
Antonio pun bergerak cepat mengambil pistol itu dan membalikkan badannya sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah Mazaya.
Dor ...
Dor ...
Dor ...
"Aaargh ... "
Mazaya terhenyak saat peluru melesat begitu cepat dari samping tubuhnya. Ternyata peluru itu bukan diarahkan padanya. Dia lebih terhenyak lagi saat melihat Antonio telah bersimbah darah. Mazaya dapat melihat darah segar mengalir dari dada Antonio. Laki-laki itupun mengerang kesakitan seraya menekan dadanya.
"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Gemilang panik yang ternyata telah berdiri di sisinya. Mazaya menoleh ke arah Gemilang. Di belakangnya juga ada Juna, Jendra, Mada, dan Nugie.
"Mas, kamu yang menembak tuan Antonio?"
Gemilang mengangguk, "dia ingin membunuh mu. Sebelum itu terjadi, dia lah yang harus aku habisi."
"Tapi mas, dia bukan mau menembakku." Ujar Mazaya dengan suara tercekat.
"Maksudnya ... "
Terdengar suara kegaduhan dari samping rumah tua itu. Mada dan Jendra pun segera keluar melihat setelah sebelumnya Juna dan Nugie lah yang berlarian ke sana setelah melihat siluet orang sedang berkelahi dari celah jendela rumah tua itu.
Mazaya pun menoleh ke tempat dimana Windy dan Willy tadi berada, ternyata mereka telah tidak berada di sana.
"Mas, coba periksa di luar. Aku mau bantu pak Antonio. Dia mengalami pendarahan." Ujar Mazaya cepat sambil menyingsingkan lengan bajunya. Ia pun bergerak cepat mencari sesuatu untuk mencegah darah makin banyak mengalir.
__ADS_1
Ya, saat sedang mengarahkan moncong senjatanya tadi, sebenarnya Antonio berniat menakuti Mazaya saja. Entah mengapa setelah mendengar kata-kata Mazaya tadi, hatinya seakan tergerak. Rasa bersalah menyeruak. Membayangkan bagaimana kalau anaknya lahir dan mengalami hal serupa dengan Mazaya. Tak ada guna harta bila harus kehilangan orang-orang terkasih.
Rasa penyesalan memenuhi dadanya. Terlalu banyak dosa yang telah ia perbuat. Ia bahkan tega mengkhianati wanita yang selama ini mendampinginya, menemaninya, mendukung dirinya, menghibur dirinya di saat terpuruk dan berada di titik terendah.
Dan di saat ia mengarahkan moncong senjatanya itulah, ia melihat sosok anak buahnya yang tadi ia tugaskan membawa barang-barang haram mereka ke rumah tua itu. Antonio bisa melihat seringai di bibirnya. Antonio merasa laki-laki bernama Santos itu memiliki niat terselubung.
Bukan hanya ingin melenyapkan Mazaya, tapi dirinya. Kemungkinan besar dia berniat mengambil alih barang-barang haram tersebut dan menguasainya. Memang jumlah narko ba milik mereka sangat banyak dan dari berbagai jenis. Bila diuangkan, nilainya bisa triliunan. Mungkin hal itulah yang membuat Santos gelap mata dan memilih mengkhianatinya.
Maka dari itu, sebelum Santos berhasil melakukan niatnya, ia pun menembak Santos tepat di pundaknya sebab yang terlihat memang hanya sebagian pundak dan mata kanannya. Karena terlalu fokus ke arah Santos, ia pun tak menyadari kedatangan Gemilang. Mungkin Gemilang mengira dirinya akan menembak Mazaya jadi sebelum itu terjadi, ia lebih dulu menembak dirinya.
"Tapi ... "
"Aku tak apa. Segera!" sentak Mazaya yang kini menemukan sebuah almari usang yang di dalamnya terdapat banyak pakaian lama tak terpakai. Lalu ia mengambil kain yang cukup tebal dan membawanya mendekati Antonio.
Lalu dengan patuh, Gemilang pun keluar menyusul teman-temannya yang sepertinya sedang sibuk berkelahi entah dengan siapa di luar sana.
"Ja-ngan! Biarkan saja." Ucap Antonio lirih.
Rasa haru menyeruak. Menurut perhitungannya, bila anaknya berhasil dilahirkan ke dunia, pasti ia sudah sebesar dan secantik Mazaya sebab buah hatinya pun berjenis kelamin perempuan.
