
🥦Happy Reading Guys🥦
Malam semakin larut, Ansel dan Amara memutuskan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada pembicaraan di dalam mobil, membuat suasana begitu hening. Amara merasa canggung saat melihat Ansel yang dari awal hanya diam dan fokus ke kemudinya saja.
"Oh ya.....bunga siapa ini?" Tanya Amara saat menoleh ke tempat duduk belakang. Dia sengaja mencairkan suasana agar Ansel berbicara.
"Ah, aku lupa memberikannya padamu. Ambilah, tadi saat di jalan ada orang yang memberikannya padaku." Bohong Ansel.
Amara dengan senang langsung mengambil bunga tersebut.
Sesampainya di basement apartemen.
"Terima kasih, terima kasih karena kau telah mengajakku jalan-jalan." Ucap Amara tersenyum.
Tapi Ansel hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Amara merasakan sikap Ansel kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Wanita itu langsung saja turun dari mobil Ansel.
Ansel pun kemudian berlalu begitu saja dengan wajah datarnya.
"Apakah dia marah padaku?" Tanya Amara mengangkat kedua bahunya lalu melangkah masuk menuju unit apartemennya.
Bukannya pulang ke rumah, melainkan Ansel malah pergi ke bar untuk menemui Alden yang berada disana.
Alden memang sering pergi ke Bar. Wajahnya yang cukup tampan membuat semua wanita yang ada di Bar tergila-gila padanya. Tak jarang juga Alden berganti-ganti wanita.
"Apa kau dari tadi disini?" Tanya Ansel langsung duduk dan merampas minuman Alden. Wanita yang tadinya mengerumuni Alden pun seketika menjauh.
"Baru saja," Jawab Alden sambil keheranan melihat sikap Ansel.
"Pesankan aku minuman!" Titah Ansel.
"Bukankah kau tidak suka minum? dan kau pun biasanya ku ajak ke Bar tidak pernah mau?" Tanya Alden.
"Ah.....sudahlah, aku sedang frustasi." Jawabnya.
"Aku tahu, pasti kau baru saja ditolak kan dengan Amara?" Terka Alden.
"Hei...coba lihatlah diriku, aku ini kurang apa lagi? aku sangatlah tampan, kaya raya dan baik hati, tapi mengapa secara tidak langsung dia langsung menolak ku?" Tanya Ansel. "Padahal di luaran sana banyak wanita yang tergila-gila padaku."
"Mungkin saat ini dia masih belum bisa membuka hatinya. Kau juga tahu sendiri bukan masa lalunya seperti apa." Kata Alden.
"Baiklah, aku mengerti. Mungkin aku terlalu cepat untuk semua ini. Tapi aku tidak menyerah, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan hatinya." Ucap Ansel tersenyum miring.
🥦
🥦
🥦
Keesokan paginya, di ruang keluarga, terlihat Aska sedang sibuk mengurus Terra yang sejak tadi menangis.
Tiba tiba terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Davina baru saja turun dengan pakaian yang sudah rapi.
"Davina.....apa kau bekerja hari ini juga?" Tanya Aska menatap Davina dari atas kebawah.
__ADS_1
"Iya sayang, hari ini aku sudah masuk bekerja. Oh ya, maaf ya aku belum sempat menyiapkan sarapan untukmu." Kata Davina.
"Terus Terra bagaimana? siapa yang akan mengurusnya? aku juga mau bersiap-siap ke kantor sekarang."
Davina membuang nafas kasar. "Sementara kau urus saja dulu. Lagian sebentar lagi pembantu baru kita akan datang." Ucap Davina sambil melirik ke jam yang melingkar di tangan.
"T-tapi........"
"Aku pamit dulu, sayang!" Davina berlalu begitu saja.
Aska menghela nafas panjang, ia tak bisa lagi berkata-kata.
_
Davina yang sedang duduk santai di ruangannya tiba-tiba dikagetkan dengan kedatang Bima.
"Ada apa?" Tanya Davina yang memang dari dulu selalu bersikap cuek pada Bima.
"Ini hari pertama kau kembali masuk bekerja, sudah lama rasanya kita tidak bertemu." Ucap Bima tersenyum.
"Katakan saja, ada perlu apa?" Davina menghela nafas.
"Aku ingin mengajakmu makan siang di restoran hari ini, bagaimana apakah kau mau?" Tanya Bima.
Davina menatap Bima, dia melihat penampilan Bima begitu berbeda dari sebelumnya. Lama tidak bertemu membuat dia sedikit agak terpukau dengan ketampanan Bima. Tanpa banyak basa basi, Davina pun langsung menerima tawaran dari Bima.
