ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
67


__ADS_3

Gemilang melajukan mobilnya dengan perasaan gusar. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja langit menghitam dan hujan turun dengan begitu derasnya. Perasaannya kian tak menentu, terutama saat mengingat cerita Windy di dalam lift tadi.


'Zaya itu kalau pikiran dan perasaannya sedang tak nyaman emang gitu, suka tiba-tiba kabur. Itu kebiasaannya dari kecil. Mau pintu terbuka selebar apapun, ia lebih memilih memanjat. Mungkin baginya melakukan sesuatu yang memacu adrenalin itu bisa sedikit memberikan ketenangan pada dirinya. Setelahnya, ia akan pergi ke makam kedua orang tuanya. Mau sejauh apapun keberadaannya saat itu, saat ia butuh ketenangan, ia akan tetap pergi ke makam kedua orang tuanya. Di sana dia akan berbicara layaknya bercerita tepat di hadapan kedua orang tuanya. Ia akan mengeluarkan segala keluh kesahnya. Mencurahkan isi hatinya. Pernah saat itu kami dapat tugas dari kakek ke New York. Setelah beberapa hari di sana, Zaya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seseorang. Orang tersebut terbukti salah, tapi karena identitas Zaya yang tidak memiliki orang tua lagi, dia dianggap remeh keluarga orang tersebut. Walaupun masalah akhirnya bisa diselesaikan dengan jalan damai, tapi Zaya terlanjur down. Diam-diam dia pulang membuat kami semua kalang kabut. Setelah dicari, ternyata Zaya sudah berada di makam keesokan harinya. Kami adalah kumpulan orang tidak memiliki keluarga, karena itu kami sangat memahami perasaannya. Masih kecil tapi sudah dituntut bersikap dewasa. Akibatnya, terkadang sisi kekanakannya muncul. Dan inilah salah satunya, kabur dari semua orang dengan cara anti mainstream.'


Mengingat itu, hati Gemilang perih. Ia bisa merasakan kesedihan Mazaya yang harus kehilangan bukan hanya orang tuanya, tapi juga masa kecilnya yang bahagia.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu selama 3 jam, kini jadi lebih lama dari semestinya. Setelah 5 jam menempuh perjalanan menembus derasnya hujan di sore hari, akhirnya mobil Gemilang dan Willy tiba di komplek pemakaman yang cukup luas. Hujan memang tidak sederas tadi, tapi masih mampu membasahi tubuh bila tidak menggunakan payung.


Gemilang lantas meraih sebuah payung yang ada di bagasi mobilnya. Tapi payung itu tidak direntangkan. Ia membawa payung itu untuk Mazaya. Sedangkan dirinya, ia tak peduli mau basah atau tidak.


"Bagaimana? Ada?" tanya Gemilang dengan raut wajah khawatir.


Willy menggeleng cepat sambil meraup wajahnya yang basah terkena tetesan air hujan.


Gemilang kian gusar. Lalu ia menghampiri seorang pria tua yang sedang ngopi di pondok tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Maaf pak, apa tadi Anda melihat seorang perempuan cantik datang ke makam ini seorang diri?" tanya Gemilang setelah berdiri di hadapan pria tua itu.


Pria tua itu mengernyit, "Anda siapa?"


"Saya suami perempuan itu, pak. Ah, iya, sebentar, saya akan tunjukkan fotonya." Gemilang pun dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Mazaya pada pak tua itu.


Pak tua itu manggut-manggut membuat Willy dan Willy saling menoleh, sedangkan Gemilang menanti jawaban dengan cemas.


"Perempuan ini ... ya, tadi dia ada datang ke mari. Tadi dia ditemukan pak Wanto pingsan saat hujan-hujanan." ucap Pak tua itu membuat jantung Gemilang seperti diremas.


"Is-istri saya pingsan, pak. Lantas, dimana dia berada sekarang?"


"Tadi dibawa pak Wanto dan anaknya ke rumahnya kayaknya. Kasian. Udah pucet gitu. Kalau kalian mau ke rumah pak Wanto, mari saya antar." Gemilang tersenyum. Beruntung pak tua itu tau alamat orang yang menyelamatkan istrinya. Ia benar-benar berhutang budi dengan laki-laki bernama pak Wanto tersebut.


Hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit, akhirnya Gemilang dan yang lainnya pun tiba di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Rumah tersebut memang kecil tapi terlihat begitu asri karena dikelilingi berbagai macam tanaman.


"Assalamualaikum," ucap pak tua itu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang dari dalam rumah. "Eh pak Karso, ada apa ya?" tanya seorang remaja laki-laki. Lalu ia menoleh ke arah Gemilang, Windy, dan Willy. Dahinya berkerut. Benaknya bertanya-tanya, siapa ketiga orang yang berpenampilan serba rapi dan keren tersebut. Remaja yang baru menginjak usia 17 tahun itu menatap berbinar-binar pada mereka.


"Rud, itu suami perempuan yang kalian tolong tadi. Bagaimana keadaan perempuan tadi? Apa sudah siuman?"


"Wah, benarkah? Kalau begitu, silahkan masuk pak, Bu. Ayo pak Karso! Mbak itu masih pingsan pak. Dia demam. Mau panggil bidan, tapi nggak ada motor." Ucap Rudi-anak pak Wanto.


"Bisa saya lihat istri saya?" Ucap Gemilang khawatir. Apalagi setelah tahu istrinya masih pingsan.


