
"Apa kamu bilang? Russell kabur?" Suara kakek Douglas menggema di seluruh ruangan. Ada gelisah yang tersisip amarah. Amarah untuk para penjaga yang teledor hingga Russell sampai lolos dari pulau pengasingan, dan rasa gelisah jika sampai Axelo tau, sudah pasti dia tak akan melepaskan Russell. Mengingat Axelo seorang pendendam.
"Russell, jangan sampai kau mendkati Lily lagi. Kakek tak bisa melindungi mu jika kau sampai nekat." Gumam tuan Douglas. Mau semarah apapun tuan Douglas, dan seburuk apapun Russell, tetaplah cucu. Darah daging tuan Douglas juga. Ia tak akan Setega itu jika sampai Russel membuat ulah dan Axelo sampai melewati batasnya.
Tuan Douglas memijit pelipisnya, sangat mudah menangani orang lain. Tinggal buang dan hancurkan, tapi Russell keluarga nya. Tak mungkin juga ia akan berlaku sama.
"Temukan Russel sebelum Axelo mendengar kabar tentang bocah yang kabur itu." Perintah kakek Douglas tegas dengan sorot mata yang siap menerkam para bawahannya.
"Baik, tuan."
"Satu lagi, jangan sampai Axelo tau dan perketat penjagaan di kediaman mereka. Jangan bergerak secara serampangan, itu bisa memicu kecurigaan Axelo."
"Baik."
Tuan Douglas duduk di atas sofa ruangan utama. Memijit lagi pelipisnya yang berdenyut semakin kuat. "Russel, untuk apa kau kabur? Jangan bertindak mengikuti egomu. Jangan pernah berpikir untuk menyentuh Lily. Kau yang bersalah, aku mengasingkan untuk merenung, bukan mendendam." Gumam tuan Douglas.
Di sisi lain, Lily tengah sibuk di ruangannya. Lily sedang mendesain sebuah gaun pernikahan pesanan salah seorang kenalannya. Beberapa kali ia membuat gambar dan menuliskan ukuran serta bahan yang di gunakan. Di tengah kesibukan, dering handphone nya menjerit-jerit. Tanpa mengurangi keseriusan nya dalam berkarya, Lily mengangkat sambungan telpon.
"Halo?"
("Apa kamu sibuk?")
"Lumayan, kenapa, suamiku?"
("Aku ada kejutan untukmu, sayang. Sekarang sedang dalam perjalanan.")
"Kejutan apa?"
("Namanya kejutan, mana boleh tanya.")
"Oke, baiklah, aku akan menunggu dengan sabar kejutannya datang."
("Gadis baik. Semoga kamu suka dengan kejutan nya. Muaahh.")
__ADS_1
Lily terkekeh sendiri. Kadang suaminya itu memang berlebihan. Kadang menyebalkan, dan kadang bersikap sangat manis seperti saat ini. Setelah meletakkan kembali gawainya, Lily melanjutkan lagi pekerjaannya. Sampai suara ketukan terdengar di pintu ruangannya.
"Nyonya Lily, seseorang mencari anda."
"Ooh, ya? Siapa?" Lily berpikir sejenak, ingat akan pesan dari suaminya, jika ada kejutan yang sedang di kirim kepadanya.
"Ooh, aku tau, aku akan turun menemui nya." Cetus Lily sebelum asisten nya menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
Lily melangkah menuruni tangga, lalu berjalan menuju lobi. Di sana Lily mengedarkan pandangan mencari sosok yang tadi mencarinya.
"Dimana?" Lily berganti memandang asisten yang mengikuti di belakang. Asisten nya itu melihat ke sekeliling seperti mencari.
"Dimana pria berpakaian hitam tadi?" Tanyanya pada salah satu penjaga di belakang meja resepsionis.
"Dia berjalan keluar, saya rasa menunggu nyonya di luar." Jawab sang resepsionis.
Lily dan sang asisten saling pandang. Lalu Lily melangkah keluar butik. Lily mengedarkan pandangan lagi, di tepian jalan tampak seorang pria berpakaian hitam berdiri di samping mobil dan membelakangi dirinya. Lily berjalan mendekat, merasa orang itu mungkin suruhan Axelo.
