ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Pentungan dan keceplosan


__ADS_3

"Ya udah, kalau mau impas, bagaimana kalau kalau aku meminta pertanggung jawaban kamu dengan ambil kembali ciuman kamu dari bibir aku." Ucap Willy sambil menahan tawanya yang hendak kembali pecah.


Jelas saja Fatiyah tercengang mendengar penawaran dari Willy. Bagaimana bisa dia justru meminta pertanggung jawaban dengan mengambil kembali ciuman itu dari bibirnya. Artinya mereka akan berciuman lagi dong , pekik Fatiyah dalam hati.


"Om jangan gila ya! Itu mah sama aja bohong, enak di Om nggak enak di Fatiyah dong." Protes Fatiyah bersungut-sungut. Willy mengulum senyum mendengar protes dari bibir merah muda Fatiyah. Willy tetap melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi tanpa Fatiyah sadari.


"Enak di aku bagaimana ceritanya? Kan aku cuma minta pertanggung jawaban kamu. Kamu udah menodai kesucian bibirku, jadi kamu harus menarik kembali ciuman itu. Seharusnya kamu bersyukur, di zaman ini, jarang ada laki-laki yang bisa menjaga keperjakaan bibirnya. Jangankan bibir , pentungan pun kebanyakan udah nggak suci lagi, beda sama aku yang terjaga luar dalam lahir dan batin."


"Pentungan? Emangnya Om sekuriti apa? Pak satpam? Tukang jaga pos ronda?"


"Semua laki-laki ada pentungannya kali, kecuali laki-laki jadi-jadian atau udah bertransformasi dari laki jadi perempuan kayak si Lucifer Luna itu." Ucapnya santai yang terang saja membuat Fatiyah kebingungan dengan maksud Willy.


"Sebenarnya Om tuh lagi bicarain apa sih? Kok sampai bawa-bawa pentungan. Kalau semua laki-laki punya pentungan, terus pentungan Om mana? Tiyah kok nggak lihat. Terus Lucifer Luna itu siapa?" tanya Fatiyah polos membuat Willy tak mampu menahan tawanya.


"Ya Allah, kamu gemesin banget deh. Jadi pingin jadiin bini."


"Ih Om mah, Tiyah bilang apa kok nyerempet ke jadi bini. Om ini lama-lama makin nyebelin banget."


"Dan kamu gemesin banget."


"Oooom ... " Fatiyah merengek tanpa sadar. Menunjukkan sisi manja yang membuat Willy tak henti-henti mengulum senyum.


"Iya iya, soal pentungan ya emang semua laki-laki punya. Kamu tanya kemana pentungan Om, ya di tempat semestinya lah. Masa' dibiarin terbuka, entar dia terbang gimana? Atau ada yang terpesona pingin nyobain gimana? Kan dosa karena belum halal."


"Om kok makin gaje aja sih. Makin buat Tiyah bingung."


"Astaga, masih belum paham juga?"


Fatiyah mengangguk saat Willy mengucapkan itu.

__ADS_1


"Kamu penasaran sama pentungan aku?" Fatiyah lagi-lagi mengangguk.


"Nikah yuk? Biar kamu bukan cuma bisa melihat tapi juga bisa memegang pentungan Om."


Fatiyah : Krikkk ... Krikkk ... Krikkk ...


...***...


"Kamu ... " Windy terkejut saat melihat keberadaan Juna di dalam mobil yang mengklaksonnya dari tadi.


"Masuk!" titahnya dingin membuat Windy mengerutkan kening. "Masuk!" Sekali lagi Juna memerintah membuat Windy mendelik tajam.


"Masuk, masuk, emangnya aku itu anak buah kamu. Seenaknya main perintah-perintah."


"Kataku masuk, cepat masuk. Atau mau aku gendong masuk ke dalam?"


"Coba aja kalau bisa. Dasar, orang aneh!"


Mendengar kalimat bernada tantangan itu, membuat Juna benar-benar turun dari dalam mobil dan segera menghampiri Windy. Setelahnya, ia mengendong Windy dengan kedua tangannya membuat Windy membelalakkan matanya karena shock Willy benar-benar melakukan apa yang ia katakan.


