ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Sakit parah?


__ADS_3

Setelah hampir 1 jam lamanya Mazaya mendapatkan perawatan, seorang dokter pun keluar dari dalamnya. Sedangkan di dalam sana, masih ada seorang perawat yang sedang membereskan peralatan yang barusan dokter tadi gunakan.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gemilang dengan raut wajah panik.


Mendengar kata suami, dokter itupun tersenyum.


"Tak perlu khawatir m Istri Anda sudah baik-baik saja begitu pun dengan kandungannya."


"Ka-kandungan?"


"Ah, Anda belum mengetahui perihal kehamilan istri Anda?" tanya dokter itu menelisik.


Gemilang mengangguk mantap, "jadi istri saya benar hamil dok?"


"Benar tuan. Usia kandungannya 5 Minggu."


"Lalu darah tadi?"


"Begini, berhubung istri Anda sedang hamil muda, kandungannya memang sedikit lemah dan rentan terjadi pendarahan atau lebih parah lagi keguguran. Tadi istri Anda mengalami pendarahan akibat faktor kelelahan dan aktivitas berat. Untuk itu, istri Anda diharuskan melakukan bed rest total selama 1 Minggu ini. Kami akan terus mengobservasi sampai keadaan istri Anda benar-benar pulih. Untuk lain kali, diusahakan agar istri Anda tidak melakukan hal yang berat-berat lagi, dikhawatirkan terjadi pendarahan kembali. Sebab bila sampai terjadi, bisa-bisa berakibat fatal." Tukas dokter tersebut. Di saat bersamaan perawat yang tadi membereskan peralatan pun keluar dan berdiri di belakang sang dokter.


'Astaga, bukannya itu tuan mafia ya?' gumam gadis bernama Fatiya itu dalam hati. (Kalau ingat doi pernah nongol di bab atas-atas tuh. 😄)


Gemilang membeku di tempat. Begitu pula Juna, Windy, serta Jendra, Mada, Nugie, dan Willy yang barusan menyusul.


"Astaga, ternyata loe udah mau jadi bapak-bapak aja." Seloroh Jendra membuat Mada dan Nugie terkekeh.


"Selamat, bro. Selamat jadi tua." Timpal Mada membuat Gemilang mendelik tajam.


"Apa maksud loe ngasi ucapan kayak gitu?" Ucap Gemilang dengan mata menyipit.


"Ya mikir aja bro, kami masih single, masih unyu-unyu, lah loe, udah jadi calon bapak artinya udah tua." Tukas Mada sambil tergelak membuat yang lainnya ikut tertawa.


"Selamat ya, tuan." Ucap Windy sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat." Ucap Willy yang hanya menganggukkan kepalanya. Saat bola matanya mengarah ke arah dokter, Willy seketika membeliakkan matanya.


'Dia.' batin Willy dan Fatiyah bersamaan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan." Dokter itupun segera berlalu sambil mempersilahkan Gemilang untuk melihat Mazaya yang sebelumnya telah dipindahkan ke ruang perawatan.

__ADS_1


Sebelum benar-benar berlalu bersama sang dokter, Fatiyah menoleh sekali lagi ke arah belakang. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan ia pun segera mempercepat langkahnya hingga ia menabrak punggung dokter yang memeriksa Mazaya tadi.


"Kamu kenapa, Yah?" tanya dokter itu.


"Sa-saya nggak papa kok dok." Kilah Fatiyah.


"Kalau nggak papa, kenapa wajah kamu pucat?" Sang dokter sampai menghentikan langkahnya dan memperhatikan wajah Fatiyah yang memang terlihat pucat. "Kamu sakit?" tanya dokter Andi itu penuh perhatian. Semua tak luput dari sorot mata tajam seorang pria.


"Ng- eh, i-iya. Saya ... saya sedang sedikit pusing dok. Mungkin karena kurang tidur."


"Kalau kamu nggak enak badan, pulang aja. Tenang aja, kalau ada yang tanya, aku yang kasi izin." Ucap dokter Andi lembut.


"Be-benar dok? Alhamdulillah, makasih ya, dok. Dokter emang yang terbaek." Seru Fatiyah dengan mata berbinar. Dokter Andi hanya tersenyum lalu mengacak rambut Fatiyah gemas karena tingkah gadis itu yang memang kadang menggemaskan.


Sementara itu, di ruangan Mazaya, mata wanita yang baru saja dinyatakan hamil tersebut mulai mengerjap. Matanya menyipit saat merasakan netranya menatap benda silau yang tergantung di langit-langit ruangan serba putih itu.


Kesadaran yang belum sepenuhnya mengumpul membuatnya terpaksa mengucek mata. Rasa pusing kian menjadi saat ia mencium aroma desinfektan khas rumah sakit.


