
"Cantik sekali."
Kalimat pujian itu Axelo lontarkan pada Lily. Wanita cantik itu baru saja keluar bersama seorang MUA terbaik. Axelo memang sudah menunggu beberapa jam yang lalu untuk membawa sang istri menghadiri pesta eksklusif sebagai pendampingnya. Axelo juga sengaja mengirim undangan untuk Clarissa agar saudara tiri Lily itu sadar, jika Lilylah yang dia cintai dan inginkan.
Selama ini Axelo sudah mengikuti permainan Clarissa, membuat wanita itu melambung untuk ia jatuhkan di pesta nanti.
"Aku sangat ingin menciummu saat ini, tapi aku takut akan merusak make up mu."
Lily tertawa lebar, "kalau begitu jangan."
"Aku akan menahan diri sampai acara ini berakhir." Ucap Axelo memeluk pinggang istrinya."Ayo berangkat."
Disisi lain, Clarisa sudah berdandan sangat cantik, memakai gaun terbaik dan terseksi hanya untuk malam ini. Ia pikir, Axelo akan menjadikan nya pendamping di pesta itu.
"Apa Axelo tidak menjemputmu, Clar?" Tanya Bella gelisah karena Clarisa masih terlihat berada di rumah padahal pesta sebentar lagi akan dimulai, dan Axelo tak kunjung datang.
"Mama, dia pasti sangat sibuk, tidak mungkin akan sempat menjemputku. Aku akan berangkat sendiri saja. Lagi pula dia mengirimiku undangan ini juga agar kami bertemu di sana nanti. Jika Axelo menjemput, dia tak akan mengirim undangan ini. Tapi membawanya bersama ku."
Clarissa akhirnya berangkat menggunakan mobilnya. Sesampainya Clarissa di pesta, ia berjalan-jalan sembari menanti Axelo yang ternyata memang belum datang.
"Benar dugaan ku, dia memang sibuk sampai tak sempat menjemputku. Untung saja aku sudah bergerak kemari." Gumam Clarissa pada dirinya sendiri.
"Hei, bukankah kamu Clarissa summer anak Lukas?"
Clarissa menoleh pada seseorang yang mengajaknya berbicara. Menindai segerombolan pria dan wanita yang menyapanya. "Apa urusan kalian?"
"Wah, kau cantik sekali, kulihat kamu sendiri, bagaimana jika jadi pasanganku malam ini?" Tawar salah satu lelaki diantara gerombolan itu.
Clarisa melambaikan tangan, ia tau pria itu bernama Alan termasuk keluarga kalangan atas yang di gangrungi para wanita. Tapi, dia tidak termasuk dalam target Clarissa. Target Clarissa adalah Axelo.
__ADS_1
"Maaf saja, aku sudah memiliki pasangan. Aku sedang menunggunya di sini." Tolak Clarissa.
"Benarkah? Siapa laki-laki beruntung itu?"
"Yang jelas itu bukan kau." Tukas Clarissa merendahkan.
Alan tertawa kecil,"aku cukup penasaran..."
"Sudahlah Alan, kenapa kau menggodanya, keluarga nya sebentar lagi bangkrut, tapi masih bisa berlagak padamu. Dia pikir dia ini tinggi sampai ada orang lebih dari mu mau menggandeng tangannya." Teman Alan mencemooh tak suka pada Clarissa yang begitu menyombong tanpa melihat diri.
"Lihat saja nanti, kalian akan tercengang melihat Axelo menggandengkan tanganku."
"Axelo?" Gerombolan itu tampak terperangah, saling pandang lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, lihat! Dia lucu sekali."
"Dia bermimpi terlalu tinggi."
"Benar, hahaha..."
Clarissa merasa sangat terhina. Clarisa mengepalkan tangannya mendapat ledekan seperti itu.
"Hei, nona summer, tuan Axelo datang bersama istrinya, bangun dan jangan permalukan dirimu."
"Tidak da gunanya aku meladeni sampah seperti kalian, Axelo mengirimkan undangan ini untukku. Dia yang menginginkanku, pastilah aku yang akan menjadi pendampingnya. Tunggulah sampai dia datang, saat itu, habislah riwayat kalian. Jangan merengek minta ampun!" Ujar Clarissa kesal dan geram, memilih meninggalkan gerombolan Alan.
Clarissa mengambil segelas wine. Menikmatinya sembari menunggu Axelo. Ingin menghubungi, tapi ia tak memiliki akses kontak dengan pria tampan dan berpengaruh itu.
Tiba-tiba saja, terdengar suara riuh di pintu masuk. Clarissa mencoba mencari tau dengan mendongakkan kepalanya. Mata Clarissa membulat melihat Axelo baru saja masuk menggandeng Lily di sampingnya. Tangan Clarisa mengepal kuat, merasa marah dan malu.
__ADS_1
"Wajah, lihat, tangan siapa yang Axelo gandeng. Sepertinya kamu bermimpi terlalu tinggi. Bahkan wanita cantik itu tak sebanding denganmu." Ledek orang yang tadi sempat bersitegang dengan Clarisa.
"Bukankah dia Lily Summer, saudaramu? Itu pasti pukulan yang berat untukmu, Clar." Ledek seseorang yang lain lagi.
Clarisa semakin Marasa marah, tapi tak bisa melakukan apapun. Melabrak Axelo ataupun pasangannya saat ini hanya akan menambah rasa malunya. Ia memilih pergi menghindari kumpulan orang yang mencemooh nya.
"Lily."
Lily melihat ke sisi kanannya, saat ia tengah mengambil minuman di sebuah meja prasmanan. Sedikit terkejut karena bertemu dengan Clarissa di sana.
"Apa yang membawamu kemari Clarissa?"
"Kamu bisa menyombong setelah bersama dengan Axelo."
"Yeah, sepertinya, aku harus berterima kasih padamu, Clar. Karena dulu kamu lari saat jari papa di pertaruhkan. Aku sangat beruntung memiliki saudara sepertimu, sampai aku bisa mendapatkan pria seperti Axelo."
Clarissa mengepalkan tangannya, merasa sangat kesal karena Lily jelas sedang mengejeknya. Tapi Clarissa mencoba tetap tersenyum.
"Kalau begitu harusnya kau berterima kasih dengan benar. Kembalikan Axelo padaku."
"Kembalikan? Apa kau pikir dia barang? Apa kau pikir dia SUDAH milik mu sebelumnya sampai kau memintaku untuk mengembalikan?"
Clarissa merasa sangat kesal dan terhina. Kepalan tangannya sampai berubah pucat karenanya. Dengan geram Clarisa mengambil gelas wine.
"Apa kau akan menyiramku dengan itu? Jangan bertingkah kekanakan, Clar." Tukas Lily yang memang udah sangat hapal dengan Clarissa, memilih meninggalkan saudarinya dari pada ribut dan akan membuat Axelo malu.
Clarissa tentu saja tak kehilangan akal. Ia yang sudah kepalang marah dan malu, sangat ingin mempermalukan Lily. Clarisa melihat gaun indah Lily yang menjuntai hingga menyentuh lantai, tersenyum dengan sangat licik. Clarissa berjalan dan menginjak gaun itu hingga robek. Lily yang menyadari, menghentikan langkahnya. Melirik Clarisa yang tersenyum sinis. Suara robekan itu menjadikan mereka pusat perhatian.
"UPS, maaf, sepertinya, gaunmu terlalu berlebihan." Ungkap Clarisa tanpa rasa bersalah.
__ADS_1