
Di kediaman Axelo, setelah mereka pulang dari makan malam. Lily langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dan Axelo yang sudah menganti baju dengan piyama, duduk di atas ranjang dan bersandar pada kepala ranjang. Mengecek beberapa pergerakan saham dan laporan dari Raize. Kepala Axelo terangkat melongok ke arah kamar mandi, karena merasa Lily terlalu lama di dalam sana. Hatinya bertanya-tanya ada apa.
Axelo menuruni ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi. Mengetuk pintu yang tak bergeming itu.
"Lily? Kamu baik-baik saja?"
Terdengar suara deheman pelan dari dalam. Merasa Lily baik-baik saja, Axelo kembali duduk di atas ranjang. Melanjutkan lagi pekerjaannya. Tanpa terasa sudah lebih dari satu jam berlalu. Axelo merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal. Ia melongok lagi ke arah kamar mandi. Mengecek arloji di tangannya. Axelo merasa janggal, dan timbul rasa curiga di hati pria itu. Axelo mengambil gawainya, sadar jika tak ada cctv di kamar mandi. Axelo mencoba mencari petunjuk di cctv yang terpasang di kamarnya. Menelusuri semua yang Lily lakukan di kamar.
Raut wajah Axelo berubah, saat melihat Lily beberapa kali terlihat termenung. Lalu melihat istrinya itu duduk di depan meja rias. Mengambil handuk tangan dan menggosok kulit beberapa kali. Melihat itu, ingatan Axelo terlempar pada beberapa waktu lalu saat pertama kali nya ia mendengar Lily menangis hampir satu jam lama. Di malam berikutnya, Axelo melihat beberapa goresan benda kasar di tubuh istrinya itu.
Seketika, raut wajah Axelo berubah tegang, dan panik. Sangat berharap apa yang ada di pikirannya salah. Axelo melempar gawai nya di atas ranjang. Lalu bergegas mendekati pintu kamar mandi. Mengetuk dengan sangat tidak sabar dan berseru.
"Buka! Buka!"
Axelo mengetuk dengan sangat tak sabar.
"Lily! Aku mau pipis." Ucap Axelo lagi, mencari alasan untuk bisa segera melihat Lily yang berada dibalik pintu yang menyekat kedua nya.
"Uummm ya, sebentar." Suara Lily terdengar lirih dan lemah. Tak lama, pintu di buka. Wajah Axelo yang terlihat cemas dan tegang langsung Lily dapatkan.
"Kenapa wajahmu begitu?" Tanya wanita yang menggerai rambutnya yang setengah lembab itu. Lily mengenakan bathrobe dan handuk yang melingkar di leher.
Tangan Axelo terangkat dan menarik cepat handuk yang menutupi leher Lily.
"A-apa yang kamu lakukan?" Pekik Lily memprotes. Di sana tampak goresan tipis benda kasar yang memerah. Sadar kemana arah pandangan Axelo, Lily bergegas menutup leher dan menarik pinggiran bathrobe di dadanya. Lalu berjalan melewati Axelo.
__ADS_1
Axelo menarik lengan Lily, dan menyentuh goresan dan kulit Lily yang memerah. Lily memalingkan wajahnya, mata Lily sudah berkaca.
"Ini pasti sakit."
"Aku hanya membersihkan tubuhku yang kotor." Jawab Lily dengan suara serak.
Axelo menelah kasar ludahnya. Rasa sakit dan kesal terus berdesak keluar. Ia sangat marah pada dirinya sendiri. Kenapa membiarkan Russel menyentuhnya. Menyentuh wanita yang sebenarnya sangat rapuh namun, berpura-pura kuat.
"Kamu hanya menyakiti diri mu sendiri dengan menambah luka di sana. Aku bisa membantumu membersihkan." Kata Axelo menekan semua sesak di dada yang terasa menyekat tenggorokan.
Axelo menarik tangan Lily, lalu menuntunnya ke peraduan. Menekan bahu dengan lembut agar Lily duduk di bibir ranjang.
"Biar aku bersihkan. Menggunakan handuk kasar, tidak akan membuatnya bersih dengan sempurna."
Mata Lily sedikit melebar, "bagaimana Axelo bisa tau aku menggunakan handuk kasar?" Gumam Lily dalam hati.
"Aku suamimu, Lily. Percayalah padaku. Aku tidak akan melukaimu. Aku harus melihat seberapa jauh lukamu."
