
"Bagaimana dengan keadaan ayah, Bu?" Tanya Ansel saat memasuki ruangan.
"Ansel....akhirnya kau datang juga." Alena bangun dari duduknya.
"Tadi saat di rumah tiba-tiba ayahmu pingsan. Tapi sekarang keadaan ayahmu sudah baik-baik saja kata Dokter. Mungkin besok ayahmu sudah boleh pulang." Jelas Alena.
Ansel menghembuskan nafas kasarnya. "Syukurlah, aku benar-benar lega mendengarnya." Kata Ansel.
"Loh....ada Amara juga ternyata, apa kabar nak?" Tanya Alena tersenyum.
Amara langsung saja bersalaman dan mencium pipi kiri kanan Alena.
"Baik Bu, kalau ibu bagaimana?" Tanya balik Amara dengan sopan.
Alena mengangguk. "Sama, ibu baik-baik saja. Lama sudah kita tidak bertemu, sekarang kau semakin cantik saja." Puji Alena.
Amara tersipu mendengar pujian tersebut. Mereka pun kemudian bercengkrama satu sama lain.
🥦🥦🥦
Beberapa hari kemudian, keadaan dari ayah Ansel sudah membaik dan dia pun sudah pulang dari rumah sakit sejak kemarin.
Begitu pula dengan Terra, dia juga sudah pulang dari rumah sakit.
Entah mengapa semenjak pertemuannya dengan Amara di rumah sakit kemarin, Aska selalu teringat kepada Amara setiap saatnya.
Hari ini Aska sengaja pulang lebih awal karena ia merasakan kepalanya sangat pusing. Namun sebelum itu, Aska sama sekali tak memberitahu Davina bahwa ia akan pulang lebih awal.
Beberapa saat kemudian, mobil Aska sudah terparkir sempurna di garasi rumah. Dia turun dari dalam mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat masuk Aska mendapati suasana rumah yang begitu sepi dan hening. Padahal hari ini Davina sedang libur bekerja.
Tanpa banyak pikir, Aska pun menaiki anak tangga berniat untuk menemui anak istrinya yang barangkali ada di kamar.
Tapi saat Aska di depan pintu kamar, dia samar-samar mendengar suara cekikikan dari dalam kamar.
Penasaran, Aska pun mulai menempelkan telinganya ke pintu dan dia mendengarkan Davina yang ternyata sedang bertelepon mesra entah dengan siapa.
"Apa kau merindukan goyangan ku yang kemarin? hah, aku jadi merasa malu." Ucap Davina.
Dada Aska bagaikan di hantam tombak tumpul, hingga menusuk ke lubuk hatinya yang paling dalam saat mendengar ucapan tersebut.
Aska mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan yang mengerikan seperti singa kelaparan, Aska menendang pintu kamar dan merebut ponsel yang di genggam Davina. Davina sontak merasa kaget dan wajahnya seketika memucat meskipun ia sempat mengunci ponselnya.
__ADS_1
"Kurang ajar kau!" Pekik Aska. "Ternyata begitu ya selama ini kelakuanmu?"
"Aska, jangan salah paham aku bisa menjelaskan semuanya." Kilah Davina berusaha membela diri bahwa dia tidak selingkuh.
"Jelaskan apa lagi, semua sudah jelas. Aku sudah mendengar semuanya tadi. Rupanya selama ini kau berselingkuh di belakangku!" Berang Aska.
Pertengkaran hebat pun terjadi. Kalimat meminta diceraikan pun beberapa kali di lontarkan. Davina tetap tak mengakui kalau dirinya' berselingkuh.
Akhirnya karena terus di desak oleh Aska yang sudah naik pitam, Davina pun mulai mengakui bahwa dirinya telah berselingkuh.
Lagi-lagi dada Aska bagai di timpuk benda berat.
"Kau sadar diri saja mas, kenapa aku bisa selingkuh darimu!" Gerutu Davina sambil menunjuk-nunjuk wajah Aska.
Aska menggeleng geram. "Keterlaluan kau...." Gumam Aska, dia mengangkat satu tangannya lalu mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Davina.
Plaaak........
"Ah....." Jerit Davina kesakitan.
"Berani-beraninya kau menamparku!" Umpat Davina.
"Kau pantas mendapatkan itu, Davina!" Kata Aska yang sudah di kuasai oleh amarah.
