ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Willy, Fatiyah, Windy, Juna


__ADS_3

"Apa? Kamu hamili anak saya? Dasar laki-laki bajingaan. Brengsek. Kamu harus tanggung jawab. Harus. Awas kalau kamu lari dari tanggung jawab! Saya akan tuntut kamu ke penjara."


Karena jarak yang cukup jauh, belum lagi angin berhembus cukup kencang, membuat kata-kata laki-laki itu hanya terdengar samar. Alhasil sang wanita paruh baya pun salah paham dengan apa yang laki-laki itu ucapkan.


"Bu, ibu salah paham. Kami ... kami ti-."


"Tak perlu membelanya, Tiyah." Potong wanita paruh baya yang ternyata ibu dari Fatiyah tersebut. "Laki-laki bajingaan ini harus tanggung jawab dengan perbuatannya. Ibu tidak mau masa depan kamu hancur karena laki-laki ini." Ucap Bu Farah menggebu.


"Tapi Bu ... "


"Ibu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Secepatnya aku akan bertandang ke rumah ibu untuk melamar Fatiyah secara resmi." Ucap Willy tanpa berniat mengkoreksi kesalahpahaman ibu dari gadis cantik yang telah menarik hatinya itu.


"Bagus. Begitulah laki-laki, harus berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meskipun perbuatan kalian salah, tapi apa boleh buat. Ibu nggak mau kehamilan Tiyah makin membesar tapi statusnya belum menikah. Kasihan cucu ibu, nanti orang-orang akan mencapnya anak ... ah, kalian tahu sendiri maksud ibu."


"Tapi Bu ... "


"Tapi apalagi Tiyah? Jangan membantah omongan ibu. Ini untuk kebaikanmu."Fatiyah menghentak-hentakkan kakinya kesal karena selalu saja ucapannya dipotong.


Bibir Fatiyah juga mengerucut. Beginilah ibunya, kalau sudah bicara, tak bisa disergah sedikit pun.


"Tapi Tiyah nggak ... "


"Udah sayang, kamu nggak perlu khawatir. Semua akan segera beres. Sepulang bos kakang dari rumah sakit, kakang akan langsung melamar mu. Kakang janji." Ucap Willy yang makin membuat Fatiyah rasanya mau menjerit seraya mencekik laki-laki di sampingnya itu.


'Kakang ... Kakang ... Kangkung kali.' Batin Fatiyah mendumel kesal. Tapi melihat kesungguhan Willy yang ingin menikahinya, sebenarnya mampu membuatnya rasa ingin melayang sampai ke negeri seberang.

__ADS_1


Sebenarnya sejak beberapa hari setelah pertemuan mereka di rumah sakit saat itu, Willy menyatakan ingin melamar dan menikahinya. Baginya, apa yang mereka lakukan itu salah. Ciuman yang dilakukan Fatiyah saat di club malam ternyata memang terulang kembali sepulang dari kantor polisi. Alih-alih meminta menarik kembali ciuman yang pernah ia lakukan di bibir merah Willy, mereka justru benar-benar menikmati pertautan bibir tersebut.


Sebenarnya ciuman yang Fatiyah lakukan saat di club malam itu karena sebuah tantangan permainan. Ia dan ketiga temannya bertemu untuk merayakan ulang tahun salah satu temannya. Lantas mereka pun melakukan permainan truth or dare. Fatiyah memilih dare, jadi ia diberikan pilihan untuk melakukan sebuah tantangan. Yang pertama adalah meminum segelas alkohol, sedangkan tantangan satu lagi mencium laki-laki yang baru saja keluar dari toilet.


Fatiyah yang merupakan pekerja di bidang kesehatan tentu saja menolak untuk meminum alkohol. Jadi ia lebih memilih mencium laki-laki yang keluar dari toilet. Meskipun aneh, tapi ia terpaksa melakukannya. Di saat bersamaan, ternyata yang keluar dari toilet adalah Willy. Lalu dengan secepat kilat Fatiyah menjalankan tantangannya. Setelahnya, ia langsung kabur secepat mungkin.


