
Beberapa bulan kemudian,
"Oek oek oek ..."
Jerit tangis bayi memenuhi kediaman orang tua Gemilang. Kedua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu kompak menangis secara bersamaan membuat kedua orang tuanya kalang kabut. Mereka yang baru seminggu ini status sebagai orang tua tentu saja masih sedikit kerepotan menghadapi polah kedua bayi yang tampaknya selalu kompak di saat menangis. Seakan begitu senang melihat kedua orang tuanya kalang kabut. Namun biar begitu tak mengurangi kebahagiaan dan suka cita mereka akan kehadiran kedua bayi yang sangat menggemaskan itu.
"Zayang, kok aku cium aroma nggak sedap ya?" Hidung Gemilang sibuk mengendus ke sana kemari sambil menggendong bayi perempuan bernama Gantari Syarlene Cakrabuana yang tampak sudah tenang.
Mazaya yang sedang menggendong bayi laki-lakinya yang bernama Garen Syailendra Cakrabuana lantas mendekat. Ia mengendus ke arah bayi perempuannya kemudian terkekeh, "Tari kayaknya pup, Mas. Bersihin gih!" Ucap Mazaya sambil mengulum senyum.
Jelas saja Gemilang menganga tak percaya. Padahal dia sudah rapi dengan baju kokonya sebab sebentar lagi acara aqiqah kedua putra dan putrinya akan dimulai. Tapi si kecil justru pup di dalam gendongannya.
"Aduh, Yang, Mas udah rapi gini. Kira-kira baju Mas bau nggak ya? Terus Mas kan belum benar-benar bisa bersihin pup-nya, Yang." Ucap Gemilang seraya meringis.
"Ayah yang baik itu bukan cuma bisa buat baby nya, tapi belajar mengurus kebutuhan baby nya juga. Kalau umuran segini kan nggak terlalu susah Mas bersihinnya. Seperti yang Zaya suka lakuin, masa' lupa. Tinggal bentang perlak, terus siapin tisu basahnya. Pup nya juga nggak sebau itu kok karena mereka masih minum ASI eksklusif. Mana khusus hari ini pakai diapers juga, jadi tenang aja, nggak bakal tembus ke baju Koko Mas kok."
"Oh, gitu ya! Ya udah, Mas coba deh. Tapi bantuin ajarin ya, biar nggak ada kesalahan." Tuturnya.
Sebenarnya Gemilang masih rada ngeri menggendong bayi-bayi mungilnya. Bukan tanpa alasan, ia khawatir, tangannya yang besar dan biasa menghajar orang justru mematahkan tulang bayi-bayi mungilnya yang masih sangat lembut. Namun ia yang begitu ingin merasakan menggendong bayi-bayinya, berusaha sebisa mungkin agar dapat menggendong mereka dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.
Mazaya mengangguk, lantas menunjukkan apa saja yang harus dipersiapkan sebelum membersihkan pup baby Gantari. Setelah selesai, Gemilang akhirnya tersenyum sumringah. Ia merasa bangga bisa membantu sang istri mengurus bayi-bayinya. Begitulah seharusnya seorang suami. Siaga di saat apapun dan mampu membantu sang istri di saat diperlukan, termasuk dengan mengurus anak-anaknya. Tak sedikit laki-laki yang menganggap kewajiban suami hanyalah mencari nafkah, sedangkan urusan anak-anak sepenuhnya tanggung jawab sang istri. Padahal dalam berumah tangga, segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga termasuk anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dengan begitu, rumah tangga akan menjadi lebih harmonis dan bahagia. Anak-anak pun akan tumbuh dengan bahagia karena kedua orang tuanya yang mampu saling mendukung dan menghormati tanggung jawab masing-masing.
tok tok tok ...
"Kak, Mbak, ayo turun, acaranya sebentar lagi dimulai." Ucap Gempita yang sudah tampil manis dengan busana muslimnya.
"Anak-anak panti Kasih Ibu sudah datang semua?" tanya Gemilang yang diangguki Gempita.
"Udah kak, pak ustadz nya juga udah tiba. Tinggal nunggu si empunya acara aja yang belum turun." Cibir Gempita.
