Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
Chapter 56


__ADS_3

"Keluarga Nyonya Lilyana whites."


Axelo segera berlari mendekat, dengan tatapan penuh harap untuk istrinya baik-baik saja. "Saya suaminya."


"Pasien tidak mengalami luka dalam, Tuan. Beberapa luka luar pasien juga sudah ditangani. Kami juga melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada pasien dan semua organ normal tanpa gangguan," terang dokter.


"Syukurlah! Itu artinya, Istriku baik-baik saja, kan, dok?"


Dokter mengangguk sembari mengulas senyum. "Benar, Tuan. Dan dari hasil pemeriksaan ... kami menemukan sesuatu," ungkap sang dokter.


"M-menemukan apa?"


"Ada janin di rahim pasien, Tuan. Pasien tengah mengandung," ujar dokter membuat Axelo terdiam seketika.


"A-apa?"


"Pasien hamil, Tuan!"


axelo diam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kabar mengejutkan ini setelah dibuat geger oleh Russel.


"Dan kami melihat ada tiga janin yang tumbuh. Pasien tengah mengandung anak kembar, bukan dua, tapi tiga. Tuan!" cetus dokter. "Selamat ya, anda pasti sangat senang."


Axelo makin bungkam. Ribuan kembang api tiba-tiba meletup di sekitar pria yang akan menjadi seorang ayah itu.


"Istriku ... hamil kembar tiga? Apa aku sedang bermimpi?"


Sang dokter terkekeh mendengar pertanyaan konyol Axelo. "Tentu saja tidak, tuan. Saya bisa membantu menapar wajah anda. Ohohoho, saya bercanda, mana mungkin saya berani."


"Pokoknya, saya mengucapkan Selamat, Tuan!" Sang dokter terkejut karena tiba-tiba di peluk oleh Axelo yang jelas terlihat bahagia itu.


"Kondisi ibu dan janinnya sangat sehat. Tolong diperhatikan lagi keadaan pasien agar luka seperti ini tidak terulang kembali, terlebih disaat pasien tengah mengandung," jelas dokter setelah yuforia kebahagiaan Axelo memeluknya usai.


Manik mata Axelo pun mulai basah. Setelah mendapatkan musibah yang membuat dirinya resah, pria itu kini mendapatkan hikmah indah.


"Boleh aku melihat istriku?" tanya Axelo tak sabar ingin melihat istrinya dan calon buah hati mereka.


"Pasien tengah beristirahat saat ini, Tuan. Mohon untuk membatasi waktu berkunjung!" pesan dokter.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Axelo langsung berlari menuju ke ruangan sang istri dan melihat kondisi Lily yang masih memejamkan mata. Rasanya sakit sekali melihat istrinya masih terbaring di ranjang pasien dengan wajah pucat.


"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" gumam Axelo sembari mengusap lembut rambut sang istri.


Pria itu duduk di samping ranjang Lily dan menggenggam erat tangan sang istri. "Tolong bangun, Lily! Aku membawa berita gembira untuk kita!" pinta Axelo dengan wajah memelas. Tiba-tiba saja ia teringat akan ucapan Lily sebelum wanita itu tak sadarkan diri.


("Aku tak mau ayah dari anakku menjadi seorang pembunuh.")


Axelo tertawa penuh syukur, merasa apa yang di ucapkan Lily adalaah pertanda. "Apa kau sudah tau dan tidak memberitahu ku? Sayang."


***


Axelo masih harus menunggu sampai kondisi Lily stabil. Sampai beberapa jam ke depan, wanita itu belum juga membuka mata dan masih dijaga dengan setia oleh sang suami tercinta.


Hingga malam tiba, akhirnya Lily pun sadar dan membuka mata lebar-lebar di ruangan yang penuh dengan aroma obat itu. Bola mata wanita itu mulai mengarah ke sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini.


"Ini ... rumah sakit?" gumam Lily lemah.


Tiba-tiba ruangan Lily pun terbuka dan Axelo muncul dari balik pintu. Pria itu langsung menghampirinya Lily yang akhirnya terbangun dari tidur panjang.


"Lily, istriku, kamu sudah bangun?" tanya Axelo pada Lily.


"Benar. Sekarang kamu ada di rumah sakit. Kamu sudah aman. Russell tidak akan lagi mengganggu kita," ujar Axelo.


"Appa yang terjadi dengannya? Kamu tidak membunuhnya kan?"


"Kenapa kamu mengkhawatirkan nya? Kamu tidak jatuh cinta padanya kan?"


