
_Happy Reading-
Keesokan harinya, Amara bangun pagi-pagi sekali karena ia tak ingin terlambat di hari pertamanya masuk kerja. Dia membuat sarapan untuk dirinya sendiri lalu setelah itu pergi mandi.
Tadi malam Arin baru saja menghubunginya dan memberitahu bahwa dia sudah boleh masuk kerja besok hari.
Maka dari itu Amara pun bersiap-siap untuk berangkat kerja. Saat hendak berangkat, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Ansel.
"Aku akan mengantarmu."
"Baiklah, aku tunggu."
Tak butuh waktu lama, Ansel pun datang menjemput Amara. Mereka lalu pergi dalam satu mobil yang sama. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di depan restoran. Ansel segera turun dari mobil dan langsung berlari kecil ke samping membukakan pintu untuk Amara.
Amara tersenyum dan tidak lupa ia mengucapkan rasa terimakasih pada Ansel.
"Jika ada apa-apa yang terjadi padamu, segeralah hubungi aku!" Ucap Ansel.
"Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja!" Kata Amara.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Hari ini ada meeting di kantor."
"Baiklah, sekali lagi terimakasih. Em hati-hati di jalan!" Ujar Amara.
Ansel lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Semangat di hari pertamamu kerja!" Ansel mengedipkan satu matanya kemudian berlalu begitu saja.
Amara lalu melangkah masuk ke dalam restoran. Arin yang datang lebih awal pun menghampiri Amara.
"Wah.....siapa dia? kekasih baru mu?" Tanya Ansel.
Amara mengangguk. "Bukan, di-dia temanku!"
"Kau kelihatan cocok dengannya di bandingkan dengan mantan suami mu itu," Ucap Arin bercanda.
"Ah, kau ini ada-ada saja. Sekarang aku itu sedang malas untuk membuka hati lagi." Kata Amara.
"Yakin? lihat saja nanti!" Arin mencibir sambil mengangkat kedua bahunya.
Menjelang siang, pandangan mata Amara menangkap sosok yang sangat ia kenali. Ya, Ansel baru saja menarik kursi lalu duduk. Dia datang bersama Alden.
"Amara, bukankah itu laki-laki yang tadi pagi mengantarmu?" Tanya Arin. "Siapa lelaki yang ada di sampingnya?"
"Aish......mau apa dia datang kesini!" Amara segera melangkah menghampiri ke meja Ansel.
"Ansel....mau apa kau datang kesini?" Tanya Amara dengan malu-malu, karena dia merasa tak enak pada atasannya.
"Mau apa? ini kan restoran. Apakah salah jika aku datang kesini?" Ucap Ansel sambil tersenyum.
"Benar juga ya!" Lirih Amara.
__ADS_1
"Kebetulan ini jam istirahat kantor, jadi Ansel lah yang mengajak untuk makan disini. Katanya ingin melihatmu juga!" Sambung Alden tersenyum.
Amara seketika menatap Ansel dengan keheranan. Ansel yang merasa malu akan ucapan dari Alden, langsung saja menginjak sepatu Alden.
"Aw......!" Rintih Alden. "Hei, kenapa kau menginjak sepatuku!"
"Jangan membuat aku malu dengan ucapanmu itu," Lirih Ansel pelan di telinga Alden.
"Tidak Amara yang di ucapkan oleh Alden itu bohong. Kami sengaja makan disini karena restoran ini sangat dekat dengan kantor kami." Kata Ansel berbohong padahal yang di ucapkan Alden itu benar.
"Hai....silahkan di pilih menu nya!" Kata Arin yang tiba-tiba muncul memberi menu pada Alden sambil tersenyum. Namun Alden menatap keheranan pada Arin yang menurutnya adalah wanita aneh.
Amara melirik ke arah Arin dan mendapati dandan wajah Arin berbeda dari sebelumnya.
"Arin....apa kau berdandan? kenapa menor sekali?" Tanya Amara dengan pelan.
"Sudahlah diam saja," Balas Arin. Dia begitu kagum saat melihat kedatangan Alden untuk pertama kalinya. Alden benar-benar pria yang begitu tampan sehingga Arin terpesona.
