ia pun segera menemani sang istri makan malam. Gemilang sedikit terperangah saat melihat sang istri makan lebih banyak daripada biasanya.
"Siang tadi kamu nggak makan ya?" tanya Gemilang saat melihat sang istri makan dengan lahap bahkan sampai nambah.
Mazaya mengangguk tanpa menjawab membuat Gemilang kian penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi.
Selepas makan malam, mereka pun duduk berdua di ruang tengah. Ruangan itu sering digunakan untuk kumpul keluarga.
__ADS_1
"Udah siap cerita?"
Terdengar helaan nafas kasar dari bibir Mazaya. Ia yakin, sesuatu yang buruk telah terjadi pada istrinya. Mazaya lantas mengangguk kemudian mulai menceritakan apa yang telah terjadi di perusahaannya siang tadi.
Jelas saja Gemilang merasa kecolongan. Ia benar-benar marah. Rahangnya sampai mengeras menahan emosi yang membuncah.
"Kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Gemilang pada Mazaya.
Mazaya menggeleng lemah.
"Kamu tunggu di sini ya! Mas mau telepon Mada dulu."
"Mau ngapain mas telepon Mada malam-malam gini?"
Gemilang tersenyum, "tugas tambahan." Ujarnya sambil terkekeh. Mazaya hanya menyedikan bahunya tak mengerti. Lalu Gemilang pun segera menuju ruang kerjanya untuk menelpon Mada.
"Bagaimana Da, ada info terbaru?"
"Thanks ya bro atas bantuannya."
"Udah, nggak perlu sok formal gitu. Wajib bagi sahabat untuk saling bantu."
"Da, gue bisa minta tolong satu lagi?"
"Apa? Bilang aja. Mumpung si pasangan lucknut belum nongol."
"Gini, tolong retas CCTV lobi kantor bini gue jam 12'an gitu. Perhatiin ada kurir antar paket, nah loe cari tau siapa yang kirim paket itu. Ada yang neror bini gue. Gue penasaran, siapa pelakunya. Kalau masalah pembunuh bayaran itu, gue udah tahu. Pelakunya ternyata Firly, putri Margono pemilik CV Citra Persada." Tukas Gemilang. Pikirnya, dengan melihat rekaman CCTV secara mundur, mereka pasti dapat melihat siapa pengirim paket tersebut. Itupun kalau sang kurir berkata jujur. Tapi tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ia yakin, kebenaran pasti akan segera terkuak. Mungkin bila di masa lalu mereka kesulitan menguak misteri kecelakaan yang menimpa orang tua Mazaya karena keterbatasan dalam berbagai hal, tapi tidak kini. Kemajuan sistem teknologi dan informasi bisa membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Termasuk mencari tahu dalang peneror sang istri.
"Okey. Gue paham. Kasi gue waktu 10 sampai 15 menit. Gue pasti bisa menemukan pelakunya." Ucap Mada penuh keyakinan. Memiliki perusahaan yang berkecimpung di dunia teknologi dan informasi membuat Mada memiliki kemampuan meretas yang cukup handal. Namun ia tak pernah menggunakannya untuk hal-hal buruk. Ia hanya memanfaatkannya untuk tujuan yang benar, seperti membantu Gemilang saat ini misalnya.
__ADS_1
Setelah itu, keduanya pun menutup telepon. Gemilang lantas kembali ke ruang tengah. Ia pun menceritakan hasil interograsinya tadi pada Mazaya.
"Jadi pelakunya Firly?"
Gemilang mengangguk, "sepertinya dia dendam kita karena sudah membuatnya malu dan bangkrut."
"Sebenarnya mas nggak perlu sampai mencabut kerja sama dengan ayahnya. Yang salah kan anaknya, bukan ayahnya. Jadi wajar kalau dia marah dan berniat balas dendam. Dengar-dengar ayahnya masuk rumah sakit karena jantungnya kumat."
"Kamu itu terlalu baik, Zayang. Terkadang kita harus sedikit kejam agar orang-orang tidak menyepelekan kita. Lagipula kita berlaku kejam bukan tanpa alasan. Apa yang mereka tabur, itulah yang mereka tuai." Jelas Gemilang meskipun yang dikatakan Mazaya ada benarnya. Tapi mau bagaimana lagi, watak kerasnya memang tidak mengenal toleransi bagi siapapun yang berbuat tak seharusnya padanya. Mazaya hanya bisa menghela nafasnya. Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu sebab apa yang Firly lakukan memang tak termaafkan.
15 menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Mada terpampang di layar notifikasi. Gemilang yang sudah tak sabar melihat siapa pengirim paket tersebut pun segera mengklik video yang dikirimkan Mada tanpa membaca pesan yang turut masuk di bawahnya.
Di dalam video tersebut terlihat bahwa seorang anak kecil lah yang menyerahkan paket tersebut pada sang kurir. Gemilang dan Mazaya sampai tercengang karena tak habis pikir ternyata lawannya cukup cerdas sampai bisa berpikir begitu matang seperti ini. Setelah melihat video itu, barulah Gemilang membaca pesan yang diketik Mada.
"Perhatikan, yang menyerahkan paket memang anak kecil. Dia keluar dari gank kecil yang tak terjangkau CCTV. Tapi ... lihat, di seberang jalan tampak ada seorang pria berpakaian serba hitam mengawasi anak kecil dan kurir paket tersebut. Karena dia memakai topi, mungkin wajahnya memang tidak terlihat begitu jelas. Tapi tenang aja, gue akan zoom wajah laki-laki itu."
Tring ...
Sebuah pesan gambar masuk. Mazaya dan Gemilang saling menoleh setelah melihatnya.
"Sesuai dugaan loe, dia ... Antonio."
Gemilang mengepalkan tangannya. Tak akan ia biarkan orang-orang yang berniat buruk pada istrinya. Ia pastikan akan menjerumuskan Antonio ke penjara dan memberikan pelajaran yang tak terlupakan padanya. Pun Mazaya, ia benar-benar tak habis pikir, apa alasan Antonio ingin menghabisi keluarganya sampai seperti ini.
Keesokan harinya, media heboh dengan berita penangkapan Firly dengan kasus pembunuhan berencana. Sang ibu meraung-raung saat melihat putrinya digelandang polisi dengan tangan yang terikat borgol.
Bukti yang begitu jelas dan akurat membuat Firly tak bisa berkutik melawan aparat kepolisian. Ia hanya bisa pasrah seraya meratapi nasibnya yang akan segera menjadi salah seorang penghuni bilik jeruji besi akibat kebodohannya sendiri.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...