"Heh, asisten gila, turunin nggak!" Pekik Windy membuat beberapa orang yang berada di sana mengalihkan perhatian mereka kepada calon dua sejoli itu. "Tolooong!"


"Heh pak, lepasin perempuan itu! Bapak mau nyulik ya?" sergah seorang ibu yang ditemani suaminya.


"Maaf pak, Bu, ini istri saya. Dia lagi ngambek karena kecewa. Dia pikir mual-mualnya karena hamil, taunya cuma karena asam lambungnya naik." Dusta Juna pada pasangan suami istri tersebut yang lantas saja membuat Windy melongo.


"Oh, ya ampun. Saya mengerti kok pak gimana perasaan istrinya. Soalnya saya juga pernah mengalami hal kayak gitu." Sahut sang ibu.


"Bener sekali, pak. Bahkan saking ngambeknya, saya nggak dikasih jatah selama 1 Minggu. Pentungan saya sampai muyeng-muyeng. Padahal kan bukan saya yang salah." Timpal sang suami membuat sang istri tersenyum malu-malu. Pun Juna yang awalnya cuma sekedar mencari alasan justru ikut melongo. Ia pun melirik Windy yang telah membulatkan matanya.

__ADS_1


"Bukan pak, Bu, saya bukan istrinya." Seru Windy.


"Aduh neng, nggak baik nggak mengakui suami sendiri. Kecewa sih kecewa, tapi nggak boleh gitu kan kasihan suaminya. Diam-diam begitu, suami neng pun sebenarnya sedih tapi demi neng, suami neng nutupin kesedihannya dengan pura-pura tegar. Bapak pernah kok berada di posisi suami neng. Mau nunjukin kesedihan, tapi takut istri makin sedih. Siapa lagi yang menguatkan istri kalo nggak suami sendiri. Sabar ya neng, mungkin emang belum rejeki. Tapi yakin deh, suatu hari, Eneng pasti akan segera mendapatkan kabar bahagia itu. Liat buah kesabaran bapak dan ibu, sekarang kami sudah diberkahi dengan 10 anak dan yang ada di dalam perut istri bapak ini calon anak ke 11, hebat kan?"


Jelas saja, penjelasan bapak itu membuat Juna dan Windy melongo.


"11 anak? Udah kayak mau buat kesebelasan pemain sepak bola aja." Gumam Windy tapi hanya ia suarakan dalam hati.


"Wah, bapak hebat! Doain kami juga ya pak biar bisa kayak bapak. Ya, minimal 5 anak lah." Jawab Juna asal yang makin membuat Windy pusing.


'Ni orang kok jadi bahas masalah anak sih? Emang siapa yang bakal hamil anak dia? Nikah aja belum. Eh, apa kataku tadi? Nikah aja belum? Emangnya aku mau nikah sama dia? Eh ralat, emang dia mau nikah sama aku? Kalau aku sih ... "


Windy mesem-mesem sendiri di dalam mobil. Sampai kedua pasangan suami istri tersebut pergi dan Juna telah duduk di kursi balik kemudi pun, ia belum sadar dan masih tersenyum-senyum seorang diri.


Windy baru sadar saat ada sepasang tangan bergerak di dekat punggung dan pinggang serta terpaan hangat nafas yang tepat mengenai wajahnya.


Seketika mata Windy membelalak dengan jantung yang kinerjanya berkali-kali lebih cepat.


'Astaga, jantungku!' Batin Windy meronta karena terpana pada wajah tampan sang asisten jumawa.


Ya, Windy menganggap Juna asisten jumawa sebab ia sudah berbuat semaunya sendiri. Bahkan tanpa canggung dia mengatakan dirinya adalah istri dari laki-laki tersebut.


"Mau sampai kapan kamu liatin aku?" Tanya Juna yang posisi wajahnya masih begitu dekat dengan wajahnya.


"Sampai aku puas lah. Eh ... " Windy sontak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena keceplosan.


Juna mengulum senyum tipis melihat ekspresi Windy yang malu karena telah keceplosan.


Juna pun segera menarik dirinya dari hadapan Windy setelah selesai memakaikan sabuk pengaman di tubuh gadis itu. Dan dalam hitungan detik, mobil pun mulai melaju membelah jalanan ibu kota.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2