
Di sebuah pulau kecil di laut lepas. Pasir putih membentang dengan rimbunan pohon di sisi terdalam. Hampir seluruh pulau itu hanya terisi oleh pepohonan. Hanya ada satu rumah yang agak besar di bagian tengah pulau. Dan satu bangunan kecil di ujung bukit yang menjorok keluar pulau. Bangunan itu lebih tepat di sebut sebagai bangunan pengawas.
Kapal motor menepi di dermaga kecil teluk pulau itu. Russel yang memang tidak terikat karena tangannya masih dalam masa penyembuhan patah tulang. Sengaja di biarkan berjalan sendiri turun dari kapal. Namun, tetap dalam penjagaan yang super ketat. Tentu saja, ia tak akan bisa kabur jika sudah menginjakkan kaki di pulau itu.
Para pengawal berpakaian serba hitam itu berjalan di belakang, samping, dan depan Russel. Mereka berjumlah 10 orang. Saat ini Russel hanya bisa menghitung jumlah penjaga dan situasi di pulau. Ia tak mau terjebak di pulau itu selama dua tahun. Russel berencana untuk melarikan diri dan membalas dendam pada Axelo maupun Lily. Mereka orang yang dia anggap penyebab semua kesialan nya ini.
Di pulau itu sendiri ada lebih dari 20 orang yang berjaga di bangunan atas tebing, di dalam rumah dan di sisi luarnya.
Begitu menginjakan kaki di bangunan yang cukup besar itu. Russel di sambut oleh seorang kepala pelayan dan tiga orang yang ditugaskan untuk membersihkan dan menyiapkan segala kebutuhan untuk Russel selama di pengasingan.
"Tuan, akan berada di sini selama dua tahun." Ucap sang kepala pelayan."Kami yang akan membantu anda, jika membutuhkan apapun, katakan pada kami."
"Oohh, ya? Kamu yakin bisa memenuhi semua yang aku butuhkan?"
"Kami akan mencoba semampu kami."
"Aku butuh kebebasan! Bisakah kau melakukannya?" Ujar Russel dengan kilatan kemarahan di wajahnya.
Sang kepala pelayan terdiam sejenak, lalu membuka mulutnya."anda bebas melakukan apapun di sini, tuan Russel."
"Persetan!" Russel menendang sebuah guci yang menjadi hiasan di ruangan luas itu. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Dan pecahan benda itu menyebar kemana-mana.
Karena tak bisa melampiaskan kemarahannya pada tuan Douglas, maka, pada para pelayan lah dia bisa melakukan nya.
"Di mana kamarku?" Tanya Russel usai kemarahan sedikit mereda.
"Mari tuan, saya antar." Kepala pelayan mempersilahkan dengan tangan.
Setelah berada di kamarnya, dan meletakkan semua bawaannya. Russell berjalan ke beranda kamar, melihat ke laut lepas sembari menyalakan rokoknya. Russell masih terus mengamati pulau dan segala aktivitas nya.
Ia memang bebas berkeliaran di area pulau, namun cukup sulit baginya mencari celah untuk kabur. Satu-satunya jalan hanyalah menyelinap bersama dengan pengangkut bahan makanan setiap minggunya. Namun itu juga di jaga cukup ketat. Russel masih harus memutar otak nya untuk bisa lolos dari sana.
__ADS_1
Di sisi lain,
Camelia dan Elvan mulai gelisah, memikirkan nasib mereka. Pasalnya, sejak Axelo sadar dan mulai kembali ke perusahaan. Axelo mulai mencium kecurangan mereka, termasuk pemindahkan beberapa aset dan dana perusahaan.
"Bagaimana ini, Elvan. Pergerakan Axelo sangat cepat dan teliti. Cepat atau lambat kita pasti ketahuan." Ujar Camelia gusar.
"Tenang, kita masih punya Lily."
"Lily? Kau bermaksud menggunakan gadis sialan itu? Kau tau sendiri dia sama sekali tidak patuh pada kita. Dan apa kau lupa dengan pengasingan Russel melibatkan gadis busuk itu!"
Dada Camelia naik turun oleh emosi di dalamnya. Ia jadi semakin marah setiap kali mengingat nasip Russel yang malang.
"Ya Tuhan! Russel ku, bagaimana keadaan dirinya? Dia pasti sangat tertekan. Aku sangat khawatir jika anak itu sampai terlambat makan." Kelun Camelia mendramatisir. Wanita itu terduduk lemas sembari memegangi keningnya yang terus berdenyut.
