
Enam bulan yang lalu.
Malam itu, di pekatnya malam yang gelap. Suara Guntur benggelegar dan bersahutan. Di iringi kilatan yang cukup menyilaukan mata.
Tuan Douglas yang baru saja mendengar kabar kecelakaan cucu tercintanya, berlarian di lorong rumah sakit.
"Axelo! Kakek mohon, selamatlah, kematian ayah dan ibumu belum terkuak penyebab nya. Jangan sampai kau juga menyusul mereka. Kepada siapa harta kakek akan jatuh jika bukan padamu?" Gumam tuan Douglas berharap.
"Bagaimana keadaan Axelo, dokter." Tanya tuan Douglas begitu sudah menemui dokter dan perawat yang kebetulan berada tak jauh dari ruang operasi.
"Tenang tuan Douglas, tuan muda Axelo sedang dalam penanganan medis. Semoga tuan muda selamat." Ucap dokter itu menatap pintu ruang oprassi Axelo.
"Ayah!" Seru Camelia dari arah lorong mendekat. "Apa yang terjadi? Aku dengar Axelo kecelakaan?"
Tuan Douglas menatap anak ke dua nya, wanita itu selalu muncul dengan cepat setiap kali ada berita buruk terjadi. Seperti saat dulu ayah dan ibu Axelo mati keracunan. Camelia yang harusnya berada di luar kota secara ajaib bisa datang dengan sangat cepat. Meski begitu, Camelia memiliki alibi kuat, hingga kakek Douglas tak bisa menghukumnya.
"Uumm.. iya. Semoga saja Axelo baik-baik saja." Jawab Tuan Douglas lirih.
Selang setengah bulan lamanya, Axelo di nyatakan dalam keadaan koma. Tuan Douglas merasa sangat sedih, saat ini perusahaan sangat membutuhkan dirinya, membutuhkan Axelo sebagai pimpinan tertinggi. Meski sudah ada Elvan, namun, tuan Douglas tak bisa mempercayakan sepenuhnya pada suami dari Camelia itu.
Malam itu, tuan Douglas menunggui Axelo seorang diri. Duduk di kursi samping brangkar cucu kesayangannya terbaring. Dalam sedihnya, Tuan Douglas berjanji akan menghukum siapapun yang sudah membuat Axelo seperti ini.
Jari Axelo bergerak, mata Tuan Douglas terpusat di sana. Lalu gegas ia menekan tombol untuk memanggil dokter. Selang beberapa menit, dokter datang dan memeriksa Axelo.
"Ini perkembangan yang cukup bagus. Dalam satu Minggu akan ada kemungkinan pasien sadar." Jelas dokter.
"Syukurlah." Ucap tuan Douglas. " Tolong, untuk sementara ini, biarkan hanya kita yang tau. Aku tak ingin hal buruk terjadi padanya jika keadaan Exelo tersebar."
"Baik."
"Dan aku akan menambah beberapa orang untuk berjaga di depan pintu."
"Tidak masalah tuan."
Satu Minggu berlalu, kakek Douglas rutin mengunjungi Axelo. Raize sebagai orang yang di percaya Axelo pun selalu setia berada di ruangan itu. Sampai, tuan Douglas melihat sendiri cucunya membuka mata.
"Axelo!"
"Ka-kek..."
__ADS_1
Raize bergegas memanggil dokter.
Setelah serangkaian pemeriksaan di lakukan, dan perlahan, kedua mata Axelo terbuka. Dia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan dan berakhir dengan menatap kakek Douglas yang kini tampak senang. Dokter Yu pun tampak disana, dialah yang menangani Axelo selama ini.
“Axelo, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?”
"Ka-kek..."
“Syukurlah, kamu sudah kembali.”
“Ka-kek?” panggil Axelo sembari menarik napas dalam-dalam.
“Tenanglah! Kakek di sini, kamu aman nak—“
Tangan Axelo nahan Tuan Douglas yang bangkit dari duduknya. Axelo menggelengkan kepalanya dan menceritakan sebuah kenyataan.
“Kecelakaan itu adalah permainan mereka. Ada yang menyabotase mobilku, Kakek. Aku yakin ini semua ulah Elvan dan Camelia, hanya saja aku belum memiliki bukti yang kuat.”
"Axelo!"
"Apa kakek pikir aku berbohong?" Axelo menarik nafasnya dalam. "Aku akan membuktikannya kek, hanya, aku tak bisa melakukannya sendiri. Aku yakin mereka masih mengincar nyawaku."
Axelo melirik kakeknya.
"Raize menemukan Porche yang kamu kendarai sebelum dan sesudah kecelakaan berbeda."
"Benarkah?"