"Tari tadi pup jadi dibersihkan dulu." Ketus Gemilang menanggapi cibiran sang adik. "Makanya buruan nikah terus punya anak baru tahu kamu repotnya punya anak. Mana bisa kita melakukan apapun semau kita." Kesal Gemilang.
Ia paham maksud cibiran adiknya itu. Adiknya yang masih gadis tentu tak paham repotnya menjadi orang tua. Apalagi mereka merupakan orang tua baru yang masih harus terus belajar agar dapat mengurus dan membesarkan anak-anak mereka dengan baik.
Meskipun Gemilang telah mempekerjakan baby sitter, tapi bila mereka di rumah, tanggung jawab kedua anaknya akan berpindah pada mereka semuanya. Mereka tentu tak ingin kehilangan momen berharga mengurus anak-anaknya. Masa kecil anak itu hanya sementara. Tidak selamanya kita bisa terus membersamainya. Apalagi saat mereka menjelang dewasa, kita akan makin kehilangan momen-momen kebersamaan seiring bertambahnya aktivitas mereka di luar rumah. Terlebih saat anak-anak mereka makin dewasa dan berumah tangga, mereka pasti akan lebih fokus dengan dunianya sendiri.
__ADS_1
Mazaya lantas mengusap lengan suaminya untuk meredakan kekesalannya. Gempita hanya bisa meringis merasa tak enak hati sebab ia pikir kakaknya itu justru sedang asik berduaan dengan kakak iparnya saja.
"Maaf. Pita kan nggak tahu." Ucapnya lirih.
"Ya udah, nggak papa. Yuk Mas, kita turun sekarang. Mumpung Tari sama Garen sedang tenang. Sebelum mereka rewel lagi." Ajak Mazaya. Gemilang mengangguk lalu mereka segera menuju lift dan turun ke lantai bawah dimana acara aqiqah akan segera di mulai.
Acara aqiqah berjalan lancar. Gemilang bukan hanya mengundang para kerabat, keluarga, dan tetangga, tapi juga anak-anak panti asuhan yang biasa mereka santuni. Mereka pun ingin membagikan kebahagiaan mereka pada anak-anak yang kurang beruntung itu.
Setelah selesai, para keluarga dan sahabat pun berkumpul di ruang tengah. Mereka tampak berbincang sambil bercanda tawa. Hingga seorang pria tiba-tiba berdiri di hadapan mereka semua.
"Ekhem ... Halo semuanya. Maaf boleh meminta waktunya sebentar." Sontak saja, semua mata kini beralih kepada laki-laki yang tengah memakai baju koko berwarna biru dongker dan bawahan celana bahan berwarna hitam. Sorot mata semua orang tampak bertanya-tanya, kenapa laki-laki yang mereka ketahui sahabat dari Gemilang itu berdiri di sana.
"Di hari spesial ini, izinkan saya, Jendra Adisatya untuk melamar Gempita Candrabuana, putri dari tuan Guntara Cakrabuana dan Anika Larasati untuk menjadi istri saya. Jadi, Om, tante, bagaimana jawabannya? Boleh atau ... " Jendra salah tingkah sendiri. Ia sebenarnya benar-benar gugup. Sampai-sampai untuk merangkai katapun lidahnya seperti keserimpet.
Gempita yang tadinya sedang mengobrol dengan Fatiyah pun benar-benar terkejut. Fatiyah sampai tak henti-henti menggodanya.
"Cie ... cie ... dilamar tuh ama ayang beb. Sana, bantuan tuh. Masa' ayang beb nya dibiarin berjuang sendiri."
"Apaan sih, Yah. Kan dia minta jawaban mama papa aku, jadi biarin aja berjuang sendiri."
"Ih, jangan dong, Mbak. Iya deh, iya, aku ke sana sekarang."
Gempita pun segera berdiri di samping Jendra dan menggenggam tangannya. Keduanya saling bertatapan kemudian kembali mengalihkan pandangan mereka ke kedua orang tua Gempita.
Guntara dan Anika tersenyum. Mereka sudah tak terkejut dengan lamaran dari Jendra sebab Gemilang nanti dulu menceritakan hubungan adiknya dengan sahabatnya itu. Sebelum mendekati Gempita Jendra terlebih dahulu meminta izin Gemilang untuk mendekati adiknya. Namun sebelum Gemilang memberikan izin, ia sebutkan syarat terlebih dahulu, yaitu agar Jendra segera memutuskan dulu semua kekasihnya.
