
🥦Happy Reading🥦
Sore menjelang malam, hujan tiba-tiba turun begitu derasnya. Membuat Amara yang hanya berjalan kaki pulang ke apartemennya segera buru-buru berlari.
Sesampainya di apartemen, Amara langsung saja membersihkan diri. Setelah itu, dia pun pergi ke dapur untuk membuat makanan karena perutnya sudah terasa sangat lapar.
Sambil makan sambil merenung, Amara memikirkan nasib dirinya.
"Bagaimana sekarang, aku sudah tidak memiliki pekerjaaan lagi." Tanya Amara pada diri sendiri.
"Tidak mungkin jika aku harus terus merepotkan Ansel ."
Selesai makan, Amara sejenak bersantai di sofa sambil menonton televisi. Sesekali ia melirik ke ponselnya yang berada di atas meja. Biasanya Ansel selalu mengiriminya pesan tapi hari ini tidak ada.
Rasanya ingin sekali Amara menghubungi Ansel, tapi dia merasa gengsi untuk menghubungi terlebih dahulu.
Sebaliknya dengan Ansel, di kamarnya saat ini dia sedang rebahan santai sambil memandangi ponselnya. Dia sangat berharap jika Amara menghubunginya, tapi sudah hampir seharian ini menunggu tidak ada juga pesan masuk dari Amara.
"Setidak penting itukah aku dimatanya?" Tanya Ansel pada diri sendiri.
"Apakah dia marah padaku karena kemarin aku mendiamkannya?"
🥦
🥦
🥦
Davina baru saja pulang ke rumah dan dia pun langsung menarik kursi untuk makan malam.
"Kenapa wajahmu terlihat kusut, Davina?" Tanya Aska yang sedang duduk di meja makan.
"Mantan istrimu sangat kurang ajar padaku," Ucap Davina.
"Apa maksudmu? Amara kurang ajar?"
"Iya mas, dia sangat kurang ajar padaku. Dia menamparku di hadapan orang ramai." Jelas Davina.
"Kenapa bisa seperti itu, dimana kau bertemu dengannya?"
"Rupanya setelah bercerai darimu, dia bekerja sebagai pelayan restoran xxx."
Semenjak perceraian mereka dulu, Aska sudah tidak lagi mendengar kabar dari Amara. Dan sekarang seperti ada perasaan senang saat Aska mendengar keberadaan Amara.
Selesai makan, Davina langsung saja menuju ke kamar untuk membersihkan diri. Saat Davina sudah keluar dari kamar mandi, terlihat Aska sudah ada di atas ranjang seperti orang yang sedang menunggu.
Davina tak menghiraukan adanya Aska, dia malah melangkah menuju meja rias.
Aska yang sadar diacuhkan pun langsung saja beranjak dari ranjang. Dia mendekati Davina lalu merangkul Davina dari belakang.
"Kenapa kau tiba-tiba memelukku?" Tanya Davina yang sedang bercermin.
__ADS_1
"Sudah lama ya rasanya," Ucap Aska.
"Apa maksudmu?"
"Terra sudah tidur dengan bibi Wati,"
"Terus apa mau mu?"
"Layani aku sebagai suamimu, sayang." Bisik Aska di telinga Davina. Memang sudah hampir beberapa bulan ini mereka sudah tidak melakukan hubungan badan. Aska sebagai pria yang normal, tentu saja sangat merindukan gesekan dari sang istri.
"Ah....mas.....bukannya aku tidak mau, tapi aku sangat lelah dan ngantuk sekarang." Ucap Davina berbohong. Dia lalu melepas pelukan dari Aska.
"Sudah malam, lebih baik kau juga tidur!" Seru Davina lalu merebahkan dirinya ke ranjang.
Aska terdiam, dia lalu menghembuskan nafas kasarnya. Pria itu malah memilih untuk keluar dari kamar.
Di taman belakang, Aska menghisap dalam rokok yang sedang ia pegang di sela jarinya. Entah mengapa akhir-akhir ini jika Aska mengajak untuk berhubungan badan, Davina tidak pernah mau.
🥦
🥦
🥦
Pagi hari ini tidak seperti pagi biasanya. Seluruh badan Amara menggigil kedinginan, mungkin karena efek kemarin pulang kehujanan. Kepalanya juga terasa pusing dan hidung juga tersumbat.
