ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Nasib Carla dan mood wanita hamil


__ADS_3

Setelah melewati berbagai macam penyelidikan, akhirnya Antonio resmi ditahan. Antonio mendapatkan pasal berlapis sebab ia bukan hanya terlibat dalam kasus perzinahan, tapi juga kasus pembunuhan berencana dan bandar narko ba.


Antonio tidak mengelak ataupun memberikan pembelaan sebab ia sadar akan kesalahannya selama ini yang bahkan mungkin lebih tinggi dari gunung. Kasus pembunuhan berencana yang menimpa kedua orang tua Mazaya pun kembali diangkat. Tanpa paksaan, Antonio juga membeberkan semuanya berikut kronologisnya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hal tersebut tentu saja membuat hukumannya kian berat. Akhirnya, Antonio pun mendapatkan vonis hukum mati.


Carla yang memang ditahan di lapas terpisah tidak tahu mengenai hal ini. Di dalam penjara, ia justru lebih sering melamun. Penyesalan demi penyesalan menyerbu sanubarinya. Kerinduan pada sosok ibunya pun membuatnya makin terpuruk. Sebulan telah berlalu, tapi sang ibu belum juga memunculkan diri. Carla paham. Carla mengerti. Luka hati ibunya pasti terlalu besar sampai-sampai ia tak mau sedikit pun membesuknya di dalam sana.


"Mommy, Carla rindu." Lirih wanita yang tubuhnya kian kurus itu. Penyakit kian menggerogotinya. Selama di penjara, Carla tidak mendapatkan pengobatan sehingga membuat kondisi fisiknya kian menyedihkan.


Saat sedang termenung, tiba-tiba saja ada sipir yang menyampaikan ada seseorang yang ingin bertemu. Entah siapa, Carla tak tahu sebab selama ia ditahan, tak pernah sekalipun ada yang membesuknya. Ia benar-benar putus komunikasi dari dunia luar. Bahkan untuk sekedar menikmati pemandangan alam saja ia tak bisa. Sejauh mata memandang, hanya ada tembok-tembok tinggi yang dibatasi kawat berduri di atasnya. Ia benar-benar terkunci dari kehidupan masa lalunya.


"Mommy," lirih Carla saat melihat sosok sang ibu tengah duduk di kursi tunggu. Carla ingin rasanya berhambur ke pelukan sang ibu, tapi ia tak mungkin melakukannya. Selain tangannya di borgol, ada dinding kaca pembatas membuat mereka tak bisa melakukannya sama sekali.


"Mom-mommy, mommy menemuiku." Lirih Carla seraya tersenyum bahagia. Ia akhirnya bisa melihat wanita yang telah membawanya ke dunia ini.


"Apa kabarmu?" tanya Maria datar tanpa basa-basi membuat hati Carla cukup teriris.


"Carla ... baik." Dustanya. Tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Malu. Ia terlalu malu dengan apa yang telah ia perbuat.


"Benar?"


Carla mengangguk cepat seraya mengulas senyum.


"Baguslah." Jawab Maria.


"Kabar mommy gimana? Mommy ... baik-baik aja kan?"


"Jelas. Kalian pikir setelah pengkhianatan besar yang kalian lakukan akan membuatku hancur? Tidak. Tentu saja tidak sama sekali. Aku tidak selemah itu sampai akan hancur saat orang-orang yang ku cintai mengkhianati kepercayaan ku."


Hari Carla teriris makin perih saat mendengar sang ibu menyebut dirinya sendiri dengan kata 'aku'. Carla sadar apa yang menyebabkan ibunya berubah. Semua tak luput dari salah dan dosanya.


"Oh ya, berhubung keadaan mu cukup bagus uku ingin mengabarkan sebuah berita. Seminggu lagi kekasihmu itu akan menjalani hukuman mati. Dan ini, dia menitipkan surat ini untukmu." Ujar Maria sambil menyodorkan sepucuk surat melalui sebuah lubang di kaca pembatas.


