Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 26 - Maafkan aku


__ADS_3

"Russel! Apa yang kau lakukan di kamar Axelo dan Lily?" Suara tanya keluar dari mulut tuan Douglas terdengar tegas. "Kau tidak sedang mencoba memperkosa istri sepupumu, kan?"


"Ayah! Bagaimana bisa kau menuduh Russel sekejam itu? Dia korban di sini?" Protes Camelia tak terima."Lihat wajahnya, tubuhnya, semua berdarah!"


"Jawab Russel!"


"Perlu kah aku bantu menjawab, Russell?" Sindir Axelo dengan sangat mendominasi.


Russel menyeringai kecil meski merasakan sakit ditubuhnya dan bibir yang penuh darah mengalir.


"Kami bersenang-senang..."


Tanpa kata dan umpatan, Axelo menghujam sekali lagi wajah Russell tanpa ampun. Amarah nya semakin meninggi, bukannya menyesal justru mancing amarah Axelo yang sempat meredam.


"Hentikan! Apa yang kau lakukan, Axelo?" Camelia, mencoba menghalangi pukulan Axelo. Dengan terpaksa Axelo mundur dan mengatur emosi dan nafasnya.


Gigi Camelia bergemelutuk menahan amarahnya. Bahkan saat ini tak ada satupun yang bisa membantunya.


"Bajingan kamu Axelo!" Umpat Camelia menatap sengit keponakannya.


Axelo dengan santai berjongkok di depan Russel dan Camelia menatap sinis dan penuh intimidasi.


"Perlukan aku bongkar sebajingan apa dirimu dan suami, bibi Camelia?"


Wajah Camelia berubah menjadi sangat tegang. Axelo tersenyum miring. Reaksi yang Camelia tunjukkan cukup membuat Axelo senang.

__ADS_1


"Dimana aku harus memulainya? Basemen?" Bisik Axelo semakin membuat wajah Camelia tegang."Atau.... Porsche?"


Keringat tampak jelas meluncur dari pelipis Camelia. Ketegangan dan ketakutan itu sangat jelas di wajah Camelia.


Axelo tersenyum puas.


"Su-suami-ku...."


Suara lirih Lily yang memanggil membuat Axelo beranjak dan menatap dingin Camelia dan Russel. Lalu berbalik dan menghampiri istrinya.


"Camelia! Elvan! Bawa Russel untuk menerima pengobatan." Titah tuan Douglas bersuara agak keras.


Elvan bergerak dengan cepat menuntun Russel dan istrinya keluar dari kamar pribadi Axelo.


Axelo yang sudah berada di sisi ranjang, menatap Lily dengan perasaan bersalah. Terlalu lama dalam keraguan karena ia masih harus menjaga rencananya. Axelo melepas ikatan tangan Lily, dan membawa wanita yang gemetar itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku."


"Maafkan aku."


Suara tangisan Lily perlahan menghilang. Gadis itu, sudah mulai tenang dan merasa nyaman dalam pelukan suaminya.


Tatapan sendu dan penuh sesal terpedar dari mata elang Axelo. Sesal karena tidak bertindak lebih cepat sampai membiarkan Lily lebih lama mendapatkan tekanan dan pelecehan dari sepupunya. Hal yang seharusnya bisa dia atasi lebih cepat. Namun, lagi-lagi tujuan awal dirinya bersandiwara sedang dalam kondisi vegetatif itu membuat Axelo ragu. Tujuan hampir tercapai, tinggal sedikit lagi bukti itu di dapat.


Namun, suara lirih Lily yang terus berbisik padanya, dan suara menjijikkan Russel membuat Axelo tak bisa bertahan lebih lama. Rasa tak rela dan amarahnya jauh lebih besar dari keinginan mengumpulkan bukti.

__ADS_1


Saat bahu Lily tak lagi berguncang, dan tangis itu tak lagi terdengar. Axelo melonggarkan pelukannya. Menatap wajah sembab Lily dan menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di pipi gadis cantik itu.


Sangat buruk rasanya melihat seberapa berantakannya penampilan Lily sekarang. Axelo membuka piyama nya. Lalu memakaikannya di tubuh sang istri.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah. Aku akan menemui kakek dan yang lainnya lebih dulu."


Lily menggeleng pelan. "Aku takut."


"Akan ada beberapa orang penjagamu di depan sana."


Lily menggeleng, lalu mulai menangis lagi. Wanita yang Axelo tau begitu kuat dan tegar. Kini berubah menjadi wanita yang sangat rapuh. Wajah yang di penuhi air mata itu membuat Axelo tak tega. Dia memeluk lagi tubuh mungil istrinya. Membawa wanitanya agar lebih tenang dan merasa aman.


Cukup lama mereka berada dalam situasi seperti itu. Tarik dan ulur. Untuk meninggalkan, jelas Axelo tak akan sampai hati. Tapi untuk bertahan di sana lebih lama? Ada banyak hal yang harus Axelo selesaikan malam itu juga. Sebelum keluarga Camelia menyembunyikan diri.


Lily merasa sangat nyaman dan aman berada dalam dekapan Axelo. Seperti pernah berada di sana sebelumnya. Mata Lily melihat luka di buku-buku jari suaminya. Lily membuat jarak. Menatap wajah Axelo lalu berganti mengambil tangan Axelo yang terluka. Menatap tangan itu lama.


"Aku pikir kamu melukai, bagaimana bisa kamu dapat luka ini."


"Aku terlalu bersemangat memukuli Russel."


Lily menatap lekat mata elang Axelo. "Biar ku obati."


Axelo duduk di atas ranjangnya dan bersandar pada kepala ranjang. Dengan berhati-hati Lily mengobati luka lecet itu.


Axelo tersenyum menatap wajah Lily. Mata elang nya sedikitpun lepas dari wanita cantik yang selama beberapa hari ini menemaninya.

__ADS_1


Bisakah aku mempercayaimu, Lily?


__ADS_2