"Permisi." Ujar Lily setelah berjarak cukup dekat dengan sosok itu. Sosok pria itu berbalik, mata Lily seketika melebar.
***
"Orang-orang mencurigakan berkeliaran di sekitar mansion?" Axelo mencoba mengulang apa yang Raize sampaikan.
Raize mengangguk, "salah seorang penjaga di mansion menghubungiku, melihat pergerakan mencurigakan di sana. Begitu saya mengkonfirmasi, mereka adalah orang-orang tuan Douglas."
"Orang kakek? Untuk apa kakek mengirimkan orang ke mansion?" Gumam Axelo, "cari tau lebih lanjut." Sambungnya memberi perintah pada orang kepercayaan nya.
"Baik."
Axelo melihat sebuah truk di depannya, berikut dengan sebuah box diatas truk itu. Rencananya, Axelo ingin mendatangi butik Lily dengan membungkus diri sebagai hadiah.
"Okey, mari kita masuk." Gumam Axelo menaiki truk dan berdiri di dalam box hadiah yang di desain agar terbuka sendiri bila pita di potong.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Axelo tersenyum-senyum membayangkan wajah Lily melihat hadiah dirinya. Entah dapat Ilham dari mana Axelo sampai terpikir menjadikan dirinya sebagai hadiah untuk istrinya. Di tengah kesenangannya, Axelo mendengar suara dering ponsel. Axelo merogoh kantongnya dan menerima panggilan.
("Tuan, tuan Russell melarikan diri dari pulau pengasingan.")
Gigi-gigi Axelo menggeretak saling beradu. Urat di wajahnya mulai menonjol menunjukkan kemarahannya.
"Percepat laju kendaraan ke butik!" Perintah Axelo mutlak.
"Russell, jika kau sampai menyentuh Lily-ku tamat riwayatmu!"
***
Wajah Lily menegang, keringat meluncur di wajahnya, mata Lily semakin melebar melihat siapa yang kini berada di hadapan nya. Lily melangkah mundur, lalu dengan cepat berbalik dan berlari, sayangnya, gerakan Lily dapat di baca Russell dengan mudah. Pria itu langsung menarik tubuh Lily dalam dekapannya. Membungkam mulut dan hidung Lily dengan sapu tangan yang telah di lumuri cloroform.
"Apa kabarmu, sayang? Apa kamu sangat merindukan ku sampai berlari dalam pelukan?" Sinis Russell menyeret tubuh Lily ke belakang.
Istri Axelo itu meronta-ronta, dan mencoba memberontak, sayangnya tenaga Russel dan efek obat bius sangat kuat sampai Lily lemas dan tak sadarkan diri. Russel terus menyeret tubuh Lily dan melemparkannya ke jog mobil. Dengan cepat, Russell memutari setengah badan mobil, dan membawa Lily menjauh dari butik.
Beberapa saat kemudian, truk yang Axelo tumpangi berhenti di depan butik. Axelo menendang papan kado yang membungkus dirinya, dan berhambur dengan cepat memasuki butik. Di ikuti oleh asisten nya.
"Dimana Lily?"
"Nyonya Lily, tadi keluar untuk menemui seseorang." Jawab salah seorang resepsionis yang sangat terkejut melihat Axelo tiba-tiba muncul dan bertanya dengan wajah mengerikan.
Gigi-gigi Axelo bergemelutuk penuh amarah. Tangannya mengepal kuat hingga tampak memucat. Para penjaga resepsionis sampai gemetar ketakutan dibuatnya.
"Cek cctv! Cari tau siapa yang ditemui dan pergi kemana!"
"Baik." Tunduk asisten nya langsung menjalankan tugas.
Axelo mengacak rambutnya kesal, mencoba menghubungi Lily. Sialnya ponsel Lily justru di temukan di ruangan wanita itu. Axelo berdecih kesal dan frustasi.
Axelo menatap rekaman cctv di lobi butik, mencermati pria berpakaian hitam dan bertopi. Ia sangat hapal itu postur tubuh Russell. Amarah Axelo semakin memuncak kala ia menelusuri lebih lanjut. Melihat Lily di seret masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Temukan bajingan ini bagaimanapun caranya!"