
Hari belum begitu larut, tapi Windy merasa begitu suntuk karena ia ditinggal Willy sendirian di apartemen, sedangkan Willy sedang nongkrong di cafe bersama teman-temannya.
"Huft, boring banget sih! Ngapain ya enaknya?" gumam Windy sambil memencet remote televisi. Dari tadi ia sudah mengotak-atik remote, mencari siaran yang sekiranya membuatnya tertarik, tapi ia tak menemukan satupun acara yang bisa menarik perhatiannya.
"Hah, coba aja aku punya pacar, pasti asik nih! Apalagi malam Minggu kayak gini, jalan-jalan berdua, nongki di cafe, atau ngemall bareng, atau kalau lagi males keluar bisa nonton berdua aja kayak gini, emmm ... pasti asik banget tuh. Tapi ... yah, nasib jomblo ngenes banget sih! Kapan bisa punya pacar," gumam Windy bosan. Ia pun merebahkan kepalanya di pegangan sofa. Dimatikannya televisi lalu dilemparkannya remote tv itu ke sembarang arah. Kemudian Windy pun mengambil ponselnya dan mulai mengotak-atik apa saja yang ada di dalamnya hingga kini ia menggulir jarinya ke aplikasi sosial media berlogo F dalam lingkaran biru.
Di scrollnya layar ke bawah, bawah, dan terus ke bawah, "nggak ada yang menarik," gumamnya.
Namun tiba-tiba jarinya berhenti pada postingan salah satu teman di sosial medianya. Mereka tidak berteman secara nyata. Hanya statusnya saja yang berteman, nyatanya tidak saling kenal sama sekali.
Yang menarik perhatian Windy dari postingan tersebut adalah foto yang dibagikannya. Foto seorang laki-laki yang cukup tampan saat sedang tersenyum.
Astaga, semalam gue mimpi apa bisa liat pak Juna senyum kayak gitu? Senyum tipis aja manis banget, apalagi senyum lebar, bisa-bisa meleleh hati aye, bang. 😍😍😍
Bunyi caption postingan tersebut. Dahi Windy mengernyit saat melihat foto yang dibagikan akun bernama Cinderella Imoet itu. Wajah laki-laki itu tampak begitu familiar, "dia siapa ya? Kok kayak kenal."
Windy pun mencoba mengingat-ingat lagi hingga beberapa saat kemudian ia berhasil mengingat siapa laki-laki tersebut.
"Astagaaaa, dia kan ... " Seru Windy yang tanpa sadar tersenyum lebar.
Makin penasaran dengan sosok itu, Windy pun membuka satu persatu komentar di sana. Semuanya menyatakan setuju dengan caption si empunya akun dan yang membuat Windy makin melotot, ternyata rata-rata komentator itu merupakan penggemar sang laki-laki. Ia pun mencoba membaca satu persatu komentar itu hingga ia tanpa sengaja menemukan komentar yang mengetag akun laki-laki tersebut.
Tingkat kekepoan Windy makin meningkat, ia pun membuka akun bernama Juna tersebut. Dahi Windy sontak mengerut sebab ia tak menemukan satupun postingan sang laki-laki. Bahkan foto profil akunnya pun merupakan foto gedung perusahaan tempat laki-laki itu bekerja.
"Menarik." Windy mengembangkan senyumnya sambil terus mencari informasi tentang akun bernama Juna.
...***...
"Kau masih meragukan, mas?" tanya Gemilang lirih. Tatapan Gemilang begitu dalam. Ada pancaran kekaguman di dalamnya. Sorot matanya telah mulai terselimuti kabut gairah. Penuh harap dan damba.
Berbanding terbalik dengan sorot mata Mazaya yang memancarkan keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran.
"Maaf." Cicit Mazaya sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Gemilang mengangkat dagu Mazaya agar mereka kembali saling bertatapan, "apa yang membuatmu ragu?"
"Zaya hanya takut kalau mas ... tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang mas katakan. Mas hanya terbawa suasana saja, tidak benar-benar memiliki perasaan cinta pada Zaya." Ungkapnya.
Gemilang menghela nafasnya, "mas serius, sayang. Jujur, mas tidak pernah mencintai Carla. Hanya kamu ... kamulah satu-satunya yang mas cinta. Hanya kamu ... yang mampu membuat jantung Mas berdebar-debar. Dan hanya kamu yang mampu membuat darah Mas berdesir hebat."