Sebagai seorang kakak, tentu ia ingin memberikan yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak ingin kelak di kemudian hari timbul masalah antara adiknya dengan para kekasih Jendra. Jendra pun menyanggupi persyaratan dari Gemilang. Setelah persyaratan telah terpenuhi, barulah Jendra mendapatkan lampu hijau untuk mendekati adiknya. Pun sebelum melamar, Jendra kembali meminta izin agar semuanya berjalan lancar.
"Kami sih menyerahkan semuanya pada yang bersangkutan, mau nggak nikah sama mantan playboy kayak kamu?" goda Guntara membuat wajah Jendra memerah karena malu membuat semua yang melihatnya jadi tergelak.
"Pita, kamu yakin mau sama dia?" goda Anika.
"Mama, ih, kak Jendra nggak playboy lagi tau. Lagian kan selama ini yang suka itu mereka, bukan kak Jendra." Bela Gempita membuat semua orang terkekeh.
"Ya udah, jadi gimana? Kamu mau nikah sama dia? Kalau mau, kita ijab kabul sekarang aja, mumpung pak ustadz nya masih di sini, kamu mau?"
__ADS_1
Sontak saja semua mata melotot tak menyangka akan respon dari Guntara.
"Papa serius?"
"Kenapa kamu pikir nggak serius? Mumpung calon mertua kamu pun ada di sini, gimana calon besan, kalian setuju?" Ucap Guntara benar-benar membuat semua orang tak habis pikir termasuk kedua orang tua Jendra.
"Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak. Ya nggak, Ma?" Ucap papa Jendra.
"Mama sih, oke-oke aja. Lumayan, pulang-pulang dapat hadiah menantu." Ujar mama Jendra dengan tersenyum lebar.
Jendra dan Gempita saling berpandangan dan melempar senyum. Mereka benar-benar tak menyangka reaksi kedua orang tua mereka akan seperti ini.
Alhasil, sore itu, akad nikah antara Gempita dan Jendra pun dilakukan. Semua tampak ikut berbahagia. Semua juga ikut memberikan selamat dan doa-doa. Termasuk para sahabatnya yang masih jomblo, yaitu Mada dan Nugie.
"Mas, kamu tahu, aku bahagia sekali." Bisik Mazaya setelah menyaksikan akad nikah Gempita dan Jendra.
"Oh ya?"
"Hmmm ....aku bahagia sekali dipertemukan dengan kamu. Aku juga benar-benar berterima kasih dengan kakek. Andai kakek tidak menjodohkan kita, mungkin aku takkan pernah merasakan kebahagiaan sesempurna ini." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sama. Aku pun berterima kasih dengan kakek karena sudah melakukan perjodohan ini. Ternyata tidak selamanya perjodohan itu buruk. Buktinya kita bisa saling menemukan kebahagiaan setelah menikah. Terima kasih sudah hadir dalam hidup, Mas. Mas sangat mencintaimu, Zayang."
"Bukan hanya Mas, aku pun sangat mencintaimu. Semoga kita selalu bersama sampai selama-lamanya ya, Mas. Aku ingin menjadi istrimu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat."
"Kita saling berdoa ya, Zayang. Mas pun berharap begitu."
Mereka pun saling bertatapan. Tatapan penuh cinta. Di awal, Mazaya memang khawatir pernikahannya berakhir buruk seperti kisah-kisah di dalam novel perjodohan. Namun siapa sangka, perjuangannya untuk mempertahankan rumah tangganya berakhir dengan kemenangan sempurna.
Kini, ia bukan hanya mendapatkan suami yang begitu mencintainya, tapi ia juga memiliki sepasang anak kembar yang lucu, orang tua yang begitu menyayanginya, keluarga, dan para sahabat yang selalu ada di saat suka dan duka.
...***...
...Sekian kisah istri tangguh. Semoga cerita ini dapat menghibur kakak-kakak semua. Sampai jumpa di cerita lainnya. 🥰🥰🥰...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...