Lily mengukir senyum, "bodoh, aku sudah memiliki mu, kenapa aku jatuh cinta pada pria seperti Russel, kalian bagai langit dan bumi."


Axelo tertawa lega sekaligus geli mendengar ucapan istrinya. Pria itu memeluk sang istri dengan erat diiringi tangis haru. "Syukurlah, aku senang kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Lily?" cetus Axelo.


"Sebelumnya kamu hidup tanpa ku, Axelo."


"Iya, dan aku tidak bergerak saat itu. Lihat aku sekarang bersamamu."


Lily membalas pelukan sang suami sembari menepuk-nepuk lembut punggung Axelo. "Aku mencintaimu, Axelo, aku tidak akan ke mana-mana. Terima kasih banyak, kamu sudah menjagaku dengan baik!" ucap Lily.

__ADS_1


"Maafkan aku! Ini semua terjadi karena aku! Aku yang tidak becus menjagamu. Aku yang sudah melibatkanmu pada hubunganku yang buruk dengan Russel," ujar Axelo penuh sesal.


Pria itu tak akan melupakan setiap detik rasa takut dan cemas yang ia alami karena ulah Russel. Axelo tidak akan lupa begitu saja pada peristiwa yang hampir saja membuat dirinya kehilangan Lily.


"Aku akan menjagamu lebih baik lagi, Sayang! Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi," cetus Axelo.


"Aku tahu. Kamu pasti bisa menjagaku dengan baik," sahut Lily dengan senyum manis.


"Aku akan menjagamu dan anak-anak kita dengan baik!"


"Anak?" tanya Lily dengan dahi berkerut. Lily merasa sedikit bersalah pada suaminya. Mungkin saja Axelo menganggap serius ucapannya saat membujuk Axelo waktu itu, hanyalah agar suaminya itu tidak bertindak berlebihan. Lily hanya tak ingin melihat suaminya menciptakan darah dari saudaranya sendiri.


"Axelo, sebenarnya... Apa yang aku katakan waktu itu, tidak sungguh-sungguh." Ucap Lily menyesali, "aku tidak sedang hamil atau semacamnya."


"Siapa yang bilang?"Axelo tersenyum kecil melihat wajah tak enak Lily yang membuatnya sangat gemas."Anaknya sudah ada dalam perutmu, Sayang!" ungkap Axelo menyentuh lembut perut Lily yang tampak bingung.


Lily terdiam dan mencoba mencerna baik-baik maksud dari suaminya. "Anak apa yang ada dalam perutku?" tanya Lily bingung.


Axelo mengulas senyum tipis. "Kamu hamil, Sayang!" ujar Axelo menyampaikan hal menggembirakan ini pada sang istri."Kamu benar-benar hamil."


"H-hamil? Maksudnya, hamil anak manusia? Anak kita?"


Axelo mengangguk dan menertawai pertanyaan konyol Lily. Axelo kembali memeluk sang istri. "Kamu hamil. Bukan cuma satu, tapi tiga. Ada tiga malaikat kecil dalam perutmu!" jelas Axelo membuat Lily mendadak berurai air mata.


"Aku hamil? Aku akan menjadi seorang ibu?"


"Selamat, Sayang! Kamu akan menjadi seorang ibu!" cetus Axelo dengan penuh sukacita."Dan aku akan menjadi seorang ayah."


Lengkap sudah kebahagiaan pasangan suami istri itu. Setelah menghadapi hari yang berat karena Russel, akhirnya pasangan suami istri itu mendapatkan pelangi setelah badai.


"Selamat, Lily! Keluarga kecil kita sekarang sudah lengkap! Akan ada bayi kecil yang akan menyempurnakan istana kita!"


"Selamat juga, Axelo! Kamu juga akan menjadi ayah. Kita akan menjadi orang tua," ucap Lily dengan tangis haru.


Pasangan suami istri saling berpelukan erat menyambut hadirnya malaikat kecil yang sudah mereka tunggu-tunggu. Tak hanya itu, Lily juga sudah terlepas dari gangguan keluarga Summer. Lukas, Bella, ataupun Clarisa. Dan kini ia juga berhasil melepaskan diri dari Russel yang mendapatkan hukuman ekstra atas perbuatannya pada Lily.


Akhirnya, pasangan suami istri dapat mencapai kebahagiaan sempurna. "Sehat-sehat ya, Nak! Kami menunggu kedatangan kamu!" ucap Axelo mengecup perut sang istri dan beralih mengecupi kening sang istri bertubi-tubi.

__ADS_1


-end-


__ADS_2