
Jantung Maria seketika berdegup dengan kencang, "sebenarnya ada apa sih? Kenapa sampai semua orang kayak heboh menghubungi aku malam-malam gini?" Gumamnya seraya melanjutkan lagi ingin melihat pesan yang belum sempat ia lihat tadi.
"Video? Video apa sih ini?" gumamnya lagi saat mengetahui isi pesan itu adalah sebuah video.
Dengan jantung yang berdebar, ia pun mengklik video tersebut. Awalnya mata Maria memicing berusaha mengenali sosok perempuan yang sedang berada di bawah kungkungan seorang pria. Saat itu wajah sang perempuan masih samar karena tertutupi rambutnya.
Namun perlahan-lahan, wajahnya kian nampak jelas. Apalagi saat sang pria yang tubuhnya seakan begitu familiar di matanya sedang menyingkirkan rambut yang beruraian di wajah cantik perempuan itu.
Seketika mata Maria terbelalak saat berhasil mengenali wajah wanita yang sedang mende sah nikmat di bawah kungkungan sang laki-laki. Jantungnya kian terpompa kencang. Tubuhnya bergetar, tak menyangka putri yang ia besarkan dengan kasih sayang bisa menjadi perempuan seperti itu.
"Ah, Daddy .... " de sah Carla.
"Yes baby, kenapa? Nikmat, hm?"
Carla mengangguk seraya tersenyum dengan mata sayunya.
Maria tersentak hebat. Bola matanya seketika menatap kosong. Pikirannya linglung. Jantungnya berdetak bertalu-talu.
"Mungkinkah ... " Gumamnya dengan tatapan nanar. Ia begitu familiar dengan suara laki-laki itu. Suara laki-laki yang telah membersamainya belasan tahun ini. Suara laki-laki yang menjadi pendamping hidupnya ...
Maria lantas kembali melanjutkan menonton video tersebut sambil menelan ludah kasar. Difokuskannya pandangannya hanya pada slide video yang diputar di layar ponselnya. Seketika tubuh Maria melemas. Tungkainya sampai tak mampu menopang tubuhnya hingga meluruh ke lantai. Bahkan ponselnya pun telah meluncur lebih dahulu ke lantai. Mata Maria memanas..Tubuhnya bergetar hebat. Dunianya seakan berhenti berputar.
Satu kata yang Maria rasakan saat ini, yaitu HANCUR.
Maria menangis dalam diam. Air matanya bagai bah yang menerjang pipinya yang masih terlihat mulus terawat. Hanya sedikit gurat di ekor mata sebagai bukti usianya yang sebenarnya mulai menua. Namun hal itu tetap tak menutupi kecantikannya meskipun sudah masuk usia senja.
Maria memejamkan matanya erat. Ia tidak bisa berdiam diri saja seperti ini. Ia benar-benar tak menyangka anak dan suaminya bisa melakukan hal tak terpuji seperti ini. Ini sebuah pengkhianatan. Mereka benar-benar jahat karena telah mengkhianatinya.
Dengan kaki yang bergetar, Maria mencoba bangkit berdiri sambil menggenggam ponselnya. Dengan langkah tertatih, ia meraih kunci mobil yang terkapar di atas meja kamarnya. Lalu tanpa pikir panjang, Maria pun segera berjalan keluar kamar menuju mobil di garasi.
Dengan mata merah menahan amarah, Maria pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tujuannya saat ini adalah apartemen Carla. Ia sangat tahu dengan pemandangan di dalam video tersebut. Ia sangat hafal di luar kepala sebab dirinya lah yang membeli apartemen berikut perabotnya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Maria telah sampai di depan pintu apartemen Carla. Pin dimasukkan, tangannya pun telah memegang handel pintu. Tapi tubuhnya justru gemetaran saat ingin membukanya.
Maria menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Sebisa mungkin ia menguatkan dirinya atas kenyataan pengkhianat yang akan segera ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ceklek ...
