ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Kalang kabut


__ADS_3

Gemilang yang merasa bersalah pun segera masuk ke dalam kamar. Ia pun duduk di tepi tempat tidur berusaha membujuk Mazaya agar tidak marah lagi.


"Zayang, kamu marah?" Tak ada respon.


"Zayang, please, maafin mas." Tetap tak ada respon.


"Zayang, mas bukannya nggak ngebolehin kamu makan bubur ayam. Mas juga bukannya nggak ikhlas. Mas benar-benar ikhlas kok. Jangan marah dong, mas sedih lho liat kamu kayak gini." Tetap tak ada respon membuat Gemilang gusar bukan main.


"Ya udah, kamu boleh deh makan bubur ayam sama Gerhana, tapi mas boleh ikut ya? Mas nggak akan dekat-dekat kok. Mas janji akan jaga jarak asal Zayang makan. Kasian anak kita kalau kepinginannya nggak keturutan." Masih sama, tak ada respon.


"Mas cuci muka dan ganti pakaian sebentar ya. Setelah itu, kita pergi ke sana. Mas yang akan nyopirin kalian." Ucap Gemilang lagi. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat masuk, tiba-tiba ia sakit perut. Ia pun menuntaskan hajatnya terlebih dahulu. Setelahnya, ia mencuci muka dan mengelapnya dengan handuk kecil yang tersedia di sana sambil berjalan keluar.


Gemilang menghela nafas panjang saat melihat Mazaya masih bergelung di dalam selimut. Perasaan bersalah bercokol di benaknya.


Gemilang lantas segera mengganti pakaian. Setelah selesai, ia pun segera menghampiri Mazaya.


"Zayang, mas udah siap. Kita pergi yuk!"


"Zayang, nanti bubur ayamnya keburu habis lho, ayo buruan."


Melihat istrinya tak merespon sama sekali, Gemilang lantas mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Mazaya. Namun saat tangannya menyentuh sesuatu yang tertutup selimut, tiba-tiba dahi Gemilang mengernyit. Panik, ia pun segera menyibak selimut.


"Zayang," pekiknya terkejut sebab ternyata yang ada di balik selimut bukanlah istrinya melainkan sebuah bantal guling. Wajah Gemilang seketika memerah. Bukan karena marah, tapi lebih ke rasa khawatir. Ia pun segera berlarian ke luar mencari istrinya yang mendadak hilang.


"Zayang, Zayang, kamu dimana?" pekik Gemilang seraya melangkahkan kakinya menuruni setiap anak tangga. Karena terlalu panik, ia sampai lupa, kamarnya ada di lantai 3. Untuk mencapai lantai bawah lebih cepat menggunakan lift, tapi ia benar-benar melupakan itu.


"Zayang, kamu dimana? Please, jangan marah lagi!"

__ADS_1


Mendengar teriakan Gemilang, sontak saja Guntara, Anika, Gempita, dan Gerhana yang baru saja tiba di ruang makan segera berbalik mendekati Gemilang yang raut wajahnya telah diselimuti kepanikan.


"Kamu kenapa, Lang? Kenapa teriak-teriak lagi sih? Zaya kenapa lagi? Haduh, kamu ini nggak bisa ngertiin istri sama sekali." Omel Anika kesal.


"Ma, mama liat Zaya nggak?"


"Zaya? Bukannya tadi masuk ke dalam kamar? Dia nggak ada tuh di sini. Kalian liat nggak?" tanya Anika pada Gempita dan Gerhana.


"Aku nggak liat, ma. Terakhir liat pas mbak Zaya masuk kamar." Jawab Gempita.


"Aku juga. Kamu sih kak, masa' bujuk istri sendiri nggak bisa sih!" Cibir Gerhana.


"Diam kamu!" Sentak Gemilang. "Ini juga gara-gara kamu." Tunjuk Gemilang tepat di depan wajah Gerhana.


"Lah, salah aku apa coba?"


"Lalu kalau iya kenapa? Nggak boleh?" Gerhana menarik satu sudut bibirnya ke atas.


"Kau ... " Gemilang telah mencengkeram kerah baju Gerhana hingga wajahnya mendongak ke atas. Tak ada raut ketakutan di wajahnya. Gerhana justru mempertahankan raut menyebalkannya. Berbeda dengan wajah Gemilang yang telah merah padam.


