
"Ya ampun, apa-apaan ini? Apa yang akaan ia ambil dari ku? Kenapa ia malah membawaku kesini? Apa dia sama sekali tidak berpikir? Aku sudah mencoba menghancurkan hatinya. Aku juga sudah mengatakan diriku matre secara tidak langsung... Tapi, kenapa jadi seperti ini?"
Lily terus bergumam tak jelas selama ia mengikuti beberapa orang karyawan yang merekomendasikan baju, tas, dan semua barang terbaik pada Lily.
"Aaahh, ya ampun.. bagaimana jika dia mengambil nyawaku? Tunggu, tunggu, dia sebelumnya tidak begini. Tidak mungkin dia akan mengambil nyawaku. Tapi ia bilang banyak? Lalu apa jika buka nyawa? Apa mungkin itu?" Lily terus bermonolog dalam hatinya.
"Tapi, kenapa dia mau mengambil itu? Tidak, dia kan laki-laki. Sudah pasti dia menginginkannya. Karena itu, dia mau membeli keperawanan ku, apalagi aku bilang jika aku suka uang dan terus mengoceh sembarangan tadi. Ya Tuhan." Lily mengacak rambutnya, karena pikiran gila nya terus bermain dengan liar.
Terlintas dalam otak Lily dengan kalimat terakhir yang Axelo ucapkan tadi, "Aku tunggu di sini. Habiskan uang ku dengan benar. Jika tidak, kamu akan rugi besar."
Seketika mulut Lily membulat sempurna, "aku akan rugi besar..." Gumamnya,
("Karena aku akan mengambil sangat banyak malam ini. Dan beberapa malam selanjutnya." )Kalimat dari Axelo selanjutnya, membuat mata dan mulut Lily makin melebar.
"Malam ini, dan malam-malam selanjutnya?" Pekik Lily tanpa sadar, hingga para karyawan menatapnya dengan sangat aneh.
Yaa, daripada Lily kehilangan tanpa mendapat apapun. Akhirnya, ia mengambil semua barang mahal yang dia sukai. Toh, sama saja, sedikit atau banyak, ia tetap kehilangan.
Axelo menatap gadis cantik yang kini berdiri di hadapannya. Beberapa orang karyawan yang membawa banyak tas dibelakang gadis yang sedang berdiri dengan sedikit mengangkat kepalanya itu. Membuat Axelo tersenyum. Sepertinya, ia sudah berhasil membuat Lily percaya diri lagi. Selama ini ia terus mencari tau apa yang membuat Lily menghindari dirinya. Selalu berpura-pura tidur selama Axelo di rumah, dan selalu berusaha menjauh saat ia memeluk tubuh Lily.
Axelo mengacungkan dua jempol nya, dan tersenyum sangat puas. Sebisa mungkin Axelo harus membuat semua nya natural dan tak terlihat jika ia sedang merencanakan sesuatu untuk istrinya itu.
"Bagus, sepertinya, kamu sudah menggunakan uangku dengan sangat baik. Ayo pulang." Axelo berdiri, melangkah mendekat pada sang istri dan merangkulnya. Menuntun istrinya yang masih gadis itu keluar dari toko eksklusif.
Selama dalam perjalanan, Lily hanya diam tanpa kata. Ia sangat gelisah, sudah banyak uang Axelo yang dia habiskan. Pikirannya terus berkelana kemana-mana. Tanpa gadis itu sadari, sang suami yang terlihat tenang menyetir juga sedang di landa gelisah. Selama dalam perjalanan, Lily sama sekali tak mengatakan apapun, itu yang membuat Axelo gelisah.
Saat berada di kantor tadi, axelo mengira, Lily yang cerewet itu sudah kembali. Nyatanya, hingga kini istrinya itu bahkan bungkam, meski ia sudah menyogok dengan banyak uang.
"Apa ku harus menyogoknya lagi agar dia bicara?" Pikir Axelo membetulkan letak duduk nya yang sedari tadi serasa tak nyaman. Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Axelo membelokkan mobirnya ke sebuah restoran yang merangkap hotel."Mungkin aku perlu memberinya makan. Mungkin saja dia butuh tenaga untuk menggerakkan bibirnya." Batin Axelo lagi.
__ADS_1
Sementara Lily, memiliki pemikiran yang berbeda.
"Apa? Kenapa kemari? Apa dia mau ngamar?" Pikiran Lily kembali bertanya-tanya."Aahh, jangan-jangan dia ingin melakukannya di sini? Lantas saja aku disuruh membeli baju. Ternyata untuk ganti. Aaahh, bagaimana ini? Aku belum siap jika sekarang."