"Sayang," panggil Gemilang senang saat melihat sang istri mulai membuka matanya.


"Mas, aku dimana?" Tanyanya yang belum menyadari keberadaannya.


"Kamu di rumah sakit, zayang."


"Kamu tadi pingsan. Kamu mengalami pendarahan."


"Pendarahan? Tapi aku kan tidak tertembak, kenapa bisa pendarahan?" Gumam Mazaya merasa heran. Ia pikir, pendarahan hanya bisa terjadi pada luka saja.


Gemilang tersenyum. Begitu pula yang lainnya. Ingin rasanya Windy memekik girang dan memberikan selamat pada sahabatnya itu, tapi tentu ia tidak bisa melakukan itu sebab ada sosok yang lebih berhak menyampaikan kabar gembira itu.


"Bukan karena tertembak, Zayangku."


Jendra, Nugie, dan Mada membuat ekspresi mau muntah mendengar kalimat yang diucapkan Gemilang. Bagaimana bisa laki-laki yang dikenal dingin, datar, dan kejam itu bisa bersikap begitu lebay, pikir mereka.


Terlebih Jendra. Dia yang seorang playboy saja tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu, pikir mereka lagi. Mereka lupa, mereka terlalu lama menjomblo atau lebih tepatnya belum bertemu dengan gadis yang mampu meluluhkan hati mereka. Tapi lihat saja nanti, saat mereka telah menemukan tambatan hatinya, mereka pun tak akan kalah lebay dari Gemilang.


"Lebay," cibir mereka bertiga sambil tertawa dengan telapak tangan di mulut. Tentu mereka tak mau mengejek Gemilang terang-terangan. Bisa-bisa singa lapar itu mengamuk dan menghajar mereka.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kamu pendarahan karena kelelahan dan terlalu banyak aktivitas berat. Hari ini pasti sangat berat buatmu, bukan."


"Ah, nggak juga. Biasanya juga nggak apa-apa." Sanggah Mazaya masih belum paham.


Gemilang lantas mendekatkan wajahnya pada Mazaya, "kalau dulu mungkin nggak papa, tapi sekarang berbeda, Zayang sebab kamu ... "


"A-aku kenapa, mas? Apa aku sakit parah?" Mendadak Mazaya khawatir dirinya mengidap penyakit mematikan.


"Bukan sakit parah." Lalu Gemilang menempelkan telapak tangannya di atas perut rata Mazaya. Perut itu memang masih rata, tapi sedikit lebih kencang dan keras dari biasanya karena sudah ada makhluk lain yang menghuninya. "Tapi di sini, ada buah hati kita. Buah cinta kita." Ujar Gemilang sumringah membuat Mazaya membulatkan matanya.


"Maksudnya aku-aku hamil, mas?" pekik Mazaya.


"Yes, selamat jadi calon ibu, Zayang." Ucap Gemilang membuat Mazaya memekik girang. Bahkan ia sampai menarik pundak Gemilang dan memeluknya erat.


"Alhamdulillah, aku senang sekali, mas."


"Mas pun senang. Tapi selama seminggu ini kamu harus bed rest dulu ya. Nggak boleh ada aktivitas fisik apapun."


"Apapun?"


"Yes, apapun."


"Lalu kerjaan ku?"


"Kau punya asisten pribadi kan? Untuk apa ada dia kalau kau harus selalu turun tangan."


"Ck ... ya nggak bisa begitu lah, mas."


"Aku nggak papa kok, Ya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu dan calon baby. Aku akan menghandle semuanya dengan baik, tenang aja." Tukas Willy menyela membuat Gemilang mendelik tajam. Bukan hanya karena Willy menyelanya, tapi juga cara bicaranya yang begitu lembut pada istrinya.


"Terima kasih, Will. Kau memang selalu mengerti aku." Sahut Mazaya tak kalah lembut membuat dada Gemilang kian panas.


"Hai Aya, selamat ya atas kehamilannya." Sela Jendra cepat yang tahu Gemilang sudah mau meledakkan lahar panasnya.


"Selamat ya, dek." Sambung Mada.


"Selamat ya juga dek." Timpal Nugie membuat Gemilang kian panas lalu mendengkus. "Jangan marah-marah aja bisanya! Udah mau jadi calon bapak juga. Posesif banget sih loe." Ejek Nugie yang mendapat lirikan tajam.


Lalu Windy dan Juna yang ikut ingin memberikan selamat pun maju mendekati brankar. Namun karena keduanya bergerak maju bersamaan, pundak mereka pun saling bertabrakan. Windy yang memang sudah lelah pun seketika oleng dan hampir saja jatuh kalau tak ada sepasang tangan yang menahan pundaknya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2