
Kini Gemilang dan Mazaya telah berada di dalam mobil yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah. Namun bukan ke rumah Gemilang, melainkan ke mansion keluarga Candrabuana.
"Zayang," panggil Gemilang lembut. Ia tak mau istrinya salah paham. Ia pun ingin segera menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Maaf mas, kita bahas ini nanti saja setibanya di rumah. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku tak mau salah mengambil langkah. Kau tak perlu cemas. Aku memang kecewa, tapi aku pun takkan langsung menghakimi mu. Aku akan mendengarkan penjelasanmu, tapi nanti, setelah kita tiba di rumah. Kepalaku sekarang benar-benar pusing." Tukas Mazaya.
Mazaya terlalu syok. Apa yang ia dengarkan tadi sungguh-sungguh membuatnya tak mampu berpikir jernih. Untuk itulah ia meminta waktu berpikir sejenak untuk menenangkan diri agar bisa berpikir jernih dan bijak tentunya. Apalagi saat para awak media tadi mencecar Gemilang, dengan lantang laki-laki itu menyanggah pemberitaan tersebut.
"Entah siapa yang menyebarkan kebohongan ini dan apa tujuannya, aku pastikan akan bertindak tegas. Terserah kalian ingin menilaiku seperti apa, aku tak peduli. Tapi yang pasti, aku tak pernah menghamili siapapun. Kalaupun aku menginginkan seorang perempuan hamil, yang berhak mengandung benihku hanya istriku. Kalian dengar itu? Permisi."
Tanpa basa-basi, Gemilang pun menggandeng Mazaya masuk ke dalam mobil mereka dengan bantuan para bodyguard yang telah bersiaga mengamankan mereka.
...***...
Jalanan yang lengang membuat mobil yang membawa Mazaya dan Gemilang melesat dengan cepat hingga tak sampai 1 jam kemudian, mereka pun telah tiba di mansion kedua orang tuanya.
Semburat jingga kemerahan di langit menyambut kepulangan mereka. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka, dari dalam muncul wajah cantik seorang wanita paruh baya dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang juga. Kalian baik-baik aja kan? Nggak terjadi sesuatu pada kalian kan sepanjang perjalanan tadi?" seru Anika sambil memeluk tubuh Mazaya. Setelahnya ia memeriksa tubuh Mazaya sambil memutar-mutarnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ma, semua aman. Mama apa kabar? Zaya kangen banget sama mama," ucap Mazaya sambil tersenyum manis. Meskipun perasaannya sedang tidak baik-baik saja, tapi sebisa mungkin ia bersikap tenang. Ia tak mau semua orang tiba-tiba mengkhawatirkannya.
"Kabar mama makin baik setelah melihat menantu kesayangan mama ini."
"Ck ... sebenarnya yang anak mama itu Zaya apa Elang sih? Elang berdiri dari tadi di sini tapi nggak digubris sama sekali." Protes Gemilang seraya berdecak kesal.
Anika terkekeh, sedangkan Mazaya mengulum senyum. Begitulah ibu mertuanya. Terkadang sikapnya bisa membuat orang salah paham, mengira Mazaya putri kandungnya karena sikapnya yang terlampau baik.
"Ck ... udah gede aja cemburu. Wajar dong mama lebih sayang Zaya, dia kan dari kecil sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya jadi mama ingin melimpahinya dengan kasih sayang yang tidak pernah dirasakannya." Tukas Anika membuat Gemilang menghela nafasnya. Dalam hati ia pun membenarkan tindakan ibunya itu. "Ya udah, kalian kalau mau mandi, mandi aja dulu. Atau istirahat, tapi jam 7 harus udah kumpul di meja makan buat sarapan bareng. Mama dan papa ada kejutan untuk kalian." Tukasnya lagi.
Gemilang dan Mazaya pun menuruti dan bergegas menuju ke kamar Gemilang semasa belum menikah.
"Mau mandi dulu atau mas dulu? Atau bareng aja?" Gemilang berusaha mencairkan suasana dengan melemparkan candaan.
