
Sudah hampir dua minggu lamanya, Clarisa bekerja di Axel's corp. Sayang nya, dia masih juga belum memiliki kesempatan untuk mendekati Axelo. Rasanya, Clarisa hampir frustasi di buatnya.
"Sial, aku sudah berada di sini, tapi kenapa aku masih juga belum memiliki kesempatan itu. Pikir Clar, pikir!" Clarisa bergumam saat ia berada di dalam toilet. Gadis cantik itu memandang pantulan dirinya di cermin.
"Kamu cantik, Clar. Kamu bahkan lebih cantik dari Lily. Kamu lebih baik dari wanita sial itu." Gumam Clarisa menyemangatinya dirinya sendiri. Clarissa merias wajahnya. Lalu ia berjalan keluar dari toilet.
Entah sebuah keberuntungan bagi Clarisa, atau kesialan bagi Axelo. Gadis penggoda itu baru saja melihat targetnya melintas melewati dirinya bersama sang asisten.
"Bingo! Baru saja aku memikirkannya dia udah berada di depan mata. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh." Clarisa tersenyum licik. Gadis itu berjalan dengan kepala tegak dan jalan menyilang yang anggun. Tak lupa, Clarisa menambah polesan bibir agar terlihat makin sensual.
Clarisa terus mengikuti langkah Axelo dari belakang. Mencari kesempatan saat Axelo sedang sendiri. Sampai di depan pintu keluar, Axelo berpisah dengan asisten nya.
"Bagus! Ini kesempatan ku." Gumam Clarissa berjalan sedikit berlari kecil menyusul Axelo.
"Kakak ipar!" Panggil Clarissa,
Axelo berhenti dan menoleh, melihat Clarissa semakin mendekat. Sebelah alisnya terangkat, Axelo melihat sekitar. Tak banyak karyawan di sana, pria itu tetap bersikap biasa saja pada Clarissa.
"Apa kakak ipar mau pulang?"
"Tidak, aku ada urusan di luar bersama dengan beberapa klien." Jawab Axelo.
"Apa kakak ipar berencana pergi ke gedung X?"
"Iya."
Clarissa tersenyum menang, 'ternyata tak ada salahnya aku sedikit mencuri data tentang jadwal kerja nya tadi.' batin Clarisa bergumam.
"Boleh bareng nggak? Aku ada urusan ke dekat gedung itu. Dan hari ini aku nggak bawa mobil. Mobil inventaris dari departemen sedang di pakai orang lain." Ucap Clarissa memohon.
"Baiklah. Tapi mobil nya sempit, kamu mungkin akan merasa tak nyaman."
'aahh, dia pasti pakai Ferarri. Bagus, dengan begitu hanya akan ada kami berdua di sana. Dan aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk merayu.' pikir Clarissa tersenyum malu pada dirinya sendiri.
"Tidak apa, kakak ipar. Aku tidak keberatan."
Mendengar jawaban dari Clarissa, Axelo tersenyum tipis.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Clarisa tampak sangat tak nyaman. Dia tersenyum dengan sangat kikuk dan kesal. Di sisi samping kiri dan kanannya duduk Beberapa orang yang sibuk berbincang masalah salah satu projek yang akan di diskusikan dengan beberpa klien Axelo. Sementara Axelo duduk di jog depan, menyungging senyum melirik Clarissa dari spion di samping kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu di sana Clar? Apa kamu merasa tak nyaman?" Tanya Axelo sengaja bersikap sok perduli.
"Emm, tidak, terima kasih karena sudah memberi tumpangan." Ucap Clarissa terpaksa menikmati.
"Baguslah, aku khawatir kamu merasa tak nyaman di sana."
Clarissa lagi-lagi terpaksa harus bersikap baik di depan Axelo. Mau mengumpat tak nyaman ataupun sempit, Axelo sudah mengatakannya tadi, dan demi mendapat kesempatan lebih dekat dengan Axelo. Sayangnya kenyataan tak sesuai ekspektasi.
Setelah Clarissa turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Axelo, tentu saja, Clarissa berakting menjadi wanita yang ramah dan murah senyum. Semua itu tak lain dan tak bukan hanya untuk memberi kesan baik pad Axelo.
"Sialan! Aku tak menduga akan seperti ini. Jika bukan untuk Axelo mana mau aku berdempetan dengan orang-orang tak penting itu. Ku pikir dia pakai Ferarri, ternyata lebih mirip di sebut kapal feri." Clarissa mengumpat-umpat tak jelas.