"Dan Axelo, jika kamu tau, kondisi mu saat ini dalam bahaya. Beberapa hari yang lalu, dokter Yu menangkap seorang yang menyelinap dan mencoba membunuhmu dengan suntikan."
Mulut Axelo membulat seketika, ketegangan jelas terlihat di wajahnya.
"Saat ini, yang terbaik adalah, tetap berpura-pura dalam kondisi vegetatif. Ingat Axelo, mereka masih mengincarmu. Jika benar dalang di balik semua ini adalah Elvan dan Camelia, kakek tidak akan pernah memaafkan mereka."
"Tapi kek, bagaimana aku bisa mengumpulkan bukti jika aku saja hanya terbaring di atas ranjang?"
Kakek Douglas tersenyum penuh arti, "tentu saja kakek punya rencana. Selagi kamu terbaring, jelas mereka akan lengah. Saat itu biar Raize dan kami yang bertindak. Kamu bisa menyelinap jika dalam kondisi darurat. Kita akan menempatkan dua orang penjaga yang bisa dipercaya. Tentu saja mereka pun tak boleh tau kondisi mu yang sebenarnya."
"Lalu, kita juga butuh seorang untuk jadi mata-mata. Tentu saja, mata-mata itu, haruslah datang dari mereka." Sambung kakek Douglas dengan tatapan licik.
__ADS_1
"Apa maksud kakek?"
"Jika nanti kamu dalam kondisi vegetatif dan dalam penjagaan ketat. Kakek sangat yakin, mereka pasti akan mengirimkan seseorang untuk berada di sampingmu." Ucap kakek mengungkapkan pemikirannya. "Jadi, kita atur seseorang agar mereka pilih untuk berada di sisimu."
"Jangan bilang kakek akan menikahkanku dengan wanita mata-mata itu."
Kakek Douglas tertawa lebar. "Itu rencana kakek."
***
Setelah mendengar Axelo dalam keadaan vegetatif, dan kini di pindahkan ke kamar di mansion utama, dengan penjagaan yang super ketat. Tentu saja, pihak Camelia jadi kelabakan. Semakin sulit untuk mencari celah untuk membunuh Axelo. Terlebih, ada kamera cctv di depan dan di dalam kamar Axelo.
Namun, Camelia tak menyerah untuk membunuh dan mengambil alih semua aset dan harta Axelo. Harta peninggalan ayah dan ibunya yang di wariskan pada sang anak tunggal. Bagi Camelia, harta itu haruslah menjadi miliknya karena merasa Douglas tak adil dalam membagi warisan.
Bagi Camelia yang selalu merasa iri dan dengki pada kakak nya. Yang tak lain adalah ibunda Axelo, yang hanya seorang anak haram dari gundik ayahnya, tuan Douglas. Namun, mendapat pembagian harta dari tuan Douglas.
Apalagi, ayah axelo adalah pria yang sangat di cintai oleh Camelia. Namun justru memilih kakaknya. Hingga memupuk subur kebencian di hati Camelia. Tentu saja, Elvan tak tau akan hal itu.
Mendengar penuturan dari sang ayah Tuan Douglas, bahwa seluruh harta Axelo akan jatuh ke sebuah panti asuhan tempat ibunya dulu pernah tinggal. Tentu saja itu membuat Camelia pusing, itu berarti, jikalau mati, tetap saja ia tak mendapatkan apapun. Tentu saja ia tak menginginkan hal itu.
"Ayah, kenapa semua harus ke panti itu? Kenapa tidak sebagian saja?"protes Camelia begitu mendengar di ruang keluarga.
"Itu sudah keputusan Axelo semasa hidupnya. Dia lajang, jadi wajar saja jika dia Ingin menyumbangkan hartanya ke sana."
"Apa? Bukankah Axelo memiliki pacar?"
"Pacar yang mana? Angelica maksudmu? Hahaha, dia bahkan sudah menjadi kekasih Russel sekarang."
"Ayah, kenapa dia tidak menikah saja?"
"Menikah? Kenapa dia harus menikah?"
"Tentu saja, harus ada seseorang yang mengurusnya, bukan?" Ucap Camelia mencoba memberi alasan."tidak mungkin akan menyerahkan semuanya pada Raize atau perawat. Kenapa tidak kita nikahkan saja dia dengan gadis baik-baik yang bersedia merawatnya?"
"Begitukah?" Kakek Douglas menautkan alisnya. Camelia ngangguk yakin.
"Baiklah, kita cari orangnya..."
"Biar aku saja, serahkan semua padaku."
__ADS_1
"Tapi, aku tak mau kau memilih seorang seperti Angelica!" Tegas Tuan Douglas tajam.