Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 41


__ADS_3

"Astaga, bagaimana bisa jadi seperti ini? Apa yang sudah kau lakukan hah?"


Axelo menggosok tengkuknya, merasa sangat canggung dengan dokter wanita sekaligus sahabatnya itu, mengomel tiada henti saat memeriksa ****** Lily yang terluka.


"Sekalipun kamu sangat bersemangat, bagaimana bisa kamu biarkan istrimu sampai seperti ini? Di mana otak mu? Benar-benar bikin kesal!" Omel Gea melempari Axelo dengan bantal karena terlalu kesal.


Axelo memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, untuk menghindari lempar bantal Gea. "Tak bisakah kau bereskan itu tanpa mengomel?"


"Huuhh, pantas saja kau bersikeras memintaku datang, ternyata untuk menutupi kebusukanmu!"


"Aku tak mungkin meminta pada Yuan. Dia laki-laki, aku tak mau dia melihat dada istriku yang menggoda."


"Kami sudah di sumpah Axelo, kami profesional."


"Aku tidak perduli, dia laki-laki, dan aku tidak terima. Bereskan saja, setelah itu pergi."


Gea menggelengkan kepalanya dan berdecak menatap Axelo sengit. Lalu berganti memandang Lily yang tersenyum kecil melihat pertengkaran suaminya dan dokter Gea.


"Aku hanya memberimu gel. Ini akan membantu kering. Usahakan jangan mengenakan apapun dulu. Biar di angin-anginkan."


"Tidak menggunakan apapun?" Tanya Lily menyelidik.


"Iya, biarkan terbuka." Gea lalu melirik sinis pada Axelo."Kamu tenang saja, dia tidak akan macam-macam. Kalau sampai dia tetap tak bisa menahan diri, terpaksa aku mengurungmu di rumah sakit. Biar dia tau sendiri bagaimana rasanya di tinggal istri di ruang isolasi." Cetus Gea tersenyum jahat.


"Ehem! Kamu boleh pergi." Usir Axelo setelah berdehem kecil.


"Iya, iya, baiklah, aku akan pergi." Tukas Gea setelah beranjak dari bibir ranjang.


Setelah mengantar Gea keluar dari kamar, Axelo kembali hingga sisi ranjang dan memandang Lily terdiam menunduk. Gadis itu duduk dengan selimut yang menutupi hingga batas dadanya. Lily merasa sangat canggung hanya berdua dan hanya menutup diri dengan selimut. Meskipun suaminya itu sudah pernah melihat tubuh polosnya. Tetap aja, Lily merasa canggung.


"Maaf."


"Untuk apa?" Tanya Axelo duduk di bibir ranjang. Memandang istrinya yang tampak malu-malu itu.


"Karena aku, kamu di omeli dokter Gea."

__ADS_1


"Gea memang suka mengomel."


"Kenapa kamu tidak bilang saja jika ini perbuatanku sendiri?" Lily mencoba memberanikan diri menatap pria yang kini duduk dihadapan, dan memandang lekat padanya.


"Karena, ini memang salah ku. Sejak awal, jika aku bangun lebih cepat, kamu tidak perlu merasa seperti ini. Tidak perlu mendapat pelecehan seperti itu. Russel, jika aku melihatnya lagi nanti, akan kubuat dia menderita." Ungkap Axelo mengepalkan tangannya. Wajah pria yang semula lembut itu kini berubah menjadi sangat menakutkan.


Lily memberanikan diri menyentuh tangan Axelo yang terlihat pucat karena terlalu kuat mengepal.


"Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Kamu dalam keadaan yang buruk juga saat itu. Aku sangat bersyukur kamu tersadar dari kondisi Vegetatif. Dan mengenai Russel, dia sudah mendapat hukumannya. Jangan ada dendam lagi." Ucap Lily yang begitu menenangkan. Axelo menatap istrinya itu dengan sendu, merasa sedih dan juga merasa bersalah. Andai Lily tau, jika dia selama ini hanya bersandiwara apa reaksi Lily akan sama?


Axelo membawa Lily dalam dekapan. Mengusap kepala dan punggung Lily yang terbuka. Hal itu, bukan untuk membuat Lily tenang, tapi, untuk dirinya sendiri. Untuk membuat Axelo merasa tenang dan mengurangi rasa bersalahnya pada Lily.


