
"Aku tidak mau tau mas, secepat mungkin kau harus ceraikan dia!" Ucap Davina.
"Sayang beri aku waktu untuk menceraikannya."
"Waktu? waktu apalagi mas? Aku sudah memberi mu waktu, mas!" Kata Davina.
"Begini saja, aku beri kau pilihan. Kau lebih memilih aku atau dia?" Tanya Davina serius.
Aska diam seribu bahasa. Bibirnya seketika tergagap, ia tak bisa berkata satu huruf pun dan hanya menatap Davina dengan mematung. Dia menggeleng pelan.
Davina mengangguk, ia paham bahwa Aska masih keberatan untuk menceraikan Amara. Ia pun kemudian melangkah pergi dari hadapan Aska.
"Davina...... mau kemana......" panggil Aska menyusul langkah Davina.
Sampai di kamar, Aska melihat Davina sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
"Davina....apa yang kau lakukan, kau mau kemana?" Tanya Aska meraih lengannya.
"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku! aku tidak Sudi tinggal disini bersama wanita lain!" Kata Davina.
"Davina kalau kau pulang ke rumah orang tua mu, lalu apa kata mereka. Mereka pasti berpikir yang bukan-bukan atau kau pasti tidak bahagia bersamaku." Ucap Aska.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, mas!" Pekik Davina lalu menyeret kopernya menuju ke luar.
"Dav.....Davina......aku mohon Davina....jangan pergi!"
Pinta Aska.
"Aku tidak akan pulang, sebelum kau menceraikan wanita itu!!" Kata Davina sambil menunjuk-nunjuk wajah Aska. Ia lalu melangkah masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.
Aska mengacak rambutnya dan terlihat frustasi dengan situasi ini.
Dengan wajah tertunduk, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Saat di ruang tengah, Aska menegakkan pandangannya dan mendapati sudah ada Amara yang berdiri di hadapannya.
"Mari kita akhiri hubungan ini!" Ucap Amara menatap Aska dengan mata yang berkaca-kaca. Mendengar hal itu, sontak membuat Aska menatap tak percaya kepada Amara.
"Sudah tidak ada alasan untukku tetap berada di rumah jahanam ini, Aska." Kata Amara.
"Apa maksudmu?"
"Aku terlalu menderita. Aku sungguh tidak bahagia. Kita seharusnya tidak pernah bertemu. Andai waktu bisa di putar kembali, banyak hal yang akan ku ubah. Jadi mari kita akhiri saja pernikahan ini," Jelas Amara.
Aska mengangguk pelan. "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menuruti permintaanmu, aku akan menceraikan mu!" Kata Aska dengan sedikit memanas.
__ADS_1
"Ya, malam ini juga aku akan pergi dari rumah ini." Ucap Amara menyeka air matanya.
Rasanya Aska ingin menyela, tapi seluruh kata yang ingin ia keluarkan tertahan di mulut.
Amara berjalan ke arah kamarnya dan segera memasukan beberapa pakainya ke dalam koper. Sejenak ia memandangi sudut-sudut kamar, yang pernah ia tepati selama ini. Ada perasaan berat hati ketika Amara ingin meninggalkan rumah ini, tapi mau bagaimana lagi, hatinya sudah terlanjur sakit.
"Setelah kita resmi bercerai, kau hiduplah dengan bahagia bersama Davina dan calon anakmu nanti!" Ucap Amara memberikan setengah senyuman pada Aska, wanita itu kemudian berbalik pergi.
Aska hanya diam, masih dengan posisi yang sama yaitu berdiri mematung menatap langkah Amara dengan perasaan bersalah.
Ada rasa kehilangan di hati Aska, saat dia melihat Amara pergi dari rumah. Namun segera ia menepis rasa itu.
🥀
🥀
🥀
Angin kencang berhembus begitu saja hingga membuat pepohonan bergoyang. Kilatan-kilatan petir pun muncul menerangi gelapnya malam. Hujan deras menguyur tubuhnya sudah tidak dihiraukannya lagi. Dingin yang menusuk sampai ke tulang, sudah tidak ia rasakan. Entah kemana Amara harus membawa langkahnya ini, sudah tidak ada lagi tempat untuknya.
Di bawah guyuran hujan ini dia menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Amara tetap melanjutkan langkahnya meski tidak tahu harus kemana.