
"Hari ini Lily akan memulai launching, pastikan semua lancar tanpa hambatan." Perintah Axelo pada asisten pribadinya.
"Baik."
"Satu lagi, jangan sampai dia tau kita ada di belakangnya."
"Baik. Akan saya selesaikan dengan bersih dan rapi."
Selama beberapa hari ini Lily memang disibukkan dengan pembukaan butiknya. Gadis itu memang pandai dalam hal mendesain. Selama ini ia memang bekerja di bagian desain interior. Namun, kali ini ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda, dan masih termasuk dalam hobinya.
Axelo melihat seberapa keras Lily sudah berusaha, karena itu ia tak ingin sang istri kecewa jika launching butiknya tidak berjalan lancar.
Di sisi lain, Lukas yang makin pusing karena perusahaan nya terancam bangkrut, terus mencoba menembus hutang dan investor. Papa Lily itu memijit pelipisnya setelah usai melobi salah satu investor, namun gagal. Lugas yang saat ini berada di sebuah kafe melihat ke arah luar. Di sebrang kafe itu tampak kerumunan orang memenuhi sebuah butik baru. Tanpa sengaja, mata Lukas melihat Lily diantara kerumunan itu.
"Lily?" Gumam Lukas terperangah. Lukas lalu berdiri dan berjalan keluar kafe. Ia mencegat sepasang wanita yang baru aja keluar dari butik bernama Daisy and Lily itu.
"Apa yang terjadi di sana?"
Wanita itu menoleh ke arah dirinya baru saja keluar yang Lukas tunjuk, lalu kembali melihat ke arah Lukas. "Ooh, itu butik baru. Satu minggu yang lalu launching. Model di sana sangat bagus dan tidak pasaran, jahitan dan bahannya juga tidak mengecewakan. Sangat rekomended." Tuturnya panjang lebar.
"Satu Minggu yang lalu?" Gumam Lukas,
"Huum, salah satu pemilik butik itu juga sangat ramah menyapa pembeli."
"Ya, Dia juga cantik, benar-benar kombinasi wanita yang ideal." Wanita lain menimpali.
"Ya, tidak biasanya pemilik bersikap ramah dan mau susah-susah melayani pembeli."
"Kalau tidak salah namanya Lily. Tadi aku sempat bertanya padanya." Gumam wanita itu justru malah saling bercakap pada temannya.
Lukas terperangah, "Lily? Apakah itu Lily yang sama dengan Lily Summer?" Gumam Lukas bertanya-tanya.
Lukas mencoba mendekat, menapaki pintu masuk yang terbuka. Lukas melihat Lily yang dengan ramah melayani pembeli. Memperkenalkan produk yang ia jual dengan sangat ramah dan bertutur kata sangat baik.
"Lily, kau... Menolak permintaanku, tapi malah membuka butik baru. Jika kamu berpikir, harusnya kau membantu papa terlebih dahulu. Perusahaan papa hampir bangkrut, dia malah berbahagia membuka butik." Gumam Lukas menggertakan gigi geram.
Lukas melangkah untuk mendekati anaknya, tapi, tiba-tiba saja dia di hadang dan di seret dengan cepat oleh beberapa orang berpakaian biasa, orang yang terlihat seperti pelanggan butik. Mereka tentu saja orang-orang dari Axelo yang profesional.
Lukas mendapati tubuhnya terjerembab setelah orang-orang itu melemparnya di gang buntu tak jauh dari butik.
"Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku kemari?"
__ADS_1
Barisan orang-orang yang membawanya tadi menyingkir ke samping dan memberi jalan, saat seseorang di belakang melangkah mendekat. Seseorang itu seketika membuat mata Lukas melebar hingga hampir lepas dari tempat nya.
BRAK!
Kaki seseorang itu menapak dengan kuat di samping tubuh Lukas. Lalu mencondongkan tubuh bertupu pada lututnya.
"Jangan pernah mengusik nyonya kami. Jika kamu tidak ingin perusahaan mu gulung tikar sore ini."
Mata Lukas semakin melebar, tubuhnya pun semakin tegang dan lemas.
"To-tolong sekertaris Raize, beri saya dukungan, tolong bantu saya untuk mendapat dana dari tuan Axelo."
Raize tersenyum miring, "kenapa aku harus membantumu? Kamu siapa? Apa yang bisa kamu tawarkan? Anak gadismu?"ucap Raize yang jelas mengejek dan meremehkan."Anak yang mana lagi yang akan kau jual?"
Raize berbalik, dan berjalan meninggalkan Lukas dengan ancaman.
