
Tangan Axelo mengusap kepala sang istri. Penyesalan itu datang menghinggapi relung hati Axelo. Menyesal karena membiarkan Russel bertindak sejauh itu.
"Maafkan aku." Lirihnya, "aku sangat bersalah padamu. Entah bagaimana aku harus menebusnya."
Axelo masih mengusap kepala Lily, tangan itu lalu bergerak menyentuh lengan istrinya. "Aku ingin ini cepat berakhir."
Kalimat Axelo menggantung, lama dalam diam, pria itu tenggelam dalam syahdunya keheningan malam di sisi istrinya.
"Lily, hidupku seperti berjalan diatas roller coaster, setiap hari hanya ada ketegangan dan bahaya. Aku tak ingin menempatkan mu disana. Tapi, selama kamu berada di sisiku, kamu akan terus terlibat. Maafkan aku. Maaf karena sudah membuat mu mengalami Hal sulit selama ini."
Axelo tertawa kecil, "kau tau, ini mungkin kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan padamu. Biasanya kamu yang paling banyak bicara. Aku merindukan saat-saat itu Lily. Tapi, setiap kali aku kembali, kamu sudah terlelap. Aku ingin pulang lebih awal, tapi pekerjaan ku menumpuk. Banyak yang harus aku perbaiki. Semua nya kacau selama aku tinggalkan."
Ungkapan Axelo mengalir begitu saja. Menceritakan semua hal yang ia kerjakan di kantor, juga tentang rencana untuk memenjarakan Camelia. Hal yang biasa Lily lakukan, kini dialah yang melakukannya.
"Aku harus menarik kembali apa yang menjadi hak ku. Aku benar, kan?" Kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Axelo, sebelum ia beranjak dan memasuki kamar mandi.
Tanpa Axelo sadari, wanita yang kini terbaring itu masih belum terlelap. Ia hanya memejamkan mata dan mendengarkan setiap kalimat yang Axelo ucapkan.
###
Di kantor, Axelo disibukkan dengan berkas-berkas yang begitu kacau selama dalam kepemimpinan Elvan dan Camelia. Axelo perlu mengatur ulang semua pekerjaan itu hingga membuatnya dan Raize sibuk hingga pulang larut malam setiap harinya.
“Apa-apaan ini? Apa yang mereka lakukan pada perusahaan ini?” Axelo tampak emosi saat membaca satu laporan yang disodorkan asisten pribadinya.
“Tu-tuan, ini semua laporan yang seharusnya dicek oleh Tuan Elvan. Tetapi, sebelum saya selesai menjelaskan, Tuan Elvan mengatakan bahwa tidak ada kesalahan.”
Brak!
Axelo tersulut emosi, semua laporan di atas meja tidak satu pun yang bisa membuatnya berhenti bekerja. Semua membutuhkan perhatian khusus dan Axelo juga harus mengatur semua dari awal. Tidak tahan dengan semua laporan itu, Axelo melempar berkas itu dan menyuruh semua orang bekerja dengan baik untuk hari ini.
__ADS_1
“Katakan pada mereka! Tidak ada yang bisa pulang sebelum laporan dikerjakan dengan baik! Aku ada di sini sampai laporan hari ini selesai!”
“Ba-baik, Tuan.”
Raize berdiri di samping Axelo dengan menatap setiap orang yang keluar dan masuk dengan wajah tegang dan takut.
“Tuan, ingat kesehatan Anda. Masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian Anda.” Raize mencoba untuk menenangkan Axelo.
"Jangan menyebut-nyebut tentang kesehatan padaku, Raize. Aku jauh lebih tau apa yang kulakukan. Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat." Tegas Axelo,"bagaimana perkembangan penyelidikan nya?"
Raize menyerahkan sebuah map beserta beberapa kantong yang tertutup."Ini beberapa bukti yang berhasil kita kumpulkan."
"Apa menurutmu, ini cukup?" Tanya Axelo sembari memeriksa nya.
"Cukup tuan, sisanya ada di gudang."
"Baiklah, ayo kita selesaikan ini." Axelo beranjak dari duduknya. Membawa bukti itu serta untuk di serahkan pada tuan Douglas.