Willy yang tiba-tiba saja dicium oleh seorang gadis, terang saja merasa syok. Saat ia mencoba mengejar gadis itu, ternyata Fatiyah dan teman-temannya telah kabur terlebih dahulu. Tak kurang akal, Willy pun meminta temannya yang merupakan manajer club malam itu untuk memutar rekaman cctv di depan toilet. Willy juga meminta temannya itu mengirim rekaman cctv tersebut padanya. Oleh sebab itu, saat pertama kali melihat Fatiyah keluar dari ruangan UGD dimana Mazaya diperiksa, Willy langsung bisa mengenali gadis yang merenggut ciuman pertamanya.


Satu hal yang tak terduga, di pertemuan kedua mereka, mereka kembali terlibat pergulatan bibir. Hanya pergulatan bibir, tak lebih. Namun nyatanya apa yang mereka lakukan membuat benih-benih cinta itu tumbuh subur. Willy yang tak mau melakukan hal terlalu jauh dalam ikatan tak jelas pun berniat memperistri Fatiyah. Namun Fatiyah belum berani menyampaikan niat Willy tersebut pada kedua orang tuanya. Hingga sepertinya semesta sedang mendukung niat baik Willy tersebut dengan menimbulkan kesalahpahaman antara ibu Fatiyah pada mereka.


Alhasil, tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Willy pun langsung menyanggupi keinginan ibu Fatiyah untuk memperistri putrinya. Ia sengaja belum mengkoreksi kesalahpahaman ini. Biarlah dulu pikirnya. Biarkan ia mengikat Fatiyah dalam ikatan pernikahan dulu, setelahnya baru ia akan menjelaskan kesalahpahaman ini. Cerdik dan licik beda tipis, bukan. Hahaha ...


Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, lagi-lagi Windy harus dipertemukan dengan orang-orang yang sangat ia hindari. Bukan karena takut, tapi lebih ke rasa muak.


"Heh, anak sialan. Ternyata kau pun di sini. Lihat, gara-gara kau, anakku masuk rumah sakit dan keguguran. Ia juga harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Kau kan yang telah mengirimkan foto Weni dan kekasih tajirnya itu dengan istrinya." Sentak Riana yang tiba-tiba telah mencengkeram lengannya.


Tidak sulit untuk mengetahui siapa laki-laki tersebut. Terang saja, sang istri murka mengetahui suaminya berselingkuh dengan daun muda. Ia pun melabrak Weni dan terjadilah pertengkaran antara keduanya. Weni yang tak mau mengalah mencoba memukul istri sah, tapi untung tidak didapat, malang tak dapat dicegah, kaki Weni tersangkut dan ia pun jatuh dengan posisi menelungkup.


Nahas, ternyata saat itu tanpa ia sadari ia sedang hamil muda. Weni yang jatuh tertelungkup di atas sebuah batu membuatnya seketika pendarahan hebat. Weni pun segera dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata Weni telah keguguran dan yang lebih parah, rahimnya sobek akibat benturan itu. Alhasil, rahimnya pun harus ikut diangkat untuk mencegah timbulnya penyakit baru.


Weni frustasi. Ia seperti kehilangan kewarasannya. Ibu Weni ingin menuntut istri laki-laki tersebut tapi tak bisa. Jadi ia berbalik menyalahkan Windy sebab karena Windy lah istri dari laki-laki tersebut mengetahui hubungan terlarang suaminya dengan Weni.


Windy terkekeh dengan seringai mencemooh. Bagaimana bisa siapa yang salah siapa yang disalahkan. Apa ia salah, ia hanya menyampaikan kebenaran pada istri sah dari kekasih Weni tersebut.