***
Sore ini, Axelo mengantar Clarissa lagi ke rumahnya, gadis penggoda itu memang pandai mencari alasan. Ia sudah mencoba meninggalkan jejaknya agar Lily curiga dan cemburu. Clarissa ingin membuat retakan dalam hubungan Lily dan Axelo. Itu adalah usaha lainnya, setelah ia merasa Axelo cukup memperhatikan dirinya akhir-akhir ini.
"Terima kasih Axelo, mampirlah, aku sangat yakin mama dan papa akan senang melihatmu berkunjung." Ucap Clarisa merayu.
Clarisa tampak kecewa, tapi, ia bisa apa?
"Baiklah, hati-hatilah di jalan." Ucap Clarissa.
Setelah Axelo pergi, Clarisa masuk kedalam rumah. Di depan pintu, ia langsung di todong pertanyaan dari Bella.
"Clar, bukankah itu tadi Axelo? Kenapa kamu bisa bersamanya?"
"Tentu saja bisa ma, lihatlah anakmu yang cantik ini. Siapa saja pasti akan jatuh pada pesonaku."ucap Clarisa menyombong
"Apa? Tapi, bukankah Axelo bersama Lily?" Bella terperangah,
"Ayolah ma, apa mama lupa jika mereka menikah karena perjodohan yang terpaksa? Aku yakin Axelo menyukaiku. Dia sangat memperhatikan ku, sebentar lagi dia akan mendepak Lily dan menjadikan aku istrinya." Tukas Clarisa sangat yakin rencananya berhasil.
****
Sabtu pagi, Clarisa di kejutkan oleh kiriman paket untuknya.
"Ada apa clar?" Tanya Bella melihat putrinya memeluk sebuket bunga yang sangat besar dan indah.
__ADS_1
"Lihat, ma. Seseorang mengirimiku sebuket bunga yang mahal dan indah." Ucap Clarisa bahagia."Coba tebak siapa yang mengirimkannya padaku."
"Siapa?"
Clarisa tersenyum sangat lebar, "si-a-pa, ma-ma?"
Bella menutup mulutnya yang membulat sempurna, "tidak mungkin...."
Senyum Clarisa semakin melebar, dan mengangguk mantap.
"Ada apa ini?" Lukas tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya dengan pakaian dan wajah yang kusut.
"Papa, lihat! Putrimu berhasil menggaet pengusaha muda." Ucap Bella antusias.
"Apa? Siapa?" Lukas turut senang, mungkin saja ia bisa memanfaatkan pengusaha muda itu untuk membantu perusahaan nya yang hampir bangkrut.
"Axelo! Axelo Papa."
Mata Lukas membola tak percaya,"tidak mungkin! Dia adalah suami saudaramu! Suami Lily! Jangan gila, Bella." Hardik Lukas kesal.
"Sungguh papa, apa kau tidak percaya. Lihat ini!" Dengan penuh kepercayaan diri, Clarisa menunjukkan undangan sebuah pesta ekslusif pada Lukas dan Bella.
Bela langsung menutup mulutnya dengan sangat terkesima dan tak percaya. Memang benar, itu undangan eksklusif untuk Clarisa. "Papa pikir siapa yang bisa memberikan undangan seperti ini? Tentu saja Axelo!"
Lukas melihat undangan itu dengan seksama. Memang tertera nama Clarisa di sana. Tapi tidak tertera siapa pengirimnya. Mungkin memang Axelo, tapi bisa saja tidak. Jika memang Axelo, apa alasannya?
"Siapa yang mengirimkan ini kemari?"
"Tentu saja Axelo, siapa lagi?" Tukas Bella kesal dengan sang suami yang terus meragukan.
"Maksudmu, dia membawa kemari secara pribadi begitu?" Lukas masih tampak sangsi. Karena ia sangat tau bagaimana Axelo menjaga Lily hingga dirinya tak bisa sekedar bertemu anaknya.
"Seorang kurir yang mengantarnya,"
"Sudah kuduga, itu memang hanya prasangkamu." Gumam Lukas menanggapi kehaluan Clarisa yang kini menyebar pada Bella.
"Papa, mama tau kau tak begitu menyayangi Clarisa, tapi, mama tak suka jika papa bersikap seperti ini?"
"Terserah kalian." Lukas berlalu,"jangan sampai kelakuan berlebihan kalian sampai berimbas buruk pada perusahaan papa."
"Tenang saja papa, jika aku membujuk Axelo, dia pasti akan memberi suntikan dana untuk papa." Ucap Clarissa yakin.
__ADS_1