"Mengapa kau masih baik terhadapku? Padahal aku sudah menyebabkan kedua orang tuamu meninggal. Aku juga yang membuat tuan Syailendra meninggal. Aku ... aku memiliki andil besar dalam penderitaan mu." Tutur Antonio tak habis pikir dengan Mazaya yang masih bersikap baik padanya setelah apa yang ia lakukan pada orang tuanya.
Bila orang lain, ia yakin pasti akan menuntut balas dan membunuhnya. Apalagi saat ini merupakan kesempatan emas baginya bila mau membalas dendam. Tapi Mazaya tidak melakukannya. Ia justru menyelamatkan.
"Aku bukannya bersikap baik padamu. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Sebatas rasa kemanusiaan mungkin. Jadi jangan besar kepala. Aku tak sebaik itu." Ketus Mazaya.
Ia memang marah atas apa yang Antonio lakukan pada orang tuanya, tapi membalas dendam pun tak akan mengembalikan mereka. Jadi biarlah Mazaya serahkan segalanya pada pihak yang berwajib. Mereka lebih pantas memberikan hukuman dibanding dirinya.
__ADS_1
Antonio tersenyum sambil meringis sakit, "terima kasih. Terima kasih telah tumbuh jadi orang baik. Terima kasih. Setidaknya, bila suatu hari nanti aku mati dan bertemu tuan Narendra aku bisa menceritakan kalau putrinya tumbuh dengan baik dan memiliki sifat yang juga tak kalah baik."
"Apa Anda yakin bisa bertemu? Papaku itu orang baik. Dia pasti ditempatkan di tempat yang baik. Lah kalau Anda, tobat aja belum. Fokus dulu buat sembuh. Sambil tobat. Baru mikir yang lainnya." Ujar Mazaya sambil melirik sinis Antonio.
Antonio tidak tersinggung. Entah ia justru merasa terhibur. Seketika kenangan demi kenangan bersama sang istri menyeruak di dadanya. Bukan hanya istrinya yang telah tiada, tapi juga Maria. Ia merasa amat sangat bersalah pada istrinya itu.
Entah masih adakah pintu maaf untuknya. Padahal Maria tidak pernah menuntut apa-apa padanya selama ini. Bahkan ia sudah lama tidak memberikan nafkah lahir dan batin padanya tapi Maria tidak menuntut apalagi marah-marah.
Kini hanya penyesalan saja yang memenuhi dadanya.
Masih pantaskah ia meminta maaf dan ampunan dari orang-orang yang telah ia sakiti?
Masih adakah kesempatan untuknya memohon ampun pada yang maha kuasa dan bertobat?
Hal itulah yang kini memenuhi pikirannya.
Sementara itu, benar dugaan Antonio, di luar Santos dan beberapa anak buah Antonio yang berhasil ia pengaruhi tengah berusaha melawan Windy, Willy, Juna, Jendra, Gemilang, dan Nugie. Santos juga menghubungi teman-temannya untuk bergabung. Tentu mereka takkan melepaskan kesempatan emas untuk memiliki barang haram yang bernilai triliunan tersebut. Selain pemakai, mereka juga pengedar. Tidak seperti Antonio yang hanya pengedar atau lebih pantas disebut bandar.
Mereka bertarung dengan tangan kosong. Meskipun memiliki senjata, Gemilang tetap tidak boleh sembarangan menggunakannya. Terlebih lawan mereka pun menggunakan tangan kosong. Hanya Santos yang memiliki senjata, tapi pelurunya telah habis.
Meskipun Gemilang dan kawan-kawan kalah jumlah, tapi mereka tetap lebih unggul dalam hal keahlian bertarung. Tak lama kemudian, sirine polisi pun terdengar mendekat. Mada memang telah membagikan lokasinya pada temannya di kepolisian jadi tak butuh waktu lama aparat kepolisian pun telah berhamburan dan mulai menangkap Santos dan anak buahnya.
Melihat kedatangan polisi, mereka berusaha untuk kabur, tapi Gemilang dan kawan-kawan pun segera menghentikannya. Para polisi meringkus mereka dan memasukkannya ke dalam mobil dengan tangan yang terborgol. Sedangkan Antonio dibawa menggunakan ambulans yang memang diikuti sertakan untuk berjaga-jaga bila ada korban jiwa.
Melihat anak buah Santos dan Antonio telah berhasil diringkus semua, Gemilang pun segera mencari Mazaya dan memeluknya erat. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya itu. Namun saat baru saja memeluk sang istri, Gemilang merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuh istrinya seketika melemah dan matanya terbelalak saat melihat sesuatu.
"Darah." Gumamnya dengan mata terbelalak.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...