ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Istri Tangguh


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi sama kakek, mbak? Apa kakek sakit? Kenapa tiba-tiba bisa begini padahal semalam Zaya baru aja bicara sama kakek dan kakek kayaknya nggak kenapa-napa? Apa sesuatu telah terjadi pada kakek?" cecar Mazaya. Sepulang dari pemakaman, Mazaya segera menemui art di rumah itu yang bertugas menjaga kakeknya. Ada 3 orang art dan salah satunya bertugas merawat dan melayani segala keperluan kakek Syailendra.


"I-itu non, ta-tadi pagi se-setelah sarapan, ada pe-pesan masuk ke hp tuan. Setelah membaca pesan itu, tiba-tiba sakit jantung tuan kam-buh. Sa-saya sudah ingin mengabari non Zaya, ta-tapi tuan Lendra melarang kami. Kami sudah memanggilkan dokter. Keadaan tuan Lendra sempat membaik, ta-tapi tak lama kemudian tuan Lendra drop lagi. Terus ... terus ... tiba-tiba tuan ... tuan ... maafkan saya, nona, maafkan saya yang tidak bisa menjaga tuan Lendra dengan baik. Maafkan saya."


Perempuan bernama Ida itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya sambil terisak. Ia benar-benar tidak menyangka tuannya tiba-tiba saja meninggal seperti ini. Padahal pagi-pagi sekali ia masih sempat menemani sang majikan memberi makan ikan-ikannya di empang yang ada di belakang rumah.


"Pesan?" Gemilang telah berdiri. Ia penasaran, pesan apa dan siapa pengirimnya yang membuat kakek Syailendra tiba-tiba drop dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Mazaya pun pergi ke kamar sang kakek dan mengambil ponsel kakek Syailendra. Ia pun segera membuka ponsel yang tidak dikunci tersebut. Matanya membeliak saat membaca pesan bernada ancaman yang diikuti fotonya saat baru keluar dari dalam sebuah cafe. Ia ingat, cafe ini adalah cafe yang ia datangi saat melakukan meeting dengan Jendra tempo hari.


[TERNYATA KAU BERHASIL MENYELAMATKAN PUTRI NARENDRA, TUA BANGKA. SAAT ITU KAU MUNGKIN BERHASIL, TAPI TIDAK UNTUK SAAT INI. AKU PASTIKAN AKAN MELENYAPKAN PUTRI SATU-SATUNYA DARI PUTRAMU ITU. KALIAN SEMUA HARUS HANCUR DI TANGANKU. AKU AKAN MELENYAPKAN PUTRI PEMBUNUH ITU SAMA SEPERTI DIA MELENYAPKAN CALON BUAH HATIKU.]


Tangan Mazaya terkepal. Pun Gemilang yang baru saja ikut membaca pesan tersebut. Dahi keduanya mengernyit setelahnya.


"Sepertinya dia melakukan ini karena motif dendam." Tukas Gemilang penuh keyakinan.


"Iya mas, Zaya juga merasa begitu. Tapi dendam karena apa? Apa sefatal itu sampai harus melenyapkan nyawa mama dan papa. Lalu kini kakek pun jadi korban. Seterusnya kemungkinan ... aku." Ujar Mazaya pelan. Ia pun penasaran, apa yang melatarbelakangi dendam orang itu pada keluarganya.


"Percayakan semuanya pada mas. Mas akan berusaha mencari tahu. Mas juga akan selalu melindungimu bagaimana pun caranya."


Keesokan paginya, Gemilang dan Mazaya sudah berangkat pagi-pagi sekali. Banyak hal yang harus diurus membuat mereka tak bisa berlama-lama di sana. Hanya kedua orang tua mereka saja yang masih berada di sana. Mereka akan tetap di sana sampai tahlilan 7 hari berakhir.

__ADS_1


Sang Surya masih bersembunyi malu-malu di balik cakrawala, tapi mereka tetap melajukan mobil tak peduli udara masih sedikit menusuk hingga ke tulang. Sesekali Mazaya menguap karena rasa kantuk yang masih menguasai sebab hampir semalaman ia tak bisa memejamkan matanya. Seakan ada batu yang mengganjal dalam rongga dadanya. Ia masih tak habis pikir dengan seseorang yang masih saja berkutat dengan dendam padahal waktu telah berputar tidaklah sebentar.