Lily bergeming, masih dengan tatapan mata yang tidak terima pada suami nya yang kini berjongkok di hadapannya.
"Kau tidak percaya padaku?" Tatapan mata Axelo yang begitu lembut dan penuh kasih menatap lekat manik mata Lily."Aku akan membersihkan nya, sangat bersih sampai kamu tak merasa kotor lagi. Percayalah padaku."
Lily masih tak bergeming,
"Kalau begitu, aku akan membersihkan bagian ini lebih dulu. Boleh?" Tanya Axelo selembut mungkin. Meski hatinya sangat sakit karena Lily benar-benar rapuh dan harus ia jaga. Wanita yang ia pikir sangat tangguh dan bisa mengatasi masalahnya. Ternyata serapuh ini saat mengalami pelecehan.
__ADS_1
Axelo mengambil selembar tissue basah, lalu mengusap lembut di bagian goresan luka tipis di leher Lily. Lalu mengeringkannya dengan tissue. Axelo menatap manik mata Lily, lalu tersenyum kecil.
Wajah pria itu mendekat, mengecup ringan luka di leher Lily. Dan perlahan menyesap dengan lembut agar tak menyakiti luka itu. Axelo sedikit membuat jarak, menatap lagi manik mata Lily yang berair. Lalu tersenyum lembut.
"Sudah bersih, aku... Akan membersihkan yang lainnya." Ungkap Axelo lagi. Pria itu mengecup ringan setiap luka gores di leher dan dada atas Lily tanpa menyibak bathrobenya. Axelo membuat jarak lagi, menatap wajah wanita yang sebentar lagi mungkin akan menangis. Tubuh Lily sudah berguncang pelan, kristal bening itu meluncur juga. Dengan jempolnya, Axelo mengusap pipi Lily yang basah.
"Biarkan aku membersihkan bagian yang lain." Cetus Axelo terus menatap intens Lily."Boleh? Kamu percaya pada ku, kan?"
Lily mengangguk samar di tengah tangis nya. Axelo berada dalam tingkat emosional yang cukup tinggi saat ini. Merasa marah, juga bersedih untuk Lily. Hatinya serasa remuk oleh Lily yang kini membiarkan sang suami mulai membuka bathrobe nya. Menyibak hingga terlihat tubuh polos Lily. Tubuh gadis itu berguncang, Axelo sangat terkejut melihat begitu banyak goresan kemerahan karena di gosok sangat kuat. Terlebih di bagian ujung dada Lily.
Hati Axelo semakin terenyuh dan tertekan sangat kuat melihat pemandangan itu. Tubuh Lily juga tak henti berguncang. Bahkan isakan kecil kini terdengar dari gadis yang menunduk sangat dalam. Axelo mengatur nafas, mencoba menetralkan kembali hatinya yang kacau dan kalut.
Perlahan tangan Axelo mengusap pipi basah sang istri. Lalu mendekatkan bibirnya pada kulit Lily yang kemerahan. Mengecup dan memberi sesapan kecil agar Lily tak merasakan sakit. Begitu seterusnya sampai menyisakan satu bagian yang paling merah. Pucuk yang bagai ceri merah yang lecet itu, membuat Axelo menelan ludahnya. Sebenarnya jelas Axelo tak akan tega jika harus menggulumnya. Namun, harus ia lakukan untuk membuat Lily merasa lebih baik dan tak kotor. Axelo menarik nafasnya panjang. Lalu mulai menggulum pucuk kemerahan milik Lily.
Tubuh Lily berguncang hebat saat Axelo melakukan, "dia... Dia menggigitnya." Tangis Lily dengan suara parau.
Axelo menggigit ringan, tanpa memberi rasa sakit.
"Dia menghisapnya sangat kuat..."
Axelo melakukan hal yang sama, namun dengan sedikit lembut. Suara tangisan Lily menyayat hati kecilnya.
"Dia bermain dengan lidahnya. Tangannya juga..."
Tangan Axelo terangkat dan menyentuh dada Lily yang terbuka. Bermain dengan benda kemerahan dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Sudah bersih. Sangat bersih, hanya tinggal jejak ku yang tersisa."
Lily terdiam, hanya suara ingus yang terdengar. Axelo melempar senyuman lagi. Lalu mencium bibir istrinya.