Tubuh Carla bergetar hebat mendengar berita mengejutkan itu. Bahkan lidahnya yang tadi ingin memohon maaf atas kesalahannya pada sang ibu mendadak kelu. Tak ada sepatah kata yang keluar bahkan sampai Maria beranjak dari sana.


"Hu-hukuman mati?"


Dengan tangan yang bergetar, Carla pun membuka lipatan kertas yang merupakan surat dari Antonio dan membacanya.


Carla, apa kabar mu? Daddy harap kamu baik. Carla maafkan kesalahan Daddy selama ini. Daddy yang seharusnya jadi pelindungmu justru menjerumuskan mu pada kesakitan ini. Daddy benar-benar laki-laki brengsek. Seharusnya Daddy jadi ayah yang baik untukmu, tapi yang Daddy lakukan justru sebaliknya. Daddy benar-benar menyesal telah menyeretmu dalam penderitaan ini. Maafkan Daddy.


Carla, Daddy sudah mendengar mengenai keguguran yang kau alami dan penyakitmu. Daddy benar-benar minta maaf. Daddy memang jahat. Kau pantas membenci Daddy. Maafkan Daddy.


Carla, mungkin setelah ini kita tidak akan bisa bertemu lagi. Daddy harap, kau bisa terus bertahan dan berusaha berubah ke depannya. Minta maaflah pada mommy. Mommy tidak memiliki siapa-siapa selain dirimu, nak. Perbuatan kita salah. Kita sudah benar-benar menyakiti mommy mu. Daddy benar-benar menyesal telah menyakiti wanita sebaik mommy mu.


Carla, teruslah bertahan. Daddy harap kau bisa segera sembuh dan memulai hidup baru dengan lebih baik.


Sekali lagi, maafkan Daddy. Daddy menyayangimu.


Selamat tinggal.


Antonio


Tubuh Carla bergetar. Ia tak menyangka ayah tiri sekaligus kekasihnya itu akan menjalani hukuman seberat itu. Carla tak mampu membendung air matanya. Ia pun menyesal telah menyakiti ibunya. Tapi dirinya sudah terlanjur mencintai Antonio.

__ADS_1


Cinta yang salah. Mengapa harus hadir diantara mereka. Karenanya semua hancur dan luluh lantak tak bersisa. Hidupnya hancur. Mungkinkah ia bisa bangkit setelah kehancuran yang maha dahsyat menimpanya ini?


Sementara itu, sekeluarnya dari dalam lapas, Maria pun segera masuk ke dalam mobil. Ia menyandarkan dahinya di atas kemudi. Tangisnya pecah. Maria memang kecewa dengan apa yang putri dan suaminya lakukan. Tapi melihat keadaan anaknya saat ini yang begitu jelas tidak sedang baik-baik saja membuat hatinya benar-benar hancur.


Putri yang selalu dia jaga sepenuh hati kini benar-benar berubah. Tubuhnya kurus, pipinya tirus, matanya sayu, bibirnya kering, kulit kusam, dan masih banyak lagi. Sebagai seorang ibu, Maria merasa gagal. Namun demikian, ia tetap mendoakan putrinya agar bisa bertobat dan segera sembuh dari sakitnya.


...***...


Hoek ... hoek ... hoek ...


Gemilang yang kembali tertidur setelah shalat subuh seketika tersentak saat mendengar suara Mazaya yang tengah muntah-muntah dari dalam kamar mandi. Ia pun melompat begitu saja dari atas ranjang kemudian berlarian menuju kamar mandi. Untung saja kamar mandi tidak dikunci dari dalam sehingga ia pun bisa segera masuk.


"Sayang," panggil Gemilang panik. Padahal sudah satu bulan Mazaya mengalami morning sickness, tapi Gemilang masih saja panik setiap melihat istrinya memuntahkan isi perutnya saat pagi hari.


