
Beberapa jam sebelumnya,
"Tuan, nona Mazaya diculik." Lapor seorang yang memang ditugaskan mengawasi Mazaya dari jauh.
Saat itu Gemilang masih duduk dengan Jendra yang juga baru saja bertemu dengan rekan kerjanya. Baru saja Jendra hendak beranjak meninggalkan Gemilang, ia mendadak menghentikan langkahnya saat mendengar seruan kemarahan dari sahabatnya tersebut Ia pun segera membalikkan badannya dan menatap Gemilang yang rahangnya sudah mengeras.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tentu saja ia merasa heran sebab ia mengetahui kemampuan bela diri istrinya itu. Rasanya mustahil bila seseorang bisa dengan begitu mudah melumpuhkan istrinya. Apalagi baru beberapa menit yang lalu mereka saling berkirim pesan. Artinya penculikan itu hanya dilakukan dalam beberapa menit saja. Waktu yang terlalu singkat untuk melumpuhkan lawan seperti istrinya.
"Maaf tuan, kami ceroboh. Kami tidak melihat saat musuh membius nona dengan tembakan suntikan bius. Jadi nona dan kedua temannya pingsan beberapa detik setelah terkena biusan tersebut. Itu yang kami lihat dari rekaman cctv."
Saat itu mereka memang tidak melihat Mazaya, Windy, dan Willy keluar dari lift basemen hendak menuju mobil SUV kantor sebab posisi mobil mereka terhalang mobil lain. Mereka pikir bila Mazaya hendak keluar, ia akan menggunakan mobil yang biasanya ia pakai. Tetapi ternyata mereka salah, Mazaya justru pergi bersama Windy dan Willy. Memang bila mereka bepergian bersama, mereka menggunakan mobil SUV hitam milik kantor.
Mereka telah mendapat kabar kalau istri bosnya itu akan pergi ke cafe starla jadi mereka pun bersiap. Namun setelah menunggu beberapa menit, mereka heran, mengapa Mazaya tak kunjung muncul.
Salah satu dari mereka lantas segera turun untuk mencari tahu. Dari keterangan resepsionis yang telah dihubungi Windy, ternyata Mazaya telah pergi dengan asisten pribadi dan sekretarisnya. Merasa penasaran, mereka lantas meminta bagian keamanan mengantar ke ruang cctv. Petugas yang sudah tahu kalau kedua orang itu merupakan bodyguard atasan mereka pun segera mengantarkan ke ruangan cctv. Hingga beberapa saat kemudian, matanya membelalak saat mengetahui istri bos mereka ternyata telah diculik. Ia juga meminta rekaman tersebut untuk dikirimkan ke bos mereka.
"Siapa yang melakukannya? Dan dimana mereka sekarang?"
"Pria itu memakai masker, tuan jadi kami tidak bisa melihat siapa laki-laki itu. Nona dan kedua temannya dimasukkan ke mobil SUV yang kerap mereka bertiga pakai. Dan untuk posisi, maaf tuan, kami tidak tahu, kami masih mencoba melakukan pencarian."
"Go blok! Menjaga satu wanita saja tidak becus. Kalau sampai terjadi apa-apa pada istriku, aku pastikan akan memberikan pelajaran pada kalian berdua." Sentak Gemilang dengan rahang mengeras. Ia benar-benar panik sekarang. Entah siapa yang melakukan penculikan itu. Ia harap, istrinya baik-baik saja.
"Ma-maafkan kami, tuan. Kami akan berusaha menemukan keberadaan nona Mazaya."
"Cepat cari mereka! Awas kalau sampai tidak kalian temukan. Aku beri kalian waktu 15 menit."
"Ba-baik, tuan."
Setelah menutup panggilan, kedua pengawal Mazaya lebih dahulu mengirimkan rekaman cctv penculikan Mazaya. Setelahnya mereka pun mengotak-atik ponsel mereka.
__ADS_1
Beruntung mereka telah meletakkan alat pelacak di setiap mobil yang pernah Mazaya pakai jadi tidak sulit untuk mereka menemukan posisi mereka. Dan lebih beruntung lagi, penculik itu menggunakan mobil yang kerap Mazaya pakai jadi mereka pun segera melakukan pengejaran terhadap mobil itu. Mereka juga membagikan lokasi Mazaya kepada bos mereka.
Sedangkan Gemilang, ia langsung menceritakan apa yang terjadi pada Jendra yang telah berdiri di hadapannya. Sambil berjalan menuju mobil, Jendra juga mengabari kedua temannya. Siapa tahu kedua temannya sedang suntuk dan ingin bermain sejenak. Ternyata mereka pun tampak antusias ingin membantu sahabat mereka.
Dan tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun tiba di tempat dimana Mazaya dan kedua temannya disekap.
...***...
Melihat anak buah Santos dan Antonio telah berhasil diringkus semua, Gemilang pun segera mencari Mazaya dan memeluknya erat. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya itu. Namun saat baru saja memeluk sang istri, Gemilang merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuh istrinya seketika melemah dan matanya terbelalak saat melihat sesuatu.
"Darah." Gumamnya dengan mata terbelalak.
