ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Meminta pertanggung jawaban


__ADS_3

Lalu Windy dan Juna yang ikut ingin memberikan selamat pun maju mendekati brankar. Namun karena keduanya bergerak maju bersamaan, pundak mereka pun saling bertabrakan. Windy yang memang sudah lelah pun seketika oleng dan hampir saja jatuh kalau tak ada sepasang tangan yang menahan pundaknya.


"Aaargh ... "


"Kamu nggak papa?" tanya Mada sambil membantu Windy kembali berdiri tegak.


"A-aku nggak papa kok. Makasih ya." Ucap Windy seraya mengulas senyum manis.


"Aduh, manis banget senyumnya. Ngalahin madu." Puji Mada membuat Nugie dan Jendra terkekeh.


"Pepet, Da, pepet. Daripada jomblo mulu." Seloroh Nugie yang sudah melebarkan tawanya.


"Kamu udah punya pacar belum?" tanya Mada sambil mesem-mesem.


Melihat cara Mada menggodanya, bukannya suka, Windy justru merasa ilfil.


"Ah, Alhamdulillah udah, pak." Sahut Windy yang sebenarnya hanya dusta belaka.


Windy pun segera beranjak mendekati Mazaya dan mengucapkan selamat.


"Sekali lagi selamat ya, sis. Semoga calon mommy dan baby nya sehat-sehat terus."


"Thanks ya, Win. Btw, loe beneran udah punya cowok? Kok nggak ngenalin sama aku? Kamu tahu Wil Windy punya pacar?"


'Mati aku? Gimana kalo aku ketahuan bohong?' Windy gusar. Bola matanya tampak melotot ke arah Mazaya untuk memberikan kode, tapi Mazaya tidak paham.


Willy menggeleng sambil mengedikkan bahunya acuh, "nggak tau." Jawab Willy singkat membuat nafas Windy menghela lega.


Sementara di belakang sana, Nugie dan Jendra sibuk terbahak menertawakan Mada yang kalah sebelum bertempur.


"Janur kuning belum mengembang, bro. Masih ada kesempatan kan?" Ucap Mada seolah ingin menjadikan Windy target.


Juna hanya menatap datar teman-teman majikannya tersebut. Ia lantas maju dan juga memberikan ucapan selamat.


"Ya, aku balik ke kantor dulu ya! Banyak yang mesti aku beresin soalnya." Pamit Windy pada Mazaya yang diangguki Mazaya. Lalu ia pun juga berpamitan dengan Gemilang. "Saya permisi dulu, tuan." Ucapnya pada Gemilang.


Tak lama kemudian, Juna pun pamit ingin membereskan pekerjaan di kantor yang ia tinggalkan secara tiba-tiba. Sedangkan Willy pamit karena ditelepon pihak kepolisian untuk memberikan keterangan.


"Mau aku antar?" tawar Mada yang kembali mencoba mendekati Windy.

__ADS_1


"Nggak usah. Terima kasih." Ucap Windy datar membuat Mada menggaruk tengkuknya.


"Baru juga mau deketin cewek, eh langsung ditolak mentah-mentah. Hassiaaaan." Cibir Jendra membuat Nugie, Gemilang, dan Mazaya menertawakannya.


Saat Windy telah berdiri di depan lobby dan hendak memesan taksi online, tiba-tiba terdengar suara klakson yang ditekan hingga beberapa kali. Windy bersikap acuh tak acuh sebab ia pikir mobil itu bukan mengklakson dirinya. Hingga ada seorang valet parking menghampirinya.


"Non, jemputannya udah nungguin dari tadi tuh." Ujar pemuda yang merupakan valet parking di rumah sakit itu.


Windy mendongakkan kepalanya, dia saja belum selesai memencet tombol pesan di aplikasi ojek onlinenya, masa' taksinya sudah datang duluan.


"Jemputan?" beo Windy.


"Iya, jemputan. Toh orangnya udah nungguin. Buruan ya non, kalo kelamaan entar ganggu mobil lain yang mau masuk." Ujar pemuda itu yang kemudian segera berlari karena ada mobil yang mau keluar.


Windy yang penasaran pun mendekat ke arah mobil itu dan membelalakkan matanya.


"Kamu ... "


Sementara itu, Willy yang baru saja keluar dari dalam toilet dan hendak masuk ke lift tiba-tiba melihat keberadaan Fatiyah yang juga berjalan hendak menuju lift.


Saat beberapa langkah lagi Fatiyah mendekat ke lift, matanya tiba-tiba bersirobok dengan netra Willy. Fatiyah sampai membulatkan matanya. Lalu ia kembali memutar langkahnya untuk menjauh dari Willy.


"Om, lepasin ih! Om mau nyulik aku ya?" Ucap Fatiyah pelan. Tentu ia tak mau memancing keributan di rumah sakit yang mana justru membutuhkan ketenangan.


"Ya, aku mau nyulik kamu untuk dijual ke tempat penjualan organ tubuh, siapa tahu uangnya gede untuk jalan-jalan ke Eropa."


