Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 43


__ADS_3

Axelo menuntun Lily ke balkon. Entah sejak kapan di sana ada meja dan dua kursi dengan lilin di pusat meja, dan dua gelas anggur berkaki tinggi. Hal yang membuat mulut Lily semakin membulat adalah hidangan makan malamnya, yang tak lain adalah masakan yang tadi Lily siapkan. Tak lupa dengan kue yang telah dia buat. Seingat Lily, ia sudah menyuruh para koki dan pelayan untuk memakannya karena merasa kesal.


"Apa yang terjadi?" Lily menatap wajah suaminya yang tersenyum melihat wajah tanya Lily.


Tak memberi jawaban, Axelo menarik Lily mendekati meja. Menarik kursi untuk istrinya agar duduk. Setelah memastikan Lily duduk dengan nyaman, Axelo mengitari setengah meja. Lalu duduk di hadapan Lily dengan bersekat meja bundar.


"Happy anniversary, istriku."


Lily tersenyum bahagia. Makan malam kali ini menjadi makan malam dengan semua kejutan dari Axelo. Tanpa pria itu melewatkan bagian milik Lily. Masakan dan kue yang sudah dengan susah payah di buat bersama para koki. Axelo awalnya ingin membuat pesta yang sedikit lebih meriah untuk Lily. Namun, saat melihat sang istri juga menyiapkan sesuatu yang lebih sederhana, Axelo mengubah rencananya. Ia ingin lebih dalam menyelami senyum istri, dari pada sekedar pesta mewah.


"Aku tidak tau kamu begitu licik, menyiapkan semua nya, membuatku sempat kecewa dan kecil."


"Bagaimana sekarang?"


"Aku pikir, tubuhku sangat ringan sampai serasa tidak menapak di lantai." Ujar Lily tertawa kecil, tangannya mengambil gelas berkaki tinggi, lalu meminum anggur yang ada di dalamnya.


Axelo berdiri dari kursinya. Berjalan hingga ke sisi Lily yang pandangan matanya mengikuti Axelo. Pria itu menyentuh punggung Lily, secara reflek gadis itu meletakkan gelasnya dan perlahan berdiri. Tepat di hadapan Axelo. Tau-tau, kedua bibir mereka sudah bertautan. Tangan Lily terangkat memeluk leher Axelo, sementara tangan Axelo menyusuri punggung Lily. Gadis itu memang hanya mengenakan piyama bukanlah gaun yang terbuka. Meski mereka kini tengah makan malam untuk anniversary pertama.


"Terima kasih karena sudah menjadi istriku."


Lily tersenyum, "sepertinya, kamu harus berterima kasih pada bibi Camelia. Dia yang membuat aku menginjakkan kaki di sini."


Axelo tersenyum, Lily hanya tak tau saja jika Axelo dan kakek Douglas lah yang merencanakan semua, hingga Lily masuk ke dalam keluarga Hustler.


"Seperti dalam perjanjian pra-nikah, kita menikah karena Lukas memiliki hutang pada tuan Douglas. Dan dia menjadikan aku sebagai penebusnya." Ucap Lily lirih, terselip rasa tak nyaman saat mengingat itu, dan perasaan bersalah serta tak pantas melihat Axelo yang sekarang. Lily menarik tangannya yang masih mengalung di leher Axelo, dan sedikit membuat jarak dengan pria yang masih memeluk punggungnya.


Jika dulu, Lily merasa sangat terpaksa dan tertekan karena harus menikah dengan Axelo yang Vegetatif demi membayar hutang ayahnya. Kini, ia justru merasa terlalu berlebihan dengan anugrah yang ia punya. Meski Lily tak tau apakah Axelo benar-benar mencintainya atau tidak.


Merasa Lily mencoba membuat jarak dengannya, Axelo tak tinggal diam. Ia menarik lebih dekat pelukan tangannya di punggung Lily. Sampai mereka tak lagi berjarak.


"Itu tak penting, surat perjanjian itu sudah ku robek. Kamu bebas."


Seketika Lily memandang mata elang Axelo. "Benarkah?"


"Heemm, apa kau akan pergi? Apa kau akan kembali pada keluargamu?"


"Keluarga yang mana? Aku pikir mereka sudah menjual ku."

__ADS_1


"Kalau begitu, tetaplah berada di keluarga ini. Apa kamu keberatan menjadi ibu dari anak-anakku?"


Lily terus menatap mata elang Axelo. Mencari kejujuran dan kesungguhan di mata pria itu."Apa menurutmu aku pantas?"


"Kenapa tidak pantas? Kamu tak mau?" Tanya Axelo sekali lagi tanpa menjawab pertanyaan Lily.


