Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 47


__ADS_3

Axelo tertegun sore itu, melihat Clarisa berdiri tak jauh dari mobilnya.


"Clarissa?"


"Oohh, kakak ipar." Sahut Clarissa dengan wajah senang akhirnya penantian nya berujung. Tapi, sebisa mungkin dia bersikap biasa agar Axelo tak curiga.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Kakak ipar, bisakah memberiku tumpangan? Mobilku mogok, aku tak bisa pulang."


"Okey, tidak masalah."


Clarisa berjalan mendekat ke arah Axelo yang hendak membuka pintu mobilnya. "Terima kasih, ka...aahh,," tubuh Clarissa terhuyun ke depan dan hampir jatuh ke tubuh Axelo. Suami Lily itu menangkap tubuh Clarisa, hingga bibir Clarisa sempat menempel di pakaian Axelo. Sudut bibir Clarisa tertarik ke atas, lalu dengan cepat dia menarik diri dan berakting menyesal.


"Maaf, kakak ipar, aku tersandung."


"Tidak masalah, untung aku menangkapmu." Ucap Axelo datar, "masuklah." Sambung Axelo membukakan pintu untuk Clarissa.


Clarissa merasa rencananya berhasil, tersenyum pada Axelo dan masuk kedalam mobil. Dalam perjalanan, Clarisa terus mengoceh dan menonjolkan diri. Axelo sendiri hanya menanggapinya dengan senyum tipis tanpa minat. Ia memang sangat menyukai suara wanita yang bercerita, tapi itu hanya untuk Lily, tidak yang lainnya. Mendengar Clarissa, Axelo justru merasa muak dan ingin cepat-cepat keluar dari lingkaran gadis itu.


Tepat di depan rumah Lukas, mobil Axelo berhenti. Clarisa menatap Axelo, merasa tak rela waktu begitu cepat sampai waktunya berpisah dengan Axelo.


"Terima kasih, kakak ipar."


"Tidak masalah." Ucap Axelo tetap barusaha terlihat ramah,


"Kakak ipar, bolehkan aku memanggilmu, Axelo saja?"


"Panggil saja aku senyamanmu, clar."


Wajah Clarisa berbinar terang, "terima kasih, Axelo. Aku pasti akan membalasnya."


"Kamu tidak perlu merasa sungkan."


"Kalau begitu, aku keluar." Ucap Clarissa tanpa melepaskan senyumannya dari wajah.


Selepas Axelo pergi Clarisa tersenyum senang, lalu berjalan memasuki kamarnya. Clarisa mengambil ponsel dari dalam tas, menghubungi seseorang.


"Halo? Kau dapatkan fotonya?"


["Foto apa? Aku ketiduran."]


"Apa? Aku sudah membayarmu! Mengambil foto saja malah ketiduran! Dasar tidak berguna! Kembalikan uang ku!" Sentak Clarissa mengumpati seorang pria di seberang sana.

__ADS_1


"Kau membayarku untuk pekerjaan beresiko ini, sangat tidak sepadan, dasar murahan!" Umpat pria suruhan Clarissa menutup sambungan telpon. Wajah pria itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Di sekitarnya, beberapa orang pria berdiri dengan pandangan mendominasi. Tubuh pria itu bergetar."To-tolong lepaskan saya." Pinta Pria itu memelas,"saya salah, saya sudah melakukan apa yang kalian minta..."


"Lain kali, kami tidak akan mengampuni mu." Tukas Raize menginjak punggung pria yang menunduk dan bersujud di hadapannya."Huuhh, bikin kotor sepatuku saja." Gumam Raize berbalik acuh, meninggalkan pria yang gemetaran di samping kamera yang teronggok hancur.


Raize membawa mobil tipe yang sama dengan milik Axelo. Lalu berhenti di sebuah pinggiran jalan. Tak lama mobil Axelo mendekat, Raize segera keluar dari mobilnya, dan menunduk ke arah Axelo yang baru saja keluar.


"Baju pesanan anda ada sudah ada di dalam."


Tanpa kata Axelo memasuki mobil yang tadi Raize tumpangi, beberapa saat kemudian Axelo menyerahkan paperbag berisi baju bekas pakainya yang terkena lipstik dan parfum Clarissa. Pria tampan itu sudah berganti dengan pakaian sejenis agar istrinya tak curiga jika pulang nanti.


"Bereskan beserta mobilnya."


"Baik." Tunduk Raize,


Axelo pun kembali ke rumah dengan pakaian dan mobil yang sudah di ganti. Jelas saja, rencana licik Clarissa untuk membuat Lily curiga dan cemburu pun pupus sudah. Axelo, jauh di depannya dalam hal ini.


Begitu sampai di rumah, Axelo langsung menanyakan keberadaan istrinya.


