Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 34 - menguak bukti


__ADS_3

Axelo tersenyum kecil, "apa dia mengintip?" Gumam nya dalam hati merasa geli."kenapa ia harus berpura-pura tidur jika belum?"


"Sepertinya, aku harus menangkap basah dirinya." pikir Axelo. "Baiklah, aku akan masuk ke kamar mandi." Gumam Axelo lagi sembari melangkah ke kamar mandi.


Suara pintu kamar mandi terdengar di tutup. Lily merasa lega, akhirnya Axelo pergi juga. Ia tadi sangat terkejut mendengar langkah kaki di depan kamar. Sehingga, Lily terburu-buru masuk ke dalam selimut.


"Dia masuk ke kamar mandi, paling tidak akan butuh waktu 20menit untuk membersihkan diri. Sebelum itu, aku harus membereskan kekacauan yang belum sempat aku rapikan." Gumam Lily membalikkan badan. Betapa terkejutnya nya ia, melihat Axelo berdiri di depan pintu kamar mandi yang awal ia punggungi. Pria itu tersenyum penuh kemenangan.


Gegas Lily berbalik lagi, lalu pura-pura membetulkan selimutnya. "Astaga, kenapa dia berdiri disana? Bukankah dia sudah menutup pintu kamar mandi? Apa dia tau aku hanya pura-pura tidur? Apa dia sengaja menungguku bergerak? Astaga, kenapa aku bisa sampai seceroboh ini?" Bisik Lily meruntuki kebodohannya.


Lily mendengar langkah kaki yang mendekat. Ia sedikit menggeser tubuhnya ke tengah ranjang. Merasakan seseorang menaiki ranjang. Ia yakin itu Axelo. Tubuh gadis itu tiba-tiba merasa panas dingin. Bersusah payah memejamkan mata, dan mengatur detak jantungnya yang terus berlomba melompat-lompat.


Dari belakang, Lily dapat merasakan tubuh hangat Axelo menempel di punggung. Gegas, Lily menggeser tubuhnya semakin ketengah. Axelo tak urung menyerah, iapun ikut bergerak dan semakin memepetkan tubuhnya. Lily semakin tak karuan, ia bergeser lagi, namun tangan Axelo sudah mengunci tubuhnya hingga tak bisa bergeser lagi.


"Apa aku tak boleh memeluk istriku sekarang?" Suara Axelo dari balik punggung Lily membuat tubuhnya menegang dan kaku tak bisa bergerak. Semua syaraf nya seolah berhenti bekerja. Lily biarkan saja Axelo memeluknya. Meski jantungnya terus berdetak tak karuan. Lily sangat khawatir jika Axelo sampai mendengar nya.


Axelo sangat ingin menanyakan kenapa Lily sampai harus berpura-pura tidur. Tapi, ia menahannya, Axelo tetap ingin dengan posisi seperti ini, menikmati memeluk tubuh sang istri. Ia tak ingin membuat Lily semakin terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan darinya. Axelo sendiri yang akan mencari tau alasan di balik sikap Lily yang berubah.


Keesokan paginya, Lily membuka mata dan langsung mendapati diri dalam dekapan dada bidang suaminya. Pagi-pagi ia sudah mendapat terapi jantung. Berdetak tak karuan. Lily mencoba menyingkirkan tangan Axelo yang melintang di perutnya. Baru saja tangan Axelo berpindah di sisi tubuhnya, tangan itu sudah memeluk erat tubuh Lily lagi. Lily diam dan kaku. Lalu memilih memejamkan mata dan meredam detak jantung yang sulit di atur.


###


Hari Ini Axelo dan juga Raize telah mempersiapkan bukti yang tersisa. Mereka bersiap ke ruang meeting tuan Douglas. Di ruangan itu, Camelia dan juga Elvan sudah duduk rapi. Dengan pandangan dingin, Axelo melangkah dan duduk di sisi kanan kakek Douglas.


"Ini barang yang kakek minta." Ucap Axelo menyerahkan beberapa berkas pada sang kakek.


Tuan Douglas memeriksa dan sesekali melirik pada anak dan menantunya. Tentu itu membuat keduanya gusar. Setelah meneliti semua laporan dari Axelo, tuan Douglas membanting berkas itu di meja, lebih tepatnya di meja depan Elvan dan Camelia duduk.

__ADS_1


"Apa ini semua benar? Kalian memindahkan beberapa aset perusahaan secara ilegal?" Tanya tuan Douglas dengan nada yang tinggi. Urat wajahnya tampak menonjol keluar di wajahnya tua yang mengeras oleh emosi itu.