"Sayang, kamu nggak papa? Kamu terluka?" cecar Gemilang panik.
Namun yang ditanya tak menjawab. Gemilang makin panik saat mengetahui ternyata istrinya telah pingsan. Ia kian khawatir saat tak sengaja memegang darah di tangannya. Entah berasal dari bagian tubuh yang mana sebab ia tak sadar tau-tau tangannya telah menghangat karena darah.
"Sayang, bangun sayang? Kamu terluka dimana?" tanya Gemilang sambil merebahkan kepala Mazaya di pangkuan. Wajah Mazaya tampak pucat pasi membuat jantung Gemilang terasa dihantam godam. Rasa khawatir menyeruak membuat dadanya sesak.
"Dia pingsan. Dia berdarah. Mungkin dia terkena tembakan." Ujar Gemilang yang kini sudah menggendong istrinya yang tak sadarkan diri.
"Lang, darahnya mengalir dari sela kakinya. Apa istrimu hamil?" ujar Jendra yang sudah mengikuti langkah Gemilang.
"Tidak." Jawab Gemilang cepat. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?" Gemilang bingung kenapa Jendra justru menyangkutkan darah istrinya dengan kehamilan?
"Lang, biasanya darah yang mengalir dari sela kaki perempuan itu pertanda dia mengalami pendarahan atau lebih parahnya keguguran." Ucap Jendra dengan wajah ikut panik.
"A-apa mungkin?"
Seketika Gemilang mengingat kilasan beberapa hari ini. Mazaya yang kerap sensitif atas segala sesuatu. Bahkan ia jadi mudah merajuk dan marah-marah. Tubuh istrinya juga sering lemah tak bertenaga dan lebih sering tidur. Gemilang seketika makin panik m Bagaimana bila itu sampai terjadi? Tentu ia tak ingin kehilangan baik istri maupun calon anaknya.
__ADS_1
"JUNA!" teriak Gemilang dengan suara bariton yang menggelar.
Juna yang merasa dipanggil pun berlari tergopoh-gopoh menuju tuannya.
"Ya, tuan," jawab Juna dengan nafas tersengal.
"Cepat antarkan aku ke rumah sakit. Sekarang!" Titahnya tanpa butuh sanggahan.
Juna mengangguk pasti dan langsung berlari menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Gemilang. Setelah memastikan majikannya duduk dengan nyaman ia pun segera memutari mobil dand duduk di balik kemudi. Belum sempat Juna menyalakan mobilnya, seorang perempuan ikut masuk dan duduk di samping Juna.
"Aku ikut." Ucapnya yang juga seakan tak mau ditolak.
Juna yang tahu perempuan itu adalah sekretaris istri tuanya membiarkan. Ia pun segera menyalakan mobil dan menjalankannya dengan kecepatan penuh.
"Apa tak bisa lebih cepat lagi?" teriak Gemilang dengan wajah paniknya sebab darah itu kini telah membasahi celana hingga ke bagian dalam. Ia bisa merasakan hangatnya rembesan darah tersebut di kulit kakinya. Dalam hati, tak henti-hentinya Gemilang menggumamkan doa meminta agar istrinya diberikan keselamatan. Ia tak rela harus kehilangan orang yang ia cintai. Ia takkan sanggup.. Baginya Mazaya adalah separuh jiwanya. Kehilangan Mazaya sama saja kehilangan separuh jiwanya itu. Apalah dirinya bila separuh jiwanya hilang. Ia pasti hanya akan tinggal raga tanpa jiwa. Kosong dan hampa. Hidup seakan mati.
"Maaf tuan, tapi ini sudah kecepatan tinggi. Bila saya menambahkannya lagi, bukannya kita akan mengantarkan nona ke rumah sakit, tapi kita semua akan mengantarkan nyawa." Ucap Juna yang tak bisa mengontrol kekesalannya.
Sebenarnya ia paham akan kekhawatiran Gemilang terhadap Mazaya, tapi kita pun harus memikirkan keselamatan. Jangan karena terburu-buru, nyawa kita yang jadi taruhannya. Bahkan bisa lebih. Bisa saja orang lain pun jadi ikut terkena imbasnya.
"Ck ... " Gemilang berdecak kesal dan menghela nafasnya.
30 menit berselang, mereka pun tiba di rumah sakit. Windy dengan sigap membukakan pintu untuk Gemilang dengan Mazaya yang masih berada dalam gendongannya. Windy ikut mengekor di belakangnya. Bagaimana pun, ia sangat mengkhawatirkan bos sekaligus sahabatnya itu. Sedangkan Juna menunggu untuk memarkirkan mobilnya di slot yang mudah dilihat. Setelahnya ia pun ikut menyusul Gemilang yang telah mengiringi Mazaya setelah diletakkan di atas brankar.
Mazaya pun dibawa masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan. Gemilang terduduk dengan lemas. Diliriknya celananya yang telah basah dengan darah. Matanya memerah. Pelupuk matanya basah. Ia benar-benar khawatir saat ini.
"Aku mohon, bertahanlah sayang." Gumamnya membuat Juna dan Windy yang berdiri bersisian menatapnya iba. Mereka saling menoleh lalu membuang muka masing-masing.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...