
Willy mengerjapkan matanya. Pandangannya masih tampak kabur. Kesadarannya pun belum pulih 100%. Namun nalurinya bisa menerka, mereka sedang tidak baik-baik saja sebab ia dapat merasakan tangannya terikat kencang di belakang tubuhnya. Willy mengibas-ngibaskan kepalanya untuk mengusir rasa berat di matanya agar bisa segera sadar dan mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ternyata kau yang lebih dahulu sadar. Baguslah. Aku sudah bosan menunggu kalian sejak tadi." Ujar seseorang yang tengah berdiri sambil bersandar di dinding.
Willy yang kesadarannya telah benar-benar pulih pun menatap ke sekitar. Ia terkejut, ternyata mereka kini sedang disekap di sebuah tempat yang sedikit kotor bahkan cenderung kumuh. Entah tempat apa ini, Willy tak tahu.
"Kau ... " desis Willy. Ia benar-benar marah. Apalagi saat melihat Zaya dan Windy masih tak sadarkan diri.
"Kenapa?" Cibirnya seraya terkekeh.
"Zaya, Win, bangun!" panggil Willy. Ia mencoba menggeser bokongnya agar bisa mendekat ke arah Zaya dan Windy. Lalu ia menyenggolnya agar keduanya bangun. Laki-laki yang tadi berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada hanya membiarkan saja supaya kedua perempuan itu ikut bangun.
Setelah beberapa detik berusaha membangunkan Mazaya dan Windy, akhirnya keduanya pun bangun. Sama seperti Willy yang pertama kali menyadari dimana dirinya, Windy dan Mazaya pun terkejut. Apalagi saat melihat sosok laki-laki yang kini tengah menyesap batangan nikotinnya.
"Zaya, Windy, kalian nggak apa-apa?" tanya Willy khawatir.
"Aku nggak papa." Jawab Mazaya mencoba untuk tenang.
"Aku juga nggak apa-apa." Timpal Windy.
__ADS_1
"Kenapa kau menyekap kami? Lepaskan kami, brengsekkk." sentak Windy kesal.
"Lepaskan? Setelah aku sudah payah menangkap kalian?" Laki-laki yang ternyata Antonio itu tergelak kencang.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Mengapa kau menangkap kami?" tanya Mazaya dingin dengan wajah datarnya.
"Kau bertanya apa yang aku ingin? Tentu saja kematianmu. Setelah kau mati, barulah aku akan merasa puas sebab dendamku akan benar-benar terbalaskan." Ujar Antonio seraya menyeringai.
"Kau gila. Kau yang bersalah, tapi kau justru menyalahkan orang lain. Kau tahu, sikapmu ini bukannya membuat anak dan istrimu damai di atas sana. Mereka justru akan makin menderita karena sikapmu yang tidak merelakan kepergian mereka. Bahkan kau mau menuntut balas pada orang lain yang jelas tidak bersalah?" Ucap Mazaya sinis tapi tetap dengan nada penuh ketenangan. Ia tidak boleh memancing amarah Antonio, bisa-bisa mereka berakhir sebelum sempat mencari celah untuk menyelamatkan diri.
"Tak usah menceramahi ku, sialan! Tahu apa kau tentang anak dan istri ku? Seandainya Narendra sialan itu tidak menjebloskan ku ke dalam penjara, anak dan istriku pasti akan selamat. Mereka pasti masih berada di sini saat ini. Tapi karena ayahmu yang sialan itu, mereka akhirnya harus pergi meninggalkanku. Mereka meninggal. Kau tau sakitnya ditinggal anak dan istri? Tidak. Mana tahu kalian rasanya. Kalian orang-orang kaya hanya tahu hidup enak. Segalanya tercukupi. Mana tahu bagaimana perjuangan kami untuk bertahan hidup. Apalagi perjuangan ku untuk mengobati istriku, kalian ... kalian lah penyebab kematian anak dan istriku." Pekik Antonio dengan bara kebencian yang memancar jelas di matanya.