Elvan dan Camelia bungkam. Itu cukup menjawab pertanyaan dari Sang ayah. Tuan Douglas memijit keningnya yang terasa pusing.


"Aku tau semua kejahatan kalian. Termasuk kecelakaan yang melibatkan Axelo, juga dua orang asisiten cucu ku yang meninggal di tempat." Tutur tuan Douglas menatap tajam anak dan menantunya."Menyerahlah."


Camelia menatap balik sang ayah dengan mata tidak terima dan tidak percaya. Bagaimana bisa ayahnya sendiri berucap seolah dirinya seorang penjahat.


"Ayah, ayah percaya begitu saja dengan nya?"


"Dia bersama bukti yang sangat kuat Camelia. Jika kalian mau menyerahkan diri dan mengakuinya, hukuman kalian akan lebih ringan."


"Ayah!" Pekik Camelia semakin tak percaya pada sosok yang sedari dulu ia anggap sangat tak adil. Baginya, tuan Douglas selalu memihak ibu Axelo. "Apa aku ini sungguh anak mu ayah? Kenapa ayah turut menyudutkan ku demi cucu dari seorang gundik."


"Camelia!"


"Itu, karena kau memang bersalah Camelia. Hatimu dari dulu selalu di liputi oleh dengki pada Daisy, bahkan pada anaknya juga. Kau! Juga Russel, selalu berulah. Dan kau terus menyalahkan Daisy juga Axelo. Sebegitu bencinya kau pada mereka hingga segala cara kau halalkan!" Cecar Kakek Douglas mulai menggebrak meja, karena terlampau Emosi.


"Ayah yang selama ini tidak adil!"


"Tidak adil dalam hal apa Camelia? Kasih sayang? Perhatian? Atau harta?" Kali ini tuan Douglas bertanya dengan sedikit menurunkan emosinya.


Camelia tak bergeming, ia bungkam seribu bahasa. Suasana terasa sangat tegang. Tuan Douglas terus mencoba menurunkan emosinya.


"Kenapa kau mencoba membunuh Axelo?"


"Aku tidak melakukan nya." Bantah Camellia, selama ia belum melihat dan mendengar sendiri bukti itu, Camelia akan terus berkelit.

__ADS_1


Axelo yang cukup jengah dengan pertengkaran yang selalu sama. Mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman yang Lily kirimkan padanya.


Mata Elvan dan juga Camelia melebar sempurna.


"Apa kalian masih mau berkelit?"


"Itu bisa saja editan."


"Ha-ha-ha, aku masih punya banyak, bibi." Axelo mengeluarkan barang-barang yang tersimpan di kantong dengan menyorok hingga beberapa benda tampak keluar dengan berantakan dari kantong itu.


Camelia melirik benda-benda itu. Ia mengenali beberapa. Senyum tipis tersungging. Walau ia sudah sangat sadar tak memiliki kesempatan untuk bisa mengelak dan lepas.


"Hahaha... Kau sungguh sangat mengejutkan Axelo. Jadi, ku ingin memenjarakan ku? Dengan bukti-bukti itu?" Ucapan bernada menghina yang meluncur dari bibir Camellia. "Kamu saja baik-baik saja saat ini. Apa menurutmu ini cukup untuk menjebloskan ku ke penjara?"


"Tentu saja, dengan banyak dugaan, pertama, percobaan pembunuhan. Kedua menghilangkan nyawa dua orangku. Ketiga, pengelapan dan persekongkolan. Apa kau sama sekali tidak takut dengan ketiga hal ini? Semuanya sangat memberatkan mu dan yang pasti akan membuat kalian lama mendekam di sana." Axelo balik menyerang paman dan bibinya dengan nada tegas dan pandangan yang sama remehnya.


Camelia berdecak. Ia sangat kesal saat ini, Axelo ternyata beberapa langkah di depannya. Ia tak bisa membiarkan Axelo menang begitu saja. Setidaknya, jika pun menang, Camelia harus berhasil menghancurkan hatinya. Camelia tersenyum sinis, dan menatap tajam pada Axelo.


"Sepertinya, kami memang tak bisa mengelak hal ini, tapi aku juga punya kejutan untukmu."


"Oohh ya? Aku sangat menantikannya." Tantang Axelo, yang tentu saja semakin membuat Camelia kesal. Sedangkan Elvan memilih membisu. Ia sudah kalah, dan tak ada hasrat apapun untuk melawan ataupun membela diri.


"Tunggu saja, sebentar lagi sampai."


Tepat saat itu terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Camellia tersenyum percaya diri. "Itu dia."


Camelia bersuara lebih keras ke arah pintu. "Masuklah!"

__ADS_1


__ADS_2