Seketika Fatiyah membulatkan matanya, "wah, berarti dugaan aku benar. Om yang tadi itu mafia, pasti kalian juga mafia kan kalian teman-teman Om itu." Ucap Fatiyah sambil bergidik ngeri. Saat Willy melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Fatiyah dan menutup pintu, Fatiyah langsung beringsut memepetkan tubuhnya ke dinding. "Om, jangan jual saya dong Om. Om liat, tubuh Fatiyah tuh nggak gede. Kemungkinan organ tubuh Fatiyah juga nggak sesuai permintaan mereka. Apalagi Om ya, sebenarnya Fatiyah itu sering sakit-sakitan, pasti organ tubuh Fatiyah itu nggak sehat, jadi jangan ya Om." Fatiyah memasang wajah memelas membuat Willy setengah mati menahan tawanya.


Willy memelototkan matanya membuat Fatiyah makin beringsut ke dinding, "kamu ... kamu yang waktu itu cium aku tiba-tiba saat di club malam itu kan?" Willy menatap tajam Fatiyah membuat Fatiyah menelan ludahnya kasar.


'Mati aku. Kenapa pula sih harus ketemu Om ini lagi?' Fatiyah mengeluh dalam hati.


"Ayo ngaku! Kamu jangan mau menghindar lagi. Kamu harus tanggung jawab. Kamu sudah menodai keperjakaan bibir saya tau. Kau tahu, aku menjaga seluruh tubuhku termasuk bibirku ini hanya untuk istriku, lalu kau malah menodainya seenaknya. Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Titik. Tidak ada penolakan."


Mendengar cercaan Willy yang menurutnya tak masuk akal jelas saja membuat Fatiyah membulatkan matanya dengan mulut menganga.


"Om, Om jangan gila deh. Tadi bilang mau jual aku ke tempat penampungan organ tubuh, sekarang malah suruh aku tanggung jawab. Aku kan cuma cium doang. Seharusnya Om makasih sama aku soalnya itu juga ciuman pertama aku tahu nggak sih." Fatiyah memprotes Willy dengan wajah bersungut-sungut.


"Oh, jadi itu ciuman pertama kamu juga. Tapi tetap aja, kamu telah menodai bibir aku. Silahkan kamu pilih, mau tanggung jawab atau ... "

__ADS_1


"Atau apa?" Mata Fatiyah telah mendelik was-was.


"Atau kau lebih memilih dijual ke tempat penjualan organ dalam. Lumayan duitnya bisa jalan-jalan ke Eropa. Ah atau aku gunakan aja untuk melamar anak gadis seseorang yang mau mengembalikan kesucian bibirku."


Gila. Entah sejak kapan Willy jadi gila seperti ini. Perasaannya senang melihat gadis kecil yang dapat ia perkirakan usianya sekitar 20 tahunan itu merengek ketakutan.


"Om, nggak ada pilihan lain apa? Aku masih kecil Om. Anggota tubuhku aja belum berkembang sepenuhnya. Jangan dijual juga. Kasian mama ditinggal anak gadis kesayangannya ini. Ayolah Om, jangan ya ya ya! Om ... ngomong dong!" Fatiyah merengek pada Willy sambil menarik-narik lengannya. Bahkan saat lift terbuka pun dia masih sibuk merengek mengabaikan sekitar yang memandangnya geli. Seperti seorang kekasih yang tengah membujuk kekasihnya yang merajuk.


Bahkan tanpa sadar keduanya telah sampai di depan lobby. Willy juga sudah meminta valet parking mengambil mobilnya.


Fatiyah masih saja sibuk merengek. Willy lantas mendorong Fatiyah agar masuk ke dalam mobil SUV yang memang dibawa Antonio tadi.


"Pasang seat belt nya." Titah Willy.


"Om belum jawab permintaan aku." Rajuk gadis itu membuat Willy gemas dan langsung memasangkan seat belt.


"Memangnya kau pikir aku meminta pertanggung jawaban seperti apa, hm? Sampai bilang anggota tubuhmu belum berkembang sempurna." Ejek Willy sambil tersenyum geli.


"Kali aja Om-Om mau aku nikahin Om kan biasanya tanggung jawab ya yang kayak gitu."


Sontak saja tawa Willy pun pecah. Perutnya sampai sakit. Ia lantas mengacak rambut Fatiyah gemas.


"Kalau iya, emangnya kamu mau nikahin aku?"


"Nggak." Jawab Fatiyah cepat.


"Kenapa? Aku tampan, mapan, cerdas juga."


"Om kan nggak cinta aku, sedangkan aku maunya nikah sama yang cinta aku."


"Tapi kamu udah menodai bibir aku lho."


"Tapi bibir aku pun udah ternodai juga."


"Ya udah, kalau mau impas, bagaimana kalau kalau aku meminta pertanggung jawaban kamu dengan ambil kembali ciuman kamu dari bibir aku." Ucap Willy sambil menahan tawanya yang hendak kembali pecah.


Fatiyah, "&$(4(;_9$)#&293($9"


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2