Beberapa saat kemudian, Ansel dan Alden telah selesai makan. Ansel bangun dari duduknya lalu pergi ke meja kasir untuk membayar.
"Kau pulang jam berapa?" Tanya Ansel pada Amara.
"Jam empat sore, ada apa?"
"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti!" Ucap Ansel kemudian berlalu begitu saja.
🥦
🥦
🥦
Sore menjelang malam, Aska pulang ke rumahnya dengan wajah yang tak bersemangat.
Davina yang sedang duduk santai di sofa depan televisi pun langsung saja menghampiri suaminya yang baru saja pulang.
"Sayang....baru pulang jam segini?" Tanya Davina.
"Ada masalah di kantor!" Jawab Aska sambil menyodorkan tas kantornya pada Davina.
"Masalah apa sayang?"
Aska berpikir jika dia memberi tahu Davina, pasti Davina akan sangat syok di tambah lagi ia sedang hamil besar. Jadi Aska memilih untuk tidak memberitahu Davina.
"Tidak apa-apa sayang, aku mau membersihkan diri dulu!" Ucap Aska berlalu begitu saja menuju ke kamar.
"Hmm.....tidak seperti biasanya dia seperti itu!" Lirih Davina.
Selesai mandi, Aska pun turun ke lantai bawah untuk makan karena perutnya sudah perih menahan lapar sejak tadi.
Tapi saat dia berada di meja makan, dia sama sekali tidak melihat adanya hidangan makanan.
__ADS_1
Aska menghela nafas panjang, ia bergeleng kepala.
"Sayang.....Davina....." panggil Aska dengan nada tinggi.
Tidak lama Davina pun datang menghampiri Aska.
"Ada apa sayang?" Tanya Davina.
"Kau tidak masak?" Tanya Aska.
Davina melirik ke arah meja makan yang kosong. "Ah....maaf sayang, aku tidak sempat karena seharian ini aku sibuk shopping." Ucap Davina tersenyum.
Aska lagi-lagi menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"Em.... tunggu sebentar, biar ku pesankan makanan diluar!" Kata Davina, dirinya langsung saja memesan makanan lewat ponselnya.
Aska hanya diam, pria itu lalu melangkah menuju ke ruang keluarga.
"Sabar ya sayang, makanan akan datang sebentar lagi!" Ujar Davina mendudukkan pantatnya di samping Aska yang sedang duduk menonton televisi.
🥦
🥦
🥦
"Bagaimana dengan hari pertama bekerja?" Tanya Ansel yang sedang menyetir.
"Ramai sekali pelanggan hari ini, meskipun lelah, tapi itu menyenangkan bagiku!" Jawab Amara tersenyum.
"Em....bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sekarang? sekalian mencari angin segar!" Tawar Ansel.
"Kemana?"
"Ke pantai mau?"
Amara mengangguk senang karena sudah lama juga ia tidak pergi ke pantai.
Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah pantai yang pemandangannya begitu sangat indah di tambah lagi dengan paparan cahaya matahari yang perlahan mulai tenggelam.
Mereka berdua berlarian kecil mengejar satu sama lain sambil tertawa terbahak-bahak.
Karena merasa sudah lelah, akhirnya mereka pun duduk di bibir pantai sambil menikmati suara deburan ombak yang membuat nyaman.
Ditemani dengan semilir-nya angin laut, semakin membuat suasana tambah tenang.
Tak terasa hari sudah gelap, Ansel dan Amara pun memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah kedai untuk makan karena perut mereka sudah keroncongan.
"Apa kau suka tadi?" Tanya Ansel sambil memandang ke arah Amara.
"Tentu saja, aku sangat suka. Ini pertamaku pergi keluar setelah sekian lama." Amara memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya. Ansel yang melihat itu hanya tersenyum. Memang benar, saat dirinya menikah dengan Aska, Aska tidak pernah sekalipun mengajaknya Amara keluar sekedar untuk jalan-jalan.
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan vote biar author lebih bersemangat lagi🙏🥦
Terimakasih kepada semua pembacaku🥦❤️