"Emmm ... " Mazaya hanya bergumam. Lalu ia segera membasuh mulutnya dan mengelapnya dengan handuk kecil yang ada di dalam lemari wastafel.


"Kamu nggak papa?"


Mazaya mengangguk. Lalu Gemilang pun memapah Mazaya agar kembali ke kamar. Setelahnya, Gemilang mengambilkan segelas air hangat dan memberikannya pada Mazaya. Setelah minum, Mazaya mengembalikan gelasnya pada Mazaya.


"Mas."


"Ya."


"Aku mau makan bubur ayam yang ada di simpang lampu merah dekat kantor kamu." Ucap Mazaya tiba-tiba sambil menelan ludahnya. Membayangkan makan bubur ayam diberi kecap yang banyak plus sambal membuatnya sontak mengusap perutnya yang belum terlalu membuncit.


"Ya udah, mas ganti baju dulu ya. Setelah itu kita ke sana." Sigap Gemilang. Ia memang selalu menuruti permintaan Mazaya apapun itu. Yang penting, keinginan istrinya itu selalu terwujud tak peduli caranya.


"Ada apa? Ada yang lain?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Kamu nggak usah siap-siap."


"Lha, jadi kamu mau aku pergi ke sana pakai bokser kayak gini aja, Zayang? Jangan aneh-aneh, please! Cukup kemarin aku naham malu pergi ke minimarket pake daster. Malu tau. Kalau bisa, mas rasanya mau ganti wajah deh. Mana ketemu karyawan mas pula di sana. Jangan aneh-aneh lagi ya! Please." Melas Gemilang membuat Mazaya mencebik dan segera berdiri.


"Jadi mas nggak ikhlas gitu?" Mazaya melotot kesal.


"Aduh, bukan nggak ikhlas, Zayang. Mas ikhlas. Ikhlas lahir batin malah. Cuma ... "


"Kalau mas protes namanya itu nggak ikhlas. Udahlah, nggak usah melas-melas gitu. Aku juga nggak niat pergi sama kamu kok."


Mazaya beranjak dari sana dan segera keluar kamar membuat Gemilang panik.


"Alamat dimarah mama lagi ini." Gumamnya sambil mengayunkan kakinya mengejar Mazaya. Ya, semenjak dikabarkan hamil, kedua orang tua Gemilang memaksa keduanya untuk kembali ke mansion. Bukan tanpa alasan, keduanya hanya ingin ikut andil dalam merawat dan menjaga Mazaya saat hamil. Apalagi ini anak pertama Gemilang sekaligus cucu pertama mereka, jelas saja mereka begitu antusias.


"Ngapain dia sama Gerhana?" Gemilang berdecak saat melihat istrinya sedang mengobrol sambil tertawa kecil dengan sang adik di depan pintu kamarnya.


"Ngapain kalian?" tanya Gemilang dengan raut wajah datar. Raut tak sukanya begitu kentara.


"Kami? Kami mau pergi makan bubur ayam berdua, kenapa?" Sontak saja Gemilang membeliakkan matanya.

__ADS_1


"Apa? Kenapa mau makan sama dia? Yang suami kamu itu aku, bukan dia. Nggak boleh." Seru Gemilang membuat Anika dan Guntara serta Gempita ikut menghampiri mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Anika penasaran saat mendengar suara meninggi Gemilang. Mata Anika seketika melotot saat melihat mata berkaca-kaca sang menantu kesayangan. "Kamu apain putri mama, Lang? Kamu abis marahin istri kamu, hah? Dasar anak nakal kamu ya!" Seru Anika membuat Gemilang ikut panik saat sadar Mazaya telah berkaca-kaca.


Gempita pun segera merengkuh pundak Mazaya dari samping.