Malam itu, mereka tidur dengan damai. Saling memeluk dan berbagi kehangatan, tanpa melakukan aktifitas sekks. Dalam diri Axelo, tentu berkobar api yang perlu di padamkan. Tapi, ada hal yang menekan egonya. Saat Lily masih dalam proses penyembuhan, Axelo tak akan melakukan hal yang berhubungan dengan aktivitas sekks.


"Tidak usah pakai bra dulu." Ucap Axelo pagi itu, saat Lily membantunya mengikat dasi.


Lily mengangkat kepalanya, menatap manik mata Axelo yang juga sedang menatapnya.


"Seperti sekarang, pakai kemejaku saja. Tidak usah keluar kamar, jika butuh apapun, gunakan interkom."pesan Axelo menunjuk di sudut kamar yang terpasang interkom.


Axelo mengangkat dagu Lily dengan jarinya. "Aku tidak mau ada yang melihat... Mereka bisa berfantasi yang tidak-tidak dengan tubuhmu."


"Apa kamu berfantasi dengan tubuhku?"


Axelo tertegun dengan pertanyaan dari Lily. Lalu tersenyum lebar, jemarinya bergeser dari dagu ke tengkuknya. Sementara tangan Axelo yang lain memeluk pinggang sang istri. Pria tampan itu merasai lagi bibir lembut istrinya.


"Aku tak perlu berfantasi. Tubuh ini sudah jadi milikku."


***


Hari terus berlalu, luka di bagian dada dan ****** Lily sudah berangsur pulih. Gadis itu bahkan sudah mengenakan bra dan berkeliling mansion. Menyapa banyak pelayan dan penjaga kebun seperti sebelumnya. Lily juga menyambangi dapur. Hari ini adalah hari peringatan pernikahan dirinya dengan Axelo. Walau hanya sederhana, Lily ingin merayakan.


Dari pagi hingga menjelang sore, Lily hanya berkutat di dapur. Membuat aneka olahan untuk makan malam dengan Axelo. Dan sebuah kue anniversary. Tentu saja, ia di bantu oleh koki. Mereka juga sangat bersemangat melihat Lily begitu bahagia membuatnya.


Hidangan hampir selesai, sebentar lagi, Axelo juga akan pulang.

__ADS_1


"Nyonya, biar kami saja yang selesaikan. Nyonya Lily bersiaplah agar terlihat segar dan cantik." Ucap sang koki.


Lily menggeleng, "tidak, aku ingin ikut menyelesaikan nya sampai akhir."


"Nyonya, tuan Axelo pasti sangat senang anda mencintainya seperti ini."


Lily tersenyum mendengar ucapan dari sang koki. Suara dering ponsel Lily, memecah suasana ceria di dapur. Lily merogoh koceknya, melihat layar pipih di tangannya. Kontak milik Axelo tertera di sana.


"Axelo." Ucap Lily riang memandang para koki yang membantunya.


"Angkat nyonya, jangan biarkan tuan menunggu." Ucap koki tampak bersemangat dan ikut berbahagia.


Lily tersenyum, lalu menekan tombol hijau, dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo."


("Lily, aku lembur malam ini, mungkin baru pulang esok. Jangan menungguku, langsung tidur saja.")


Mendengar suara Axelo dari seberang sana, aura wajah Lily berubah. Kecewa, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Lily memaksakan diri untuk tersenyum, pandangan matanya menatap satu persatu koki yang membantunya menyiapkan makan malam. Mereka terlihat sangat berbinar dan bersemangat. Jika dirinya saja kecewa, tentu mereka pun sama.


("Lily? Kamu di sana? Kamu mendengarku?")


"UMM, iya, hati-hati. Selamat bekerja." Ucap Lily memutus sambungan telpon.


"Nyonya? Tuan Axelo sudah di jalan? Dia pulang kan malam ini?"


Lily menggeleng lemah namun tetap memyungging senyum, para koki pun dapat menangkap hal yang tidak baik, aura kekecewaan terasa memenuhi dapur.


"Ayo kita selesaikan saja masakannya." Ucap Lily.


Di sisi lain, Axelo tersenyum menatap ponselnya yang kini hanya tampak berlayar gelap. Di atas mejanya, tampak aktifitas Lily dan beberapa koki dapur.


"Raize, apa persiapannya sudah selesai?"


Raize mengangguk, "Sudah tuan."

__ADS_1


Axelo tersenyum kecil, "Hubungi kepala pelayan di rumah."


__ADS_2