Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
Chapter 35


__ADS_3

Pagi ini Lily memutuskan untuk keluar dari kamar, tentu saja, setelah memastikan Axelo sudah berangkat kerja. Selama beberapa hari hanya mengurung diri, ia merasa sangat bosan. Berlama-lama terpuruk dan meratapi nasibnya tak mengubah apapun. Hanya saja, ia masih belum memiliki kepercayaan diri untuk bertatap muka dengan Axelo.


Sebelum sarapan, Lily berjalan mengelilingi mansion milik Axelo. Menyapa beberapa pelayan dan berakhir di taman yang berada tak jauh dari kamarnya dilantai atas.


"Waahh, pagi ini indah sekali, banyak bunga bermekaran rupanya." Gumam Lily menghirup udara taman yang asri. Seorang penjaga kebun tersenyum saat melihat Lily lagi.


"Nyonya." Sapa sang penjaga kebun."sudah lama sekali tak melihat nyonya."


"Aah, iya paman, bagaimana kabarmu?" Ujar Lily ramah.


"Sehat, seperti yang nyonya lihat."


Lily tersenyum pada paman menjaga kebun yang sedang memangkas beberapa tanaman itu.


"Lama tidak melihat, sepertinya sudah banyak bunga yang bermekaran, ya paman?"


"Benar, nyonya." Angguk paman berjenggot itu."Aahh, saya ingat nyonya sangat menyukai bunga. Apa nyonya mau satu? Akan saya petikkan satu."


"Bolehkah?" Sahut Lily tersenyum senang.


"Tentu saja, sebentar, nyonya." Ucap paman penjaga kebun itu, berjalan dan memilih bunga yang paling indah. Lalu memetiknya dan memberikannya pada Lily."silahkan, nyonya. Yang paling cantik. Seperti anda."


Mendengar ucapan tukang kebun itu, Lily tersenyum dan tersipu. "Terima kasih paman." Ucap Lily bahagia.


"Tuan." Sebut tukang kebun itu melihat kebelakang Lily. Mendengar tukang kebun itu menyebut tuan membuat Lily seketika menoleh. Mata gadis itu melebar dan bunga yang ia pegang pun jatuh.


"Axelo." Sebut Lily dalam hati. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang, tubunya juga lemas dan kaku seketika."Bukankah seharusnya ia berada di kantor?" Batin Lily lagi.


Pria tampan yang kini berada di hadapannya itu berjongkok mengambil bunga milik Lily yang jatuh. Lalu pria itu tersenyum pada Lily. Menyematkan bunga yang di pungutnya di atas telinga Lily.


"Cantik." Ucap Axelo memuji. Matanya sedikit melirik sang penjaga kebun, memberi isyarat agar pergi. Paman penjaga kerbun pun pergi setelah menunduk pada Axelo.


Lily merasa salah tingkah, tak tau harus berbuat apa, ia hanya menunduk. "Bu-bukankah kamu seharusnya di kantor?" Tanya Lily tanpa memandang suaminya.


"Ada yang tertinggal. Jadi aku balik lagi." Aku Axelo tersenyum melihat tingkah malu-malu Lily..


"Ka-kalau begitu, cepatlah ambil." Tukas Lily mengayunkan kakinya namun tertahan oleh genggaman tangan Axelo di lengannya. Membawa debaran tersendiri di dada gadis cantik itu.

__ADS_1


Axelo memposisikan Lily tepat di hadapannya. Memandang wanita yang menunduk semakin dalam. Axelo mengulas senyum, mengangkat wajah istrinya dengan jari, agar ia bisa melihat wajah itu lebih jelas. Hembusan nafas hangat Lily terasa sampai di tangan Axelo yang masih menyentuh dagu gadis itu.


"Yang mau ku ambil ada di sini." Ungkap Axelo semakin mencondongkan tubuhnya. Alih-alih menolak, Lily justru mematung dan memejamkan matanya. Nafas hangat Lily berirama cepat, secepat debaran di dadanya.


Axelo tersenyum melihat reaksi dari istrinya yang justru menutup mata, meski jelas terlihat gadis itu gugup. Bibir Axelo terhenti tepat di depan bibir Lily. Kepala pria itu lalu bergerak ke atas dan mengecup kening istrinya. Menghirup dalam aroma wangi di kening Lily.


"Aku pergi dulu. Baik-baiklah di rumah." Pesan Axelo membingkai wajah Lily. Lily masih belum berani membuka matanya dengan sempurna. Nafas Lily memburu oksigen yang terasa menipis di sekitar.


Sampai tangan Axelo tak lagi bertengger di wajahnya, Lily baru membuka matanya. Suaminya itu sudah berjalan beberapa langkah, lalu berbalik. Menatap Lily yang juga memandang dirinya.


"Jangan tidur sebelum aku kembali." Pesan Axelo lagi, sebelum dirinya melanjutkan langkahnya.


Lily menyentuh dadanya yang terasa berdebar sangat kencang, pandangan matanya tak lepas dari punggung Axelo yang menghilang di ujung bangunan.


