Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
chapter 54


__ADS_3

Lily membuka matanya, ruang remang dan berbau pengap. Kepalanya terasa sangat pusing, Lily terus mencoba mengumpulkan kesadarannya. Melihat lebih jelas meski sulit untuk melihat dalam ruangan yang minim pencahayaan itu. Lily menyadari gerak tubuhnya terbatas, merasakan ikatan yang kuat di tangan dan tubuhnya. Rasa cemas dan gelisah menghinggapi nya seketika, saat ingatan akan pertemuan dengan Russel.


Masih lekat dalam ingatannya, tentang pelecehan yang Russell lakukan padanya. Tubuh Lily menggigil seketika, matanya berkeliaran mencari pria yang sudah menculiknya kali ini. Lily takut, tapi, meski berteriak meminta tolong, tak akan ada yang datang karena ia yakin, Russel bukan pria bodoh yang menyekap tawanannya di tengah kota. Saat ini Lily hanya berharap, Axelo akan datang menolongnya.


Segaris cahaya terlihat menyinari ruangan yang perlahan melebar sebesar pintu. Pertanda, seseorang memasuki ruang remang itu. Lily menajamkan penglihatan, sosok yang tampak gelap karena membelakangi cahaya itu perlahan terlihat setelah melangkah semakin dekat.


"Waahh, putri tidur sudah bangun rupanya, tanpa menunggu sang pangeran datang memberi kecupan."


Reflek akan traumanya kembali menjalar, mendengar suara pria yang pernah melecehkannya itu. Senyum sinis Russell tampak sangat menikmati wajah ketakutan Lily.


"Kenapa wajahmu begitu? Apa kau tak merindukanku, Lily sayang?" Seringai Russell mencondongkan tubuhnya ke arah Lily.


"Apa kamu bahagia? Apa kamu senang? Bagaimana rasanya Axelo? Apa kau sudah cukup menikmati nya? Kita bahkan belum merasakan satu sama lain. Bagaimana jika kita coba sebelum pangeranmu datang? Pasti menyenangkan jika dia melihatmu di bawah tubuhku."


Ucapan dan seringai di wajah Russell menambah rasa takut di dalam diri Lily. Tubuh itu bahkan masih gemetar dan berkeringat dingin.


***


"Shitt!!"


Axelo terus mengumpat dan menendang beberapa barang di sekitarnya. Entah kursi atau pun barang lainnya, hingga ruangan itu tampak sangat kacau sekacau dirinya. Axelo telah mengerahkan semua orangnya, untuk mencari keberadaan Lily. Axelo bahkan menggunakan hacker untuk menjebol semua akses yang memudahkan melacak jejak Russel. Akan tetapi hingga 8 jam setelah penculikan Lily masih belum juga membuahkan hasil.


Hal yang paling Axelo takutkan jika Lily harus mengulang kembali trauma yang belum sepenuhnya hilang. Pria tampan itu terus mengacak rambutnya. Hanya bisa diam saat sang istri mungkiin sudah mendapatkan tekanan dari Russell sangat menyiksa Axelo.


"Tuan, kami sudah mendapatkan titik keberadaan Russel." Ucap salah satu hacker nya.


"Dimana?" Dengan cepat Axelo mendekati sang hacker. Melihat ke arah layar yang menampilkan suatu lokasi gudang di pinggiran kota dekat sebuah pantai.

__ADS_1


"Kirim pencari ke arah sana!" Seru Axelo bergegas untuk mendatangi lokasi kemungkinan Lily di sekap."Raize! Bawa beberapa orang kita. Tutup semua jalur yang memungkinkan untuk kabur. Dan bawa persenjataan, akan ku habisi dia jika menyentuh Lily-ku terlalu jauh." Geram Axelo mengeretakkan giginya, hingga tampak deretan putih di mulutnya.


***


"Ck!"


Russell memukul keras wajah Lily hingga sedikit limbung. Rambut panjang Lily tampak sangat berantakan menutupi wajahnya. Cairan merah keluar dari sela-sela bibir Russel, dengan wajah yang mengeras, Russell mengusap cairan merah itu.


"Shiitt! Beraninya kau menggigit lidahku! Istri Axelo memang berbeda, wajar jika aku tergoda, kan?" Russell menyeringai mencapit pipi Lily diantara telunjuk dan jempolnya. Membuat wajah Lily melihat ke arahnya.


"Kakek Douglas dari dulu selalu pilih kasih, selalu berpihak pada anak gundik itu. Sedikitpun tak pernah menyayangiku. Bagi pria tua itu pastilah hanya Axelo cucunya. Kau tau kenapa aku selalu menginginkan mainan nya? Karena apapun yang dia miliki selalu terlihat menarik, seperti dirimu." Oceh Russel kembali mendaratkan bibirnya di leher Lily. Beberapa menyesap dan menimbulkan rasa sakit karena bertindak terlalu kasar.


Russell bahkan merobek baju bagian depan Lily. Menampakkan lagi hal yang pernah di lihat dan dinikmati beberapa bulan yang lalu. "Bagaimana? Kau lebih suka permainan ku atau Axelo?" Gumam Russel menyusuri tubuh istri sepupunya itu.