Jelas saja mendengar apa yang Gemilang katakan membuat Mazaya membulatkan matanya.
"Ba-bagaimana bisa? Mas saja sudah menjalin hubungan dengannya selama hampir 2 tahun, mana mungkin Mas tidak memiliki perasaan sama sekali padanya." Gemilang meragukan kata-kata Gemilang.
"Mas sungguh-sungguh sayang," tekan Gemilang sedikit frustasi sebab rudalnya sudah berdiri menjulang sejak pertama kali menginjakkan kakinya di kamar dan melihat pemandangan molek tubuh sang istri. "Mas akan ceritakan semuanya. SEMUANYA, tapi tolong ... "
"Tolong apa?" tanya Mazaya saat Gemilang menjeda ucapannya.
"Izinkan mas memiliki kamu seutuhnya malam ini. Apa kamu nggak kasihan sama rudal mas yang sudah tak sabar ingin memasukimu, membuatmu jadi milik mas sepenuhnya."
Gemilang merengkuh pinggang Mazaya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri ia selipkan di leher belakang Mazaya. Tanpa banyak bicara lagi, Gemilang menarik tengkuk Mazaya mendekat hingga bibir mereka saking bersentuhan. Gemilang mengecup bibir Mazaya atas dan bawah bergantian. Lalu kecupan itu berganti menjadi luma tan. Ciuman yang awalnya lembut kini kian menggebu. Apalagi saat Mazaya mulai terbawa suasana dan mulai membalas setiap cumbuannya.
Mazaya tanpa sadar melenguh saat tangan Gemilang merayap di permukaan kulitnya yang hanya dibalut kain tipis nyaris transparan dari lingerie yang dipakainya.
"Massss ... " Saat telapak tangan Gemilang kini telah singgah di melon kembar sang istri.
Gemilang pun melepaskan cumbuannya yang telah berlabuh di leher dan menatap lekat netra sang istri yang kini pun telah sama seperti dirinya, diselimuti kabut gai rah.
"Sayangku, boleh kah aku memilikimu seutuhnya?" tanya Gemilang lirih. Ia tak mau melakukannya tanpa seizin istrinya. Ia pun tak ingin memaksa. Memaksakan kehendak hanya bisa membuat sang istri menderita, tak bisa menikmati, dan berakhir meninggalkan luka tak kasat mata.
Gemilang ingin mereka melakukannya karena mereka sama-sama ingin. Bukan hanya salah satu, tapi keduanya. Ia ingin berlayar menuju nirwana dengan hati yang sama-sama mendamba, bukan memaksa.
Entah karena memang terbawa suasana atau memang sudah sama-sama mendamba, Mazaya reflek mengangguk. Ia pun sebenarnya telah mengikhlaskan suaminya bila ingin menyentuhnya. Dosa besar bila ia menolak pun suaminya sebenernya memintanya tanpa memaksa. Selain itu, ia tak ingin membuat suaminya kecewa. Bisa saja dengan penyatuan mereka dapat mendekatkan hati mereka agar makin erat lagi dan membuat hatinya benar-benar terbuka untuk suaminya pun suaminya makin mencintainya. Semoga.
Melihat sang istri mengangguk sontak saja membuat Gemilang tersenyum lebar. Tanpa ba bi bu, ia pun meraih Mazaya ke dalam gendongannya dan membaringkannya di atas kasur king size miliknya.
Kini posisi Gemilang sudah dalam keadaan mengungkung sang istri. Jantung keduanya berdebar kencang saling bersahut-sahutan. Jelas saja mereka berdua berdebar-debar sebab ini merupakan pengalaman pertama keduanya. Pengalaman yang akan mereka kenang seumur hidup.
__ADS_1
"Mas ... "
"Apa?" tanya Gemilang yang kini sudah kembali melabuhkan bibirnya di leher sang istri.
"Apa-apa mas pernah me-melaku-khannya de-dengan dia?" tanya Mazaya seraya mende sah karena tangan Gemilang yang sudah menangkup salah satu melon kembar miliknya dan mere masnya.
Gemilang menarik wajahnya dari leher Mazaya dan menatap wanitanya itu yang saat ini sedang terengah-engah kemudian menggeleng.
"Tidak, sayang. Ini pun pertama kalinya buat mas. Bahkan bibir ini pun hanya milikmu. Kau yang pertama, sayang. Dan akan selalu seperti itu, selamanya. Hanya milikmu." Tukasnya dengan tangan yang sudah bergerak ke tepian lingerie tipis itu dan srakkk ...
