Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
Chapter 30 - Kemarahan Axelo


__ADS_3

"Tidurlah."


Axelo meraih tubuh Lily ke dalam pelukannya. Memberi pelukan hangat dan lembut yang akan membuat wanitanya merasa aman dan nyaman. Bibir Axelo tak henti-hentinya mengecup kepala Lily. Hingga wanita itu benar-benar merasa aman dan terlelap.


Axelo keluar dari dalam kamar nya. Hal pertama yang menjadi target kemarahan nya adalah para penjaga di depan pintu kamar.


Buuaakkk!


Tubuh itu mundur hingga beberapa langkah oleh pukulan keras dari Axelo.


"Apa yang kalian lakukan hingga tak tau ada keributan di dalam sana? Bagaimana bisa kalian membiarkan Russel masuk?" Suara keras Axelo yang beremosi menggema hingga memenuhi langit-langit.


Seketika kedua pengawal yang tersungkur dilantai bersujut pada tuannya yang tengah di liputi amarah.


"Ma-maaf, tuan. Tuan Russel memberitahu kami jika Raize mencari kami, meminta kami pergi ke bangunan samping. Dan beliau menawarkan diri untuk menggantikan kami." Salah satu menjelaskan alasan mereka meninggalkan posnya.


"Bodoh!" Teriak Axelo dengan wajah yang mengeras. Kilatan marah terpancar di matanya."kalian tidak layak berada di sini atas ketidakprofesionalan kalian."


"Tuan, beri kami kesempatan." Mohon dua pengawal di depan pintu.


"Raize!"

__ADS_1


Asisten dingin nya yang baru saja memijakkan kaki di lantai tiga itu menunduk hormat memenuhi panggilan sang tuan.


"Ganti penjaga di kamar ini!"


"Baik."


"Mereka, terserah bagaimana kau menyingkirkan. Karena ketidakpecusan mereka, istriku mendapat pelecehan di kamarku sendiri." Jelas ketegasan perintah Axelo tak bisa di tawar lagi. Para pengawal itu menyesal karena telah tertipu oleh muslihat Russel.


"Maafkan kami tuan. Tolong, beri kami kesempatan." Mohon kedua pengawal itu bersujud dan membungkuk penuh sesal.


Axelo acuh, berlalu meninggalkan mereka yang tak penting lagi. Tujuan selanjutnya adalah Russel.


Di ruang kelurga, Russel mendapatkan perawatan sederhana dari dokter keluarga yang di panggil. Tentu saja itu bukan Dokter Yu.


“Apa pukulan itu masih kurang untukmu?” Suara Axelo membuat Russel gelisah, tetapi di depannya ada sang ibu yang siap melindunginya.


Axelo melangkah untuk mendekat, tetapi ada dua pengawal Camelia yang menjadi penghalang di sana. Axelo berdecak saat tahu Camelia menggunakan kekuasaannya untuk melindungi anak tidak tahu diri itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu. Aku cukup terkejut kamu terbangun hanya untuk menghajar Russel.” Camelia mengomel meski tahu Russel bersalah dalam hal ini.


Untuk sementara waktu wanita paruh baya itu turut andil dalam perlindungan anaknya.

__ADS_1


“Apa? Kenapa Tante tidak bertanya padanya? Apa yang dia lakukan di sana? Apa yang dia lakukan pada istriku? Kenapa tidak Tante tanyakan?” tanya Axelo dengan suara keras dan menggema di ruangan itu.


Camelia mencebik, "Aku yakin istrimu juga turut andil dan bersalah dalam hal ini. Bagaimana mungkin Russel bisa berada di dalam kamarmu tanpa penjagaan jika bukan andil dari Lily!"


Axelo tertawa geram. Memberi instruksi pada dua orang nya yang ikut serta ke ruangan mewah itu.


"Panggil dua pengawal yang berjaga di depan kamarku."


"Baik."


Russel terlihat gelisah.


Tak lama dua pengawal itu muncul bersama Raize.


"Katakan!" Suara Axelo keras tanpa menoleh pada dua penjaga itu.


Dengan menunduk mereka menjawab,"tuan Russel datang dengan membawa kabar, jika Raize menunggu kami di bangunan samping. Dan Tuan Russel menawarkan diri untuk menjaga pintu depan selama kami pergi."


"Apa kau memanggil mereka, Raize?" Kali ini, Kakek Douglas yang bertanya.


"Tidak tuan, saya bahkan berada di sisi bangunan yang lain. Kebetulan bertemu dengan mereka, karena merasa ada yang janggal. Kami segera berlari kemari. Sampai di lorong, kami dengar kegaduhan di kamar tuan Axelo." Jelas Raize.

__ADS_1


"Kurang ajar! Berani kalian memfitnah Russel?!" Camelia tak terima. Lalu melihat pada ayahnya, tuan Douglas."Ayah, ini pasti konspirasi untuk menjatuhkan ku!"


Axelo tak acuh pada ucapan bibinya, sama sekali tak penting baginya. Lalu menatap tajam pada Russel."Apa tanggapan mu, Russel? Mengakui atau perlu kutunjukan cctv di depan kamarku?"


__ADS_2