ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Anti mainstream


__ADS_3

Gemilang benar-benar kalang kabut dibuat Mazaya. Ia pun segera menuju mobilnya dan melajukan mobilnya sambil memperhatikan jalanan berharap ia dapat menemukan istrinya yang kabur itu. Namun sayang, sejauh mata memandang, ia tak sedikit pun menemukan jejak sang istri. Sayangnya rekaman cctv tidak menunjukkan nomor plat taksi yang Mazaya naiki karena sedikit tertutup.


Gemilang menghela nafas kasar, ia benar-benar bingung kemana istrinya pergi. Yang lebih membuatnya shock, kenapa harus memanjat pagar? Apakah ia tak khawatir dengan kondisi kandungannya? Gemilang benar-benar frustasi, takut terjadi sesuatu pada istri dan anak yang ada di dalam kandungannya.


Gemilang sudah mencoba menghubungi Mazaya berkali-kali tapi hingga kini nomor ponselnya belum juga aktif.


"Zayang, kamu dimana? Aku mohon kembalilah. Maafkan aku kalau sikapku kurang membuatmu sedih. Maafkan aku. Kembalilah, Zayang. Aku mohon kembalilah, maafkan aku." Gumamnya lirih dengan mata memerah.


Rasa cinta yang begitu besar kadang membuat seseorang berbuat di luar nalar, termasuk cemburu berlebih membuat Mazaya tak nyaman. Belum lagi kebodohannya yang tak kunjung paham kalau wanita hamil itu tingkat kesensitifannya bisa meningkat 360°. Ia pun tak menyangka, kebodohannya yang protes akan permintaan aneh Mazaya membuat wanita itu kabur dengan cara anti mainstream seperti ini.


"Benar-benar istri tangguh, bahkan kabur pun pakai cara anti mainstream kayak gini. Astaga, kamu dimana Zayang!" desah Gemilang frustasi.


Saat melihat lampu merah dekat kantornya, Gemilang pun mempercepat laju kendaraannya menuju gerobak bubur ayam yang diinginkan Mazaya pagi tadi. Ia harap ia bisa menemukan istrinya di sana. Namun setibanya di sana, ia tak menemukan istrinya sama sekali. Bahkan saat ia bertanya pada penjualnya sambil menunjukkan foto Mazaya, penjual itu merasa tidak melihatnya sama sekali.


"Benar perempuan ini tidak datang ke sini tadi, pak?" tanya Gemilang sekali lagi memastikan.


"Benar, pak, nggak ada. Kalau nggak percaya, tanya saja istri saya. Dia yang bagian menerima pembayaran." Ujar penjual bubur ayam tersebut. Lantas Gemilang pun mencoba menunjukkan foto Mazaya pada istri penjual bubur ayam itu dan ternyata jawabannya pun sama, tak ada perempuan yang menyerupai gadis di foto tersebut datang ke sana.


Gemilang menghela nafas lelah, ia pun segera mengucapkan terima kasih pada penjual bubur ayam tersebut.


Baru saja ia ingin melajukan mobilnya, ada panggilan telepon dari Juna.


"Ya, halo."


"Tuan, meeting akan di mulai 15 menit lagi, kapan Anda akan kemari?"


Gemilang memijat pelipisnya yang mendadak sakit. Karena terlalu fokus memikirkan Mazaya, ia sampai lupa kalau ada meeting jam 9 ini.


"Jun, handle rapat itu. Sepertinya aku tidak bisa ke kantor hari ini, kau paham!"

__ADS_1


"Ah, tapi ... tapi ... "


"Aku yakin kau bisa." Setelah mengucapkan itu, Gemilang segera menutup panggilan itu. Yang menjadi fokusnya saat ini adalah keberadaan sang istri.


Sebenarnya ia terpikir Mazaya pergi ke kantor, tapi bila dipikir-pikir lagi, rasanya tak mungkin sebab Mazaya masih mengenakan pakaian rumahan yang dibalut jaket. Ia pasti akan menjaga imagenya di hadapan para karyawan.


Sebenarnya bisa saja Gemilang meminta bantuan Mada untuk meretas cctv jalanan, tapi ia sedikit gengsi. Bisa jadi ia akan menjadi bulan-bulanan para sahabatnya bila tau istrinya kabur dari rumah. Bukan hanya itu yang ia takutkan, bagaimana kalau Jendra mencari kesempatan untuk mendekati Mazaya.


