
"Kalau begitu, jangan membaca." Tutur Axelo melepas pengait bra istrinya.
"Kamu yang memintaku membaca tadi."
"Sekarang tidak lagi." Gumam Axelo menggeser tubuhnya hingga ke depan tubuh Lily. Mendorong lembut tubuh mungil gadisnya ke belakang hingga terbaring di atas ranjang. Axelo menarik buku novel dari tangan Lily dan melemparnya sembarang.
Wanita yang kini di bawah tubuhnya tampak begitu menggoda dengan hanya mengenakan bra yang sudah longgar dan menampakkan sedikit put-ting yang berwarna merah seperti ceri. Menggoda Axelo untuk melahabnya segera. Ia bisa mengerti kenapa Russel begitu tergoda pada Lily saat wanita itu pernah berada di bawah tubuh sepupunya itu. Tapi itu juga seketika membuat Axelo merasa marah. Axelo menarik penutup dada Lily dan melemparnya sembarang. Menampakkan kedua buah dada Lily dengan sempurna.
"Jangan menatapku seperti itu." Pinta Lily seketika menyilangkan tangannya menutupi dadanya.
"Ini adalah hal yang di luar kendali ku Lily. Biarkan aku melihatnya, aku tak akan menyakitimu." Gumam Axelo mencoba menyingkirkan tangan Lily. Gadis itu masih tampak ragu. Lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya pasrah dan membiarkan Axelo melihat.
Axelo mendekatkan wajahnya, menghirup aroma Lily diantara dua buah gundukan di sisi kiri dan kanan wajah Axelo. Ia semakin menenggelamkan diri di sana.
"Di sini nyaman." Gumam Axelo, lalu mentusuri gunung dan melahab buah ceri dipuncaknya. Lily memejamkan mata, lidah Axelo bermain dengan lembut dan lihai. Membuai Lily hingga ke alam yang membuat tubuhnya melayang.
Puas dengan aksinya, bibir Axelo bergerak menuruni lembah, dan kembali mendaki bukit lalu melahap ceri segar di ujung sana. Setelah berlama-lama menikmati cerinya. Axelo kembali menuruni gunung. Menyapu setiap jengkal kulit Lily yang dia lewati. Gadis itu bergerak seperti cacing kepanasan. Suara yang keluar dari bibir Lily membuat Axelo semakin bersemangat. Pria itu mencoba menyusup ke lembah terdalam setelah menarik semua penutup yang melindungi.
Axelo pun dengan tak sabar menanggalkan bajunya. Sampai semua pakaiannya teronggok di lantai. Axelo kembali menjelajahi tubuh istrinya. Memberi sentuhan lembut yang semakin membuai Lily dan dirinya sendiri melambung hingga menembus awan. Merasakan tubuh yang turun dan naik. Menikmati ribuan bunga yang tiba-tiba bermekaran di tengah peluh yang menyatu. Menjadi begitu lengket dan basah. Sampai mereka menjadi tenang. Setenang air danau yang tak tersentuh angin.
Hari terus berlalu, sejak hari itu, Axelo dan Lily menjadi lebih intim dan semakin berbahagia. Lebih sering menghabiskan waktu bersama dan keluar berbulan madu. Berpesiar di laut lepas dan mengunjungi beberapa tempat romantis dan di idamkan para pasangan muda berbulan madu. Lalu kembali setelah cukup puas berbagi kasih.
Kebahagiaan Lily membuat gadis itu lupa jika Lukas pernah menjualnya sebagai penebus hutang. Banyak cinta yang Axelo berikan membuat Lily lupa jika dia pernah terluka, pernah mendapatkan pelecehan, ataupun lupa jika ia pernah berada di bawah ancaman Camelia dan Elvan.
Pagi ini saat Lily dan Axelo sarapan bersama, merasa terganggu dengan dering di gawainya. Lily melihat nomor Lukas menghubungi. Ada rasa ragu karena biasanya, Lukas hanya menghubungi saat butuh saja. Lily sangat yakin, Lukas menghubunginya untuk hal yang sama.
"Siapa?" Tanya Axelo melihat perubahan wajah Lily yang sedikit masam. Dan terlihat cukup lama menatap layar gawainya.
"Aku, mengangkat telpon sebentar."
"Di sini saja."
Lily menatap manik mata elang Axelo yang semakin tajam menghujamnya. Lalu tanpa beranjak dari duduknya, Lily menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Iya, papa." Lily melirik kecil ke arah Axelo yang masih memandangnya.
("Lily, bagaimana keadaanmu? Papa lihat kamu sudah cukup bahagia sekarang.")
"Yeah, aku memang bahagia, ayah." Jawab Lily malas.
("Oohh, syukurlah, jadi menikahkan mu dengan tuan muda Axelo bukanlah kesalahan. Lihat! Kamu sudah bahagia. Papa turut bahagia, sayang.")
"Terima kasih, papa."
("Lalu, Lily, apa suamimu ada di sana?")
"Iya, kami sedang sarapan."
("Tolong, sampaikan salam ku padanya.")
"Baiklah."
