
Axelo melihat tingkah Lily dari pantulan di pintu lift. Axelo menggulum bibirnya menahan diri agar tidak tersenyum. Tapi, tingkah Lily sungguh membuatnya gemas. Hingga pintu lift terbuka, Lily merasa lega, akhirnya, tak hanya mereka berdua lagi yang berada di dalam lift.
Beberapa karyawan tampak tertegun melihat Lily dan Axelo di dalam lift. Axelo menatap mereka dengan tajam dan mengibaskan tangan mengusir. Tentu saja para karyawan Axelo mengerti isyarat itu. Dan mengurungkan niat untuk masuk kedalam lift yang sama dengan sang bos.
Lily yang menunduk itu terperangah melihat pintu menutup lagi padahal tak ada yang masuk kedalam lift. Hanya ada Lily dan Axelo di sana, lagi. Lily menoleh melihat suaminya.
"Apa?" Tanya Axelo datar tanpa menoleh pada Lily.
"Kenapa tidak ada yang masuk?" Tanya Lily dengan gumaman.
"Kamu mau ada yang masuk?" Kali ini, barulah Axelo menoleh pada sang istri.
"A-apa?" Tangannya Lily tertarik menyentuh dadanya sendiri. Mata Lily menatap manik mata Axelo yang mencondongkan tubuh ke arahnya. Secara reflek kaki Lily melangkah mundur, hingga gadis itu terpentok di tembok lift."a-apa yang akan kamu lakukan?"
"Masa tidak tau?" Axelo balik bertanya sembari terus mendekat dan mencondongkan tubuh ke arah Lily.
Jantung Lily berdetak semakin kencang, nafasnya juga semakin memburu. Pikiran Lily mulai menjelajah ke alam terkotornya. Mendapati wajah tampan suaminya yang terus mendekat, Lily menutup matanya dengan gugup. Menanti-nanti apa yang akan Axelo lakukan, mungkin sesuai dengan pikiran kotornya. Bibir Lily sedikit terbuka, namun apa yang di nanti tak juga menyergapnya. Hingga terdengar suara Axelo di seberang sana.
"Lily?"
Lily membuka matanya, masih dengan nafas yang sedikit tersengal. Tampak Axelo berdiri di luar lift dengan tangan yang menahan pintu otomatis nya agar tetap terbuka.
"Pintu liftnya sudah terbuka, kenapa masih berdiri di sana?"
Melihat wajah datar Axelo membuat Lily malu seketika. "Pikiran kotor apa ini di otakku? Haruskah aku mencucinya?" Gumam Lily dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu berjalan dengan wajah yang bak kepiting rebus. Melewati Exelo tanpa berani melirik padanya. Sementara Axelo hanya tersenyum geli dengan tingkah Lily. Tentu saja beberapa saat yang lalu, Axelo hanya bermaksud menggoda istrinya yang malu-malu kucing itu.
Di dalam mobil yang melaju, hanya ada keheningan. Axelo fokus menyetir, dan Lily melihat keluar jendela. Lily masih merasa sangat malu karena merasa terlalu ge-er. Berpikir Axelo akan menciumnya. Setiap mengingatnya Lily jadi kesal sendiri.
Lily memandang sebuah toko ekslusif dimana Axelo memarkirkan mobilnya. Lalu ia memandang Axelo dengan tanya.
"Kamu bilang, kamu suka dengan uangku, kan?" Tanya Axelo mengambangkan tangannya ke arah Lily."Ayo, habiskan uangku di sini."
Lily melongo, "dia ini tidak waras atau bagaimana?" Gumam Lily dalam hati.
Melihat Lily hanya melongo dan tak bergerak sedikitpun. Apalagi menyambut tangan yang menengadah meminta di genggaman itu, Axelo memutuskan untuk menarik tangan istrinya. Menggenggam tangan itu dan masuk kedalam.
Sementara itu, di axel.corp
Tuan Douglas menatap tajam anak dan menantunya.
