
Clarisa memandang gedung pencakar langit di depannya. Gedung itulah yang menjadi target Clarissa kali ini. Atau lebih tepatnya, ia berencana melamar pekerjaan yang kebetulan memang sedang kosong. Posisi itu salah satunya di bagian sekertaris. Clarisa sangat yakin dengan kemampuannya, namun tetap saja, dia harus membuat langkahnya semakin mulus dengan menjual nama Lily. Clarisa yakin, dengan menyebut Lily di depan Axelo pasti ia bisa menjadi sekertaris. Dengan menempati posisi itu, Clarisa bisa menjadi lebih dekat dengan Axelo. Dan membuat pria itu jatuh dalam pelukannya.
Clarissa mengikuti prosedur seperti yang lainnya. Melihat pesaing yang pemilihan yang cukup ketat, membuat Clarissa memilih jalan pintas. Ia berjalan mendekati salah satu penyelenggara.
"Permisi,"
Dua orang penyelenggara, yang terdiri dari seorang wanita dan seorang pria itu mengalihkan pandangan dari berkas peserta pelamar ke arah Clarisa.
"UMM, apa kandidatnya sudah di pilih?" Tanya Clarisa.
"Kami sedang melakukan tugas kami. Jika anda pelamar, silahkan menunggu di sana." Jawab si wanita dengan nada tak suka.
"Uumm, baiklah, saya akan kesana. Tapi, saya harap anda tidak membuat kesalahan dengan memilih kandidat yang salah."
"Maksud anda?" Si wanita tampak semakin tak suka dengan sikap Clarissa.
"UMM, aku dengar ada salah satu pelamar kerabat dari tuan Axelo."
"Ooh, anda tenang saja, kami melakukan dengan profesional. Meski dia salah satu kerabat CEO Kami, jika memang tak kompeten tidak akan lulus." Potong si wanita cepat.
Rupanya, tanggapan dari pihak penyelenggara tidak sesuai ekspektasi Clarissa. Membuat wanita itu tersenyum kecut dan berjalan menjauh.
"Sial, ini tak berhasil pada mereka." Gumam Clarisa memijit pelipisnya."Aku harus menemui Axelo langsung. Tapi, bagaimana caranya? Mereka pasti tidak akan mengijinkan aku masuk jika belum membuat janji. Jika aku berbohong juga pasti akan ketahuan karena mereka pasti sudah punya daftarnya. Duuhh, pusing."
Tiba-tiba Clarissa kembali teringat untuk menggunakan nama Lily. Clarissa tersenyum licik, dengan penuh percaya diri dia berjalan ke arah resepsionis. Lalu sedikit mengangkat wajahnya dan tersenyum pada wanita yang menyapa dengan ramah.
"Aku adalah adik dari Lilyana Summers. Istri tuan Axelo Hustler. Apa aku bisa bertemu dengan tuan Axelo?"
Wanita resepsionis itu memindai Clarissa, dan masih mencoba ramah.
"Akan saya tanyakan lebih dulu, siapa nama nona?"
"Clarissa,"
__ADS_1
Wanita resepsionis itu lalu mulai menghubungi seseorang dan mulai menjelaskan, beberapa saat kemudian wanita itu memandang Clarisa yang berdebar menanti kabar baik.
"Anda di minta menunggu sebentar nona Clarissa."
"Oohh, begitukah? Baiklah." Walau ada sedikit rasa kecewa, namun masih ada harapan. Clarissa akan menunggu. Dia harus mendapatkan posisi itu dari Axelo. Clarisa harus mengerti Axelo bukanlah orang sembarangan yang bisa di temui siapa saja.
Sementara itu di ruangan Axelo.
"Lima ratus juta dolar, katakan pada pihak DN grup. Kita tidak akan menggelontorkan dana lebih dari itu. Itu harga yang paling bagus, katakan padanya, jika ada yang berani memberi harga lebih tinggi dari itu, aku ingin bertemu dengan nya." Tukas Axelo pada Raize salah satu tangan kanan kepercayaannya.
"Baik, tuan." Tunduk Raize lalu pamit keluar ruangan bos nya. Di saat yang bersamaan, salah satu sekertaris Axelo masuk dan memberi salam.
"Tuan, ada seorang wanita yang mengaku sebagai adik dari nyonya Lilyana, ingin bertemu dengan anda secara pribadi."
Seketika, Raize berhenti tepat di depan pintu dan mengurungkan langkahnya. Axelo pun tampak mengerutkan kening menatap sekertaris nya.
"Adik Lily?" Axelo bergumam, ia ingat pagi ini Lily mendapat telpon dari Lukas untuk membujuk dirinya berinvestasi."Siapa?"
"Clarissa?" Axelo mengingat-ingat nama itu,
"Nona Clarissa adik tiri Nyonya Lily. Hubungan mereka tidak pernah baik dari awal." Raize memberi informasi secara singkat dan cepat.