"Mau kemana kau?" Tanya Aska meraih lengan Davina.
"Lepaskan tanganku, aku mau pergi! aku sudah tidak tahan lagi hidup dengan orang sepertimu!" Kata Davina.
"Apa kau bilang?"
"Aku muak, aku benar-benar muak melihatmu!" Ucap Davina, dia melepaskan genggaman tangan Aska lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Aska.
"Davina.....Davina.....mau kemana kau!" Aska mengikuti langkah Davina. Namun Davina sama sekali tak menghiraukannya. Hingga saat di depan teras rumah, Aska masih mengejar langkah istrinya, tapi langkah Davina lebih cepat masuk ke dalam mobil.
Davina menyalakan mobil lalu berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Aska yang mengetuk jendela mobil.
"Argh........" Teriak Aska dengan kesal.
Aska mengacak rambutnya dan terlihat frustasi dengan situasi ini.
Aska tiba-tiba teringat anaknya, dia pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah menuju ke kamar anaknya.
Saat membuka pintu, dilihatnya Terra sedang menangis. Aska pun segera mengangkat dan menggendongnya dari tempat tidur.
__ADS_1
Sampai malam tiba, Davina tak kunjung pulang juga. Entah kemana Davina pergi, Aska sendiri tak tahu. Dia sudah berulang kali menelepon Davina, tapi nomer Davina tak aktif.
Karena Terra terus menangis dari tadi, akhirnya Aska memutuskan untuk pergi ke rumah orangtua Davina. Barangkali Davina pulang ke rumah orangtuanya.
Selang beberapa saat kemudian, Aska telah sampai di kediaman orangtua Davina. Dia langsung saja memencet bel berulang kali.
Tidak lama pintu terbuka dan keluarlah Heru.
"Mau apa kau kesini malam-malam?" Tanya Heru dengan wajah yang tak bersahabat.
"Siapa mas...." Tanya Herlina dari dalam.
"Lo....Aska? Terra?" Saat Herlina keluar, dia kebingungan ketika melihat Aska datang dengan wajah yang seperti ada masalah.
"Maaf, Aska kesini hanya ingin bertanya. Apakah Davina ada disini?" Tanya Aska.
"Davina....mana ada dia kesini. Kau suaminya, mustahil tidak tahu dia kemana dan dimana?" Tanya balik Heru.
"Aska, apakah kalian bertengkar?" Tanya Herlina.
Aska menggeleng dan memalsukan senyumannya. Dia memberikan jawaban lain agar orangtua Davina tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga tidak ingin jika orangtuanya tahu bahwa mereka sedang bertengkar hebat.
🥦
Sementara saat ini, Amara baru saja pulang ke apartemennya.
"Ah...tumben sekali seharian ini dia tidak menghubungi ku!" Ucap Amara menghela nafasnya. Di lalu masuk ke dalam apartemen.
Entah kenapa tidak seperti biasanya, Amara seharian ini sama sekali tidak mendapat kabar dari Ansel. Biasanya, Ansel akan selalu mengirim pesan kepada Amara dan memberitahu segala aktivitasnya. Sudah berulang kali Amara menelepon dan mengirim pesan pada Ansel, namun sama sekali tak ada jawaban.
"Apa salahku, kenapa dia mendiamkan ku seharian ini!" Ucap Amara.
Saat membuka pintu, tiba-tiba Amara di kejutkan dengan suara nyanyian happy birthday dari Ansel yang ada di hadapannya sambil membawa kue ulang tahun. Tak hanya ada Ansel, disitu juga ada Airin dan Alden.
"Ha....Ansel.....ka-kalian juga," Amara tidak menyangka jika Airin juga ada disitu.
"Happy birthday Amara sayang!" Ucap Ansel tersenyum lebar.
"Ayo tiup lilin nya...." Titah Ansel seraya Airin dan Alden menyanyikan lagu happy birthday.
Amara yang sangat merasa terharu, langsung saja meniup lilin tersebut. Setelah itu, Ansel pun memeluk hangat Amara.
"Selamat bertambah umur dan semoga cintamu lebih bertambah untukku." Ujar Ansel di telinga Amara.
__ADS_1
"Em, tentu saja. Aku sendiri malah lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku." Kata Amara tersenyum.