"Jangan macam-macam kau! Dia itu kakak iparmu. Tidak pantas kau memiliki perasaan lebih padanya." Bentak Gemilang dengan suara menggelegar membuat semua pelayan ikut mengintip, penasaran apa yang terjadi. Semua orang tahu, Gemilang memang sedikit temperamen, tapi mereka tidak pernah melihatnya sangat marah seperti ini.


"Sudah, sudah, Elang, lepaskan adikmu. Yang harus kamu lakukan sekarang ini mencari Zaya, bukannya bertengkar kayak gini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada istrimu kau pasti akan sangat menyesal." Anika mencoba melerai, tapi Gemilang yang masih dikuasai emosi tak mau melepaskan cengkeramannya.


"Jangan salahkan kakak ipar kalau dia benar-benar pergi karena tak tahan dengan sifat temperamen mu ini!" Ejek Gerhana.


"Kau ... " Gemilang sudah mengepalkan tangannya hendak meninju Gerhana, tapi suara Guntara menghentikannya.

__ADS_1


"Elang!" Sentak Guntara. "Daripada bertengkar, cepat cek cctv agar kita bisa segera tahu kemana Mazaya sebenarnya."


Seketika kewarasan Gemilang kembali, ia benar-benar lupa untuk mengecek rekaman cctv. Padahal cara paling mudah untuk mengetahui keberadaan Mazaya adalah melalui rekaman cctv.


Mereka pun segera masuk ke ruang kerja Guntara sebab ruang kontrol ada di dalam ruang kerja pria paruh baya tersebut. Tanpa buang banyak waktu, Gemilang segera membuka menyalakan monitor dan membuka rekaman cctv 45 menit terakhir dimulai saat Mazaya masuk ke dalam kamar.


Saat itu Mazaya masuk ke dalam kamar dan menutup dirinya menggunakan selimut. Selang beberapa menit kemudian, Gemilang pun masuk dan mencoba membujuknya, tapi Mazaya tak bergeming sama sekali maupun merespon.


Hingga kemudian, Gemilang masuk ke kamar mandi. Di saat itulah Mazaya membuka selimutnya dan meletakkan bantal guling di tengah-tengah. Ia memposisikan bantal guling itu persis posisi sebelumnya dan menyelimutinya.


Setelah itu, dengan secepat kilat, Mazaya memakai jaket kulitnya. Tak lupa ia menyelipkan dompet dan handphone di dalam saku jaket. Setelah itu, ya mengambil beberapa kain yang cukup panjang dan mengikatnya di pagar pembatas balkon. Yang lebih mencengangkan kelima orang itu adalah Mazaya turun ke lantai bawah menggunakan kain itu. Ia juga keluar dari mansion dengan memanjat pagar samping persis seorang pemanjat profesional. Padahal tembok pagar itu cukup tinggi. Bahkan tingginya melebihi tinggi tubuh mereka, tapi Mazaya justru memanjatnya tanpa pengaman begitu saja. Jelas saja Mazaya pandai dalam hal panjat memanjat sebab ia memang memiliki sertifikat panjat tebing. Jadi soal panjat memanjat, bukanlah hal yang sulit baginya.


Setelah berada di luar, Mazaya langsung menyetop taksi dan masuk ke dalam sana. Hanya dalam waktu 15 menit, Mazaya pun benar-benar menghilang bertepatan dengan Gemilang yang keluar dari dalam kamar mandi.


Tungkai Anika seketika lemas. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan menantunya itu yang sedang hamil muda.


Ia pun melotot tajam ke arah Gemilang yang masih mematung. Gemilang masih tak menyangka, istrinya bisa melakukan hal senekat itu. Lalu Anika mengambil tongkat baseball Gerhana yang ada di dalam sana dan mengacungkannya ke arah Gemilang membuat semua orang membulatkan matanya.


"Ma," pekik mereka semua terkejut.


"Liat akibat perbuat mu! Putri mama jadi kabur. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Mazaya dan kandungannya, hah? Bagaimana? Mama tak mau tau, pokoknya segera cari Mazaya sekarang juga! CEPAT!!!" Teriak Anika murka membuat Gemilang seketika kalang kabut.


...***...


Astaga, bumil bar-bar amat yak! Ngalah-ngalahin Azura, istri dokter Arkandra yang ada di cerita Dokter Galak dan Gadis Menyebalkan. 😂😂😂


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2