"Aku ingin tau kenapa dia ingin bertemu dengan ku." Gumam Axelo pada dirinya sendiri. Lalu berkata pada sekertaris nya, "biarkan dia masuk."
"Baik."
Tak lama kemudian, pintu ruangan Axelo di ketuk. Clarisa memasuki ruangan pribadi Axelo itu setelah mengatur degub jantungnya. Begitu masuk, Clarissa sempat melihat kesibukan Axelo di ruangannya, membuat Clarissa semakin terpesona. Keinginan nya untuk merebut pria itu dari Lily semakin besar. Ia semakin merasa dialah yang pantas bersanding dengan Axelo.
"Silahkan duduk terlebih dahulu, nona Clarissa." Suara sekertaris Axelo mengagetkan Clarissa yang melamun akan bersanding dengan Axelo. Wajah Clarissa sedikit bersemu merah, lalu mengangguk dan duduk di sofa sisi lain yang agak berjarak dari meja kerja Axelo.
Dari sana Clarissa terus memperhatikan Axelo yang masih memberi arahan pada sekertaris nya yang lain. Setelah orang itu pergi, barulah Axelo mendekat dan duduk di sofa single tak jauh dari Clarissa duduk.
"Maaf, aku sedikit sibuk. Kenapa ingin menemui ku, Clarissa?"
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud mengganggu waktumu, Kakak ipar. Tapi, sebenarnya, aku melamar di salah satu departemen di sini. Aku cukup yakin dengan kemampuanku, tapi aku cemas jika mereka memilih orang yang tidak tepat." Ucap Clarissa berbicara selembut mungkin dan dengan berhati-hati agar image nya tidak turun di hadapan Axelo. Ia harus terlihat sempurna dan pintar.
Axelo tersenyum tipis menanggapi ucapan Clarissa, "jangan khawatir, orang-orang ku bekerja dengan profesional, mereka akan mengambil orang yang kompeten."
Clarissa tersenyum kecut, "Aku hanya memastikan saja, bagaimana kabar Kakak Lily?" ujar nya mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja."
"Ah, syukurlah, sejak dia menikah kami kesulitan menghubunginya." Aku Clarissa mengada-ada.
"Benarkah? Tadi pagi Lukas baru saja menelpon."
Wajah Clarissa sedikit berubah, dia lupa dengan hal itu dan mengutuk Lukas dalam hati. "Yeah, kami sangat bersyukur akhirnya Lily menjawab panggilan. Keadaan perusahaan papa sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu aku melamar pekerjaan disini. Aku sangat berharap bisa bergabung dengan perusahaan besar seperti Axel's corp."
"Bisa kulihat resume mu?"
Wajah Clarissa berbinar terang, pintu seperti terbuka untuknya. Ia sangat yakin jika Axelo melihat resume nya pasti ia akan diterima sebagai sekertaris. Dengan cepat Clarissa menyerahkan resume pada Axelo. Menunggu reaksi Axelo yang tampak meneliti resume miliknya.
Axelo tak menanyakan banyak hal, dia meraih ganggang telpon di sampingnya lalu menghubungi seseorang.
"Apa aku memiliki peluang untuk bisa bergabung?" Tanya Clarissa memastikan, untuk mengurangi kecemasan di dadanya.
"Dari resume mu, kamu seorang yang berbakat. Aku akan memberimu kesempatan untuk bekerja di sini. Bawalah ini kebagian HRD. Mereka akan menempatkan mu di tempat yang cocok." Kata Axelo tanpa melewatkan senyuman yang ramah.
"Benarkah? Terima kasih kakak ipar." Ucap Clarissa tanpa sungkan meraih tangan Axelo dan menggenggam nya. Axelo tak memberi tanggapan spesial, hanya tersenyum canggung yang sedikit di paksakan.
Setelah Clarissa pergi, Axelo menghubungi salah satu asisten nya.
"Pastikan kamu menempatkan orang yang ku kirim di tempat yang tidak terlalu mencolok, tapi tidak menurunkan harga dirinya. Dan aku tidak ingin terlibat terlalu intens dengannya dalam hal pekerjaan." Setelah asistennya mengaminkan perintah Axelo. Dia menutup sambungan telpon, sebagai seorang pebisnis, ia cukup tau orang semacam apa Clarissa. Ia sudah beberapa kali bertemu dengan orang sejenis. Namun, Axelo tetap memberi kesempatan, biar dunia kerja yang nanti menyeleksi Clarissa dengan sendirinya.
Disisi lain, Clarissa memasuki mobilnya sembari menggerutu. Karena ia tak mendapatkan posisi sebagai sekertaris Axelo, seperti yang Clarissa harapkan. Wanita itu tetap berpikir keras dan mencoba menerima keadaan.
"Setidaknya aku sudah masuk ke Axel's corp. Tinggal menyusun rencana bagaimana mendekatinya. Aku harus mencari kesempatan bagus." Gumam Clarissa sembari menyetir dengan kesal.
__ADS_1