Rudi pun mempersilahkan. Di dalam sana ada pak Wanto dan istrinya ikut menyambut dan mempersilahkan Gemilang melihat Mazaya. Mata Gemilang seketika memanas saat melihat wajah pucat Mazaya. Belum lagi suhu tubuhnya sangat tinggi.


"Pak, Bu, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mau minta izin untuk segera membawa istri saya ke rumah sakit. Soalnya istri saya sedang hamil. Saya takut, mereka kenapa-kenapa kalau tidak segera ditangani tim medis." Ucap Gemilang dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Pak Wanto tak bisa melarang. Ia pun mempersilahkan. Rudi ikut mengiringi sambil memegangi payung untuk Gemilang dan Mazaya yang berada dalam gendongannya.


Sebelum benar-benar pergi, Gemilang mengucapkan terima kasih baik pada pak Karso, pak Wanto dan istrinya, serta Rudi. Tak lupa ia mengambil sebuah amplop coklat dan mengisinya dengan uang yang ia ambil dari dalam dasboard. Uang itu cukup banyak karena memang sengaja ia persiapkan untuk keperluan di jalan. Diberikannya amplop coklat itu sambil membisikkan sesuatu.


"Untuk beli motor." Ucap Gemilang membuat mata Rudi membulat. Saat mobil Gemilang pergi dari hadapannya, Rudi pun mengintip ke dalam amplop coklat yang isinya lumayan tebal tersebut.


Matanya seketika terbelalak, "Masya Allah, ini ... ini uang? Uang beneran?" Gumamnya dengan bibir bergetar.


Uang bukan masalah bagi Gemilang. Yang ia apresiasi adalah orang-orang tersebut mau menolong istrinya dengan tulus. Bila terlambat sedikit saja, mungkin akibatnya akan lebih fatal.


"Bagaimana keadaan Zaya, Lang?" tanya Anika dengan nafas ngos-ngosan karena berlarian sepanjang koridor rumah sakit.


"Masih diperiksa, ma."


"Syukurlah ada orang baik yang menolong, bila tidak." Guntara menghela nafasnya.


"Suami pasien Mazaya?" panggil seorang perawat.


"Iya, saya."


"Silahkan masuk ke dalam, pak. Biar dokter yang menjelaskan."

__ADS_1


Gemilang lantas segera masuk ke ruangan serba putih itu. Tampak Mazaya telah sadarkan diri. Gemilang lantas segera berhambur memeluk Mazaya dengan erat. Tanpa sadar, ia terisak pelan. Air matanya jatuh membuat Mazaya cukup terkejut. Tak menyangka, laki-laki arogan itu bisa meneteskan air matanya.


"Mas," cicit Mazaya lemah.


"Maafin mas, sayang. Maafin keteledoran mas yang nggak bisa jaga dan ngertiin kamu. Maafkan mas, sayang. Jangan pergi-pergi lagi! Kau tahu, mas hampir gila karena takut kehilanganmu. Maafkan mas, sayang. Jangan seperti itu lagi!" Ucap Gemilang seraya tergugu.


"Mas, maafin aku. Aku udah buat mas khawatir." Ucap Mazaya pelan.


Gemilang pun menggeleng, "nggak, kamu nggak salah. Mas lah yang salah nggak bisa mengerti perasaanmu. Mulai hari ini, mas akan berusaha lebih mengerti kamu. Kalau ada sesuatu yang tak berkenan, tolong jangan dipendam. Ceritakan ke mas. Kalau ada yang kamu inginkan, jangan ragu untuk mengatakan dan memintanya, mas akan berusaha memberikan apapun untuk kebahagiaanmu." Ucap Gemilang membuat dokter dan perawat yang masih berada di sana tersenyum haru.


Tak lama kemudian, Mazaya kembali tertidur, efek obat yang diberikan melalui cairan infus.


"Jadi bagaimana dok keadaan istri dan calon anak saya?" tanya Gemilang yang kini sudah mulai tenang.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Keadaan istri anda dan kandungannya baik-baik saja. Hanya saja istri Anda sedikit kelelahan. Jadi dia diharuskan banyak beristirahat. Kalau begitu saya permisi dulu ya pak. Masih banyak pasien yang harus saya tangani."


"Syukurlah. Terima kasih, dok, atas bantuannya."


Dokter itupun mengangguk dan segera beranjak dari sana.


Saat Gemilang sedang sibuk menunggui istrinya di ruangan perawatan, ada seorang pria dan wanita yang duduk berdua di samping taman rumah sakit. Sang wanita tertunduk dengan wajah tersipu malu.


"Jadi bagaimana, sudah kamu sampaikan dengan orang tuamu tentang lamaran itu?"


"Emmm ... itu Om, maaf, belum sempat."


Laki-laki itu berdecak, "mau sampai kapan kamu menundanya? Apa aku mesti hamili kamu dulu baru kamu mau bergerak cepat?" Kesal laki-laki itu.


Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya berseru dengan suara lantang dan wajah merah padam membuat kedua orang itu terkesiap.


"Apa? Kamu hamili anak saya? Dasar laki-laki bajingaan. Brengsek. Kamu harus tanggung jawab. Harus. Awas kalau kamu lari dari tanggung jawab! Saya akan tuntut kamu ke penjara."


Karena jarak yang cukup jauh, belum lagi angin berhembus cukup kencang, membuat kata-kata laki-laki itu hanya terdengar samar. Alhasil sang wanita paruh baya pun salah paham dengan apa yang laki-laki itu ucapkan.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2