Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 51


__ADS_3

Tubuh Bella menegang seketika. Amarah yang tadinya menggebu-gebu mendadak menguap begitu mendengar suara Axelo. Apalagi mendapat tatapan tajam mata elang Axelo yang langsung menghujam nyalinya.


"Apa anda punya masalah sampai membuat keributan di kediaman ku, Nyonya Bella?"


Bella mengatur detak jantungnya yang tak beraturan. Akan sangat memalukan jika dia sudah berniat melabrak Lily dan tiba-tiba menciut di depan Axelo. Setidaknya dia harus mencari pembenaran untuk tindakannya.


"A-aku kemari karena putriku, tuan muda Axelo."


"Oohh ya? Ada apa dengan putrimu?"


"Clarissa dan Lily sedikit berseteru. Dan aku ingin mengkonfirmasi nya dengan Lily."


"Benarkah? Aku lihat kau hanya meninggikan suara Sejak tadi. Aku pikir itu bukan konfirmasi, tapi makian."


Wajah Bella makin menegang, keringat sebiji jagung turun dari wajahnya. Kalimat Axelo sekali lagi menusuk nyalinya.


"I-itu tidak benar." Kelit Bella berganti menatap Lily penuh harap."Iya kan, nak?"


Melihat Bella begitu ketakutan dan segan terhadap suaminya, Lily merasa kasihan juga. Meski tadi dia dimaki sampai telinganya terasa gatal."Sudahlah, lupakan saja."


Axelo tersenyum tipis, jika Lily ingin melepaskan, tidak dengannya. Hatinya sudah terlanjur panas mendengar makian Bella terhadap istrinya. Pria pendendam itu, memeluk bahu Lily semakin mendekat ke dadanya.


"Aku sangat penasaran, perseturuan apa yang terjadi diantara mereka? Bisakah kau jelaskan, aku akan mencoba mendengar dari dua sisi." Ucap Axelo memancing Bella.


"I-itu, masalah itu adalah karena dia!" Bella merasa memiliki celah untuk menyudutkan Lily. Maka ia menunjuk Lily dengan yakin.


"Maksudmu, istriku yang bersalah?" Tatapan Axelo berubah menjadi sangat tajam. Tentu hal itu membuat Bella bingung, tadi Axelo seperti memberi angin segar padanya, tiba-tiba membuatnya sesak dan menciut lagi nyalinya.


"Bu-bukan begitu, maksudku," Bella semakin berkeringat dingin, mencoba mengusap dahi dan pelipisnya yang basah oleh keringat."Maksudnya adalah.... Begini tuan Axelo, saat itu anda tidak ada di sana, jadi anda pasti tidak tau, Lily mencoba mempermalukan Clarissa karena kesal adiknya itu cukup dekat dengan anda. Dia cemburu pada Clarisa, padahal Clarisa adalah adiknya sendiri. Bagaimana bisa Lily cemburu dan berpikiran sangat picik bahwa Clarisa akan merebut anda."


Lily menunduk untuk menyembunyikan senyumannya. Ia sedikit melirik kecil pada sang suami yang terlihat berwajah datar saja. Mendengar Bella terus mengoceh dan menyudutkan Lily. Membuat seolah-olah lilylah yang bersalah dalam hal ini.


"Ada beberapa hal yang sepertinya anda tidak mengerti, nyonya Bella." Ucap Axelo membuka suara."Saat itu anda tidak ada di tempat bukan?"


"Ti-tidak."


"Tepat sekali. Anda tidak ada di sana tapi bisa berbicara sedetail itu. Bahkan bisa mengetahui secara pasti apa yang istriku rasakan." Ucap Axelo,"aku rasa, anda lebih cocok sebagai seorang novelis. Aku yakin pasti akan laku keras."


"Apa saya sedang dituduh berbohong?"


"Aku tidak berkata begitu. Hanya, dimana ada Lily, di situ aku berdiri. Aku selalu memantau setiap jengkal langkahnya, hal semacam itu, tak mungkin aku lewatkan." Ungkap Axelo menunjukkan ketegasannya jika Lily tak mungkin bersalah. "Di pesta itu terpasang cctv. Dan aku bisa mengaksesnya, apa anda ingin melihat sendiri apa yang Clarisa dan Lily lakukan?"


Beberapa saat kemudian, Axelo dan Lily memandang mobil merah yang baru saja keluar dari halaman kediaman mereka.


"Kenapa kamu begitu keras padanya, suamiku?" Lily memprotes pada Axelo yang pada akhirnya membuat Bella malu akan kelakuan Clarisa dengan menunjukkan cctv di tempat kejadian. Sebenarnya, jikalau hanya pada Lily, Bella tak perduli, tapi kali ini Axelo. Orang yang mungkin bisa membuat hidupnya hancur dalam semalam. Sampai akhirnya, Bella mundur teratur.

__ADS_1


"Keras bagaimana? Bukankah hubungan kalian memang tidak baik?" Axelo balik bertanya dengan wajah datar.


"Itu benar, tapi, melihat wajahnya, aku jadi kasihan."


Axelo terkikik, "dia baru saja memakimu tadi, sayang."


"Iya, iya, itu benar." Lily pun tak memungkiri nya."O iya, yang kamu bilang tadi, apa itu benar?" Sambung Lily sedikit mencondongkan tubuh ke arah suaminya. Menatap wajah pria tampan di sampingnya.


