Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 56


__ADS_3

Selang beberapa jam, Davina mulai kembali sadar.


Sama seperti sebelumnya, dia menangis dan menjerit atas kehilangan satu kakinya.


Saat Davina sedang seperti itu, tiba-tiba Aska datang menghampirinya.


Dengan kedua tangan di saku celana, Aska masuk menghampiri Davina dengan senyum miringnya.


"Kau sudah sadar ternyata." Tegur Aska.


"Kau......mau apa kau datang kesini?" Tanya Davina dengan tatapan tajam. "Oh atau kau datang kesini ingin menghina dan menertawakan ku?"


"Menurutmu?" Ucap Aska sambil mengangkat kedua bahunya.


"Di-dimana Terra?" Tanya Davina.


"Kau mencarinya? cih......apa kau tidak tahu?" Tanya balik Aska.


"Apa? apa maksudmu?" Davina tak mengerti.


"Terra meninggal gara-gara kau!" Seru Aska.


"Apa! bagaimana bisa?" Davina terperanjat saat mendengarnya.


"Ya, dia meninggal saat akan di larikan ke rumah sakit. Dan tentu saja ini semua salahmu!" Pekik Aska.


"Apa? meninggal? tidak, tidak mungkin!" Davina menggeleng tak percaya akan perkataan Aska.


Aska menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan ya dengan kasar.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku hanya ingin mengatakan jika aku menyetujui perceraian yang kau mau. Jadi biarkan aku mengurus surat cerai kita secepat mungkin." Jelas Aska langsung pada intinya.


Kedua mata Davina seketika membola saat mendengarnya.


"Tidak Aska....aku...aku berubah pikiran, aku tidak ingin bercerai darimu." Kata Davina menggeleng.


"Apa katamu, bukankah pagi tadi kau tetap kekeh dengan keputusanmu?" Tanya Aska tersenyum.


"Tidak Aska, itu itu hanya...hanya salah paham. Aku tidak bermaksud ingin bercerai darimu." Jawab Davina.


"Tapi keputusanku sudah bulat. Mari kita bercerai." Ujar Aska.


"Apa kau tidak tega melihatku yang seperti ini? bagaimana bisa kau ingin cerai dariku?" Tanya Davina memohon agar Aska tak menceraikannya.


Aska menggeleng sambil tersenyum tipis. "Lagipula kalau di pikir-pikir, kita sudah tidak cocok lagi." Kata Aska.


"Aku pergi sekarang. Oh ya, beberapa hari lagi aku akan memberikanmu surat gugatan perceraian." Pria itu berbalik badan lalu melangkah pergi begitu saja.


"Aska......Aska....tunggu.....Aska...aku tidak ingin bercerai!" Teriak Davina tapi tak di hiraukan sama sekali.


Baru saja Aska pergi, tiba-tiba Heru dan Herlina datang menghampiri.


"Davina....ada apa nak?" Tanya Herlina.


"Aska baru saja datang kesini." Jawab Davina dengan lirih.


"Terus apa yang dia katakan?" Tanya Heru.


"Di-dia menceraikan ku, ayah!" Davina terisak menangis.


"Apa, kurang ajar lelaki itu. Kenapa saat kau terkena musibah dia malah menceraikan mu! benar-benar, aku akan menghabisinya nanti." Kata Heru sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


Davina menggeleng. "Itu salahku ayah, sebelumnya memang aku yang meminta cerai padanya." Jelas Davina.


"Apa?" Ucap Heru dan Herlina serentak.


Davina tiba-tiba teringat pada Bima.


"Dimana ponselku?" Tanya Davina.


"Ponselmu, oh ini sayang." Herlina mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas.


Davina pun segera menghubungi Bima. Namun sudah berulang kali ia menghubungi, Bima sama sekali tak mengangkatnya.


"Apa kalian tahu Bima, laki-laki yang mengalami kecelakaan bersamaku?" Tanya Davina menatap ayah ibunya.


Heru dan Herlina saling memandang satu sama lain.


"Oh, Bima....di-dia hanya di rawat sebentar di rumah sakit lalu setelah itu dia pergi entah kemana saat mengetahui kau akan di amputasi." Jawab Herlina.


"Apa?" Davina sedikit kaget.