"Tenanglah, istri ku. Russel sudah dewasa. Ia tau apa yang harus dia lakukan. Percayalah pada anakmu itu."
Seketika Camelia menegakkan kepalanya menatap sinis Elvan. "Apa kau sudah lupa? Karena sifat Russel itulah dia kini jadi di asingkan. Kenapa dengan anak itu? Apa Angelica saja tidak cukup sampai tergoda untuk menikmati Lily juga?"
"Suamiku!"
"Ayolah istriku,, jangan terlalu kaku begitu. Masalah Axelo, biarkan aku yang pikirkan. Huumm?" Bujuk Elvan sembari merangkul bahu istrinya.
"Baiklah, apa rencanamu?" Ketus Camelia melunak. Elvan mengulas senyuman licik.
###
Sementara itu, tuan Douglas dan Axelo berada di ruang kerja sang kakek. Membahas rencana baru mereka yang sempat terputus karena Axelo memutuskan untuk sadar lebih cepat.
"Maaf kek, aku tidak bisa menahan diri saat istriku dilecehkan di atas ranjangku dan di depan mataku sendiri." Ungkap Axelo, namun tidak ada sedikit pun penyesalan bagi Axelo. Justru, ia akan sangat menyesal jika tetap membiarkan Russel bertindak lebih jauh lagi. Jika mengingat bagaimana bimbangnya diri saat sang istri menangis serta mendengar suara sesapan menjijikan dari Russel, darah Exelo mendidih seketika. Tangan Axelo bahkan selalu terkepal kuat setiap mengingat itu.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang pikirkan rencana selanjutnya. Masalah Lily, Russel sudah mendapatkan hukumannya. Dan aku yakin, Lily pasti bisa mengatasi dengan baik."
__ADS_1
"Hukuman itu tidak sebanding kakek." Axelo tersenyum pahit.
"Aku tau kamu sedikit kecewa, Axelo. Tapi, aku juga tak bisa menghukum cucuku sendiri dengan tidak manusiawi. Kalian sama-sama cucuku. Lagipula kau sudah mematahkan tangannya."
Axelo menyentak nafasnya, bayangan Russel yang sudah mencicipi buah dada istrinya itu ketika pertama membuat mata, semakin membuat kemarahan Axelo memuncak. Namun, pada siapa dia bisa lampiaskan. Jika masih ada Russel sudah pasti ia akan menghancurkan mulut Russel saat itu juga.
"Lalu sampai di mana bukti yang sudah kamu kumpulkan?" Tanya tuan Douglas, mencoba fokus kembali pada maksud pembicaraan awal.
"Raize sudah menyimpan rekaman yang Lily kirim padaku, juga sidik dari pada botol yang Lily pecah beserta obat apa yang ada di dalam nya." Ungkap Axelo berusaha bernafas dengan teratur dan meredam ledakan emosi yang memenuhi rongga dadanya.
"Bagus kalau begitu..." Kata tuan Douglas mengangguk-anggukan kepala."Bagaimana dengan perusahaan? Apa semua berjalan dengan baik?"
"Elvan mengacaukan segalanya, aku sedang memperbaiki dan melakukan pemulihan. Walau Raize yang mengambil alih kuasaku, tetap saja pengaruh kami berbeda."
Tuan Douglas manggut-manggut."Aku mengerti, selesaikan dalam waktu singkat, Axelo."
Axelo dan Tuan Douglas terlibat dalam percakapan dan diskusi yang cukup panjang. Hingga Axelo kembali ke kamarnya sangat larut.
"Bagaimana nyonya lily?" Tanya Axelo sebelum melangkah ke kamarnya.
"Nyonya tidur lebih awal, tuan." Jawab salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu kamar.
Axelo hanya menjawab dengan anggukan. "Kalian boleh pergi."
"Baik, terima kasih." Jawab kedua pengawal itu patuh membungkukkan badan lalu pergi.
Axelo berdiri di sisi ranjang dimana Lily sedang terlelap dan berselimut hingga sebatas bahu. Lily tidur dengan tubuh miring memunggungi Axelo berdiri. Pria tampan itu melepas jasnya, melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas. Lalu ia duduk di bibir ranjang.
Tangan Axelo mengusap kepala sang istri. Penyesalan itu datang menghinggapi relung hati Axelo. Menyesal karena membiarkan Russel bertindak sejauh itu.
"Maafkan aku." Lirihnya,
__ADS_1