Pintu terbuka. Maria pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tersenyum miris saat mendapati jas dan sepatu suaminya tergeletak begitu saja di lantai.
Dengan jantung yang berdebar begitu kencang, Maria berjalan menuju pintu kamar Carla. Tampak peluh sebesar biji jagung mulai membanjiri dahinya. Tangannya bergetar. Apalagi saat ia mendengar nada kepuasan menggema dari balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Wajahnya merah padam. Sorot matanya penuh dengan bara amarah dan kebencian.
"Ah ... dad-dy ... "
"Ah, baby ... "
Seru keduanya dengan nafas tersengal.
"Kau selalu nikmat, baby. Daddy tak pernah kecewa dengan pelayanan mu."
"Daddy pun sangat tangguh. Anak kita pasti senang Daddy nya mengunjunginya." Ucap Carla bahagia.
Brakkkk ...
Suara pintu yang dibuka secara kasar membuat dua manusia yang masih dalam keadaan polos di dalamnya tersentak. Antonio sampai terlonjak apalagi saat melihat siapa yang membuka pintu. Begitu pula Carla. Wajahnya yang merah karena baru saja mendapatkan kepuasan seketika memucat. Ia pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sedangkan Antonio segera meraih celana bokser miliknya dan mengenakannya asal.
Jantung keduanya sudah berdegup dengan kencang. Mereka tak pernah menyangka akan tepergok dalam keadaan seperti ini.
"Mom-mommy, ini ... ini tidak seperti yang mommy pikirkan." Ucap Antonio terbata.
"Be-benar, mom, ini ... ini tidak seperti yang ... "
"Yang apa?" potong Maria cepat sambil mendelik sinis. Tak pernah ia bersikap sinis seperti ini sebelumnya. Ini baru pertama kali dan anak serta suaminya lah yang membuatnya jadi begini. "Yang aku pikirkan? Memangnya apa yang ada dalam pikiranku?" sinis Maria lagi sambil menatap keduanya secara bergantian. Bahkan ia tak lagi menyebut dirinya mommy seperti biasa karena rasa amarah, kecewa, terluka, benci, dan juga dendam telah membakar jiwanya.
__ADS_1
"Setelah apa yang kulihat dengan mata kepala ku sendiri, kalian masih hendak berkilah?" Maria menarik sebelah sudut bibirnya mencemooh. Lalu dia terkekeh kemudian berdecih.
"Cih ... aku tak sebodoh itu untuk kalian kelabui. Entah sudah berapa lama kalian melakukan perbuatan terlarang ini di belakang ku, aku benar-benar tak habis pikir. Kalian benar-benar manusia sampah. Tak bermoral. Tak berperasaan. Main gila di belakang ku? APA KALIAN TELAH KEHILANGAN KEWARASAN KALIAN, HAH?" Pekik Maria. "Kau itu suami ku, dia itu anakku yang otomatis menjadi anakmu juga. Dan kau, dia itu ayahmu, meskipun dia hanya ayah tiri, tapi dia sudah menjadi ayahmu, suami ibumu, kenapa kalian lakukan ini di belakang ku, hah? Bedebaah kalian semua. Aku takkan pernah memaafkan kalian."
"Mom, kami ... kami tidak sengaja. Ada ... ada yang menjebak kami, iya kan nak?"
"Benar kata daddy, mom. Ada yang menjebak kami. Carla mohon, mommy tidak salah paham. Mana mungkin kami sengaja mengkhianati mommy."
Mereka terus saja berdusta. Sekali pendusta tetap pendusta. Mereka takkan pernah mengakui kesalahannya.
Maria terkekeh. Bila di dalam video mereka terlihat seperti dalam keadaan tak sadar, mungkin ia akan percaya. Namun ia melihat sendiri bagaimana mereka melakukan percintaan itu dengan sesadar-sadarnya. Bahkan tadi ia mendengar Carla mengatakan itu anak mereka. Bukankah artinya mereka telah melakukan hal ini sejak lama. Mereka telah melakukannya berulang-ulang kali. Sungguh sangat menjijikkan.
