
Dengan paksa Russel meraih dagu Lily agar lurus menatapnya.
"Dia tidak akan bangun! Kau lihat, dia dalam keadaan vegetatif! Dia hanya kan mendengar suara erangan dari mulutmu. Lengguuhan panjang menikmati siksaan di bawah sana."
Mata Lily memancarkan banyak kebencian pada Russel. Lily meludah di wajah Russell.
Russel mengusap wajahnya yang terkena ludah Lily. Dengan mata yang sempat terpejam, dan terbuka seiring dengan rasa marah dan terhina. Untuk pertama kalinya wajah nya di ludahi.
"Penghinaan ini, kau akan merasakan Hujjaman di tubuhmu, sayang." Seringai Russel merobek baju depan Lily hingga tampak dua bola yang sangat menggoda, padat dan kenyal. Menyembul saling terhimpit dan tertutup sebagian oleh penutup dada.
Mata Russel melebar melihat keindahan di depan matanya. Terlalu indah jika hanya untuk di lihat saja. Russel dengan sangat lancang meremass kedua benda itu.
Lily merasa sangat jijik. Tubuhnya berguncang oleh tangisnya. Dan Russel sangat menikmati itu. Tangisan Lily dan ketidakberdayaan wanita di bawah tubuhnya yang sangat menggoda untuk di nikmati.
"Kenapa menangis Lily, bukankah ini menyenangkan? Huuummm? Enak bukan? Kenapa malah menangis?" Ucap Russel seraya menambah remassan tangannya pada payud*r* Lily.
__ADS_1
Tubuh Lily yang masih tampak sebagian itu sangatlah sempurna. Jauh lebih indah dari tubuh Angelica yang sudah berulang kali Russel nikmati. Bahkan Russel belum pernah melihat tubuh sesempurna dan seindah milik Lily selama ia bertemu dan meniduri banyak wanita.
Lily memiringkan kepalanya menatap Axelo. "Suamiku... Bangunlah..." Isak Lily memohon."bangunlah suamiku...."
Russel tertawa, semakin tertantang untuk membuat Lily mengerang oleh permainan nya.
"Yaaa, bangunlah Axelo! Bangun dan lihat betapa menyenangkannya berada di atas tubuh istrimu!"
Air mata Lily semakin deras mengalir. Berharap suaminya benar-benar akan bangun dan menolongnya. Lily menggeleng kuat, apa jadinya jika Axelo bangun dan mendapati diri nya dalam keadaan seperti ini? Tanpa bisa melakukan apapun karena sudah pasti Axelo sangat lemah karena terlalu lama terbaring dalam keadaan Vegetatif.
Lily hanya bisa pasrah. Membiarkan pria itu terus menghiissap dan memainkan ujung dada.
"Suamiku... Maafkan aku... Maaf Axelo.... Maaf kan aku..."
Lily memejamkan matanya dalam kepasrahan, dalam kelemahan dan ketidakberdayaan nya. Lily kecewa, sedih, marah dengan keadaan yang tak pernah berpihak padanya. Air mata Lily terus meluncur tanpa hambatan. Merasa kotor dan jijik pada tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Mungkinkah Axelo masih akan mau menerima tubuhnya yang sudah kotor dan terjamah oleh sepupunya sendiri?
Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Keluar dari keluarga Douglas Alfaro Hustler?
BRAAAKKK!
"Uuuggggghhhhhh......"
Tubuh Russel yang meninndiiih Lily, terpelanting jauh ke samping hingga membentur meja dan membuat suara gaduh karena vas di atas meja itu pun jatuh tepat di samping Russel. Sangat beruntung vas itu tak mengenai kepalanya.
Russel yang sedang menikmati sesappan di dada Lily, tiba-tiba harus terhenti dan terlempar sangat keras. Pria itu mengumpat dengan marah, untuk melihat siapa yang sudah mengacaukan kesenangannya.
Mata Russel melebar sempurna, tiba-tiba saja tubuhnya menggigil, dan syaraf-syaraf tak bekerja sebagaimana mestinya. Tubuh Russell tiba-tiba menegang dan tak mampu berkata karena kelu.
"Kauu....."
__ADS_1