Di hari berikutnya, Clarissa masih mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan Axelo dan lagi-lagi dia dihadapkan pada keadaan yang tak terduga seperti sebelumnya.
"Astaga! Sebenarnya, apa dia benar-benar tak pernah sendiri? Kenapa ia punya begitu banyak orang yang mengikutinya?" Gumam Clarisa kesal,
Clarisa berpikir sedikit lebih santai, saat seperti itu, terlintas untuk menunggu Axelo pulang kerja.
"Aku jadi ingin tau, di waktu itu, apa dia akan sendiri atau justru tetap di ikuti oleh banyak orang penjilat." Gumam Clarissa tersenyum sinis.
"Astaga! Ini sudah hampir jam 11 malam. Apa dia memang tidak pulang?" Gumam Clarissa yang sudah lelah menunggu lebih dari 6 jam lamanya. Clarisa berjalan mendekati scurity yang berjaga. Lalu bertanya padanya, "Axelo, maksudku, apa tuan Axelo lembur?"
Scurity itu menatap wanita yang bertanya dengan angkuh di depan wajahnya. Merasa tak suka dengan sikap Clarissa yang menyibak rambut dan mengangkat kepalanya sedikit tinggi. Scurity itu menggeleng pelan.
"Tuan Axelo udah pulang."
"Apa?" Clarissa membelalakkan matanya."Sudah pulang? Kau pasti berbohong, aku menunggunya sedari tadi di sini, dan tidak melihatnya keluar."
"Aah, sepertinya, nona tidak tau, tuan Axelo memiliki jalur khusus untuk keluar."
Clarisa berdecak kesal. "Ck!"
"Untuk apa aku berlama-lama di sini?" Umpat Clarissa berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Sementara itu, Axelo sudah berada di kediaman nya, berbagi kehangatan dengan Lily di atas ranjang. Axelo menciumi bahu wanita yang kini berada dalam dekapannya. Membuat beberapa tanda kepemilikan di punggung Lily. Beberapa kali Lily tersenyum menggeliat kegelian dengan aktivitas nakal suaminya.
__ADS_1
"Sudahlah, apa kamu nggak lelah, Axelo?"
"Lelah bagaimana?" Axelo balik bertanya pada Lily tanpa mengurangi aktivitas mengecupi punggung Lily."Jika ini adalah kegiatan favorit ku, huumm?"
Lily terus menggeliat geli, sebisanya membalikkan tubuh menghadap Axelo. Agar suaminya itu berhenti mengerjai punggung nya.
"Axelo, aku...." Lily akhirnya bisa merubah posisi, sayangnya kini Axelo justru mengukung tubuhnya dan tersenyum menyebalkan. Seolah Lily telah masuk dalam perangkap.
"Aah, jadi kamu mau bagian depan juga ya?" Gumam Axelo menggoda.
"Aaagggg, tidak kamu salah sangka..." Kelit Lily mencoba meloloskan diri Kungkungan sang suami. Sepertinya, malam ini Lily harus merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan ranjang Axelo.
Beberapa jam kemudian, Lily yang merasa cukup lelah dengan pertempuran panasnya bersama Axelo tidur diatas tubuh kekar suaminya.
"Sayang, buatlah satu tanda di sini." Pinta Axelo menunjuk lehernya. Lily mengernyit, lalu menggeleng pelan.
"Kamu bilang tak pantas memberi tanda di sana."
"Itu benar."
"Lalu? Kenapa sekarang kamu malah memintanya?"
"Tentu saja, untuk menunjukan tuan muda Axelo ini adalah milikmu."
Dahi Lily makin berkerut. "Kamu memang milikku."
"Kalau begitu, buat tanda kepemilikan mu."
"Tidak mau! Itu norak, aku buat tanda di tempat lain saja ya?" Tawar Lily.
"Kalau begitu di sini." Axelo menunjuk rahangnya.
"Kenapa harus di tempat yang terlihat?"
"Agar orang yang tak tahu diri menjauh."
"Namanya orang tak tau diri, sudah tau kau milikku pun tetap saja tak tau diri." Ujar Lily berbalik memunggungi suaminya.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan salahkan jika aku di ambil orang."
Lily berbalik menatap sinis suaminya, "dan lebih tak tau diri jika kau tetap tergoda dan mau!" Ketusnya kembali memunggungi Axelo.