Carla memang putrinya, Antonio memang suaminya, tapi bila mereka melakukan kesalahan, Maria tetap akan marah. Apalagi yang dilakukannya sudah sangat keterlaluan. Tidakkah mereka merasa malu dengan apa yang mereka lakukan? Tidakkah mereka memiliki perasaan, bagaimana bila ia mengetahuinya?
"Kalian pikir aku akan percaya dengan bualan kalian? Iya? Hahahah ... Orang di seluruh dunia yang telah melihat pertarungan sengit kalian pasti akan menertawakan kebodohan ku bila mempercayai apa yang barusan kalian katakan." Cibir Maria yang kini sudah mulai tenang.
Hatinya mulai mengeras bahkan mungkin telah membatu. Ia takkan lagi percaya pada apa yang kedua orang itu lakukan. Tak peduli mereka adalah keluarganya sendiri. Bila mereka telah melakukan kesalahan besar, maka ia tak akan segan-segan untuk membuang mereka.
"Apa maksudmu?" Antonio merasa bingung menafsirkan apa yang barusan Maria katakan terutama kalimat orang di seluruh dunia yang telah melihat pertarungan sengit kalian.
Carla yang sudah mendudukkan tubuhnya di atas ranjang ikut menegang. Apa maksud ucapan ibunya tersebut.
Maria terkekeh sumbang. Kemudian ia terbahak. Lalu dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi kelam.
"Ya, orang di seluruh dunia mungkin telah melihat pertarungan sengit kalian barusan. Kalian pikir aku bisa tahu dari mana kalian sedang ada di sini? Kalian pikir aku mau repot-repot kemari di tengah malam seperti ini bila tak ada tujuan yang jelas. Tidak. Kalian lihatlah aku sosial media kalian. Kalian sekarang sudah kian tenar. Kau Carla ... awalnya mau terkenal karena dustamu yang mengatakan kau hamil anak Gemilang, lalu kini kau akan makin terkenal karena telah menjadi pelakor dalam rumah tangga ibumu sendiri dan menjadi artis film syur dadakan. Bahkan kau bisa-bisanya hamil anak ayah tirimu. Dasar manusia-manusia hina." Cemooh Maria. "Aku takkan menghukum kalian. Sebab aku yakin, dunia lah yang akan segera menghukum kalian dan menghinakan kalian serendah-rendahnya. Oh iya, bersiap-siaplah, mungkin polisi akan segera datang karena telah melakukan perzinahan dan menyebarluaskannya." Imbuh Maria dengan sorot mata penuh kebencian. Setelahnya ia membalikkan badannya dan berjalan keluar dari apartemen itu dengan dagu yang terangkat. Ia takkan repot-repot mengotori tangannya untuk melaporkan perbuatan kedua orang yang sangat Maria sayangi itu.
Ya, Maria sangat menyayangi mereka, tapi rasa sayang itu kini telah menjadi benci dalam sekejap mata. Setibanya di dalam mobil, air matanya tumpah. Dadanya sesak, ia benar-benar terpukul dengan kenyataan ini.
Sementara itu, kedua manusia yang masih berada di dalam kamar begitu syok dengan apa yang Maria sampaikan. Mereka pun segera mengambil ponsel dan membuka aplikasi berwarna biru di dalamnya. Mata keduanya terbelalak saat melihat kehebohan di sosial media yang membagikan video-video pertarungan sengit mereka barusan.
"Dad, i-ini ... bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Carla dengan nafas tercekat dan tubuh bergetar. Saat tak mendengar sahutan dari Antonio, Carla pun menoleh dan ia terkejut saat melihat Antonio pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang tengah dirundung ketakutan setelah mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...