Siang harinya, saat waktu senggang. Bima dan Davina pun langsung saja pergi menuju ke restoran yang tak jauh dari Rumah Sakit.
"Silahkan di pilih menunya." Ucap seorang pelayan menyodorkan menu. Pelayan tersebut tak lain adalah Amara.
Amara terdiam saat melihat itu adalah Davina. Sebaliknya juga saat Davina melihat Amara.
Amara hanya diam. Davina lalu beranjak berdiri.
"Kasihan sekali nasib mu, setelah bercerai dari Aska rupanya kau menjadi pelayan di sebuah restoran." Davina tertawa kecil.
"Jangan-jangan kau jadi pelayan hanya untuk menutupi kedok mu yang menjual diri kan?" Hina Davina tersenyum sinis.
"Cih......tutup mulutmu. Jangan menilai ku dengan standar rendah mu." Ucap Amara menegakkan pandangannya lalu menatap tajam Davina.
"Apa katamu?"
"Bukankah kau masih istri dari Aska, lantas mengapa kau pergi bersama pria lain? ah, atau jangan-jangan kau berselingkuh di belakangan, Aska? " Tanya Amara melirik ke arah Bima.
Davina yang geram akan penuturan Amara, langsung saja melayangkan satu tamparan keras ke pipi Amara.
Plaaak.......
Seketika pipi Amara pun berubah memerah. Tak tinggal diam, Amara pun juga langsung membalas tamparan tersebut.
Plaaak.......
"Argh......" Rintih Davina kesakitan.
"Kau seenaknya menilai hidup orang lain. Tapi tidak suka orang lain mengkritikmu? sepertinya kau tidak mengerti, hidup tidak adil bagi semua orang." Kata Amara sambil memegangi pipinya dengan satu tangan.
"Amara.....kau tidak apa-apa?" Tanya Airin yang berlari menghampiri.
__ADS_1
"Dasar wanita Jal*ng! berani sekali kau menamparku!" Pekik Davina.
"Lihat saja, akan ku buat kau dipecat dari sini!" Ancam Davina.
"Bim, kita pergi saja dari sini!" Ucap Davina meraih tasnya yang berada di atas meja, lalu pergi begitu saja.
Amara hanya menatap tajam kepergian Davina.
"Amara, siapa dia? kenapa tiba-tiba dia menamparmu?" Tanya Airin.
"Itu adalah Davina, istri dari mantan suamiku." Jawab Amara.
"Sudah tidak apa-apa, kita lanjutkan saja pekerjaan kita." Ucap Amara.
Sore harinya.
"Amara, kau di panggil pak Broto (Pemilik Restoran) sekarang juga." Ucap Airin menghampiri Amara.
"Hah, ada apa memangnya?" Tanya Amara penasaran.
"Entahlah, tapi dilihat dari wajahnya sepertinya dia sedang marah."
"Baiklah,"
Amara lalu menemui pak Broto.
"Apa benar kau menampar seorang pengunjung restoran tadi siang?" Tanya Broto sambil berkacak pinggang.
Amara terdiam sejenak. Rupanya Davina melaporkan dirinya pada atasannya.
"Apa kau tahu dampak dari sikap yang kau lakukan itu?"
"Maaf pak, tapi dia duluan yang menampar saya." Jelas Amara.
"Jangan banyak cingcong, hari ini adalah hari terakhirmu untuk bekerja disini!" Seru Broto.
"Maksud bapak apa?" Tanya balik Amara terperanjat.
"Ya, mulai besok kau tidak usah lagi bekerja disini. Kau ku pecat Sekang juga!"
"Ta-tapi pak, saya mohon. Jangan dengarkan penjelasan dari satu sisi saja. Dia duluan yang menampar saya, pak." Kata Amara.
Broto tak mendengarkan perkataan dari Amara, dia langsung saja melangkah pergi.
Amara menghela nafas panjang, dia sangat merasa sedih karena dia baru saja di pecat.
Airin yang memperhatikan percakapan Broto dan Amara dari jauh, langsung saja mendekati Amara.
"Yang sabar Amara, aku tahu ini semua bukan salahmu." Ucap Airin.
"Tidak apa-apa, Airin. Yang penting aku sangat merasa senang karena bisa bekerja disini." Kata Amara.
Dengan langkah gontai, Amara pun melangkah pergi meninggalkan restoran tersebut.
Gara-gara wanita biadab itu, dia malah kehilangan pekerjaannya.
Jangan lupa dukungannya Like, komen dan Vote🥦
__ADS_1
Terimakasih🥦❤️🥀