"Ayo keluar." Ucap Axelo membukakan Lily pintu. Lily menatap Axelo dengan mata memelas.
"Haruskah aku mengikutinya?" Gumam Lily dalam hati merasa ragu.
Sedangkan Axelo, terus menatap nya, karena tak beranjak juga, akhirnya Axelo mengangkat tubuh Lily dan menggendongnya.
"Mungkin saja dia benar-benar tak punya tenaga untuk berjalan. Apalagi dia tidak makan siang tadi. Aah, benar dia pasti kesulitan mengerakkan tubuhnya." Begitulah pikiran Axelo.
"Aaaarrrrrgggggg.... A-aku bisa berjalan sendiri. Aku tidak kan kabur! Turunkan aku."
"Benarkah?"
"Iya, iya. Jangan mengendongku. Aku akan jalan sendiri." Pekik Lily gusar. " Ini memalukan." Yang ini, tentu saja hanya ada dalam pikiran Lily sendiri.
Setelah Axelo menurunkan Lily, gadis itu berjalan cepat menuju ke restoran yang merangkap hotel itu. Axelo yang melihat tingkah Lily mengulas senyum geli nya. Lalu mengikuti langkah sang istri.
Begitu sampai di lobi, Lily hanya berdiam diri di depan resepsionis. Tentu saja dia menunggu sang suami. Dia terus memantapkan diri, menenangkan hati jika Axelo menginginkan dirinya sekarang. Tidak menggubris sang wanita resepsionis yang berbicara dengannya.
"Lily?"
Lily menoleh ke belakang, Axelo tampak bingung memandang dirinya berdiri di depan resepsionis hotel.
"Ngapain di situ?" Tanya Axelo menggerakkan kepalanya, sebagai isyarat Lily berada di jalur yang salah. Dan menunjuk kearah restoran.
"Loh? Bukankah harusnya kemari?" Gumam Lily dalam hati merasa bingung. Walaupun begitu, ia tetap melangkah mendekati Axelo. Lalu mengikuti sang suami yang melangkah begitu Lily sudah di sisi. Tangan Axelo menggenggam jemari Lily. Hanya agar gadis itu tak melayap kemana-mana dan tersesat.
__ADS_1
"Apa dia pikir aku akan kabur sampai menggandeng ku seperti ini? Apa ia pikir aku ini tahanan?" Lagi-lagi, Lily menanggapi dengan cara berbeda.
Lily tertegun saat Axelo membawanya masuk kedalam restoran mewah dan menarik kan kursi untuknya duduk.
"Kenapa kami kemari? Apa dia lapar?" Batin Lily. "Aahh, jangan bilang dia butuh tenaga untuk nanti malam. Ya Tuhan. Dia mau berapa ronde sebenarnya?" Lily bergedik sendiri dengan isi pikirannya.
"Makanlah yang banyak. Agar kamu punya tenaga." Ucap Axelo setelah ia duduk dan membuka buku menu.
"Tuh, benarkan." Gumam Lily. "Baiklah, aku akan memasan banyak makanan."
Setelah beberapa menit menunggu. Axelo memandang pesanan Lily di atas meja.
"Aku tidak tau kamu punya selera makan yang sangat bagus. Habiskan semua, jangan ada yang bersisa. Mubazir." Ucap Axelo mengambil sendok nya, lalu mulai nyuap.
Lily merasa cukup menyesal karena memesan begitu banyak. Sementara kapasitas perutnya tak menyukupi. Setelah perjuangan yang sangat panjang menghabiskan semua menu yang dia pesan. Lily tanpa sadar bersendawa. Mata Axelo sampai melebar karenanya.
"Umm, maaf, aku tak bisa menahannya." Ucap Lily tak enak hati.
"Nggak papa, aku suka. Kamu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Lagipula, suara sendawamu seperti suara musik rap. Bagus sekali."
"Benarkah?" Tanya Lily mulai lupa dengan pernyataan maaf dan tak enak hatinya tadi.
"UMM.."
"Kalau begitu, bolehkan aku bersendawa lagi? Ueeek, aku benar-benar tak bisa menahannya. Ueeekk... Hahaha..." Cetus Lily merasa lega dan terus bersendawa. Wajahnya terlihat sangat senang.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja." Ungkap Axelo yang juga merasa senang Lily kembali terlihat bersinar dengan tawa dan sendawanya.
Beberapa pengunjung restoran merasa tak nyaman dengan sendawa Lily, hanya bisa menggeleng pelan dan menutup mulut. Apalagi, Axelo justru memuji.
__ADS_1
"Benar-benar pasangan aneh. Untung ganteng dan cantik."