Seperti hari ini, bayangan tentang malam itu terus membuat Lily merasa kotor. Aura kesedihan terpancar dari wajah ayunya. Meski ia sudah mencoba mengenyahkan dan tak memikirkan kejadian malam itu. Tetap saja, Lily tak bisa. Bahkan untuk bertemu dengan Axelo, ia merasa tak punya muka.
Setiap pagi, saat Axelo bangun, ia akan berpura-pura belum terbangun. Dan di saat Axelo pulang, Lily selalu pura-pura sudah tertidur.
Lily menghela nafas beratnya, beranjak dari duduk di depan pintu balkon. Lalu berpindah duduk di depan meja rias. Memandang pantulan dirinya, mata Lily tertuju pada beberapa tanda yang masih terlihat di sekitar dada atas dan lehernya. Itu membuat Lily makin tak percaya diri dan semakin kotor. Lily mengambil sebuah handuk tangan, lalu menggosok pada tanda merah itu. Tanda itu semakin memerah seiring dengan gosokkan handuk tangan yang kasar di kulitnya.
Merasa tak jua hilang tanda itu dan justru semakin jelas memerah dan lebar. Lily melempar kasar handuk tangan itu di meja rias. Tubuh Lily berguncang pelan, lirih suara tangisnya terdengar.
Hingga malam tiba, Lily naik ke atas ranjang dan berpura-pura tidur meski matanya belum mengantuk sepenuhnya. Sebelum Axelo pulang, ia harus terlihat terlelap. Lily merasa tak punya cukup wajah untuk bertemu langsung dengan Axelo.
###
__ADS_1
"Seharian ini, dia hanya di kamar saja?"
"Iya, tuan."
Axelo yang baru saja kembali bekerja malam itu, mendapat laporan tentang yang Lily lakukan seharian ini. Axelo sangat tau, Lily pastilah bosan jika hanya di kamar saja. Dulu istri nya itu pernah mengeluhkan hal itu. Merasa bosan karena terkurung di kediaman nya. Tanpa bisa melakukan apapun atau pun bepergian kemanapun. Terkadang, Lily berjalan-jalan di sekitar mansion untuk mengusir kebosanannya. Namun, apa yang Lily lakukan beberapa hari terakhir ini membuat Axelo khawatir.
"Nyonya akan turun sarapan setelah semua anggota keluarga pergi. Saat makan siang pun nyonya meminta agar makan di kamar saja."
"Benarkah?"
"Dan beberapa makan malam ini, Nyonya melewatkan nya."
"Kenapa kalian baru mengatakan hal sepenting ini sekarang?"
"Maaf, tuan."
Axelo mengusap rambutnya kebelakang. Merasa cukup gelisah mengetahui Lily bersikap tidak biasanya. Apalagi, banyak kejanggalan setelah kejadian itu dan Axelo sadar. Lily yang biasanya bangun pagi, kini bahkan masih terlelap saat dirinya bangun dan tertidur saat ia pulang. Mungkinkah, Lily sedang menghindarinya? Kenapa?
"Baiklah, aku masuk. Lain kali, jangan sampai kalian luput melaporkan hal sepenting ini. Setiap apapun yang ia lakukan kalian harus melaporkan nya pada ku secara detail."
"Baik."
"Kalian boleh pergi."
Axelo masuk ke dalam kamarnya. Kamar itu tampak remang oleh pancahayaan yang minim. Hanya lampu tidur di sebelah ranjang yang menyala. Axelo mendekat hingga ke sisi ranjang, memandang Lily yang sudah terlelap.
"Aku sudah kembali lebih awal, tapi kamu sudah tidur. Mungkin aku memang harus lebih awal lagi kembali." Gumam Axelo menatap wajah Lily. Merasa sangat rindu dengan suara dan keceriaan istrinya. Namun, setiap kali kembali, Lily selalu sudah tidur.
Axelo tersenyum kecut, lalu mengayunkan kakinya hendak ke kamar mandi. Namun, langkah itu tertahan, ia menoleh dan menatap lebih tajam pada wajah Lily, lebih tepatnya, kelopak mata Lily yang sedikit bergerak.
__ADS_1
Axelo tersenyum kecil. "Apa dia sedang mengintip?"