
Russel membawa mobilnya memasuki mansion utama. Dengan bersiul riang, pria itu menapaki lantai marmer berwarna gelap itu. Langkah Russel terhenti melihat Lily hanya makan malam seorang diri.
Russel tidak bergabung, hanya menatap Lily yang tengah menikmati makan malamnya. Russel menyenderkan tubuhnya menyamping dan melipat tangannya di dada. Meski sedang makan, Lily tampak sangat cantik. Gejolak di dalam diri Russel memberontak, lalu pria itu mengulas senyum penuh arti. Dan melangkah ke kamarnya begitu melihat Lily beranjak dari duduknya.
****
Malam itu, seusai makan malam yang sendiri. Karena anggota keluarga pergi entah kemana. Lily memutuskan untuk tidur lebih cepat. Matanya cepat terpejam karena memang dia mudah mengantuk.
Lily merasakan ada yang tidak nyaman di tubuhnya. Seperti sedang menahan beban yang berat, dan sesuatu yang menggelitik di bagian lehernya. Lily membuka matanya lebar-lebar seketika.
Seorang pria tengah berada di atas tubuhnya. Lily mencoba menyingkirkan kepala itu dari tubuhnya.
"Siapa kau? Pergi!"
Lily sekuat tenaga menjambak rambut pria itu, hingga kepalanya terangkat. Netra Lily melebar, melihat wajah pria itu. Yang tak lain adalah Russell.
__ADS_1
"Kau!"
Russel tersenyum lebar dengan mata yang sudah berkabut dan menggantung.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Teriak Lily terus mencoba melepaskan diri dari pria itu."Lepaskan aku brengsek!"
"Hahhaha.... Berteriaklah manis, tidak akan ada yang mendengar."
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" Teriak Lily terus berusaha melepaskan diri. Ia memukul tubuh kekar di atasnya yang terus mencumbui tubuhnya. Lily merasa sangat jijik setiap kali bibir itu menempel di kulitnya, bahkan dengan bebas mengesap sepanjang lehernya.
Lily menggunakan semua kekuatannya. Suaranya sampai serak karena terus berteriak, memaki dan mengutuk Russel yang terus menjamah tubuh.
"Hahaha.... Teruslah memberontak, itu semakin membuatku bergairah."
Russel seolah menikmati perlawanan Lily yang sia-sia itu. Karena memang perbedaan kekuatan mereka sangatlah jelas.
__ADS_1
"Lepaskan aku brengsek! Bajingan kamu! Lepaskan aku!" Umpat Lily seraya terus memberontak. Memukul pria yang terus tertawa dengan perlawanannya yang tak berarti. Lily sudah di batasnya, Lily meraih lengan Russell yang paling dekat dengan kepalanya dan menggigit nya kuat-kuat.
Russel berteriak menahan sakit, dan bergegas bangkit dari atas tubuh Lily. Russel melihat lengaan nya yang mengeluarkan cairan merah segar. Gigi-gigi Russel yang berderet sempurna terlihat, begitu pria itu menyeringai marah. Menatap Lily yang mengatur nafasnya dan berusaha bangkit.
Russel tersenyum jahat seraya menarik dasi dari saku celananya. Lalu menindih tubuh Lily lagi. Gadis itu di buat tak berdaya dengan mengikat kedua tangannya dan mengaitkan pada kepala ranjang.
Merasa tubuhnya semakin lemah dan tak bisa melawan lagi dengan posisi seperti itu. Lily menangis, merasa sangat tak berdaya. Lily melihat suaminya yang terbaring di ranjang yang sama. Terlelap tanpa bergerak sedikitpun.
"Suamiku...." Lirih Lily menatap wajah tampan suaminya."suamiku..."
"Hahaha.... Lily, Lily, kamu memang secantik namamu." Russel menatap wajah Lily yang sudah di banjiri air mata itu, wajah yang menatap ke arah suaminya.
"Suamiku ...."
Russel merasa kesal. Wanita yang sangat dia ingin itu bahkan tidak menatapnya. Pria tampan yang setiap wanita pasti akan bertekuk lutut padanya. Bahkan dia berhasil merebut dan menaklukkan Angelica pacar Axelo dulu. Bahkan hingga sekarang, Angelica sangat menyukai permainan nya.
__ADS_1
Tapi, Lily berbeda. Menangis dan menyebut Axelo suami membuat darahnya mendidih. Semakin ingin mendapatkan dan menguasai Lily.