"Zaya dulu aja deh. Udah nggak tahan. Lengket banget." Ucap Mazaya yang diangguki Gemilang.
Tak sampai 30 menit, Mazaya telah keluar dari dalam kamar mandi menggunakan bathrobe. Selanjutnya, Gemilang pula yang masuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia pun keluar. Sama seperti Mazaya yang menggunakan bathrobe. Kemudian ia pun bergegas mengenakan pakaian yang telah disiapkan Mazaya sebelumnya. Ia memakai pakaian dengan cepat agar bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
Setelah selesai, ia pun bergegas duduk di samping sang istri yang sedang bersantai di sofa yang ada di kamar itu. Ia memeluk tubuh Mazaya dari samping sambil menopang dagunya di atas pundak Mazaya.
__ADS_1
"Udah siap dengar cerita, mas?" tanya Gemilang. Setelah melihat sang istri mengangguk, ia pun mulai bercerita.
"Sumpah demi Tuhan, mas nggak pernah melakukan hal macam-macam dengan Carla. Bahkan mas pun tak pernah menciumnya. Mas sudah bilang kan mas hanya mau menyentuh perempuan yang mas cintai dan tentunya sudah menjadi istri mas jadi jangan pernah percaya dengan berita itu. Itu bohong. Bayi itu bukan milik mas. Mas mohon padamu percaya pada mas." Ucap Gemilang tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang istri. Mazaya tampak mendengarkan dengan seksama penjelasan suaminya. Ia mendengarkan dengan tenang tanpa berusaha menyanggah.
"Kamu ingat, malam pertama kita melakukan penyatuan?" Mazaya mengangguk sebagai respon. "Siangnya mas pergi karena Carla mengancam akan bunuh diri. Mas terpaksa menemuinya bukan karena khawatir sebab masih ada rasa sayang. Nggak. Mas hanya tak ingin kembali melakukan kesalahan. Dulu mas membuat tunangannya kehilangan nyawa, mas tak mau ada nyawa lain yang melayang karena mas. Mas memang sering menakuti orang lain akan menembaknya, tapi itu hanya sebatas ancaman. Mas tak mungkin melakukannya pada orang tak bersalah. Kecuali orang tersebut memang benar-benar salah. Karena rasa bersalah itu, mas pun datang ke apartemen Carla. Tapi siapa sangka Carla berniat licik..Dia memukul tengkuk mas diam-diam. Mas pun pura-pura pingsan untuk mengetahui siapa yang memukul mas dan apa tujuannya. Dan mau tahu, apa yang terjadi? Ternyata Carla lah pelakunya. Dia sengaja melakukan itu untuk menjebak. Ia ingin membuat foto-foto adegan ranjang mas dengannya ... "
Lalu Gemilang pun melanjutkan ceritanya sampai ia mengetahui fakta Carla tengah mengandung dari dokter yang baru saja menangani Carla.
"Mas mohon, percaya sama mas. Mas nggak mungkin mengkhianati kamu. Meskipun kita belum menikah pun, mas takkan pernah melakukan hal terlarang seperti itu. Mas memang bukanlah ahli agama. Mas bukankah pria yang taat ibadah, tapi mas masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama. Mas tak mau melakukan zina yang pada akhirnya dapat menghancurkan mas sendiri. Zayang percaya kan sama mas?" Papar Gemilang sambil menunggu respon Mazaya dengan harap-harap cemas.
Sedetik, dua detik, tiga detik ...
Semenit, dua menit, tiga menit ...
Gemilang makin was-was. Jantungnya sudah berdebar tidak karu-karuan karena istrinya belum merespon. Barulah setelah menit ke lima, Mazaya langsung masuk ke pelukan Gemilang.nIa percaya. Ia percaya dengan apa yang suaminya katakan. Meskipun mereka belum mengenal cukup lama, tapi Mazaya memiliki kepercayaan yang besar pada sang suami.
Gemilang akhirnya tersenyum dengan lega. Namun bukan berarti ia benar-benar lega. Masih banyak yang harus ia lakukan, salah satunya membuktikan kalau janin yang Carla kandung bukan miliknya.
...***...
__ADS_1