"Aku... Mau."


"Bagus. Itu yang mau aku dengar." Ungkap Axelo tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita bisa memulainya malam ini. Sebagai kado darimu dan dari ku."


Lily bungkam. Ia tau maksud Axelo mengarah kemana? Dia bukan gadis polos nan bodoh. Tapi, ia tak tau masihkan ia pantas setelah Russel menyentuhnya.


"Tapi, tubuh ini..."


"Kenapa dengan tubuhmu? Kamu masih merasa kotor?"


Tebakan Axelo tepat mengarah ke jantung Lily.


"Kamu sudah bersih, aku sudah membersihkan mu sebelumnya. Kalau kamu masih merasa kotor, aku bisa membersihkan mu terus dan terus, sampai kamu merasa sangat bersih." Ujar Axelo."Aku tau, dia tidak pernah menyentuh bibirmu. Tapi, aku tak ingin melewatkan yang ini..."


Lalu kecupan Axelo berpindah ke leher, membelainya dengan kecupan lembut tanpa jarak. Axelo tak ingin membuat tanda di sana. Baginya tanda di bagian yang terlihat mata oleh orang lain hanya akan membuat istrinya seperti wanita murahan. Itu sebabnya, Axelo hanya memberi kecupan kecil yang bertubi-tubi di sepanjang leher Lily, tanpa meninggalkan jejaknya.


Tanda kepemilikan Axelo berikan di dada atas Lily, setelah ia membuka satu kancing teratas piyama Lily.


"Satu tanda kepemilikan ku." Gumam Axelo.


Lalu bibirnya berpindah sedikit kebawah, setelah ia melepas satu lagi kancing piyama Lily.


"Tanda ke dua."


Mata Lily terpejam, menikmati sesapan yang tanpa meninggalkan rasa sakit baginya seperti yang Russel lakukan dulu.


"Tanda ke tiga." Gumam Axelo meninggalkan jejaknya di dekat penutup dada Lily. Tangannya perlahan menarik penutup itu, namun, Axelo memilih untuk mengurungkan niatnya. Dia tersenyum menatap wajah Lily yang perlahan membuka matanya.


Axelo mengangkat kaki Lily ke atas kakinya. Lalu melangkah dengan menautnya bibir mereka lagi. Langkah kaki Axelo terarah memasuki kamar. Membaringkan istrinya di atas peraduan.


"Sepertinya, aku sudah lama tidak mendengarmu bercerita." Ucap Axelo setelah memberi jarak tapi masih mengukung tubuh Lily di bawahnya.

__ADS_1


"Bercerita apa?"


"Novel romans."


Lily menyungging senyum. "Kamu sungguh menyukai nya?"


"Aku menantikanmu membacakannya lagi untukku."


Lily mengerutkan keningnya heran, "sekarang? Apa ini waktu yang tepat."


"Bacakan saja, sayang."


"Baiklah," Lily menyetujui, ia ingin beranjak, akan tetapi, Axelo sama sekali tak memberinya ruang untuk bergerak."Aku tak bisa mengambil buku itu jika kamu masih menindih tubuhku."


"Ooh, iya, benar. Dimana kamu menyimpannya?" Tanya Axelo tanpa mau menyingkir.


"Di laci sana." Tunjuk Lily pada meja disisi seberang ranjang.


"Biar aku yang ambil."


Tanpa menggeser jauh dari posisinya, Axelo meraih laci dan mengambil buku novel milik Lily. Kemudian ia menyerahkan buku itu pada istrinya.


"Jadi, aku membacakannya dengan posisi seperti ini?" Tanya Lily menerima buku yang tak tebal itu.


"Kamu mau posisi yang seperti apa?"


"Boleh aku duduk?"


"Tentu, senyamanmu."


Lily bangkit dan duduk di bibir ranjang sementara Axelo memeluk tubuhnya dari belakang, dan ikut duduk disana. Lily melempar senyumnya, dan mulai membuka buku itu. Membaca paragraf demi paragraf, yang sesekali terpaksa berhenti karena Axelo menciumnya.


Tangan Axelo tak juga mau diam. Jari jemarinya meniti kancing piyama Lily dan mulai membukanya. Memberi kecupan kecil di bahu dan leher Lily. Gadis itu jadi tak fokus. Memejamkan mata beberapa kali, menikmati sengatan panjang yang Axelo alirkan melalui kecupan di kulit mulus Lily.


Sampai Axelo berdehem dan terkekeh kecil karena Lily berhenti membaca buku.


"Aku tak bisa fokus jika kamu terus seperti ini." Omel Lily memprotes suaminya yang mulai menyibak piyama dari tubuh Lily.

__ADS_1


__ADS_2