("Dan Lily, papa tau, tuan muda Axelo sudah sembuh dari Vegetatif nya, dia juga sudah kembali memimpin perusahaan. Dia semakin luar biasa setelah kebangkitannya.")
("Axelo pasti sangat menyayangimu Lily, kamu yang merawatnya selama ini.")
Lamat-lamat, Lily merasa jengah dengan banyaknya omongan tak berbobot dan kalimat jilatan yang Lukas lontarkan. Sampai akhirnya, keluar juga permintaan Lukas padanya.
("Lily, saat ini perusahaan papa sedang krisis. Sebentar lagi kami akan bangkrut. Tolong bujuklah Axelo untuk berinvestasi pada papa.")
"Maaf, pa. Aku tidak ikut campur dalam urusan bisnis Axelo. Kami sedang sedikit sibuk. Aku tutup telponnya." Putus Lily lalu mematikan sambungan telpon dari Lukas.
"Apa Lukas ingin aku berinvestasi padanya?"
Lily terperangah, tebakan Axelo tepat. "Abaikan saja. Lukas selalu begitu. Dia hanya menghubungiku bila perlu saja. Aku tidak mau di manfaatkan lagi."
Axelo memandang Lily. Mendengar Lily yang terlihat berkeras hati, ia jadi ingin mengujinya.
__ADS_1
"Jika kamu minta, aku bisa berinvestasi padanya." Celetuk Axelo memberi sinyal jika dia bersedia asal Lily meminta sesuai apa yang Lukas mau.
"Tidak, tidak usah. Aku sudah bilang, aku tak mau di manfaatkan lagi."
"Lukas papamu."
"Lukas juga yang menjual ku pada Camelia."
Axelo tertawa kecil. "Baiklah, jika kamu berubah pikiran dan ingin membantu, kamu bisa menghubungiku."
"Aahh, ayolah, apa kamu sedang mengujiku sekarang?" Protes Lily mengomel.
"Hahaha, aku memang mengujimu." Ucap Axelo tergelak, lalu berdiri dan mencium pipi istrinya."aku pergi dulu."
"Baiklah, selamat bekerja. Hasilkan uang yang banyak untukku." Lily ikut berdiri dan mengantar sang suami sampai depan pintu utama.
"Oke habiskan dengan benar, agar aku bersemangat menghasilkan lebih banyak untukmu."
Lily tersenyum lebar. Menyempatkan diri saling berbagi kehangatan sebelum Axelo benar-benar pergi.
Di sisi lain,
Lukas yang merasa gagal membujuk Lily melempar gawai nya ke atas sofa ruang tamu. Ayah Lily itu mengusap rambutnya kebelakang. Urat di kepalanya tampak menonjol karena rasa kesal dan marah yang entah pada siapa. Pada Lily atau keadaan yang tak memihak nya.
"Kenapa sih pa?" Tanya Bella mengusap lengan Lukas karena sang suami tampak sangat frustasi.
"Sebentar lagi kita bangkrut ma, kita butuh investor. Papa sudah mencari banyak investor, tapi tak satupun mempercayai papa. Mereka bahkan mengusir papa mentah-mentah." Gerutu Lukas mengacak rambutnya kasar."Hanya Axelo satu-satunya yang mungkin bisa kita bujuk melalui Lily."
"Apa papa tidak curiga, bisa saja dialah yang menekan para investor agar tidak menanamkan saham pada papa. Ataupun pada bank agar tidak memberi papa pinjaman."
"Papa pusing. Papa mau ke kantor sekarang. Kamu dan Clarisa, mulailah berhemat." Ujar Lukas melangkah keluar dari rumah. Melihat Bela dan mendengar ocehan istrinya hanya membuat Lukas semakin kesal dan berprasangka buruk pada Tuan Douglas dan Axelo. Padahal, saat ini dia lebih membutuhkan uluran tangan dari mereka agar perusahaan miliknya tidk gulung tikar.
Clarisa melihat kedua orang tuanya yang tampak gusar dan panik itu dari lantai atas. Clarisa menghela nafasnya panjang, merasa dunia begitu tak adil padanya. Harusnya dialah yang kini menjadi istri dari Axelo. Clarisa sangat menyesal dulu sempat menolak saat ayah nya meminta dirinya untuk menikahi Axelo yang koma demi hutang sang ayah. Sampai akhirnya Lilylah yang menggantikannya.
__ADS_1
Dan sekarang dunia seperti berbanding terbalik dengan keadaan. Clarisa merasa iri dengan kehidupan Lily yang tampak bahagia dengan bergelimang harta dari Axelo. Yaah, Clarisa tak menyangka jika Axelo akan tersadar dari koma dan yang lebih membuat Clarisa semakin iri, Axelo adalah pria Tampan yang di gilai banyak wanita. Dan Clarissa salah satunya sekarang.
"Axelo, dia harusnya milikku. Akulah yang awalnya akan menikah dengannya, bukan Lily. Aku yang seharusnya berada di sampingnya. Akulah yang pantas, aku harus mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." Gumam Clarisa mengepalkan tangannya bertekat untuk merebut Axelo dari Lily.