Sementara itu, Camelia yang sedari tadi berdiri di balik pilar dekat taman menyungging senyum. Ia lalu berjalan ke arah Lily.


"Sepertinya, hubungan kalian cukup harmonis."


Lily tersentak kaget melihat Camelia tiba-tiba muncul. Bibi dari Exelo itu mengambil bunga yang bertengger diatas telinga Lily. "Dia bahkan menyematkan benda ini di telinga mu." Sinisnya.


"Kamu cepat tanggap juga. Siang ini, datanglah ke perusahaan."


"Untuk apa?"


"Kau akan tau nanti, tentu saja, kau akan dapatkan konsekuensinya jika tidak menurut. Kamu masih ingat, kan?" Camelia menegaskan lagi dominasi atas Lily. Ia sangat tau, Lily masih sangat trauma dengan apa yang dia alami. Dan Camelia menggunakan itu dengan sangat baik.


Beberapa jam kemudian, Lily berjalan di lorong perusaahan mengikuti instruksi dari Camelia. Lily berdiri di depan pintu ruang meeting. Lalu ia mengetuk pintu dan terdengar suara Camelia dari dalam. Gegas, Lily melangkah lebih dalam.


Suasana tegang semakin terasa, meski tuan Douglas dan Axelo terlihat datar, mereka terlihat sempat kaget saat melihat sosok yang kini berdiri di hadapan mereka, meski mereka bisa menguasai diri segera. Gadis cantik itu membisu tanpa kata dan lebih banyak menundukkan pandangan. Kini Lily tau telah terjebak dalam perangkap Camelia.


Camelia menyungging senyuman melihat reaksi keterkejutan di wajah Ayah dan kemenakannya. Walau hanya sekilas.


"Dia adalah salah satu orang ku. Apa kalian terkejut?" Ujar Camelia merasa menang. "Dia juga bagian dari kami. Di botol itu juga ada sidik jarinya."


"Benarkah?"


"Apa kamu merasa di hianati sekarang, Axelo?" Sinis Camelia dengan senyum mengejek. "Kau pasti sangat mencintainya sampai terbangun dari Vegetatif mu."

__ADS_1


"Tidak juga, karena dia yang membawa beberapa bukti itu padaku." Ujar Axelo menyilangkan kaki dan tersenyum. "Dia tidak sepenuhnya berhianat."


Wajah Camelia terlihat merah padam menahan marahnya. Lalu wanita itu tersenyum sekilas.


"Apa kamu pikir dia tulus padamu?" Tanya Camelia masih mencoba membuat Axelo membenci Lily dan lelaki itu merasa tak di cintai.


"Bibi bicara tentang ketulusan padaku? Memangnya bibi punya?" Sindir Axelo sarkas.


"Dia tidak benar-benar tulus padamu, dia tidak mencintai mu sama sekali. Asal kau tau, dia menikahimu karena hutang ayahnya. Dengan kata lain, dia hanya mengincar hartamu. Ini adalah surat perjanjian kami." Camelia mengulurkan surat perjanjian kontrak nya dengan Lily pada Axelo.


Axelo menatap dingin pada Camelia, dan juga pada Lily. Pria itu melihat isi perjanjian antara kedua wanita itu.


"Kenapa kau mengatakan semua ini padaku?"


"Hahaha, tentu saja karena aku kasihan padamu."


Axelo mengulas senyum. "Duduklah, kamu pasti capek terus berdiri seperti itu." Tegur Axelo pada istrinya. Lily tak bergerak. Hanya diam di tempatnya.


"Apa kamu punya salinan nya?" Tanya Axelo masih mencermati isi dari perjanjian itu.


"Tidak, kenapa?" Ucap Camelia mulai merasakan kekhawatirannya.


Axelo lalu berganti memandang Lily yang berdiri di depannya tanpa berani mengangkat kepala.


"Benarkah ini semua?" Tanya Axelo menatap tajam Lily.


Lily hanya bungkam tanpa suara.


"Aku bertanya padamu, apakah ini semua benar?" Tanya Axelo sekali lagi dengan suara yang lebih keras.


Lily sampai tersentak kaget mendengarnya. Rasa sesak menyeruak di dadanya. Hingga ia merasa sangat sulit untuk bernafas. Saat ini Lily bahkan tak ada niat untuk mengelak. Ia sangat tau posisinya. Jika ia berkelit dan membeberkan segalanya, pastilah Camelia tak akan tinggal diam. Kesucian Lily di pertaruhkan, bahkan mungkin ia akan mendapatkan hal yang lebih buruk.


Lily menarik nafas panjang. Mencoba menguatkan hatinya. Lalu mulai membuka mulutnya setelah dia berhasil mengangkat kepalanya. Menatap kakek Douglas, Camelia dan juga Axelo satu persatu.


Saat ini yang bisa ia lakukan adalah mengikuti apapun yang Camellia mau. Wanita jahat itu sudah memberinya petunjuk untuk mengaku dan mematahkan hati Axelo. Maka, itulah yang akan dia lakukan.


"Apa kamu suka dengan uangku?" Tanya Axelo lagi.

__ADS_1


__ADS_2