Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 42


__ADS_3

"Kalian makan saja, aku mau ke atas untuk tidur."


"Nyonya tidak menunggu tuan pulang?"


Lily menggeleng pelan dan memaksakan segaris senyum. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja dan kecewa karena Axelo mungkin tak pulang karena pekerjaan. Lily harus tetap tegar di depan para pelayan dan koki. Karena mereka juga sudah membantu Lily menyiapkan semuanya. Gadis itu tak ingin membuat mereka kecewa karena dirinya bersedih.


"Kalian makan saja, nanti basi." Ucap Lily,"aku ke kamar dulu." Sambungnya melangkah menaiki tangga.


Sementara para koki terlihat turut bersedih, lantaran Lily berusaha terlihat baik-baik saja di depan mereka.


"Hei, kenapa wajah kalian begitu, kemari! Aku bisiki." Ucap sang kepala pelayan melambaikan tangannya. Para koki dan pelayan berkumpul membentuk lingkaran. Mendengar bisikan dari sang kepala pelayan.


Di kamar, Lily menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengambil satu liptik berwarna merah menyala, lalu memolesnya di bibir. Lily menatap lagi wajahnya, merasa tak memiliki kepercayaan diri, lalu menghapus liptik di bibir. Meletakkan benda itu begitu saja di meja rias. Lily beranjak ke tempat tidur. Mencoba berbaring dan memejamkan matanya lebih awal.


Lily terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba saja mendengar suara bising. Entah suara seperti letupan, dan suara sorak-sorai yang sangat ramai. Lily mengerjab, lalu mengucek matanya. Gadis itu bersusah payah membuka matanya yang terasa lengket. Lily melihat jam di atas nakas. Waktu menunjukan jam 10.10 malam. Suara bising itu masih terdengar. Lily mengedarkan pandangannya. Ia masih berada di kamar, seorang diri. Lily bangkit, merasa aneh karena ruangan itu berubah menjadi remang. Padahal tadi ia tidak mematikan lampu. Lily menggeser kakinya hingga duduk menapak lantai.


Lily melihat ke arah kakinya, ia menapak diatas hamparan kelopak bunga yang memenuhi lantai kamar. Mulut Lily membola sempurna. Ia ingat tadi saat tidur itu belum ada. Lily mencubit lengannya, siapa tau ia hanya bermimpi.


"Aauu," pekiknya pelan."sakit, jadi ini bukan mimpi? Kenapa tiba-tiba ada kelopak bunga di sini?" Gumamnya lirih pada dirinya sendiri.


Lily berdiri dan mengambil langkah maju, suara bising masih terdengar. Dan itu berasal dari balkon kamarnya yang terbuka. Tiupan angin yang lembut menyentuh kulit Lily. Dari beranda kamarnya, angin itu menghembus dan menggoyangkan tirai tipis hingga melambai-lambai. Suara bising yang lebih mirip suara ledakan itu perlahan semakin terdengar lebih jelas. Lily terus menapaki kelopak bunga yang berserakan di lantai kamar.

__ADS_1


Di ambang pintu balkon kamarnya, Lily melihat banyak kembang api yang meluncur. Menambah keindahan langit malam. Kaki Lily melangkah dengan sendirinya ke arah balkon. Menyaksikan kembang api yang menyebar di langit yang pekat itu, membentuk untaian namanya. Lalu meletus lagi dari bawah, membentuk untaian kata anniversary. Dan terakhir membentuk wajahnya.


Lily tersenyum, senyum yang sangat lebar. Tanpa dapat ia kendalikan, matanya berair. Merasa sangat terharu dengan apa yang dia lihat. Lily bertanya-tanya, ulah siapa ini? Tak mungkin Axelo karena suaminya itu sedang bekerja lembur. Siapa yang berusaha menghibur hatinya yang susah?


Dari belakang, terdengar suara gelas beradu. Lily membalikkan badannya. Di ambang pintu balkon, pria yang sudah sempat membuatnya merasa kecewa dan sedih itu, berdiri dan tersenyum tanpa dosa. Di kedua tangan nya terdapat gelas berisi anggur merah.


"Mau minum bersama ku?"


Lily menggeleng, "tidak."