"Tinggalkan aku sendiri di ruangan ini." Pinta Davina.


"Ta-tapi...."


"Aku sedang ingin sendiri."


"Baiklah, kalau begitu."


Heru dan Herlina pun mengangguk lalu melangkah pergi.


Ponsel yang digenggam Davina seketika berdering. Ternyata itu adalah Bima. Buru-buru Davina segera mengangkatnya.


"A-aku....aku sudah pulang ke rumah." Jawab Bima.


Davina menghela nafas panjang. "Aku pikir kau kemana."


"Maafkan aku, Davina." Ujar Bima.


"Maaf untuk apa?" Tanya Davina.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi untuk melanjutkan hubungan denganmu."


"Apa maksud perkataan mu?"


"Mulai sekarang jangan pernah menghubungi aku lagi." Pinta Bima.


"Kenapa kau bicara seperti itu? padahal aku sudah menceraikan Aska demi kau, lantas kenapa kau bicara seperti itu?" Tanya Davina mengintimidasi.


"Sekali lagi aku minta maaf Davina."


"Bukankah kau berjanji ingin menikahi ku? oh, apa karena sekarang aku menjadi buntung?" Air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi Davina.


"Itu kau tahu sendiri, mana bisa aku menikahi wanita buntung sepertimu." Kata Bima.


"Brengsek, kurang ajar kau Bima....." Lirih Davina.


"Aku tutup telepon nya!" Ucap Bima lalu mematikan sambungan telepon.


"Tidak ......tidak....Bima.....Bima....." Teriak Davina.


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah sekarang yang Davina rasakan. Dia rela menceraikan suaminya hanya karena pria lain dan sekarang?

__ADS_1


Nasi sudah menjadi bubur, kini Davina hanya bisa menangis atas penyesalannya.


🥦


Satu Minggu kemudian, Aska dan Davina sudah resmi bercerai. Kini status Aska adalah seorang duda.


Satu Minggu ini adalah hari yang terasa berat bagi Aska, dimana dia baru saja kehilangan buah hati yang ia cintai.


Entah mengapa saat Aska duduk termenung di ruang kerjanya, tiba-tiba pikirannya mengarah pada Amara.


Aska memutuskan sepulangnya dari kantor nanti dia akan memberanikan diri untuk menemui Amara di restoran tempatnya bekerja.


Sore menjelang malam, Aska segera pergi menuju ke restoran.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai tepat di halaman restoran.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya," Kata Amara pada Airin.


"Oke, baiklah hati-hati di jalan!" Ujar Airin.


Amara pun melangkah keluar dari restoran.


Aska yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan Amara pun langsung saja turun dari mobil saat mengetahui Amara sudah pulang.


"Amara.....tunggu...." Pinta Aska yang baru saja turun dari mobil.


Langkah Amara terhenti saat mendengar suara yang tak asing memanggil namanya. Dia berbalik badan lalu menoleh kearah sumber suara.


Amara sedikit tercengang saat mengetahui orang yang memanggil namanya adalah Aska.


"A-Aska....." Lirih Amara sambil menatap heran.


Aska tertunduk sejenak lalu melangkah lebih dekat lagi.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Amara yang berdiri mematung.


"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanya Aska sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan.


Sejenak Amara menatap Aska dari atas kebawah, dia melihat tampilan Aska yang berbeda dari sebelumnya.


"Em...tentu saja kabarku baik." Jawab Amara.


"Kau mau pulang?" Tanya Aska.


"Iya aku mau pulang, ada apa?" Tanya balik Amara.


"Biarkan aku mengantarmu. Sekalian aku ingin berbicara sesuatu padamu." Ucap Aska.


"Berbicara apa? kenapa tidak disini saja?"


Aska menggeleng. "Ini bukanlah tempat yang pas."


"Ayo, masuklah ke dalam mobilku." Titah Aska membukakan pintu mobilnya.


Amara pun kemudian masuk ke dalam mobil Aska.


Sepanjang perjalanan, di dalam mobil hanya ada keheningan saja karena meraka nampak canggung satu sama lain. Amara yang cukup penasaran akhir nya memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Aska kau mau membawa ku kemana?" Tanya Amara penasaran.


"Ikut saja Amara, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab Aska.

__ADS_1


__ADS_2