"Di mana nyonya?"


"Nyonya Lily sedang berada di taman tengah, tuan." Jawab kepala pelayan.


Tanpa mengatakan apapun, Axelo bergegas menuju taman yang dimaksud. Melihat Lily sedang berbincang dengan penjaga kebun membuat Axelo menyungging senyum. Lily memang bersikap keras hanya pada orang-orang penjilat yang tidak berkelas. Tapi, pada para pelayan Lily bersikap ramah. Bahkan terlalu ramah hingga membuat Axelo cemburu.


"Auu, sayang, bagaimana jika Bunga ini melukai wajah tampanku?"


"Itu bagus, jadi, kamu tidak akan berpikir untuk tebar pesona."


"Ayolah sayang, aku tidak tebar pesona. Mereka yang terpesona padaku hanya dengan caraku berjalan."


Lily tertawa kecil dengan kepedean suaminya. Tapi, apa yang Axelo katakan adalah benar.


Axelo menenggelamkan wajahnya di pundak Lily, menghirup dalam aroma tengkuk istrinya yang segar. Secara refleks, Lily pun memejamkan matanya yang terasa berat. Menggerakkan kepala sedikit condong ke arah Axelo. Alis Lily menyatu, merasa ada yang tak biasa. Ia segera melepaskan diri dari cengkraman Axelo. Membaui tubuh Axelo, yang tentu saja langsung berdebar kencang seperti baru saja ketahuan selingkuh. Walau pada kenyataannya, tidak begitu.


"Kenapa aroma tubuhmu berbeda."


"A-apa maksudmu?" Tanya Axelo gugup, meski ia sangat yakin sudah menghilangkan jejak Clarissa tadi.


"Tidak ada aroma keringat di bajumu."


Ada rasa lega di wajah Axelo. Ia sudah sangat khawatir Lily menemukan menemukan sesuatu.


"Aku bekerja di ruangan ber-AC bagaimana mungkin ada keringat di tubuhku."

__ADS_1


"Harus nya ada," gumam Lily membaui lagi tubuh Axelo. Axelo tersenyum memeluk tubuh istrinya lebih erat.


"Apa kamu begitu menyukai keringat ku? Kau akan dapatkan jika kita berpindah ke ranjang kamar."


Lily mencoba meloloskan diri dari cengkraman tubuh suaminya. "Tidak mau, aku lelah hari ini..."


"Ooh ya? Apa saja yang kamu lakukan hari ini?"


"Hanya mengikuti beberapa kegiatan sosialita seperti saranmu. Dan itu membosankan, jadi aku membereskan taman bersama Paman."


Axelo mendengarkan penuturan Lily dengan seksama dan penuh minat. Meski gadis itu hanya bercerita tentang beberapa jenis bunga yang mekar dan kemana saja dia memindahkannya.


"Cukup lelah, tapi aku senang." Ungkap Lily mengakhiri ceritanya."Bisakah kau melepaskan aku? Kau memelukku seerat ini sangat panas. Tubuhku juga masih berkeringat, aku bahkan belum mandi sore."


"Oke, aku mandikan kalau begitu." Ucap Axelo girang menggendong tubuh Lily.


"Aaahh, suamiku!"


Beberapa jam kemudian, Lily mengerucutkan bibirnya ke depan. Menatap jengah pada Axelo yang sedang mengeringkan rambutnya seusai mandi bersama diikuti aktifitas lainnya.


"Kenapa menatapku begitu?" Protes Axelo melirik kecil melalui kaca rias didepan Lily duduk.


"Kamu selalu begitu, tak bisakah mandi hanya mandi saja?" Omel Lily.


Axelo tergelak, ia memang tak bisa menahan diri dari menyentuh tubuh sang istri.


Lily menatap Axelo dari kaca rias. "Bolehkan aku bekerja?"


"Boleh." Jawab Axelo tanpa ragu dan cepat. Dia sangat tau Lily bosan berada dirumah menunggunya. Karena itu, ia biarkan Lily melakukan apapun yang membuatnya senang.


Benarkah?" Tanya Lily merasa Axelo begitu cepat menyetujui, padahal ia udah menyusun kalimat untuk membujuk suaminya.


"Dengan syarat, saat aku pulang ataupun belum berangkat bekerja, kamu berada di rumah."


"Hanya itu?"


"Iya, hanya itu."


Lily membalik tubuhnya dan memeluk Axelo. "Terima kasih, sayang."


Axelo tersenyum membalas pelukan istrinya,"berarti ada kesempatan untuk pertempuran selanjutnya."


Lily langsung melepas pelukan sang suami, "aaahh, tidak lagi...."

__ADS_1


Axelo tergelak.


__ADS_2