Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 50


__ADS_3

Sepertinya, Lily memang tak bisa menghindari keributan kali ini. Lily tau, Clarissa melakukannya dengan sengaja, tapi ia tak ingin ini mempermalukan suaminya.


"Bukankah itu istri Axelo."


"Astaga, gaunnya robek parah. Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Kupikir itu gaun yang mahal, bagaimana mana bisa? Apa yang terjadi?"


"Jika aku jadi dia, aku pasti sudah malu sekali,"


Bisikan-bisikan mulai terdengar, Lily diam dalam ketenangan pikirannya, dan Clarissa merasa sangat menang menyungging senyuman. Keributan itu tentu saja sampai di telinga dan jarak pandang Axelo. Ia tak lantas mengambil tindakan. Axelo justru ingin melihat bagaimana Lily akan menangani hal semacam ini.


Lily tau posisinya, dalam keadaan seperti ini, ia harus bisa membalik keadaan dari malu jadi kekaguman. Lily melangkah mendekati meja prasmanan mengambil gunting yang kebetulan teronggok di sana. Lily menggunting gaunnya, dari bawah pinggang yang sobek hingga ke atas lutut. Memamerkan kaki jenjangnya yang semula tertutup oleh gaun.


Gaun yang semula terkesan anggun dan tertutup, kini terlihat menantang dan berani. Lily melepas tali pita penghias salah satu tempat makanan yang memiliki warna senada dengan gaunnya. Lalu mengikat pada pinggangnya, untuk sedikit menutupi paha kiri yang terlihat hampir 90 persen.


Melihat cara Lily menangani masalahnya. Axelo tersenyum, pria tampan itu melangkah mendekat dan memeluk pinggang istrinya.


"Hanya mengambil minum saja kenapa begitu lama?" Ujar Axelo.


"Maaf sayang, aku sudah membuatmu malu. Apa aku tampil terlalu terbuka malam ini?"


"Tidak. Kau luar biasa." Balas Axelo tersenyum dan mencium pipi sang istri. Yang sudah pasti membuat Clarissa semakin panas.


Aksi Lily yang di luar dugaan dan kedatangan Axelo membuat decak kagum orang-orang yang menyaksikan. Baik Lily maupun Axelo tidak sedikitpun menyinggung Clarissa yang jelas menjadi tersangka utama di sini. Justru menganggap Clarisa bagai patung tak berarti apa-apa.


"Sayang, aku suka caramu menangani masalah ini." Bisik Axelo yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.


"Ck, apa kau lupa istrimu ini sudah membuka sebuah butik?"

__ADS_1


"Aah, benar lain waktu kamu akan menjadi kiblat mode dunia."


Lily tergelak melangkah bersama dengan suaminya meninggalkan Clarissa yang sudah sangat marah dan malu. Kini tinggal dirinya yang mendapat cibiran dari orang sekitar.


"Memalukan."


"Untung saja aku tidak berteman dengannya, benar-benar licik."


Clarisa merasa tak terima, dia berjalan mengejar tanpa perduli pandangan orang padanya.


"Axelo! Lily!"


Axelo dan Lily menghentikan langkahnya dan berbalik. Melihat Clarissa yang sudah diliputi amarah.


"Apa ini rencana kalian untuk mempermalukan ku?" Tuduh Clarissa berakting bak korban yang teraniyaya.


"Apa maksudmu, Clar?"


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?"


"Kau!" Clarissa tak dapat berkata, dari awal dialah yang membuat masalah. Karena cemburu pada Lily. Kini, Clarissa berpindah menatap Axelo.


"Kenapa kau tega padaku? Kamu yang mengirimiku undangan, bukan? Yang memberiku bunga yang besar dan indah itu, bukan? Kau bersikap baik padaku, kau, kau membuatku... Kau sudah..."


"Kau saudara Lily, aku harus memperlakukan mu dengan baik." Axelo berpindah menatap Lily, "apa hubungan kalian tidak begitu baik istriku?"


"Entahlah, bagaimana menurutmu, Clar?"


Clarisa mengepalkan tangannya. Malu sudah tentu, marah pasti iya, cemburu, sudah tak perlu di tanya lagi. Melihat Clarisa hanya bungkam dan menunduk, Axelo menuntun Lily untuk melanjutkan langkah.

__ADS_1


"Jangan bertingkah berlebihan, aku bisa berlaku lebih dari ini di masa depan. Jadi baik-baik bersikap Clarissa." Ancaman Axelo ini nyata adanya, ia tak main-main jika menyangkut Lily. Apalagi, Clarisa bermaksud mempermalukan istrinya. Axelo seorang yang pendendam, ia tak akan melepaskan begitu saja jika Lily tidak menahannya.


***


Clarisa pulang dengan air mata berderai. Ia terus menangis dan mengurung diri di kamar. Hal itu sudah pasti membuat Bella kalangkabut.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu pulang seperti ini? Apa yang terjadi?" Tanya Bella mengusap punggung anaknya yang menangis.


"Mama.... Aku sudah tidak mau hidup lagi..."


"Clar? Ada apa ini?" Bela semakin di buat bingung.


Akhirnya, Clarissa menceritakan peristiwa di pesta malam itu. Tentu saja dengan sangat berlebihan dan mendramatisir dari sudut pandangnya. Bella merasa geram dan marah pada Lily dan juga Axelo. Bela pun berniat melabrak Lily ke kediamannya.


"Lily! Lily! Keluar kau!"


Di pintu masuk kediaman Axelo Bella berteriak bak kesetanan di rumah orang. Membuat keributan hingga para pelayan dibuat sibuk dengan sikap tak tau malunya.


"Lily! Keluar sekarang juga anak jahanam! Beraninya kau mempermalukan, putriku!"


Lily yang mendengar keributan di ruang utama kediamannya, hanya bisa menggeleng melihat kelakuan ibu tirinya. Setelah Clarissa membuat ulah, kini ibunya turun juga. Darah memang lebih kental dari pada air.


"Apa Tante tak bisa bertamu dengan sopan?"


Bela mendelik melihat Lily yang berani bersuara pada nya sambil menuruni tangga.


"Ada angin apa sampai Tante datang kerumah ini?"


"Anak sialan!" Umpat Bella menghardik anak tirinya,"beraninya kau mempermalukan Clarissa di muka umum!"

__ADS_1


Lily memutar bola matanya malas, lagi-lagi ini tentang anaknya. Lily sangat tau, perangai ibu dan anak itu. Bela selalu saja menyalahkan dirinya, tanpa melihat dari sisi yang berbeda. Lily hanya membiarkan Bella mengupat dan memaki dirinya. Selama Bella tidak main tangan, Lily tak perduli. Sampai keributan itu terdengar oleh Axelo.


"Apa kau datang kemari untuk memprotes, nyonya?" Tanya Axelo dingin. Memberi tatapan tak bersahabat pada istri dari Lukas itu.


__ADS_2