"Nggak, itu nggak boleh terjadi. Sampai kapanpun Mazaya hanya akan menjadi istriku." Ucap Gemilang sambil mencengkeram kemudinya.


Gemilang memang sedikit over thinking. Jendra memang pernah menyukai Mazaya, tapi setelah tahu Mazaya dan Gemilang saling mencintai, ia pun berusaha melupakan Mazaya. Bahkan ia kini sedang berusaha membuka hati pada seorang gadis yang hampir satu bulan ini selalu berusaha mendekatinya. Ia pun sudah bosan untuk bermain-main, jadi apa salahnya membuka hati, toh gadis yang mendekatinya merupakan gadis baik-baik dan telah teruji tulus menyukainya.


Matahari telah berada tepat di atas kepala, tapi ia belum juga mendapatkan kabar dari sang istri. Gemilang sampai menepikan mobilnya dekat dengan kantor Mazaya, berharap ia melihat istrinya itu datang ke sana. Namun, hingga satu jam berlalu, tak ada juga tanda-tanda keberadaan istrinya.


"Halo ma, apa Zaya sudah pulang ke rumah?" tanya Gemilang to the point saat sang ibu menghubunginya.


"Jadi kau belum menemukan Zaya, Lang? Kamu ini bagaimana, hah? Cari keberadaan istri aja nggak becus." Sentak Anika dengan suara naik tiga oktaf. Gemilang sampai mengusap telinganya yang tiba-tiba berdenging akibat ulah ibunya.


Tiba-tiba ia sadar kalau hari sudah sangat siang, bahkan jam makan siang pun hampir berlalu. Ia khawatir, bagaimana kalau istrinya belum makan hingga siang ini? Pasti istri dan anaknya sedang kelaparan saat ini.


Tanpa mengindahkan sang ibu yang masih mengomel di seberang telepon, Gemilang langsung saja menutup panggilan itu. Ia berniat mampir ke kantor Mazaya. Siapa tahu kedua sahabatnya itu tahu dimana keberadaan sang istri.


Karena semua orang sudah tahu siapa itu Gemilang, semua karyawan Syailendra Group pun membiarkan saja Gemilang masuk ke perusahaan dan langsung menuju lift khusus eksekutif.


"Tuan Gemilang, ada keperluan apa ya?" tanya Willy yang heran saat melihat suami atasannya itu ada di kantor mereka.


"Kau tahu dimana Zaya?" tanya Gemilang to the point.


"Kenapa Anda bertanya pada saya? Zaya bukannya memang mengambil cuti satu Minggu ini?"

__ADS_1


Ya, karena sejak beberapa hari yang lalu morning sickness-nya makin menjadi membuatnya memilih beristirahat dan tidak masuk kerja selama satu Minggu.


"Jadi kalian tidak tahu dimana Mazaya?" Wajah Gemilang kian pias.


"Ada apa, Wil? Eh, tuan Gemilang, ada keperluan apa ya sampai jauh-jauh datang ke mari?" tanya Windy yang baru keluar dari toilet.


"Win, Zaya ada hubungi kamu?" tanya Willy pada saudari kembarnya itu.


Windy menggeleng, "nggak ada. Kalau semalam ada. Dia cuma tiba-tiba curhat kangen mama papanya." Ujar Windy menyampaikan yang sejujurnya. "Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Windy balik.


Gemilang menghela nafas panjang, lalu ia menceritakan apa yang terjadi pagi ini. Ia pikir tak masalah kedua saudara kembar itu tahu permasalahannya. Siapa tahu mereka bisa memberikan petunjuk kemana Mazaya pergi.


Lalu Windy dan Willy saling menoleh satu sama lain dengan mata membulat.


"Jangan-jangan ... " Gumam Windy yang sepertinya tahu kemana kira-kira Mazaya pergi.


"Kalian tahu kemana biasanya ia pergi atau tempat persembunyiannya?"


Willy dan Windy mengangguk dengan cepat, "semoga masih tempat yang sama. Kita harus cepat, langit sudah tiba-tiba mendung. Apalagi jarak dari sini ke sana memakan waktu hampir 3 jam." Ucap Willy seraya mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.


"Memangnya dimana tempat persembunyiannya?" tanya Gemilang penasaran.


Windy menghela nafasnya dengan raut wajah sendu membuat Gemilang makin dilanda penasaran, "pemakaman."


Shock. Itulah yang Gemilang rasakan.


"Pe-pemakaman?" Beo Gemilang dengan wajah tegang sekaligus pias.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2