Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif

Istri Tangguh Untuk Pria Vegetatif
Chapter 31 - Keputusan Tuan Douglas


__ADS_3

"Kurang ajar! Berani kalian memfitah Russel?!" Camelia tak terima. Lalu melihat pada ayahnya, tuan Douglas."Ayah, ini pasti konspirasi untuk menjatuhkan ku!"


Axelo tak acuh pada ucapan bibinya, sama sekali tak penting baginya. Lalu menatap tajam pada Russel."Apa tanggapan mu, Russel? Mengakui atau perlu kutunjukan cctv di depan kamarku?"


Russel yang sudah gusar itu, hanya bisa menahan kekesalan nya. Tanpa bisa mengelak, dan menunduk dalam.


"Kakek..."


Kakek Douglas menarik nafas dalam. "Istirahatlah, Axelo. Kamu pasti lelah setelah terbangun dari Vegetatif mu."


Meski merasa tak puas, Axelo memilih untuk kembali ke kamarnya dan menemui Lily yang kini terlelap.


Axelo bergabung di tempat tidur, tangannya menyentuh dengan lembut wajah istrinya. Kedua mata Axelo tak lepas dari wajah hingga seluruh tubuh istrinya. Apalagi saat ini Lily mengenakan piyama milik Axelo yang ukurannya lebih besar dari tubuh Lily.


Beberapa kali Axelo terlihat ingin tersenyum kecil, tetapi pria itu menahannya dengan sangat baik. Tubuh Lily tampak menggoda, tidak heran jika kecantikan Lily membangkitkan gairah Russell. Dalam keadaan kesal karena mengingat kejadian beberapa saat lalu, Axelo memutuskan untuk bernapas dengan teratur. Dan tidur sembari memeluk tubuh istrinya.


Sementara itu, di ruang mewah berwarna emas dimana, tuan Douglas, dan Camelia sekeluarga berkumpul serasa sangat tegang. Semua menanti tuan Douglas membuat keputusan. Yang jelas, mereka sangat tau, tuan Douglas cukup marah dengan tindakan Russel yang mencoba memperkosa Lily.

__ADS_1


"Russel! Kakek tidak akan bertanya kenapa kamu sampai hati bertindak sebejat itu pada istri sepupumu sendiri. Kakek bisa melihat bagaimana dirimu dari awal kamu memiliki hubungan dengan Angelica."


"Ayah, plis, itu karena Angelica yang terus merayu Russel, ayah tak bisa menimpakan kesalahan pada Russel." Camellia memprotes.


"Jadi maksudmu, Lily juga merayu Russel, begitu?" Tuan Douglas menatap tajam putrinya."apa kau bahkan tak melihat tangan gadis itu terikat? Apa kau bahkan sudah buta untuk melihat air mata sesama wanita, haahh?" Suara tuan Douglas makin meninggi oleh tekanan emosi dadanya.


"A-ayah, dia hanya wanita asing tiba-tiba datang ke rumah ini..."


"Wanita asing itu kau yang bawa, Camelia! Kau yang membawanya masuk kemari dan menjadi bagian dari keluarga kita." Tuan Douglas menekankan ucapan. Mata yang berkilat marah dan tubuh sang ayah yang berdiri dari duduknya, cukup menegaskan kemarahan. Camelia terpaksa bungkam dan menelan ludahnya.


"Ayah!"


"Keputusanku tak bisa di ganggu gugat! Jika ada yang keberatan dia akan ikut serta ke sana."


"Ayah..."


Tatapan tajam tuan Douglas tertuju sang putri. Begitu tajam hingga membuat Camelia tegang dan meremang.

__ADS_1


“Apa kamu mau menggantikannya? Tinggal di sana tanpa adanya sosial media. Dan telepon hanya bisa digunakan untuk menghubungiku saja.”


Camelia terdiam, daripada mereka bertiga dikirim, sebaiknya tetap Russel saja yang masih muda untuk melakukannya.


Atas instruksi dari tuan Douglas, Russel dikawal dan seret paksa.


"Kakek!"


Russel merengek saat ia di bawa oleh orang suruhan tuan Douglas. Tatapan matanya mengiba melihat tuan Douglas yang berdiri dengan angkuh tanpa perduli.


Ia sudah membuat keputusan. Maka, tak akan ada yang bisa merubahnya.


"Kakek, ku mohon, beri aku kesempatan. Ini bukan sepenuhnya salahku... Kakek!" Russel terus mengiba dengan rengekannya.


Merasa di abaikan sedang ia semakin jauh, Russel berganti menatap harap pembelaan dari orang tuanya.


"Mama! Papa!" Sebut Russel menatap Elvan dan Camelia berganti. Namun, mereka juga tak bergeming, membiarkan Russel di bawa pergi oleh para bodyguard tuan Douglas.

__ADS_1


__ADS_2