"Yang mana?"


"Menantau setiap jengkal langkahku."


"Apa kamu keberatan?"


Lily tertegun, "jadi kamu melakukan nya?"


Axelo terkikik, "tidak." Lalu ia melangkah memasuki rumah lebih dulu. "Bohong." Gumamnya tanpa Lily dengar.


Lily mengikuti langkah Axelo, "aku pikir benar, aku sudah hampir terharu."


"Oohh ya? Bagaimana kalau aku lakukan saja?"


"Jangan!" Pekik Lily cepat, menadapat tatapan langsung dari Axelo, Lily merasa menciut dan kecil."UMM, maksudku,, itu membuatku tak nyaman. Seperti seorang tahanan saja."


"Aku sedang kesal, dan rasa kesal ku tak akan hilang jika masih melihat Bella beserta keluarganya masih berkeliaran di kota."


("Baik tuan, sebelum matahari terbenam. Keluarga itu bangkrut.")


"Hanya itu?"


("Menjadi gembel dan masuk rumah sakit jiwa.")


"Beritanya harus keluar besok pagi." Axelo menutup telponnya. Mau bagaimana lagi, Axelo seorang pendendam. Ia benci jika istrinya terus di tindas apalagi oleh keluarga nya sendiri. Walau sebenarnya, Lily tak merasa begitu. Akan tetapi, sikap Bella kali ini cukup membuat Axelo kesal.


Keesokan harinya, berita kebangkrutan Lukas diumumkan. Lily terpaku di depan televisi, melihat berita yang tiba-tiba muncul tentang keluarganya membuat Lily tercengang.


"Sayang, tolong pasangkan dasiku!"


Lily bergegas menghampiri suaminya yang tiba-tiba menjadi sangat manja.


"Kamu ini kenapa? Memasang dasi saja tidak bisa." Omel Lily memasang dasi Axelo. Karena tinggi badan mereka cukup berjarak, Axelo terpaksa sedikit membungkuk agar Lily tak kesulitan.


"Apa itu ulahmu?" Tanya lily setelah sempat dalam keheningan bersama.


"Itu yang mana?"

__ADS_1


"Berita pagi ini. Kebangkrutan Lukas."


"Kenapa berpikir itu ulahku? Bukankah memang Lukas tinggal menunggu waktu?"


Lily menghela nafasnya, syukurlah jika itu bukan kamu." Ucap Lily menatap mata elang Axelo.


"Kenapa begitu curiga padaku, huumm?" Axelo memeluk pinggang istrinya dan mengunci tubuh proporsional Lilya dalam dekapan.


"Aku tidak curiga, hanya bertanya." Ucap Lily sedikit merasa bersalah karena sudah berpikir terlalu jauh, jika semua itu ulah Axelo yang kesal pada Bella.


"Kau tidak mau minta maaf? Itu sangat melukai perasaan ku."


"Maaf."


"Minta maaf dengan benar."


"Maaf suamiku."


"Salah,"


"Maaf suamiku, sayang."


"Masih salah, apa kamu tidak tau cara menyampaikan maaf dengan benar?"


Lily menatap Axelo jengkel. Sudah meminta maaf tetap tak mau menerima nya, entah apa mau suaminya itu.


"Kalau begitu ajari aku meminta maaf dengan benar." Ucap Lily akhirnya.


Axelo tersenyum nakal, dengan cepat menautkan bibir dengan milik Lily.


"Curang!" Protes Lily.


Di sisi lain, Lily sudah mulai berbahagia dengan kehidupannya yang membaik. Berbeda dengan Clarisa yang tak bisa menerima kenyataan bahwa Axelo tidak menaruh hati padanya dan hanya membuat dirinya melambung dan di hempaskan dengan keras. Clarissa hanya berteriak di dalam kamarnya, membanting semua barang dan mencaci Lily. Lily lah yang dia anggap sebagai sumber kesialan dalam hidupnya.


"Aaarrrrrkkkkkkk!!"


"Aku membencimu Lily, beraninya kau merebut Axelo dariku! Jallaanng tidak tau malu! Jelas-jelas Axelo menyukaiku! Kenapa kau terus mengacaukan dan membuatku menderita!" Racau Clarisa makin hilang kendali. Sepertinya, tanpa di buat gila sekalipun, Clarissa udah kehilangan kewarasan nya.


Sementara Clarissa sudah di ungsikan di rumah sakit jiwa, Bella pun berubah menjadi seorang gembel sejak Lukas di nyatakan bangkrut dan semua asetnya di sita.


"Lihat, Bella, apa yang sudah kau lakukan sampai menyinggung orang yang tak bisa kita sentuh?" Teriak Lukas, tepat di depan wajah Istrinya.


"Kenapa kau menyalahkan ku? Kau yang tidak becus Mengurus perusahaan sampai kita bangkrut seperti ini!" Tukas Bella tak mau di salahkan."Kenapa kau tidak menyalahkan saja anak yang tidak tau balas Budi itu? Lihat dia yang sudah terlena oleh keluarga Axelo! Dia bahkan melupakan kita dan enak-enak di sana."


"Diam! Jika saja kau dan Clarisa tidak bertindak gila dengan mengusik Lily dan Axelo. Ini semua tak akan terjadi. Kita masih bisa meminta bantuan pada mereka. Lihat sekarang? Kita udah jadi gembel!"

__ADS_1


__ADS_2