"Kalau mau tidur, tidur aja, Zayang." Ucap Gemilang seraya mengusap puncak kepala Mazaya yang bersandar di pundaknya.


"Aku nggak papa mas. Nggak enak juga sama pak Ujang. Masa' dia sibuk nyetir, kita malah tidur." Tolak Mazaya yang memang tak enak hati dengan sopirnya bila ia tertidur meskipun hal itu tak masalah.


"Kan mas nggak tidur, jadi kamu tidur sa-,"


Brakkkk ...


"Arrrrgh ... "


"Ada apa ini pak Ujang?" seru Gemilang saat mobil yang mereka tumpangi seperti ditabrak sesuatu dari belakang. Dilihatnya pak Ujang ternyata merasa pusing karena kepalanya yang membentur kemudi cukup keras. Untung saja tidak sampai menyebabkan luka.


"Mas, siapa mereka?" gumam Mazaya sambil mengusap keningnya. Rasa kantuknya seketika lenyap saat mobil mereka ditabrak dari belakang.


"Mas juga tidak tahu, tapi yang pasti mereka sedang ingin mencari gara-gara dengan kita." Ucap Gemilang dingin. "Kau tetap di dalam sini saja ya ... "


Belum sempat Gemilang menyelesaikan kata-katanya, Mazaya lebih dahulu menggeleng.


"Mari kita hadapi mereka sama-sama." Ucap Mazaya yakin. Ia lantas mengeluarkan senjata miliknya yang ia sembunyikan di dalam tasnya sambil tersenyum membuat Gemilang awalnya terperangah. Namun setelahnya seringaian terbit di bibirnya. Ia tak pernah menyangka, perempuan yang dulu ia kira udik dan kampungan justru perempuan tangguh. Dan kini perempuan tangguh itu telah menjadi istrinya. Tak pernah ia duga juga ia akan menghadapi situasi seperti ini secara bersama-sama dengan istrinya. Rasa cintanya kini makin berkali lipat setelah mengetahui istrinya yang sebenarnya. Bukan karena harta ataupun jabatan, tapi karena. ketangguhannya, kesetiaannya, kesabarannya, kebaikannya, kelembutannya, segala yang ada pada istrinya, ia menyukainya.

__ADS_1


"Kau memang istri tangguhku. Let's go baby! Kita hadapi mereka semua." Ucapnya penuh percaya diri.


Mazaya mengangguk lantas mereka pun turun bersama dari mobil itu. Sedangkan pak Ujang, ia segera menghubungi Juna untuk mengabari apa apa yang sedang tuan mereka hadapi.


"Siapa kalian? Dan mau apa kalian sebenarnya?" seru Gemilang dengan wajah datarnya.


"Tak perlu bertanya kami siapa. Yang pasti, kalian harus mati hari ini juga," sahut salah seorang dari mereka.


Mereka hendak mengarahkan pistol ke arah Mazaya, tapi Gemilang dengan cepat menembak tangan pria itu sehingga senjata apinya terpental jauh dengan tangan yang sudah berlumuran darah.


"Aaarkh ... " pekiknya.


Kawanan mereka yang lain tampak marah, mereka lantas bersama-sama mengangkat pistol. Gemilang dan Mazaya berlarian menghindari serbuan peluru dari beberapa orang tersebut. Memang tidak semuanya memakai pistol tapi tetap saja serbuan itu perlu mereka hindari. Mereka bersembunyi di balik mobil sambil memasang telinga untuk mengetahui keberadaan lawan. Satu persatu lawan mereka tumbangkan menggunakan senjata api mereka. Ada yang berhasil menghindar, tapi ada beberapa juga yang terkena timah panas itu baik di kaki, pundak, maupun lengan.


Saat Gemilang tengah fokus ke arah depan, dari balik pohon yang tak jauh dari posisi mereka ada seseorang yang telah bersiap mengarahkan pistolnya pada Gemilang. Mazaya yang menyadari itu segera meringsek berdiri di belakang Gemilang. Lalu dengan cepat ia melepaskan tembakan bersamaan dengan pria itu juga yang melepaskan tembakan.


"Aaarghhh ... " Terdengar suara letusan senjata api dari balik punggung Gemilang bersamaan dengan pekikan yang membuat Gemilang sontak menoleh dengan mata terbelalak.


"Zaya ... " Pekiknya dengan wajah merah padam.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2