"Nyonya, saya tahu bodoh itu gratis, tapi nggak juga harus kamu borong semua dong. Yang ada, otak Anda makin keblinger. Lagian salah saya dimana? Saya kan hanya menyampaikan kebenaran. Kalaupun kini putri kesayangan Anda jadi korban, itu akibat perbuatannya sendiri. Entah sudah berapa kali aku memergoki dan memperingatkan dirinya untuk menghentikan perbuatan bodohnya, tapi ia selalu membalasku dengan kesombongan dan caci maki, jadi nikmati saja sendiri buah hasil perbuatannya."

__ADS_1


"Jangan lancang kau anak haraaam! Kau itu hanya iri kan! Kau iri, Weni bisa mendapatkan laki-laki kaya, sedangkan kau apa? Kau hanyalah pekerja serabutan." Ejek Riana. Namun dahinya berkerut saat melihat apa yang Windy kenakan semua barang branded, bukan kw-kw seperti apa yang dia pakai. "Cih, sok pakai barang branded. Pasti itu semua hasil kredit, iya kan!" Cibir Riana.


Windy tergelak kencang mendengar tudingan tak berdasar Riani, "kredit? Ih, nggak level. Ngapain kredit, kayak orang susah aja." Sahutnya sombong. Sekali-kali boleh lah sombong. Terlebih sombong dengan wanita yang memiliki tingkat kesombongan dan kejulidan akut seperti Riani. Lalu Windy mengeluarkan ponsel mahal apel kroak model terbaru miliknya. Gegas ia menghubungi seseorang yang ada di dalam kontaknya. "Halo pak Sukri, tolong antarkan mobilku ke rumah sakit cinta Medika ya." Ucapnya membuat Riana mendengkus.


"Mobil yang mana, non?"


"Apa? Mobil yang mana? Yang biasa saya pakai aja pak, Pajero. Nanti nyonya sombong di hadapan saya ini bisa tiba-tiba stroke kalau liat saya bawa Lamborghini Aventador. Saya malas mengurus manusia-manusia sombong seperti dia." Ucapnya sambil melirik Riana dengan senyuman mencibir.


Baru mendengar saja Riana sudah syok. Ditambah lagi tiba-tiba ada laki-laki muda dan tampan yang merangkul Windy dari samping, membuat Riana makin membulatkan matanya.


"Baby, kenapa repot-repot bawa mobil, kan ada aku yang siap mengantarmu kemana pun kau mau. Bahkan ke KUA sekarang pun, aku mau." Ucap laki-laki yang ternyata salah Juna tersebut.


Windy tersipu malu mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Riana, istri dari ayah biologisnya. Wajahnya kini terlihat jelek. Ia benar-benar tak menyangka, anak mantan pembantunya kini sudah sukses dan memiliki segalanya. Bukan hanya kini sudah kaya dan sukses, tapi juga ia memiliki kekasih yang tampan dan terlihat mapan. Terang saja Riana menjadi iri. Tapi sayang, ia sudah tak bisa memanfaatkan Windy lagi sebab anak suaminya dari pembantunya itu kini telah berani melawannya.


"Benarkah?"


"Aku sungguh-sungguh. Kalau kau masih ragu, ayo bertemu orang tuaku sekarang?" Ucap Juna penuh ketegasan. Entah Juna memang serius atau tidak, Windy pun mengangguk. Juna lantas segera meraih pundak Windy dan mengajaknya menuju mobilnya dengan wajah sumringah.


Riana yang merasa tak dianggap pun memilih membelokkan langkahnya menuju ruang perawatan sang putri yang kini sedang dijaga ayahnya.


"Sialan. Kenapa anak pembantu itu nasibnya lebih bagus dari Weni? Sedangkan Weni sudah seperti orang gila aja sekarang." Kesal Riana.


'Halo non Windy, halo ... halo, non Windy, jadi nggak nganterin mobilnya? Non, non Windy ... Non Windy ... '


...***...

__ADS_1


Yang lagi kasmaran, sampai lupa teleponnya belum ditutup. 😅


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2