"Lalu setelah apa yang aku alami, kau masih saja ingin menghabisiku? Kau pun membunuh kakekku dengan teror mu, dasar bajingaaan kau. Kau bilang mau mencintai anak dan istrimu? Asal kau tahu, mereka pasti kini telah bahagia hidup di surga, lalu kau? Apa mungkin kau yang terlalu banyak dosa ini masih bisa bertemu dengan mereka? Jangankan bertemu, melihat pun pasti mereka merasa jijik. Lihat dirimu, sudah menjadi pembunuh, pengkhianat juga. Anak tiri sendiri dihamili, gila. Seakan belum puas berbuat dosa, kau pun jadi bandar narko ba? Kau pikir anak dan istri mu masih mau bertemu denganmu yang hanya bisa berbuat dosa ini, hah?" Tutur Mazaya sambil menggelengkan kepalanya.
Antonio terpaku. Ia bungkam seribu bahasa. Namun itu hanya sementara, setelahnya ia mengangkat wajahnya dengan bibir menyeringai. Kemudian ia tergelak hebat. Mazaya, Windy, dan Willy saling melirik merasa heran. Entah apa yang sedang Antonio tertawakan, mereka pun tak mengerti. Mereka juga saling memberikan kode kalau ikatan mereka telah berhasil terlepas.
"Kau bilang aku tak mungkin bisa bertemu mereka kembali?" Ucapnya lirih dengan tatapan nanar. "Kalau aku tak bisa bertemu dengan mereka lagi, ya sudah, tak apa. Tapi satu yang pasti, aku akan membalaskan dendam mereka. Setelah itu, aku akan menyusul kalian semua. Ke neraka pun tak masalah asal dendamku terbalaskan." Tukasnya dengan smrik di bibirnya.
Antonio lantas mengeluarkan pistol yang ia selipkan di belakang pinggangnya. Baru saja ia mengarahkan pistolnya kepada Mazaya, dengan cepat Willy bergerak dan menendang pistol itu hingga terlepas lalu terpelanting beberapa meter dari tempatnya.
__ADS_1
"Fuc king shitttt!" Umpat Antonio kesal. Lalu ia pun bergerak maju dan menghujamkan tinjunya ke arah Willy. Willy bergerak ke samping. Ia berhasil menghindari tinjuan Antonio. Antonio tak mau menyerah, ia pun kembali meringsek Willy sehingga mereka pun kini sudah adu jotos dan tendangan. Ternyata Antonio memiliki kemampuan bela diri yang cukup mahir. Sudah berapa kali Willy terkena tinju dan tendangan. Antonio pun merasakan hal yang sama. Keduanya memiliki kemampuan yang imbang.
Willy berhasil menendang Antonio hingga terjerembab ke lantai. Willy meringsek maju untuk mengunci tangan Antonio, tapi belum berhasil Willy melakukannya, Antonio telah terlebih dahulu membalikkan tubuhnya dan menendang telah di dada Willy.
Melihat saudara kembarnya mulai kewalahan, Windy yang baru saja selesai membuka ikatan di kaki Mazaya pun segera maju untuk menghadapi Antonio. Antonio beberapa kali mencoba memberikan pukulan, tapi Windy sempat menghindar. Namun, baru saja Willy mengarahkan tendangannya pada Antonio, laki-laki itu sudah lebih dahulu menangkap kakinya menariknya setelah itu menghempaskan sekuat mungkin.
Windy terjerembab dengan dahi membentur dinding. Darah segar mengalir seketika membuat Mazaya menjadi cemas.
Saat Willy dan Mazaya sedang mengalihkan perhatiannya pada Windy, Antonio justru bergerak mengambil pistolnya yang terkapar tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mazaya yang menyadari pergerakan Antonio melalui ekor matanya pun segera berlari dan menerjang punggung Antonio hingga gantian laki-laki itulah yang terjerembab. Terapi sialan, ia justru terjatuh tepat di depan pistolnya.
Antonio pun bergerak cepat mengambil pistol itu dan membalikkan badannya sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah Mazaya.
Dor ...
Dor ...
Dor ...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...