Tubuh Lily gemetar, ia masih belum sanggup mengatasi traumanya. Tanpa bisa melawan dan berkata. Semua terasa kaku dan kelu.


Sekali lagi, Lily mendapatkan tamparan di wajahnya. Tubuh Lily terpelanting, wanita cantik yang sudah tampak berantakan itu tak dapat melawan dengan tangan dan tubuh yang terikat.


Russell terus terbakar emosi, begitu mendengar nama Axelo keluar dari mulut Lily. Pria itu berjalan mendekat dan menarik penutup dada Lily hingga menapakkan pucuk kemerahan. Dengan rakus Russel menggulumnya, Lily menangis hingga bahunya berguncang. Untuk kedua kalinya, Lily mendapat pelecehan dari orang yang sama. Hanya, kali ini ia tidak mengumpat, hanya diam dalam ketidakberdayaannya. Sampai suara dari HT milik Russell menghentikan aksi bejat pria itu.


Russell meninggalkan Lily tergeletak begitu saja. Russell berjalan keluar dari gudang untuk menerima pesan dari HT nya.


"Apa? Orang dalam foto sudah masuk ke titik yang kamu pantau?"


Russell mendengarkan dengan seksama lalu menyeringai. "Baiklah, sisa uangnya terkubur di bawah pohon ek dekat jembatan yang kamu pantau."


Russell masuk kembali ke dalam gudang, pria itu melempar begitu saja HT ke sembarang arah. Lalu mendekat ke arah Lily, "pangeranmu sudah dalam perjalanan kemari. Sayangnya, aku belum mencoba tubuhmu lebih jauh. Berbahagia lah, sebentar lagi kamu akan melihat seberapa besar cintanya padamu. Jika dia lebih menyayangi diri nya sendiri, kamu tak perlu khawatir, aku akan bersedia menampungmu." Bisik Russell tepat di telinga Lily.

__ADS_1


Russell mengikat kaki Lily, tanpa membenahi pakaian Lily yang berantakan. Setidaknya, Russell memasang kembali penutup dada Lily. Seusai memastikan ikatan tali di kaki Lily terikat kuat, pria itu segera menggendong tubuh Lily. Membawa gadis itu ke atap gudang menunggu dan memantau kedatangan Axelo dari sana.


"Aku tau, hidupku akan berakhir dari sini. Begitupun dengan hidup suamimu. Jika dia mati, jangan terlalu bersedih, aku akan merawatmu dalam pelarian. Jika tidak mari kita mati bersama-sama. Agar kakek tua itu tak memiliki keturunan. Hahahaha... Membayangkannya saja aku senang." Ucap Russell meracau, meski tertawa, namun wajah Russell terlihat sedih.


"Bertobatlah Russel, kenapa ingin menyakiti saudaramu sendiri?" Lily akhirnya dapat berkata. Walau ia sangat ketakutan dan benci pada Russell, tapi, Lily dapat melihat Russell pria yang kesepian. Karena rasa dengkinya pada Axelo, dan merasa tak mendapat kasih sayang dari kakek Douglas.


"Kami hanya terikat darah, aku akan memutuskannya." Russell menyeringai, memeluk tubuh Lily,"sebelum itu, aku mau dia melihat bagaimana aku menikmati tubuh ini."


Russell lagi-lagi menjamah tubuh Lily, meremmaaas dada istri dari Axelo itu. Tak hanya itu, Russel bahkan melummat habis bibir Lily. Suara deru mobil yang beriringan dan berhenti, di susul suara Axelo menghentikan aksi Russel.


Axelo tak dapat bertidak karena melihat sepupunya itu sudah menempelkan mulut pistol di kepala Lily.


"Hay, pria tampan? Kenapa terburu-buru datang? Aku bahkan belum tuntas menikmati tubuh ini." Ujar Russel provokatif.


Axelo menggeram garang, melihat Lily dalam pelukan Russel dan pria itu menodongkan pistol tepat di kepala Lily, membuat gerak Axelo terhambat. Satu langkah yang salah, maka nyawa Lily taruhannya.


"Kenapa kau melibatkan Lily? Dia tak ada hubungannya dengan urusan kita! Ayo selesaikan ini dengan cara jantan!" Seru Axelo bernegosiasi.


"Oohh, benarkah? Mari kita lihat, siapa jantan di sini? Aku hanya memiliki satu Sandra, dan kau membawa satu kompi pasukan bersenjata." Sarkas Russel."Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"


Russell melepaskan tubuh Lily hingga limbung dan jatuh dari atap, namun tampak menggantung di ujung platform, dengan kepala yang siap menghujam tanah berlapis aspal. Wajah Axelo sudah sangat panik ia berlari namun segera berhenti ketika satu tembakan ditepat di depan langkah kakinya. Dengan segera Axelo mengangkat pistolnya mengarah pada Russell.


Tembak aku jika kau ingin kepala istrimu pecah!" Ucap Russel yang menahan tali pengikat yang tersambung di tubuh Lily dengan kakinya.


Gigi Axelo beradu, wajah pria itu mengeras seketika. Tak memiliki pilihan saat nyawa sang istri menjadi taruhan.


"Apa mau mu, Russell?"

__ADS_1


Russell menyeringai, "Mau ku? Tembak kepalamu!"


__ADS_2