"Tidak perlu ayah, sejak dulu ayah memang tak pernah adil. Jika ayah memang ingin memenjarakan putrimu ini, lakukan saja." Tukas Camellia dengan tetap mengangkat wajahnya. Walau hatinya merasa gelisah, namun keangkuhan tetap Camellia tunjukkan.
Tuan Douglas menghela nafas, "seberapa aku mencoba adil, mencoba melebihkan mu, pandanganmu sudah tertutup dengki hingga tak bisa melihat seberapa besar pemberianku padamu dan keluarga kecilmu." Ujar tuan Douglas, "jatah warisan ku untuk mu lebih besar dari kakakmu, Daisy. Tapi, kamu terlalu banyak berfoya-foya hingga lupa bagaimana mengembangkannya. Berbeda dengan Daisy dan suaminya. Yang lalu di wariskan pada Axelo."
"Daisy bukan kakakku! Dia adalah anak dari seorang gundik!" Sergah Camelia mulai menampakkan emosinya. Kakak yang juga dia anggap telah merebut pria yang Camelia cintai.
"Dia anak ku juga, Camellia!"
"Dia lahir dari pernikahan yang tidak sah!" Tukas Camelia dengan nyalang dan bernada semakin tinggi.
__ADS_1
"Oleh karena itu, dia dapat pembagian yang lebih kecil. Dan kau seharusnya malu! Dia bisa mengembangkan bagian yang kecil itu menjadi sebesar ini! Menyaingi bisnis ayahnya!"
"Seharusnya ayah tidak memberi sepeserpun." Kilah Camelia masih tak mau di salahkan dan beranggapan Tuan Douglas terlalu memberi banyak.
"Cukup! Cukup Camellia!" Sentak tuan Douglas dengan nada yang lebih tinggi hingga membuat Camelia bungkam. Mata tuan Douglas mendelik tajam pada anaknya."Apapun yang ayah katakan tidak akan masuk padamu! Kau sudah di liputi oleh dengki!"
"Keputusanku sudah bulat, Ayah serahkan semua pada kepolisian. Kalian harus membayar atas semua perbuatan kalian. Mengenai Russell, aku akan tetap memberikan hak nya setelah ia selesai menjalani masa pengasingannya dan menyadari perbuatan salahnya."
Camellia merasa sangat tak puas dan membuang muka. Ia terlanjur sakit hati oleh sikap ayahnya.
"Aiden!" Panggil tuan Douglas pada asistennya.
Pria yang di panggil Aiden memasuki ruangan dengan membungkuk hormat.
"Kirim nyonya Camelia dan tuan Elvan ke tempat yang semestinya, berikut dengan semua barang bukti." Perintah tuan Douglas tanpa bisa di bantah.
"Baik!" Ucap Aiden patuh, lalu menatap Camelia dan Elvan yang masih terduduk di kursinya."Mari, tuan dan nyonya."
"Tidak perlu memperlakukan ku seperti tahanan, aku bisa jalan sendiri." Tukas Camelia berdiri dan berjalan dengan kepala yang tegak, meskipun hati nya hancur oleh sang ayah yang dia anggap tak adil.
Kembali ke Lily dan Axelo yang berada di sebuah toko ekslusif. Begitu masuk mereka langsung di sambut oleh seluruh karyawan yang berbaris dan membungkuk rapi.
"Layani dia, berikan semua yang terbaik. Tas, baju, sepatu, make up, perhiasan, dan pelayanan terbaik kalian." Perintah Axelo begitu tegas, pria itu mendorong lembut tubuh Lily agar mengikuti kepala manager yang mengganguk dan tersenyum ramah.
"Aku tunggu di sini. Habiskan uang ku dengan benar. Jika tidak, kamu akan rugi besar."
__ADS_1
"Apa? Kenapa?"
"Karena aku akan mengambil sangat banyak malam ini. Dan beberapa malam selanjutnya." Bisik Axelo tepat di belakang telinga Lily, membuat mata gadis itu melebar sempurna.