"Zayang, maaf, aku ... aku nggak maksud ... "


"Hua ... mama, mas Elang jahat. Mas Elang udah nggak sayang Zaya. Mas Elang juga nggak sayang anak dalam kandungan Zaya. Zaya mau pulang ke kampung aja kalau gitu. Zaya mau tinggal di rumah kakek aja. Zaya nggak mau di sini. Hiks ... hiks ... hiks ... "


Plak ...


Anika tiba-tiba memukul pundak Gemilang begitu keras. Guntara pun sudah menatap putranya itu dengan sorot mata tajam.


"Zayang, kata siapa aku nggak sayang kamu dan anak kita? Mas sayang, sayang banget malah. Jangan gini dong!" Bujuk Gemilang.


"Iya sayang, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba bilang kayak gitu? Kamu tetap di sini ya, sayang. Kalau Elang jahatin kamu, bilang aja sama mama dan papa, nanti biar mama dan papa yang marahin dia." Bujuk Anika sambil mengusap punggung Mazaya.


"Sebenarnya kalian kenapa? Elang, kau apakan Zaya, hah? Kamu tahu, mood wanita hamil itu gampang berubah. Kamu harus bisa mengontrol diri baik kata-kata maupun emosi. Kalau mood istri kamu buruk, kamu juga yang akan pusing."


"Elang cuma ... "


"Cuma apa?"


"Mas Elang nggak ikhlas nurutin permintaan Zaya kemarin, ma. Zaya juga lagi pingin banget makan bubur ayam di simpang lampu merah dekat kantor mas Elang, tapi nggak boleh." Adu Mazaya.


"Siapa yang nggak boleh, sayang? Mas malah mau siap-siap, tapi kamu keburu ngambek."


"Siapa yang mau makan sama kamu?" Sontak saja mereka semua merasa bingung. Lantas Mazaya mau makan sama siapa? "Zaya kan maunya makan sama Gerhana. Tapi mas Elanga malah marah-marah aja bisanya. Dasar suami nyebelin. Mas kan takut Zaya aneh-aneh, ya udah mending sama Gerhana. Kamu mau kan Ge temenin aku makan bubur ayam di sana?"


"Dengan senang hati." Kerling Gerhana membuat wajah Gemilang seketika masam.


"Nggak, aku nggak izinin."


"Ma, pa, liat mas Elang jahat. Ya udah, kalau nggak boleh, Zaya nggak mau makan."


Mazaya lantas kembali ke kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya. Ia juga menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Elang kamu gimana sih? Istri kamu itu sedang ngidam. Lagian dia minta anterin sama adik kamu sendiri, bukan pria lain. Turutin aja kenapa sih? Kalau perlu, kamu ikut. Yang penting apa yang istri kamu inginkan terwujud. Kalau udah gini kan kamu sendiri yang repot. Mama udah berkali-kali nasihati kamu, tapi kamunya masih aja bandel. Susah diomongin." Omel Anika.


Gemilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kak, kak, aku cuma mau hibur mbak Zaya, tapi cemburumu ini luar biasa." Ejek Gerhana membuat Gemilang mendelik tajam. "Apa? Nggak suka? Tinggal ikutin aja apa susahnya sih? Yang penting kan mbak Zaya makan. Apa yang diinginkannya terwujud."


"Dasar, suami tak peka." Ejek Gempita.


"Sana, urusin istri kamu. Kalau terlambat, alamat dia benar-benar pulang kampung baru tau rasa." Timpal Guntara. Satu keluarga itu kini benar-benar kompak membuat Gemilang terpojok. Ia sudah seperti tersangka kejahatan yang harus mendapatkan penghakiman.


Gemilang mengangguk. Ia pun merasa bersalah pada istrinya. Padahal Anika sudah sering menasihatinya agar bisa lebih mengerti Mazaya yang tengah hamil. Mood wanita hamil kadang memang sedikit aneh. Sepertinya calon anaknya itu sedang membalaskan dendam ibunya yang pernah dicuekin saat baru menikah. Hahaha ...


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2