Untuk bangun saja Amara sudah seperti orang yang tak berdaya. Jadi dia memutuskan untuk beristirahat saja di kamar.
Sedangkan Ansel, dari kemarin terus saja memikirkan Amara. Entah mengapa tidak melihat Amara sehari saja membuat dirinya begitu gelisah.
Siangnya, Ansel pun pergi ke restoran. Sesampainya disana, dia sama sekali tidak melihat adanya sosok Amara.
"Kau cari Amara, bukan?" Tanya Airin menghampiri Ansel yang duduk.
"Ya betul, dimana dia? kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya balik Ansel dengan leher memanjang seperti jerapah.
"Kau tidak tahu ya? atau kau tidak diberitahu Amara? Amara kemarin baru saja di pecat." Jelas Airin.
"Hah, di pecat? kenapa dia di pecat, apa alasannya?"
Airin pun mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.
Mendengar itu, Ansel langsung meraba ponselnya dengan maksud menghubungi Amara. Ansel mencoba mendial beberapa kali, tetapi Amara tak tidak mengangkatnya.
"Aku takut sesuatu terjadi pada Amara, lebih baik kau temui saja dia di apartemennya." Kata Airin.
"Kau benar!" Ansel kemudian berlalu begitu saja.
Dia melajukan mobilnya menuju ke apartemen Amara.
Sesampainya di apartemen. Ansel langsung saja memarkir mobilnya lalu melangkah cepat menuju unit Amara.
__ADS_1
Untung saja Ansel tahu kata sandi dari apartement Amara.
"Amara.....Amara....." Panggil Ansel dengan nada tinggi tapi tak ada jawaban sama sekali. Hingga langkahnya tertuju ke kamar Amara, barulah ia mendapati Amara sedang terbaring tidur di atas ranjang.
"Amara.....kau baik-baik saja bukan?" Tanyanya seraya duduk di tepi ranjang.
"A-Ansel......kau disini? sejak kapan?" Lirih Amara yang terbangun.
Ansel tidak menghiraukan pertanyaan dari Amara, dia langsung saja memegang jidat Amara yang begitu hangat.
"Kau sakit, kenapa tidak mengabari ku?" Tanya Ansel rasa cemasnya.
"Tidak, ini hanya demam biasa kok." Amara menggeleng pelan.
"Tapi wajahmu sangat pucat. Ayo sekarang juga kita pergi ke rumah sakit." Ujar Ansel.
"Jangan, aku tidak mau." Tolak Amara.
"Atau ku panggilkan Dokter saja?"
"Tidak...tidak...tidak usah...." lagi-lagi Amara menolak.
"Kalau begitu tunggu sebentar," Ansel beranjak dari kamar, dia pergi ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres Amara.
Beberapa jam kemudian, keadaan Amara pun lumayan membaik.
"Apa kau sudah makan seharian ini?" Tanya Ansel.
Amara menggeleng. "Aku hanya makan kemarin malam saja."
"Baiklah, aku akan memasakan bubur untukmu." Kata Ansel.
"Tidak usah, aku hanya merepotkan mu saja." Ucap Amara.
"Sudahlah tidak apa-apa."
Meskipun seorang pria, tapi Ansel sangat pandai memasak. Tidak butuh waktu lama, Ansel pun kembali ke kamar Amara dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.
Amara yang melihat itu langsung saja bangun dari tidurnya. Tapi Ansel segera membantunya untuk menyandar di dipan.
Dengan sangat tulus Ansel menyuapi Amara makan. Tatapannya pun tak bisa bohong, dia sangat-sangat menyayangi Amara.
"Maafkan aku, Amara." Ucap Ansel tiba-tiba.
"Maaf buat apa?" Tanya Amara.
"Maafkan aku, karena kemarin aku mendiamkan mu. Jadi aku pikir pasti sekarang kau marah padaku." Ucap Ansel.
"Ah....buat apa aku marah, aku sama sekali tidak marah padamu Ansel. Malah aku berfikir kau yang marah padaku." Jelas Amara.
"Cih....mana mungkin aku marah padamu," Tutur Ansel tersenyum.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, Like, komen dan Vote.❤️🥦
Terimakasih🥦