Ia merobek lingerie tipis itu dan membuangnya ke sembarang arah. Mata Mazaya melotot. Mengapa Gemilang justru merobek lingerie miliknya? Bagaimana bila mertuanya marah saat tahu lingerie pemberiannya justru dirobek Gemilang? Mazaya pikir, mertuanya itu pasti akan marah dan kecewa karena tidak menghargai pemberiannya.
"Mas, kenapa dirobek? Ini kan pemberian mama? Bagaimana kalau mama marah karena ... "
"Ssst ... " Gemilang mendesis saat baru saja bibirnya hampir mencapai kacang mede yang sudah menggodanya itu. Warnanya merah muda, membuat gai rahnya makin bergejolak. "Mama nggak akan marah, sayang. Memang beginilah cara pakainya. Mama justru akan senang saat tahu lingerie pemberiannya bermanfaat saat memproduksi calon cucu untuknya." Ucap Gemilang sekenanya lalu tanpa membuang waktu lagi ia meraup kacang mede yang ada di puncak da da istrinya dan menjilat, mengu lum, serta menghisapnya. Mazaya menggeliat hingga dadanya melengkung ke atas.
Entah berapa lama mereka melakukan itu, tapi kini keduanya sudah tak mampu menahan buncahan ha srat yang sudah berkobar. Gemilang lantas melucuti semua yang melekat di badannya. Kemudian ia memposisikan rudalnya tepat di depan pintu syurgawi sang istri. Ia gesek-gesekkan rudalnya ke depan pintu masuk yang telah basah karena pelumas alami sang istri yang telah menyembur akibat permainan tangan dan bibirnya tadi. Lalu dengan perlahan ia melesakkan rudalnya ke dalam lubang syurgawi yang masih terjaga kemurniannya.
Gemilang merasa sedikit kesulitan karena ini merupakan pengalaman pertama bagi keduanya. Butuh usaha yang ekstra bagi Gemilang untuk membobol sang istri hingga pada usaha ke sekian kalinya barulah ia berhasil menembus pertahanan sang istri.
Mazaya meringis kesakitan. Ia merasa dirinya seperti terbelah dua. Rasanya begitu menyakitkan. Gemilang yang menyadari istrinya kesakitan berdiam sejenak agar sang istri mulai terbiasa dengan miliknya di dalam sana. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi sang istri dengan lembut lalu mengecup matanya.
"Maaf! Mas akan melakukannya dengan pelan-pelan. Mas tahu, ini sakit. Tapi mas janji, ini tak akan lama." Mazaya hanya bisa pasrah. Ia pun secara teori telah mengetahuinya, tapi secara praktek? Ya, memang menyakitkan. Namun itu hanya sementara. Setelah suaminya mulai menggerakkan miliknya di dalam sana, awalnya memang masih terasa sakit, tapi lambat laun rasa sakit itu berubah menjadi sebuah kenikmatan.
Suara desa han demi desa han mulai memenuhi kamar itu. Keduanya mende sah bersahut-sahutan. Hingga tak lama kemudian keduanya pun menge rang bersamaan saat mereka akhirnya mencapai puncak secara bersamaan. Akhirnya Gemilang pun berhasil menabur benih-benih cintanya di ladang sang istri.
Setelah benih-benihnya telah menyembur sempurna di ladang sang istri, Gemilang pun menarik rudalnya keluar lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Nafas keduanya masih tersengal. Lalu keduanya saling bersitatap. Senyum terukir di bibir mereka berdua. Keduanya merasa bahagia sebab akhirnya mereka berhasil mempersembahkan apa yang mereka jaga kepada pasangan halalnya.
"Terima kasih, sayang. Maaf bila mas menyakitimu. Mas mencintaimu," ucap Gemilang lalu ia mengecup dalam dahi sang istri.
"Terima kasih juga mas atas segalanya." Balas Mazaya. Namun Gemilang sedikit kecewa sebab Mazaya belum membalas kata cintanya. Tapi tak apa, ia tak mungkin memaksa. Ia yakin, perlahan tapi pasti, istrinya akan membalas cintanya.
...***...
__ADS_1
Dari semalam ditolak melulu. 😭😭😭. Semoga yang ini lulus.
...^^^HAPPY READING. 🥰🥰🥰^^^...