"Aah, sayang sekali, ini adalah anggur termahal untuk merayakan anniversary pertama kita." Ungkap Axelo berjalan mendekat."Saat kita menikah dulu, aku gagal membuat pesta yang besar untukmu. Anniversary pertama, aku ingin memberikan hal yang romantis. Tapi sepertinya, kali ini juga gagal."


_____


"Aku tidak berminat, sepertinya aku sudah terlalu kecewa. Aku merasa sudah di permainkan. Aku mau tidur." Gumam Lily berjalan melewati Axelo begitu saja, bahkan kepala Lily terangkat tinggi menunjukkan keangkuhan dan rasa marah.


Sebagai seorang yang pembisnis, tentu Axelo dapat menilai mana yang benar-benar marah atau hanya menguji. Axelo meletakkan satu gelasnya di pagar pembatas balkon setinggi satu setengah meter itu. Sebelah tangannya menarik lengan Lily, wajah mereka berhadapan.


"Kalau kamu tidak mau, aku akan bertindak sedikit kasar." Ujar Axelo berbicara tepat di depan wajah Lily.


"Ooh ya? Apa kau sedang mencoba membuat ku patuh?" Ucap Lily menantang.

__ADS_1


"Sepertinya, aku harus mengajarimu sekali lagi." Axelo melummatt bibir penuh Lily. Menekan tengkuk Lily dengan tangan yang masih memegang gelas berkaki tinggi itu.


"Kau hanya mengajariku arti menikmati, tuan Axelo. Bukan untuk patuh." Tukas Lily saat pangutan Axelo terlepas.


Axelo tersenyum miring, lalu menenggak habis anggur di gelasnya. Melempar gelas itu ke ujung balkon hingga pecah. Axelo meraih lagi tengkuk Lily. Mentransfer anggur yang masih berada di mulutnya. Membuat gadis itu ikut merasakan nikmatnya minum yang akan membuat kedua nya mabuk.


Terasan cairan merah merembes dari bibir yang bertaut. Membasahi dagu dan leher Lily yang jelas lebih rendah dari milik Axelo.


"Apa kamu menikmati nya, sayang?"


Wajah Lily tampak sayu, mata yang menggantung dan tak menutup ataupun terbuka sempurna. Nafas hangat yang mengepul dari hidung dan bibir Lily yang terbuka sedikit. Serta tetesan anggur yang mengalir dari mulut Lily memberi kesan sensual yang membangkitkan gairah Axelo.


"Apa kamu menikmatinya, sayang?" Axelo bertanya sekali lagi.


"Tidak." Kata yang sangat bertolak belakang dengan wajah ingin Lily. Apa lagi kata hatinya, sudah tak perlu di tanya. Rasa anggur yang bercampur liur Axelo membuat Lily candu. Wajah Lily yang memerah, perpaduan antara panas tubuh oleh minuman dan panas oleh hasratnya memberi hembusan yang berbeda.


Axelo memberi Lily lummatan kecil di bibirnya. Tangan Axelo senantiasa menahan dengan lembut tengkuk sang istri. Dan tangan lainnya memberi pelukan erat di pinggang dan tubuh wanitanya. Secara reflek tangan Lily mengalung di leher Axelo. Walau sangat ingin memberi Axelo pelajaran. Namun, jiwa nakalnya meminta bertindak tanpa harga diri. Membalas ciuman Axelo adalah hal yang di luar kendalinya. Gadis itu menginginkan lebih. Kaki Lily terangkat dengan sendirinya di atas kaki Axelo. Pria itu membawa Lily hingga ke atas ranjang, tanpa melepas pangutannya. Axelo mengukung tubuh mungil istrinya.


Hasrat di dalam diri semakin membara, Axelo harus berhenti sebelum melewati batasnya. Nafas kedua nya saling bersautan dengan cepat. Pangutan Axelo terjeda untuk sekedar mengambil nafas. Dada Lily naik turun, nafas hangatnya terus berdesak keluar. Lily menatap manik mata Axelo yang intens menatapnya.


"Aku menyiapkan makan malam sepesial untuk mu. Ayo mengisi amunisi sebelum pertempuran besar." Ucap Axelo turun dari ranjang, merapikan pakaiannya, dan menarik tangan Lily agar bangkit juga.

__ADS_1


__ADS_2